Wang Ryu, seorang pria modern, tiba-tiba menemukan dirinya terlempar ke masa lampau, lengkap dengan status setengah dewa yang misterius.
Di dunia yang asing ini, di mana kelangsungan hidup adalah prioritas utama, Wang Ryu memutuskan untuk menggunakan pengetahuannya dari masa depan untuk membangun sebuah bisnis.
Dengan kecerdikan dan sedikit sentuhan magisnya sebagai setengah dewa, dia berusaha keras untuk tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga menciptakan jejaknya sendiri di zaman kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu tak diundang
Wang Ryu berada dirumah saat Bibi Meng mengantar Jenderal Tua dan seorang pria datang kerumahnya.
Bibi meng pergi ke dapur toko untuk membuat teh dan mengambil cemilan.
Wang Ryu mempersilahkan mereka duduk diruang tamu.
"anda terlihat seperti kami....."saat Ning An duduk ini lah yg dia katakan.
Pangeran tak menyangka bahwa pria ini tak begitu berbeda,hanya saja dia beneran-benar menawan.
"Maaf mengecewakan yang mulia..." Wang Ryu tersenyum tipis, Wajah tua Jenderal semakin mengerut.
Ning An segera melambaikan tangannya, dengan senyum canggung."...tidak-tidak saya hanya terkejut..."
" Tuan silahkan..." Bibi Meng menyakinkan teh dan mundur' pergi dari ruangan.
"...Kenapa anda mencari saya?"tanya Wang Ryu sambil meminum tehnya.Ning An tersenyum ramah.."...Saya ingin mengundang anda ke kota Kaisar..."
_Yao berkata "Tuan dia bukan orang baik"_
Cahaya aneh berkedip dimatanya,dia mengangkat kepalanya,Wang Ryu bisa melihat warna merah dan hitam pada tubuh Ning An.
Kebancian dan Kematian.
"Maafkan aku yang mulia,tapi saya terlalu sibuk diToko, seseorang harus mengawasi mereka...."Ucap Wang Ryu secara halus menolaknya.
Wajah Ning An berubah warna,dia memaksakan tersenyum."...anda tak perlu cemas soal Toko aku bisa meminta orang untuk mengawasinya..."
"Seperti kamu masih belum mengerti,maka biar ku penjelas jika kamu ingin memanfaatkan keberadaan ku pada kaisar jangan harap bisa melakukannya..."
Jendral tua segera melihat ke arah Ning An yg berubah pucat. Ternyata dia hanya dimanfaatkan.
"...yang mulia, sebaiknya anda kembali ke ibu kota....kotaku tak bisa menampung orang seperti anda..!."Ucap Jendral dengan marah.
Wajah pangeran Ning An berubah menjadi jelek."Paman! Aku tetaplah seorang pangeran,aku-"
"Ning An!"
Keduanya tertegun.Lalu menoleh ke arah Wang Ryu disebrang meja.
Rambut hitam itu tergantikan dengan warna putih salju,mata biru itu bersinar dengan dingin.
"..jangan membuatku mengatakan semua dosa-dosa mu....Apa tak cukup untuk mu membunuh calon putra mahkota, memfitnah Ibu Ning Zao...!"
"Tidak...aku tak melakukannya,Guru anda bicarakan omong kosong...!" Teriaknya menyangkal nya dengan panik.
"Diantara kami semua,kamu tau lebih baik ..."ucapnya dengan mata menyipit tajam.
Ning An,mundur beberapa langkah,dengan bibir pucat melihatnya.dia merasa bahwa jiwanya benar-benar terlihat jelas didepan Wang Ryu.
Dia berbalik lari keluar Toko dengan wajah ketakutan,memaksa Penjaga kembali ke ibu Kota.
" Tuan...apa semua yg anda katakan benar...?"Tanya Jenderal Tua melihatnya dengan hati-hati,namun jantungnya berdebar kencang.
"Kaisar lama memiliki 3 putra bukan..."ucapnya dengan ringan.
pria tua itu mengangguk." Ya.. pangeran pertama di angkat sebagai Kaisar baru,dan Ratu Ning sempat hamil namun anak itu mati dalam kandungan ibunya...."
