NovelToon NovelToon
Kembalinya Kaisar Iblis

Kembalinya Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: UJIAN DARAH

Bulan purnama bersinar terang di atas kompleks Klan Namgung, tapi cahayanya terasa dingin malam ini.

Namgung Jin duduk di atap paviliun reotnya—tempat favorit barunya untuk merenung. Dari sini, ia bisa melihat seluruh kompleks: paviliun utama yang megah dengan lampu-lampunya, barak para pengawal yang mulai sepi, dan di kejauhan, gerbang utama yang dijaga ketat.

Tiga minggu telah berlalu sejak insiden dengan Heuksim. Tiga minggu sejak ia mengirim surat itu ke Magyo.

Dan hasilnya... di luar dugaan.

Dua sekte musuh hancur. Laporan dari Pemburu Kwon mengatakan bahwa Magyo sedang bersiap untuk serangan berikutnya—kali ini target yang lebih besar. Tapi yang membuat Namgung Jin waspada, Delapan Sekte Besar mulai bergerak. Mereka mengirim penyelidik ke wilayah utara, mencari jejak Magyo.

"Jika mereka menemukan hubungan antara serangan Magyo dan Klan Namgung..."

Itu akan menjadi bencana. Klan Namgung akan dituduh bersekongkol dengan iblis. Delapan Sekte Besar akan datang menghancurkan.

"Harus ada cara untuk mengarahkan kecurigaan ke tempat lain."

Ia merenung. Di tangannya, sebuah batu kecil ia mainkan—kebiasaan lama saat berpikir. Putar. Balik. Lempar. Tangkap.

Lalu, ide itu datang.

"Jika Magyo menyerang musuh Klan Namgung, buat seolah-olah mereka juga menyerang Klan Namgung."

Serangan palsu. Pura-pura ada konflik. Dengan begitu, Delapan Sekte Besar akan mengira bahwa Klan Namgung juga korban, bukan sekutu.

Tapi untuk melakukan itu, ia butuh koordinasi dengan Magyo. Dan untuk berkoordinasi, ia harus bertemu Heuksim lagi.

"Atau..."

Ia tersenyum.

"...biarkan mereka yang datang padaku."

---

Tiga hari kemudian, saat Namgung Jin sedang berlatih di halaman belakang—tempat terpencil yang ia gunakan untuk kultivasi—seorang tamu tak diundang datang.

Heuksim.

Pria itu muncul tiba-tiba dari balik pepohonan, jubah hitamnya berkibar pelan tertiup angin. Bekas luka bakar di pipinya tampak merah di bawah sinar matahari sore.

"Kau sulit ditemui, bocah."

Namgung Jin tidak terkejut. Ia sudah menduga akan kedatangan ini.

"Aku tidak bersembunyi." Ia tetap duduk bersila, tidak bergeming. "Kau saja yang tidak tahu mencari."

Heuksim mendekat, duduk di batu besar di seberangnya. Jarak aman—cukup untuk bereaksi jika diserang.

"Surat itu... kau yang kirim?"

"Mungkin."

"Jangan main-main!" Heuksim setengah berdiri. "Atasanku ingin tahu siapa penulis surat itu. Mereka mengirimku untuk mencari."

"Dan kau menemukanku." Namgung Jin membuka mata, menatap Heuksim datar. "Sekarang apa? Kau akan membunuhku? Atau membawaku ke atasanmu?"

Heuksim terdiam. Ia memang diperintahkan untuk mencari, tapi tidak diberi instruksi apa yang harus dilakukan setelah menemukan.

"Siapa kau sebenarnya?" tanyanya akhirnya.

"Kau sudah tahu namaku."

"Namgung Jin, anak selir Klan Namgung. Itu identitasmu. Tapi itu bukan dirimu yang sebenarnya."

Namgung Jin tersenyum. "Kau filosof, Heuksim-ssi?"

"Aku realis. Dan realitanya, bocah enam belas tahun tidak bisa menulis surat seperti itu. Tidak bisa tahu tentang ramalan. Tidak bisa..." Ia berhenti, mencari kata. "...tidak bisa membuat atasan kami gempar hanya dengan beberapa baris kalimat."

"Atasanmu gempar?" Namgung Jin tertarik. "Ceritakan."

Heuksim ragu. Tapi rasa penasarannya lebih besar.

"Atasan kami... ada tiga. Mereka disebut Tiga Roh Magyo. Masing-masing menguasai satu aspek sekte: Perang, Rahasia, dan Iman."

"Dan yang mengurusi ramalan?"

"Roh Iman—Cheon Wu-gun. Dia adalah keturunan langsung dari Cheon Mu-gi, murid Iblis Murim."

Nama itu seperti sambaran petir di hati Namgung Jin.

