Dia adalah Kezia Putri Ramadhan – CEO muda berusia 25 tahun yang menguasai bisnis tekstil keluarga dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan rapat bisnis, target penjualan, dan tanggung jawab berat hingga dia tak punya waktu untuk cinta. Namun, semuanya berubah ketika keluarga dihadapkan pada kehancuran keuangan yang hanya bisa dihindari dengan satu cara: menikahi putra keluarga Wijaya.
Yang tak disangka, calon suaminya adalah Rizky Wijaya – seorang anak SMA berusia 18 tahun yang baru saja lulus ujian masuk kampus, suka bermain game, ngemil keripik, dan masih sering lupa menyetrika baju!
Tanpa pilihan lain, mereka menjalani pernikahan yang tak diinginkan. Di rumah besar Kezia, tingkah lucu Rizky tak pernah berhenti: memasak yang malah membuat kompor berasap, menempelkan stiker kartun di laptop kerja istri, hingga menyuruh asisten perusahaan memanggilnya "Mas Rizky". Tapi bukan hanya kelucuannya yang menghiasi kehidupan mereka – rasa cemburu sang suami muda yang masih dibawa umur ju
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM YANG TAK TERDUGA
Malam itu, rumah besar Kezia terasa lebih hangat dari biasanya. Lampu hias yang dipasang di sudut-sudut ruangan memancarkan cahaya kuning keemasan yang menciptakan suasana romantis. Meja makan telah dihiasi dengan lilin aromaterapi dan bunga mawar merah yang baru saja Rizky berikan padanya – kali ini adalah bunga asli yang dia beli dengan uang hasil kerja paruh waktu nya sebagai asisten dosen.
Kezia mengenakan gaun malam warna merah anggur yang menonjolkan bentuk tubuhnya yang langsing, dengan rambut yang diikat dengan gaya sederhana namun elegan. Dia berdiri di depan jendela kamar tidur mereka, menunggu Rizky yang sedang mandi setelah pulang dari kampus. Hati nya berdebar kencang – malam ini dia ingin memberikan dirinya sepenuhnya pada suaminya, menutup babak baru dalam hubungan mereka yang telah melalui banyak cobaan.
Setelah beberapa menit, pintu kamar terbuka dan Rizky masuk dengan mengenakan baju tidur karakternya yang lucu – sebuah piyama dengan gambar kucing yang sedang bermain bola. Rambutnya masih basah dan dia sedang mengusap-usapnya dengan handuk, sambil bernyanyi lagu anak-anak yang baru saja dia dengar dari adik nya yang masih sekolah dasar.
"Kak Kezia, kamu kenakan gaun cantik banget ya! Mau pergi kemana nih?" tanya Rizky dengan wajah polos, lalu langsung berlari ke tempat tidur dan melompat ke atasnya dengan penuh semangat. "Wah, tempat tidur kita sudah diberi sprei baru ya? Wanginya sangat harum!"
Kezia hanya bisa tersenyum lembut meskipun hati nya sedikit terkejut dengan tingkah laku suaminya yang masih seperti anak kecil. Dia mendekati tempat tidur dan duduk di sisi Rizky, menatapnya dengan mata yang penuh cinta dan sedikit rasa malu.
"Kita tidak akan pergi kemana-mana, Rizky," ucapnya dengan suara lembut. "Aku ingin menghabiskan malam ini hanya dengan kamu saja."
Rizky mengangguk dengan senyum ceria dan kemudian mengambil mainan robot yang ada di sisi tempat tidur. "Oh bagus nih! Kita bisa main robot bareng atau nonton kartun kesukaan kita! Aku sudah simpan film baru di laptop lho!"
Kezia menghela napas perlahan dan mengambil tangan Rizky dengan lembut, menjauhkan mainan robot dari tangannya. "Rizky, kita sudah menikah sejak beberapa bulan yang lalu kan?"
"Iya dong! Aku sudah jadi suami kamu yang baik kan?" jawab Rizky dengan bangga, lalu menunjukkan lengan nya yang sedikit berkembang otot karena sering membantu pekerjaan rumah tangga. "Aku bahkan bisa angkat ember air penuh sekarang!"
Kezia tertawa lembut melihat kegigihan nya. Dia menarik Rizky lebih dekat dan menatap matanya dengan serius. "Ada sesuatu yang aku ingin lakukan bersama kamu malam ini, Rizky. Sesuatu yang biasanya dilakukan oleh pasangan suami istri yang mencintai satu sama lain."
Rizky mengerutkan kening dengan bingung. "Apa ya? Membuat kue bersama? Atau membersihkan rumah? Aku sudah bisa mencuci piring dengan benar lho, tidak lagi membuat piring pecah!"
