Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teori Psikopat Direktur Es Batu
Dua minggu setelah insiden alergi yang hampir membuat seluruh keluarga panik, kehidupan Alya kembali berjalan seperti biasa, atau setidaknya kembali pada versi “biasa” miliknya sendiri. Tubuhnya sudah pulih sepenuhnya, tenggorokannya tidak lagi terasa sesak, dan dokter juga sudah memperbolehkannya kembali beraktivitas normal selama ia berhati-hati dengan makanan yang dikonsumsi.
Rumah keluarga Prameswari kembali ramai seperti biasa, dengan suara Bunda yang sering memanggil Alya dari dapur atau Bima yang sesekali menggodanya di ruang keluarga.
Namun di balik suasana rumah yang tampak tenang itu, Alya justru sedang duduk bersila di atas tempat tidurnya sambil menatap langit-langit kamar dengan ekspresi yang sangat serius, seolah sedang memikirkan persoalan hidup yang luar biasa penting.
Di tangannya ada sebuah buku catatan kecil yang biasanya ia gunakan untuk menulis ide lagu atau konsep modeling. Namun kali ini halaman buku itu dipenuhi coretan aneh seperti peta strategi perang. Ada panah, lingkaran, bahkan beberapa tulisan besar seperti “PLAN A”, “PLAN B”, dan “PLAN C: MEMBUAT ADRIAN ILFIL”.
Alya memegang pulpen di antara jari-jarinya sambil menggigit ujungnya, wajahnya tampak sangat fokus seolah sedang merancang operasi rahasia negara.
“Ini tidak masuk akal,” gumamnya pelan.
Ia menjatuhkan pulpen ke atas kasur lalu menjatuhkan tubuhnya ke belakang hingga berbaring sambil menatap langit-langit lagi. Rambutnya yang panjang menyebar di atas bantal seperti kipas cokelat, sementara pikirannya kembali berputar pada satu pertanyaan besar yang terus menghantuinya selama dua minggu terakhir.
Kenapa Adrian masih belum ilfil?
Alya menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil menghela napas panjang yang dramatis. Dalam dua minggu terakhir ia sudah mencoba memikirkan berbagai macam cara untuk membuat calon suaminya itu merasa muak. Ia pernah cosplay Spiderman di mall, pernah membuat kukis yang rasanya seperti batu asin dari neraka, bahkan pernah bernyanyi dengan suara sengaja dibuat fals seperti kaset rusak.
Namun anehnya Adrian tetap sabar menghadapi semua itu dengan wajah tenang yang sama, seolah apa pun yang Alya lakukan hanyalah gangguan kecil yang tidak layak dipermasalahkan.
“Direktur Es Batu itu manusia atau robot sih,” gumam Alya lagi.
Ia berguling ke samping lalu memeluk bantal sambil memikirkan kemungkinan lain yang jauh lebih menyeramkan. Ekspresinya tiba-tiba berubah serius, seolah sebuah teori baru baru saja muncul di kepalanya.
“Jangan-jangan…”
Alya duduk tegak mendadak dengan mata melebar.
“Dia psikxpxt.”
Kata itu keluar dari mulutnya dengan nada penuh keyakinan yang mengerikan.
Alya menatap kosong ke depan sambil mulai hanyut dalam pikirannya sendiri yang semakin liar. Ia membayangkan Adrian yang selalu tenang, selalu sabar, tidak pernah benar-benar marah, bahkan ketika Alya melakukan hal-hal paling absurd di depan umum. Semua itu tiba-tiba terasa mencurigakan dalam logika dramatis Alya.
“Ini masuk akal,” katanya pelan pada dirinya sendiri.
Ia mulai berjalan mondar-mandir di kamar seperti detektif yang sedang menyusun teori kasus kriminal.
Tangannya terlipat di depan dada sementara ekspresinya sangat serius, seolah ia sedang memecahkan misteri besar dunia.
“Psikxpxt memang begitu. Mereka kelihatan normal, tenang, bahkan charming. Tapi sebenarnya di dalam hatinya… dingin seperti freezer.”
Alya berhenti di depan cermin besar di kamarnya lalu menatap bayangannya sendiri dengan wajah tegang.
“Bayangkan kalau suatu hari aku bikin dia marah.”
Ia menelan ludah dramatis.
“Lalu malam-malam dia datang ke rumah…”
Alya mulai memainkan adegan itu di kepalanya seperti film thriller. Ia membayangkan Adrian berdiri di depan pintu dengan wajah datar, mengenakan jas hitam seperti biasanya, tetapi di tangannya ada sesuatu yang berkilat tajam.
“Pisxu dapur.”
Alya menutup mulutnya sendiri dengan tangan.
“Lalu dia bilang dengan suara dingin… ‘Alya, kamu terlalu berisik.’”
Ia melangkah mundur dua langkah sambil memeluk bantal erat-erat.
“Terus aku… aku… dipxtxng-pxtxng seperti ikan Tenggiri!”