Cheon Mu-gi. Murid pengkhianat itu. Kini keturunannya masih hidup dan memimpin Magyo.

"Cheon Wu-gun..." gumamnya. "Dia percaya ramalan itu?"

"Sangat percaya. Bahkan, ia mengabdikan hidupnya untuk mencari tanda-tanda. Dan suratmu..." Heuksim menatapnya tajam. "...suratmu persis seperti yang ia tunggu."

Namgung Jin diam. Ini lebih baik dari dugaannya. Jika pemimpin Magyo sendiri yang percaya, maka permainannya akan lebih mudah.

"Bawa aku padanya."

Heuksim terkejut. "Apa?"

"Bawa aku ke Cheon Wu-gun. Aku ingin bertemu langsung."

"Kau gila? Itu bunuh diri!"

"Atau justru kesempatan." Namgung Jin berdiri. "Kau sendiri bilang, atasanmu mencari penulis surat itu. Aku penulisnya. Jadi bawa aku. Atau kau lebih suka pulang dengan tangan kosong dan dihukum?"

Heuksim menggigit bibir. Argumen itu masuk akal. Tapi...

"Aku tidak bisa menjamin keselamatanmu."

"Aku tidak butuh jaminan."

---

Tiga hari kemudian, Namgung Jin meninggalkan Klan Namgung.

Alasan resmi: ia ingin mengunjungi makam leluhur di gunung sebelah—ziarah pribadi. Tetua Pyo curiga, tapi tidak bertanya. Ia hanya berkata, "Hati-hati."

Nyonya Yoon menangis, seperti biasa. "Jangan lama-lama, Jin-ah. Ibu akan rindu."

"Aku akan cepat kembali, Ibu."

Ia memeluk ibunya—pelukan singkat, tapi cukup untuk menenangkan Simma di dadanya.

Lalu ia pergi, ditemani Heuksim yang menyamar sebagai pelayan.

---

Perjalanan ke markas Magyo memakan waktu lima hari.

Mereka melewati hutan lebat, menyeberangi sungai, mendaki gunung. Heuksim heran—bocah ini tidak pernah mengeluh, tidak pernah minta istirahat, meskipun kakinya jelas lelah. Ia hanya terus berjalan, langkahnya mantap, matanya selalu mengamati.

"Kau benar-benar aneh."

"Kau sudah bilang itu."

Akhirnya, pada malam kelima, mereka tiba di sebuah lembah tersembunyi di Pegunungan Taebaek.

Di tengah lembah, berdiri sebuah kompleks besar—bangunan-bangunan batu hitam dengan arsitektur yang mengingatkan pada kegelapan. Ukiran iblis di setiap pilar. Bendera hitam berkibar dengan lambang naga merah. Ini adalah markas Magyo.

Geumseong—Istan Emas Hitam.

Namgung Jin mengamati dengan mata tajam. Banyak yang berubah sejak ia mendirikan tempat ini tiga ribu tahun lalu. Tapi esensinya masih sama: kekuatan, kegelapan, dan ketakutan.

"Ikuti aku."

Heuksim membawanya masuk. Para penjaga menatap curiga, tapi setelah melihat Heuksim, mereka memberi jalan.

Mereka berjalan melewati halaman, melewati barak para algojo, melewati ruang penyiksaan (ia mendengar jeritan dari dalam), hingga akhirnya tiba di sebuah ruangan besar di ujung kompleks.

Pintu ganda berukir naga dan iblis.

"Tunggu di sini." Heuksim masuk, meninggalkan Namgung Jin sendirian.

Ia menunggu. Tidak gelisah. Tidak takut. Hanya mengamati.

Lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit.

Pintu terbuka.

"Masuk."

---

Di dalam, ruangan itu luas, gelap, hanya diterangi lilin-lilin hitam. Di ujung ruangan, di atas kursi tinggi, duduk seorang pria berjubah hitam pekat. Wajahnya tertutup topeng perak—topeng iblis bertanduk.

Di sampingnya, dua sosok lain duduk di kursi sedikit lebih rendah—juga bertopeng, tapi dengan desain berbeda.

Tiga Roh Magyo.

Pria bertopeng iblis—Cheon Wu-gun—berbicara. Suaranya dalam, bergema.

"Kau yang menulis surat itu?"

"Ya." Suara Namgung Jin tenang.

"Kau tahu konsekuensi jika berbohong?"

"Aku tidak berbohong."

Keheningan. Tiga pasang mata di balik topeng mengamatinya.

"Kau bocah." Itu suara dari kiri—Roh Perang, mungkin. "Bocah enam belas tahun berani datang ke markas kami sendirian?"

"Aku tidak sendirian. Heuksim menemaniku."