Kezia merasa sedikit kesal tapi tetap sabar. Dia mendekatkan wajahnya ke arah Rizky dan memberikan ciuman lembut di bibirnya. "Bukan itu, sayangku. Aku berbicara tentang malam pertama kita sebagai pasangan yang sebenarnya."
Rizky mengangkat alisnya dengan bingung. "Malam pertama? Tapi kita sudah menikah kan? Malam pertama kita aku tidur di sofa kan karena kamu kerja larut malam, dan keesokan harinya aku membuat kompor berasap!"
Kezia merasa hati nya sedikit terasa sakit mendengar kata-kata itu. Dia sudah berharap bahwa setelah semua yang mereka lalui bersama, Rizky sudah mengerti tentang hubungan suami istri yang lebih dalam. Namun tampaknya pemuda berusia 18 tahun itu benar-benar tidak mengerti apa yang dia maksud.
"Rizky, kamu sudah dewasa kan? Kamu tidak pernah belajar tentang hubungan suami istri di sekolah atau dari orang tuamu?" tanya Kezia dengan suara yang sedikit tegang.
Rizky mengangguk dengan polos. "Belajar apa ya? Ibu saya hanya bilang aku harus menjaga kamu dengan baik dan selalu mendengarkan kata-kata kamu. Bapak saya bilang aku harus bekerja keras agar bisa menjadi seperti kamu – seorang CEO yang sukses!"
Kezia menutup matanya sebentar dan mengambil napas dalam-dalam. Dia mencoba menjelaskan dengan bahasa yang lebih jelas. "Aku berbicara tentang cinta yang lebih dalam, Rizky. Ketika dua orang yang mencintai satu sama lain menyatukan diri mereka secara fisik sebagai tanda kasih sayang yang paling dalam."
Rizky masih tampak bingung. "Menyatukan diri secara fisik? Seperti bergandengan tangan atau memeluk? Kita sudah sering lakukan itu kan, Kak Kezia?"
Kezia akhirnya merasa kesal dan berdiri dengan cepat. Wajahnya yang biasanya lembut kini tampak dingin dan marah. "Tidak, bukan seperti itu! Kamu sudah berusia 18 tahun, bagaimana kamu bisa tidak tahu apa-apa tentang ini? Bukankah kamu punya teman-teman yang berbicara tentang hal-hal seperti ini?"
Rizky melihatnya dengan wajah yang semakin bingung dan sedikit takut. Dia tidak pernah melihat Kezia marah seperti ini padanya. "Aku memang punya teman yang berbicara tentang hal-hal tertentu, tapi aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Aku lebih suka bermain game atau membaca buku tentang bisnis ketimbang berbicara tentang hal-hal yang tidak jelas itu!"
Kata itu membuat Kezia semakin marah. "Tidak jelas? Ini adalah bagian penting dari kehidupan pernikahan, Rizky! Aku merasa seperti sedang menikahi anak kecil yang belum tahu apa-apa tentang cinta dan tanggung jawab suami istri!"
Dengan itu, dia mengambil baju tidurnya dan masuk ke kamar mandi, menutup pintunya dengan suara terdengar keras. Rizky hanya bisa duduk dengan terpaku di tempat tidur, matanya mulai berkaca-kaca karena merasa bersalah dan tidak mengerti apa yang salah dengan dirinya.
Setelah beberapa saat, Rizky berdiri dan pergi ke kamar mandi. Dia mengetuk pintunya dengan lembut. "Kak Kezia, maaf ya aku tidak mengerti apa yang kamu maksud. Bolehkah kamu jelaskan dengan lebih jelas? Aku ingin menjadi suami yang baik untukmu, tapi aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan."
Suara Kezia terdengar dari dalam dengan nada yang masih sedikit dingin. "Aku perlu waktu sendiri sekarang, Rizky. Kamu bisa tidur di ruang tamu malam ini."
Rizky merasa hati nya seperti hancur berkeping-keping. Dia pergi ke ruang tamu dengan langkah yang lamban dan jatuh ke sofa dengan wajah yang penuh kesedihan. Dia mencoba berpikir keras tentang apa yang salah dengan dirinya. Mengapa Kezia tiba-tiba marah padanya? Apa yang dia maksud dengan "malam pertama" yang sebenarnya?
Tanpa berpikir panjang, dia mengambil laptop nya dan mulai mencari informasi tentang hubungan suami istri di internet. Dia membaca beberapa artikel dengan cermat dan akhirnya mengerti apa yang Kezia maksudkan. Wajahnya langsung menjadi merah padam karena malu dan merasa bodoh karena tidak mengerti hal yang sudah seharusnya dia ketahui sebagai seorang suami.