"... aku tidak mengira itu karena pangeran ke 2..."lanjutnya dengan rasa sedih juga merasa kecewa.
"Ning An akan mendapatkan hukuman nya...dan Kaisar, tak perlu mencemaskan soal pewaris...."Wang Ryu melihat bahwa garis keturunan Kaisar sangat bagus.
"Anda....baik saya mengerti terimakasih Tuan..." Jenderal Tua memberinya salam dengan wajah lega.
Wang Ryu mengobrol beberapa saat, sebelum meminta paman Feng mengirim pria tua itu pulang, karena dia datang bersama pangeran jadi dia tak memiliki kendaraan untuk pulang.
1 Minggu berlalu.
Wang Ryu pada sore hari pergi mencari pelayan feng,meminta mereka untuk bersih-bersih dan bersiap untuk makan malam diluar.
Saat sampai di restoran dua pria berjalan dari arah berlawanan dan membuat paman Feng terkejut."...ah tuan muda Zhang!"
Keduanya berbalik dan melihat itu Tuan muda Wang!
" Tuan muda!" Keduanya segera menghampirinya dengan wajah berseri-seri.
"Kota Wu begitu sempit...."tawa Wang Ryu pada Zhang Fei dan Zhang Zen yg berpapasan dengan mereka di restoran.
Kedua orang itu saling memandang,ya dunia sangat sempit.dan tersenyum kecil.
Mereka pada akhirnya berada satu meja diruang pribadi dan paman Feng bersama yg lain makan di lantai bawah.
" Bagaimana kabar jenderal tua?"tanya Wang Ryu pada keduanya,mereka duduk dengan santai didalam ruangan.
"Ayah baik-baik saja Tuan..."jawab Zhang Zen sambil mengambilnya babi suir pada keponakannya.
Namun Zhang Fei melihat ke arah Pria muda itu dengan ekspresi linglung.
"Apa yang kamu lihat?"tanya Wang Ryu tanpa mengangkat kepalanya. Zhang zen segera menoleh pada pemuda itu.
Wajah Zhang Fei memerah,dia menyentuh hidungnya canggung."...anda nampak berbeda..."
"Warna putih terlalu mencolok untuk ku..."jelasnya dengan jujur. Sebenarnya dia ingin mengubah semuanya tapi tampilan sekarang juga tak begitu merepotkan.
"....Tapi mata biru anda sangat menawan..."Puji Zhang Fei dengan wajah tersipu. Alis Wang Ryu terangkat."...ini juga bukan hal yg baik..."
"Ah?" Kedua paman dan keponakan itu tertegun, bingung.
Wang Ryu menundukkan matanya."...melihat hal yg tak seharusnya dilihat itu membawa beban tersendiri..."
Zhang Fei dan pamannya saling melirik.Ternyata tak mudah menjadi dewa.
Wang Ryu mengobrol dengan mereka dengan santai, Zhang Zen dan Zhang Fei bisa melihat bahwa Tuan Dewa ini tak begitu menakutkan.
Ke duanya berpamitan saat hari mulai malam, rombongan Wang Ryu juga kembali ke rumah, mereka istirahat dengan nyaman.
Besok hari Sabtu toko tak akan buka, itu adalah hari libur yg diberikan Wang Ryu pada pekerja,agar mereka bisa beristirahat dan bersantai.
Kediaman Zhang ke esoknya Harinya.
"Ayah apa anda akan mengundang kaisar?" Zhang Peng duduk diseberang ayahnya' dengan agak ragu.
"Benar...aku terlalu tua untuk pergi ke ibu kota,tapi itu pun jika Kaisar bisa datang..."Pria tua itu mengangguk,tapi juga dia tak berharap banyak akan sikap Kaisar padanya.
Pasalnya setelah dia pensiun dan tinggal dikota Wu. Selain pangeran ke 3 yg sering datang padanya, anggota istana tak akan yg sekali pun melihatnya.
Dia sudah tinggal dikota Wu hampir 10 tahun' dan dia belum bertemu dengan Kaisar lama atau Kaisar Baru. Jendral hanya sesekali mendapatkan kabar dari teman lama di istana soal kondisi keluarga kerjaan.