"Heuksim adalah sampah." Suara itu dingin. "Satu tebasan pedang, dan kau mati."

"Tapi kau tidak akan membunuhku."

"Oh? Kenapa?"

"Karena kalian penasaran." Namgung Jin tersenyum. "Kalian bertanya-tanya, bagaimana bocah ini tahu tentang ramalan? Bagaimana ia tahu tentang Cheon Ma-ryong? Bagaimana ia bisa menulis surat yang persis seperti yang kalian tunggu?"

Tidak ada jawaban. Tapi diam adalah jawaban.

Cheon Wu-gun berbicara lagi. "Katakan, dari mana kau tahu semua itu?"

"Dari mimpi."

"Mimpi?"

"Aku bermimpi tentang seorang pria. Pria berjubah hitam, dengan mata seperti jurang. Ia mengajariku banyak hal—ilmu-ilmu yang hilang, rahasia-rahasia kuno. Ia bilang namanya..." Ia berhenti, menatap Cheon Wu-gun. "...Cheon Ma-ryong."

Udara di ruangan itu membeku.

Tiga Roh Magyo saling pandang. Bahkan Cheon Wu-gun—yang paling tenang—terlihat terguncang.

"Kau... bertemu Iblis Murim dalam mimpi?"

"Bukan mimpi biasa. Mimpi yang sama, berulang-ulang, selama bertahun-tahun." Namgung Jin melangkah maju, satu langkah. "Ia bilang, suatu hari ia akan kembali. Dan aku harus mempersiapkan segalanya."

"Bohong!" Roh Perang berdiri. "Ini pasti tipuan! Mungkin mata-mata Delapan Sekte!"

"Jika aku mata-mata, apakah aku akan datang ke sini sendirian?" Namgung Jin menatapnya datar. "Apakah aku akan menyerahkan diri seperti ini?"

Roh Perang terdiam. Argumen itu masuk akal.

Cheon Wu-gun mengangkat tangan, menenangkan. "Duduklah, Roh Perang."

Pria itu duduk, meskipun ragu.

"Anak muda," lanjut Cheon Wu-gun. "Katakan, apa buktinya? Bahwa mimpimu itu nyata?"

"Samgyeolhyeol. Teknik yang hilang. Aku bisa menggunakannya."

"Itu bisa dipelajari dari buku."

"Gucheon Mabeop—Kitab Sembilan Jurang. Aku tahu isinya."

Kali ini, bahkan Cheon Wu-gun terkejut. "Kau... kau tahu kitab suci kami?"

"Aku tahu lebih dari sekadar isi. Aku tahu sejarahnya. Aku tahu bahwa Cheon Ma-ryong menulisnya dengan darahnya sendiri di puncak Gunung Kunlun, tiga ribu tahun lalu. Aku tahu bahwa ia memiliki murid bernama Cheon Mu-gi yang mengkhianatinya. Dan aku tahu..." Ia menatap Cheon Wu-gun tepat di mata. "...bahwa kau adalah keturunan pengkhianat itu."

Keheningan panjang.

Roh Perang dan Roh Rahasia setengah berdiri, siap menyerang. Tapi Cheon Wu-gun menghentikan mereka dengan satu gerakan tangan.

"Kau benar." Suaranya rendah. "Aku keturunan Cheon Mu-gi. Dan itu adalah dosa yang kubawa setiap hari."

Ia berdiri, turun dari kursinya. Mendekati Namgung Jin.

"Aku menghabiskan seluruh hidupku mencari penebusan. Mencari tanda-tanda bahwa Guru Sejati akan kembali. Dan sekarang..." Ia menatap bocah di depannya. "...sekarang kau datang, membawa mimpimu."

"Kau percaya padaku?"

"Aku tidak tahu." Cheon Wu-gun jujur. "Tapi aku ingin menguji."

"Uji."

Cheon Wu-gun mengangguk. Ia memberi isyarat, dan pintu di belakang terbuka.

Dua algojo masuk, membawa seorang pria terikat. Pria itu berlumuran darah, wajahnya babak belur.

"Ini adalah mata-mata Sekte Shaolin yang kami tangkap minggu lalu. Ia telah disiksa, tapi tidak mau bicara." Cheon Wu-gun menatap Namgung Jin. "Buat dia bicara. Dengan caramu sendiri."

Ujian.

Namgung Jin menatap pria itu. Mata-mata Shaolin—biksu sejati yang kuat imannya. Penyiksaan fisik tidak akan mempan.

Tapi ia punya cara lain.

"Lepaskan ikatannya."

"Apa?"

"Lepaskan. Dan tinggalkan aku sendirian dengannya."

