NovelToon NovelToon
Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Romansa
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.

Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.

Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.

Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Ruang rapat yang kedap suara itu mendadak terasa hampa udara. Tatapan Harva mengunci mataku, menuntut sebuah kepatuhan mutlak atas nama profesionalisme. Di hadapanku, layar presentasi masih menyala, menampilkan grafik kesuksesan yang selama ini kukejar. Namun, di bawah telapak tanganku, ponsel itu terus bergetar—sebuah panggilan darurat dari Ibu Arlan.

"Rania, aku tidak suka mengulang pertanyaan," suara Harva merendah, dingin dan mengancam. "Duduk, dan selesaikan presentasimu. Atau silakan keluar dari pintu itu dan lupakan kontrak Vantara selamanya."

Aku menatap pintu kayu jati besar di ujung ruangan, lalu kembali menatap Harva. Pria di depanku ini adalah sosok yang memujaku, tapi dia juga sosok yang sanggup menghancurkanku jika egonya terusik.

Sedangkan Arlan? Dia adalah luka yang masih menganga, pria yang mengkhianatiku, namun kini sedang bertaruh nyawa di UGD.

"Harva," ucapku, suaraku bergetar namun tegas. "Proyek ini adalah ambisiku. Tapi membiarkan seseorang mati karena egoku... itu bukan profesionalisme. Itu kekejaman."

Aku meraih ponsel dan laptopku dalam satu gerakan cepat.

"Rania!" Harva membentak, wajahnya mengeras karena amarah. "Kalau kamu melangkah keluar, aku akan pastikan Pak Bram tahu bahwa kamu meninggalkan rapat demi mantan kekasihmu yang sekarat itu!"

Aku berhenti tepat di depan pintu, menoleh sedikit tanpa emosi. "Silakan beritahu Pak Bram. Tapi ingat satu hal, Harva. Aku adalah aset terbaik di perusahaan itu. Kamu bisa memutus kontrak, tapi kamu tidak akan bisa menemukan orang lain yang mengerti proyek ini sedalam aku."

Aku melangkah keluar. Suara sepatu hak tinggiku bergema di lorong sunyi kantor Harva. Aku tidak peduli lagi pada ancaman itu. Rasa mual yang biasanya muncul karena benci, kini berganti menjadi ketakutan yang murni. Ketakutan bahwa Arlan akan pergi sebelum aku sempat memaafkan diriku sendiri karena telah membencinya begitu dalam.

UGD Rumah Sakit Medika.

Aku berlari menyusuri lorong rumah sakit yang berbau karbol menyengat. Di depan ruang tindakan, aku melihat Ibu Arlan sedang duduk bersimpuh di lantai, menangis sesenggukan sementara Bapak Arlan mencoba menenangkannya dengan tangan yang juga gemetar.

"Tante!" seruku sambil menghampiri mereka.

"Rania... Arlan, Nak... dia pingsan di kantor. Dokter bilang kondisinya menurun drastis. Ginjalnya... ginjalnya sudah tidak sanggup lagi," Ibu Arlan memeluk kakiku, suaranya parau karena tangis.

Aku mematung. Di balik tirai hijau itu, aku bisa mendengar suara monitor jantung yang berbunyi tit... tit... tit... yang tidak beraturan. Pria yang kemarin masih mencoba memohon maaf padaku, kini sedang berada di ambang maut.

Tiba-tiba, seorang perawat keluar dengan terburu-buru. "Keluarga Pak Arlan? Pasien sadar sebentar dan terus memanggil nama Rania. Tolong, salah satu masuk, tapi hanya sebentar."

Bapak Arlan menatapku, matanya memohon. "Masuklah, Ran. Mungkin hanya kamu yang dia butuhkan sekarang."

Aku melangkah masuk dengan kaki yang terasa berat seperti timah. Di sana, di atas bangsal dengan berbagai selang menempel di tubuhnya, Arlan terbaring. Wajahnya sangat kuning, matanya sayu dan hampir tertutup.

"Ran... ia..." bisiknya, hampir tidak terdengar.

Aku mendekat, meraih tangannya yang terasa sedingin es. "Aku di sini, Arlan. Jangan bicara dulu."

"Ma... af..." air mata mengalir dari sudut matanya yang menguning. "Siska... malam itu... aku... aku dipaksa minum... dia... dia jebak aku, Ran. Aku... aku nggak sadar..."

Langkah kakiku goyah. Jebakan? Apa maksudnya?

Sebelum Arlan sempat melanjutkan, suara monitor jantung berubah menjadi satu nada panjang yang memekakkan telinga. Tiiiiiiiiiiiiiiiiit...

"Dokter! Suster!" teriakku panik.

1
Ayudya
rania kalau kamu terus sendiri dan harus terpuruk dengan masa lalu ga bagus juga si menurut aku yga ada Mala kamu di anggap belum bisa menghilangkan bayangan masa lalu kamu🤣🤣🤣🤣
Ayudya
aku suka dengan karakter Rania tegas dan ga menye menye🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Dinar David Nayandra
si harga kok tau smpe datail gtu ya ada mata mata dia kayanya
Nur Atika Hendarto
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!