Dia juga menemukan bahwa banyak pasangan muda yang mengalami kesulitan serupa, terutama ketika ada perbedaan usia yang cukup jauh. Beberapa artikel menjelaskan bahwa komunikasi yang baik dan kesabaran adalah kunci utama untuk menyelesaikan masalah seperti ini.
Setelah merasa sudah cukup mengerti, Rizky berdiri dan pergi ke kamar mandi. Dia mengetuk pintunya lagi dengan lebih tegas. "Kak Kezia, aku sudah mencari tahu apa yang kamu maksud. Aku minta maaf karena aku tidak mengerti hal ini sebelumnya. Aku memang masih muda dan banyak hal yang belum aku ketahui, tapi aku bersedia belajar – untukmu dan untuk hubungan kita."
Pintu kamar mandi terbuka perlahan dan Kezia muncul dengan wajah yang sudah tidak lagi marah, tapi masih tampak sedih. "Aku juga salah, Rizky. Aku tidak boleh memaksamu untuk melakukan sesuatu yang kamu belum siap atau belum mengerti. Usia kamu memang masih muda, dan kamu punya hak untuk belajar secara perlahan."
Rizky mendekatinya dan memegang tangannya dengan lembut. "Tapi aku ingin belajar, Kak Kezia. Aku ingin menjadi suami yang layak untukmu. Bolehkah kamu mengajarkanku dengan sabar? Jangan tinggalkan aku ya."
Kezia merasa hatinya meleleh mendengar kata-kata itu. Dia memeluk Rizky dengan erat dan menangis pelan di bahunya. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, sayangku. Aku hanya merasa sedikit kecewa karena berpikir bahwa kamu sudah siap, tapi aku harus mengerti bahwa kamu butuh waktu untuk tumbuh dan belajar."
Mereka berdua kemudian duduk di tempat tidur dan mulai berbicara dengan jujur tentang perasaan mereka masing-masing. Kezia menjelaskan dengan sabar tentang arti cinta yang lebih dalam dalam pernikahan, bahwa itu bukan hanya tentang keinginan fisik semata tapi juga tentang rasa percaya dan kasih sayang yang mendalam antara dua orang.
"Aku tidak akan memaksamu melakukan apa-apa yang kamu belum siap, Rizky," ucap Kezia dengan suara lembut setelah selesai menjelaskan. "Kita bisa melakukannya ketika kamu benar-benar siap dan mengerti apa artinya itu."
Rizky mengangguk dengan penuh penghargaan. "Terima kasih sudah mau sabar denganku, Kak Kezia. Aku akan belajar dengan baik dan menjadi suami yang kamu banggakan. Mungkin aku masih banyak kekurangan, tapi aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu."
Kezia tersenyum lembut dan mencium dahinya. "Kamu sudah menjadi suami yang aku banggakan, Rizky. Cukup jadikan dirimu yang terbaik saja, dan kita akan melewati segala sesuatu bersama-sama."
Mereka berdua kemudian berbaring di tempat tidur, saling memeluk tanpa melakukan apa-apa selain berbagi cerita dan tawa tentang pengalaman mereka selama ini. Rizky bahkan menceritakan tentang kejadian lucu di kampus ketika dia salah menyebut nama dosen dengan nama karakter kartun kesukaannya, membuat Kezia tertawa riang dan melupakan semua kesedihan yang ada di hatinya.
"Sampai kapan kamu akan tetap seperti anak kecil ya, Rizky?" tanya Kezia dengan suara penuh kasih sayang.
"Selamanya kalau itu membuat kamu bahagia, Kak Kezia," jawab Rizky dengan senyum ceria, lalu memberikan ciuman lembut di dahinya. "Tapi aku akan berusaha tumbuh menjadi orang dewasa yang baik agar bisa melindungi kamu dan membuat kamu bahagia."
Kezia hanya bisa tersenyum dan memeluknya lebih erat. Meskipun masih ada banyak hal yang harus dipelajari oleh Rizky, dia tahu bahwa cinta yang mereka miliki adalah yang terpenting. Dan dengan kesabaran dan komunikasi yang baik, mereka akan mampu melewati segala rintangan dan membangun rumah tangga yang bahagia dan penuh cinta.
Di kejauhan, bulan yang terbit cerah menyaksikan momen kehangatan antara pasangan muda itu – sebuah bukti bahwa cinta sejati tidak pernah terburu-buru, melainkan tumbuh secara perlahan dan kuat seperti pohon yang kokoh berdiri di tengah badai.