Alya menjerit kecil pada dirinya sendiri.
“Lalu dimasukkan ke dalam drum!”
Ia menunjuk imajiner sebuah drum besar di pojok kamar.
“Dan dibuang ke sungai Amazon!”
Beberapa detik kemudian Alya berdiri diam di tengah kamar sambil menatap kosong ke depan. Teori psikxpxtnya terasa semakin masuk akal semakin lama ia memikirkannya.
“Tidak… tidak… Alya harus hati-hati.”
Ia kembali duduk di kasur dengan ekspresi sangat serius.
“Strateginya tetap sama. Membuat Adrian ilfil, tapi jangan sampai melewati batas.”
Ia mengangkat satu jari seperti profesor yang sedang menjelaskan teori penting.
“Ilfil itu boleh. Tapi jangan sampai memicu mode pembxnxh berxntai.”
Beberapa detik kemudian ia mengangguk puas pada dirinya sendiri.
“Bagus. Ini strategi yang aman.”
Di luar kamar, Bima yang baru saja lewat di koridor berhenti sebentar ketika mendengar anak nya berbicara sendiri dengan nada dramatis dari balik pintu. Ia mengangkat alis tinggi sebelum akhirnya menggeleng sambil berjalan pergi.
“Alya benar-benar aneh,” gumamnya.
Sementara itu di dalam kamar, Alya masih sibuk menyusun rencana baru. Ia kembali membuka buku catatannya dan menulis sesuatu dengan penuh semangat.
“PLAN D.”
Ia berhenti sebentar lalu menambahkan tulisan besar di bawahnya.
“Operasi Ilfil Level Lanjut.”
Alya mengetuk-ngetukkan pulpen ke meja sambil berpikir keras. Kali ini ia harus membuat sesuatu yang benar-benar mengganggu tanpa terlihat terlalu ekstrem. Jika terlalu ekstrem, ia takut Adrian benar-benar kehilangan kesabaran dan mengaktifkan “mode psikxpxt” seperti yang ada di kepalanya tadi.
“Apa ya…”
Ia mengerutkan hidung sambil berpikir.
“Cosplay lagi?”
Ia menggeleng sendiri.
“Tidak, nanti dia malah beli kostum baru lagi buat Alya.”
Beberapa menit kemudian wajah Alya tiba-tiba bersinar seperti lampu yang baru dinyalakan.
“Aha!”
Ia berdiri dengan sangat bersemangat.
“Alya tahu.”
Ia menunjuk dirinya sendiri di cermin dengan ekspresi penuh kemenangan.
“Operasi Drama Queen.”
Beberapa detik kemudian ia mulai tertawa kecil pada rencananya sendiri.
Namun jauh di tempat lain, Adrian yang sedang duduk di ruang kerjanya sama sekali tidak tahu bahwa calon istrinya sedang merancang teori konspirasi yang melibatkan dirinya sebagai psikxpaxt pembxnxh berxntai.
Pria itu sedang membaca laporan bisnis dengan wajah tenang ketika ponselnya tiba-tiba bergetar di meja. Nama yang muncul di layar membuatnya berhenti membaca sebentar.
Alya.
Adrian mengangkat alis sedikit sebelum menerima panggilan itu.
“Halo.”
Di ujung telepon, suara Alya terdengar sangat dramatis.
“Adrian.”
Nada suaranya membuat Adrian langsung merasa ada sesuatu yang aneh.
“Ada apa?”
Alya menarik napas panjang seolah sedang menghadapi masalah besar dunia.
“Alya sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting.”
Adrian menunggu dengan sabar.
Beberapa detik kemudian Alya berkata dengan nada serius yang berlebihan.
“Menurutmu… sungai Gangga dalam tidak?”
Adrian terdiam beberapa detik.
“Apa?”
"Sungai Amazon menarik bukan untuk kita berenang saat bulan madu nanti?" Alya melanjutkan dengan nada yang sama seriusnya.
“Misalnya ada seseorang yang… tidak sengaja jatuh ke dalam drum lalu masuk ke sungai. Kira-kira masih bisa ditemukan tidak?”
Adrian menutup matanya sebentar.
Ia sudah terbiasa dengan pertanyaan absurd Alya, tetapi yang ini benar-benar di luar dugaan.
“Kenapa kamu menanyakan itu?”
Alya menjawab dengan suara pelan yang misterius.
“Tidak apa-apa. Hanya penelitian.”
Adrian menghela napas panjang.
Dalam hati ia mulai bertanya-tanya hal yang sama yang sering dipikirkan keluarga Alya.
Kenapa gadis ini bisa memiliki imajinasi seaneh itu?
Namun meskipun begitu, sudut bibir Adrian tetap terangkat sedikit tanpa ia sadari.
Karena entah bagaimana, kekacauan yang selalu dibawa Alya justru membuat hidupnya yang biasanya terlalu tenang menjadi jauh lebih… hidup.