"Jangan lupa undang Tuan Muda...."ingatnya pada anaknya. Sudut mulut Mereka berkedut,mana berani melupa dewa satu itu."Kami tau ayah..."
Keadaan ditoko puluk 10:00.Siang Hari.
"..paman kamu bisa mengatasi toko bukan?"tanya Wang Ryu sambil membuka pintu samping toko yg menuju halaman rumahnya.
"..Tentu saja tuan,saya tak akan mengecewakanmu..." Jawab Paman Feng meyakinkan nya. Pria itu mengangguk dan pergi meninggalkan toko.
Wang Ryu pergi ke rumahnya sendiri untuk membuat kue untuk Jendral tua, siapa kira pria lincah itu berumur 71 tahun.
Dia masih suka berlarian kesana kemari dan juga suka membuat anak-anak berlarian.
Wang Ryu mengambil celemek hitam ,lalu mulai mengeluarkan bahan-bahannya.
Tepung ketan,gula,garam, Perwari makanan dan pasta kacang merah,dia akan membuat moci lembut untuk pria tua itu.
Pertama-tama Wang Ryu memanaskan adona tepung ketan,gula dan garam sedikit dan tambahkan air,lalu aduk hingga adonan mulai lengket.
Wang Ryu mematikan kompor,dan mendinginkan adonan moci beberapa saat , dia sudah menyiapkan cetakan -cetakan cantik untuk moci lembut.
Saat Wang Ryu sibuk didapur, dikediaman Zhang ramai dengan para pelayan mempersiapkan acara.
Mereka mengantungkan lampion indah disetiap sudut rumah, menandakan acara besar dikediaman Jendral tua. Mereka juga menghias meja-meja dan kursi agar lebih cantik.
Nyonya tua mengawasi setiap pelayan, memastikan tak ada kesalahan, para menantu juga tidak diam mereka berdua sibuk didapur untuk masak mei dan lauk pauknya lainnya untuk.acara
Semua orang Dikediaman Zhang sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Kecuali yg berulang tahun.
Jenderal Tua duduk dihalaman rumah nya dengan papan Gu didepannya. Pangeran ke 3 menemaninya bermain.
Sedangkan Zhang Zen sibuk menata meja dan kursi dihalaman yg akan dibuat untuk pesta nanti malam dibantu dua keponakannya.
"Pak tua..." Panggil Ning Zao padanya.Jenderal Tua berkonsentrasi dengan papan catur nya,dan menjawab dengan gumama." Hm...?"
"...Apa anda akan mengundang Dewa palsu itu lagi?"tanya Ning Zao dengan nada penasaran.
Lalu Dimata semua orang dihalaman taman Pria tua Jenderal Hu,memukul dahi pangeran ke 3 dengan kipasnya.
"......."Ning Zao menunduk dengan tangan menahan dahinya,sial kekuatan pria tua ini tak berkurang sama sekali.
Dia mendongak dan berteriak." Kenapa kamu memukul kepala ku!"
" ....Jaga kata-katamu! Siapa yg kamu bilang Dewa palsu!"teriak pria tua itu dengan bersemangat.
"...." pria itu mengerutkan bibirnya.
"Batuk!"Zhang Zen berusaha menahan tawanya namun Ning Zao memiliki telinga yg tajam,dia segera menoleh memelototi pria itu."... jangan tertawa!"
lalu berbalik untuk mengeluh pada Jendral Tua."...Tapi cucu kecil mu yg bilang begitu!"
Protes Ning Zao menyeret Zhang xixi,anak itu yg namanya tiba-tiba melihat nya dengan kesal.
"Tidak,itu ke salah pahaman...!"teriaknya, wajah nya memerah berkeringat lelah."Tuan muda benar-benar dewa!"
"....Hei waktu itu kamu tidak bilang begitu!"protes Ning Zao dengan heran, bingung, kenapa kata anak ini berubah-ubah.
" Berhenti menyalakan orang lain!" Jenderal tua mengangkat kipas nya lagi ingin memukulinya.
Namun Ning Zao segera melompat menjauh."...kakek berhenti lah berkelahi kau bukan tandingan ku lagi sekarang!"
"......." Bocah ini benar-benar semakin tua semakin sembrono. Dia bahkan bernai mengejek gurunya!.