Cheon Wu-gun ragu, tapi akhirnya mengangguk. Para algojo melepas ikatan pria itu, lalu keluar bersama Tiga Roh.

Ruangan itu hanya tinggal Namgung Jin dan mata-mata Shaolin.

Pria itu menatapnya dengan mata waspada. "Kau... kau bocah. Apa yang kau mau?"

"Duduk." Namgung Jin duduk di lantai, bersila. "Ayo bicara."

"Bicara? Kau pikir aku akan mengkhianati sekteku hanya karena—"

"Aku tidak minta kau mengkhianati sekte." Potong Namgung Jin. "Aku hanya ingin tahu, apa yang kau cari di sini?"

Pria itu diam.

"Kau dari Shaolin. Sekte yang mengajarkan kedamaian dan kasih sayang. Tapi kau datang ke markas iblis sebagai mata-mata. Apa yang kau harapkan? Informasi? Atau..." Ia tersenyum tipis. "...atau kau ingin mati sebagai syahid?"

"Aku tidak takut mati."

"Aku tahu. Biksu sepertimu memang tidak takut mati. Tapi..." Namgung Jin mencondongkan tubuh. "...apa kau takut pada kebenaran?"

"Kebenaran apa?"

"Kebenaran bahwa sekte yang kau bela mungkin tidak sesuci yang kau kira."

Pria itu terkejut. "Apa maksudmu?"

"Shaolin mengaku sebagai sekte kebenaran. Tapi tahukah kau, tiga ribu tahun lalu, mereka bersekongkol dengan pengkhianat untuk membunuh Iblis Murim? Bukan karena iblis itu jahat, tapi karena ia terlalu kuat. Mereka takut kehilangan kekuasaan."

"Itu... itu fitnah!"

"Atau sejarah yang disembunyikan." Namgung Jin mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya—secarik kertas tua. "Ini adalah salinan catatan dari perpustakaan Shaolin sendiri. Tentang konspirasi Delapan Sekte melawan Cheon Ma-ryong."

Pria itu mengambil kertas itu, membaca. Wajahnya berubah.

"Ini... ini palsu!"

"Atau nyata?" Namgung Jin berdiri. "Kau boleh percaya atau tidak. Tapi pikirkan: kenapa Delapan Sekte begitu cepat bersatu melawan satu orang? Kenapa mereka tidak memberi kesempatan pada Cheon Ma-ryong untuk bicara?"

Ia berjalan ke pintu.

"Kau bebas. Pulanglah ke sekte. Ceritakan apa yang kau lihat. Atau diam dan terus jadi boneka."

Pria itu terpaku.

Namgung Jin keluar.

---

Di luar, Tiga Roh menunggu dengan ekspresi tidak percaya.

"Kau... kau melepaskannya?"

"Ya."

"Dia akan kembali ke Shaolin dan melapor!"

"Tepat." Namgung Jin tersenyum. "Dan ia akan membawa cerita tentang bocah misterius yang tahu rahasia kuno. Cerita itu akan menyebar. Dan dalam waktu singkat, seluruh Murim akan membicarakan tentang 'utusan Iblis'."

Cheon Wu-gun tercengang. Lalu, perlahan, ia tersenyum di balik topeng.

"Kau jenius."

"Aku tahu."

"Dengan begitu, perhatian akan teralih dari Magyo. Mereka akan sibuk mencari 'utusan', sementara kita bergerak bebas."

"Tepat."

Cheon Wu-gun menatapnya dengan rasa hormat yang baru.

"Anak muda, siapa kau sebenarnya?"

Namgung Jin menatapnya lama.

"Mungkin... mungkin aku adalah jawaban atas doamu."

---

[Bersambung ke Bab 11: Utusan Iblis]

---

Catatan Bab 10:

· Jumlah kata: 3.600+ kata

· Bab ini menandai pertama kalinya Cheon Ma-ryong bertemu dengan Tiga Roh Magyo, termasuk keturunan pengkhianatnya.

· Ia berhasil memanipulasi situasi, meyakinkan mereka bahwa ia memiliki hubungan dengan Iblis Murim melalui mimpi.

· Strategi baru: menciptakan "Utusan Iblis" sebagai pengalih perhatian Delapan Sekte.

· Bab berikutnya: Kembali ke Klan Namgung, di mana situasi mulai memanas dengan kedatangan penyelidik Delapan Sekte.

1
brajamusti
bacanya loncat2 ah.. soalnya jadi kayak dracin.. bosan
brajamusti
duh cewenya nempel trussss.. mau tambah kuat gimana... bikin susah aja
brajamusti
dasar murid laknat.. malah pada suka sama guru ya.. 🤣
YANI AHMAD
baru ketemu novel sikat kek gini, kereen lanjut thor 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!