Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.
Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembaran Baru yang Perih
Stasiun kereta api yang riuh menjadi saksi bisu saat Sheilla menyeret kopernya menuju gerbong paling belakang. Ia tidak pergi ke rumah orang tuanya; ia tahu Ardhito akan mencarinya ke sana hanya untuk menyeretnya pulang dan mempermalukannya lagi. Sheilla memilih kota kecil di Jawa Tengah, tempat yang tidak memiliki kenangan apa pun tentang Ardhito.
Sepanjang perjalanan, Sheilla hanya menatap keluar jendela. Setiap kali kereta melewati sekolah SMA atau lapangan basket, dadanya berdenyut. Kenangan tujuh tahun itu tidak bisa dihapus hanya dengan tiket kereta sekali jalan. Ia kesal pada dirinya sendiri karena masih bisa merasakan rindu di tengah rasa sakit yang hebat. Ia benci betapa setianya jantungnya berdetak untuk pria yang bahkan tidak sudi menyebut namanya dengan lembut.
--
Tiga minggu kemudian, Sheilla menetap di sebuah kamar kos sederhana di atas toko roti milik seorang wanita tua baik hati bernama Bu Retno. Pagi harinya ia bekerja membantu di dapur toko roti, dan malam harinya ia meratapi nasibnya di balik pintu yang terkunci.
Suatu sore, saat ia sedang membungkus roti manis, tangannya tak sengaja menyenggol loyang panas.
"Aw!" Sheilla merintih, meniup jarinya yang memerah.
"Hati-hati, Nak. Pikiranmu sepertinya sedang terbang jauh," ucap Bu Retno lembut sambil meraih tangan Sheilla. Namun, mata tua itu tertegun melihat lebam yang masih tersisa di lengan atas Sheilla bekas cengkeraman Ardhito sebulan lalu yang menguning namun belum hilang sepenuhnya.
Bu Retno menghela napas panjang, menatap Sheilla dengan mata berkaca-kaca. "Cantik, luka di kulit itu mudah sembuh dengan salep. Tapi luka di sini," ia menyentuh dada Sheilla, "hanya bisa sembuh kalau kamu berhenti mengizinkan orang yang menyakitimu tinggal di kepalamu."
Sheilla tertunduk. Air matanya jatuh tepat di atas bungkusan roti. Ia menangis bukan karena perih di jarinya, tapi karena ia menyadari betapa hancurnya dia hingga orang asing pun bisa melihat luka itu dengan jelas.
--
Sementara itu, di Jakarta, apartemen mewah Ardhito terasa seperti gua hantu. Ia mencoba membawa Valerie masuk, berharap kehadiran wanita itu bisa menghapus bayangan Sheilla. Namun, pemandangan itu justru membuat pembaca ingin berteriak kesal.
Valerie duduk di sofa sambil mengeluh, "Dhito, kenapa kopinya nggak enak? Dan kenapa debunya banyak banget? Istri bodohmu itu biasanya ngapain aja sih sampai rumah ini terasa nggak terurus?"
Ardhito terdiam, memegang cangkir kopi yang terasa hambar. Ia menatap ke arah dapur, berharap melihat sosok mungil yang selalu tersenyum meski ia maki. Saat ia melihat Valerie membuang bunga matahari kering di vas bunga terakhir yang Sheilla beli sesuatu di dada Ardhito terasa tercabik.
"Keluar, Val," ucap Ardhito tiba-tiba.
"Apa?"
"KELUAR!" bentak Ardhito hingga Valerie terlonjak kaget dan pergi dengan umpatan kasar.
Ardhito jatuh terduduk di lantai, tepat di tempat Sheilla pernah bersimpuh. Ia meraih vas kosong itu, lalu tanpa sadar air matanya menetes. Ia mulai merasakan apa itu kehilangan. Ia mencari-cari aroma sabun Sheilla di bantal, tapi yang ada hanyalah bau parfum Valerie yang menyengat dan memuakkan.
--
Di sisi lain, di kota kecilnya, Sheilla baru saja menerima gaji pertamanya dari Bu Retno. Memang tidak seberapa jika dibandingkan dengan uang belanja yang dulu diberikan Ardhito sebagai "uang tutup mulut". Tapi saat ia memegang uang itu, ada rasa bangga yang menyelinap.
Ia berjalan menuju pasar malam di dekat kosnya, membeli sebuah es krim cokelat dan duduk di bangku taman sendirian. Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, ia menikmati es krim itu tanpa memikirkan apakah Ardhito suka cokelat atau tidak. Ia menikmatinya karena ia menyukainya.
Senyum tipis terukir di bibirnya yang masih sedikit pecah. Ada rasa senang yang membuncah bukan karena dia sudah sembuh, tapi karena dia menyadari bahwa dunia tetap berputar meski tanpa Ardhito. Dia masih bisa bernapas. Dia masih bisa merasakan manisnya es krim. Dan untuk pertama kalinya, Sheilla merasa dia mulai memiliki dirinya kembali.
To Be Continue...
-- Hallo terimakasih sudah selalu memberikan support kepada Author, Sehat selalu untuk kalian semua ya. Dukung selalu Author setiap harinya, dan jangan lupa komen selalu agar author makin semangat buat uploadnya hihi --