Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.
Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.
Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.
Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.
Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Bebek Karet dan Saham yang Merosot
Pagi itu, layar televisi di ruang makan kediaman Adiguna menampilkan grafik merah yang menukik tajam. Pembawa berita bisnis dengan suara panik mengabarkan bahwa konsorsium bentukan Rendy dan Pak Batubara berhasil merebut tender proyek jembatan penghubung di Bali Utara. Saham Adiguna Group terkoreksi 5% dalam satu jam pembukaan pasar.
Devan duduk di meja makan, menatap iPad-nya dengan rahang mengeras. Ponselnya terus bergetar—panggilan dari dewan komisaris, sekretaris, dan investor yang ketakutan. Di tengah kegentingan itu, ia mencium aroma aneh dari arah dapur. Bukan aroma roti bakar, bukan juga aroma kopi.
Tapi aroma... karet terbakar?
"Nika? Kamu sedang apa?" Devan berdiri, melangkah cepat ke dapur dengan perasaan waspada.
Di sana, Nika sedang berdiri di depan kompor dengan serius. Ia mengenakan celemek bermotif bunga matahari, tapi yang membuat Devan mematung adalah apa yang ada di atas meja dapur. Ada sekitar dua puluh ekor bebek karet kuning yang biasa dipakai anak kecil saat mandi, dan Nika sedang mencoba menempelkan topi konstruksi kecil dari kertas di kepala bebek-bebek itu menggunakan lem tembak.
"Ni? Saham kita sedang anjlok, Rendy baru saja mengumumkan kemenangan tendernya di televisi, dan kamu... bermain bebek?" Devan mengusap wajahnya, bingung antara ingin marah atau tertawa karena kegilaan istrinya.
Nika menoleh, kacamata renangnya (yang sepertinya sudah jadi seragam masak resminya) masih bertengger di dahi. "Mas, jangan panik. Saham itu seperti air laut, kadang pasang, kadang surut. Tapi bebek-bebek ini? Mereka selalu mengapung. Itu filosofinya!"
"Filosofi bebek?" Devan mengangkat sebelah alisnya, mendekat dan mengambil satu bebek yang sudah memakai topi kertas.
"Iya! Aku sudah buat rencana. Rendy menang tender karena dia pakai cara kotor dan banting harga, kan? Biarkan saja. Dia akan pusing sendiri mengurus birokrasi dan warga lokal yang sudah terlanjur sayang sama kamu," Nika meletakkan lem tembaknya, lalu memeluk pinggang Devan. "Sekarang, aku mau kamu mandi. Aku sudah siapkan sesuatu di bak mandi."
Devan menghela napas, mengikuti tarikan tangan Nika menuju kamar mandi utama. Saat pintu dibuka, Devan hampir saja terjatuh karena terkejut. Bak mandi bathtub mewah mereka penuh dengan busa, dan di atas busa itu mengapung ratusan bebek karet kuning yang tadi Nika siapkan. Di tengah-tengahnya, ada sebuah kapal plastik mainan yang diberi bendera kecil bertuliskan: "ADIGUNA GROUP: PANTANG KARAM!"
"Nika... apa-apaan ini?" Devan tertawa lepas, tawa yang benar-benar keluar dari perutnya, menghilangkan seluruh ketegangan di pundaknya.
"Ini sesi meditasi strategis, Mas Bos! Kamu mandi di antara bebek-bebek ini, bayangkan bebek itu adalah masalah-masalahmu. Mereka lucu, mereka bunyi mencit-mencit kalau dipencet, dan mereka tidak bisa tenggelam. Begitu juga kamu," Nika mendorong Devan masuk ke kamar mandi. "Cepat mandi! Aku sudah siapkan baju santai. Hari ini kita tidak ke kantor."
"Tidak ke kantor? Saham kita—"
"Saham biarkan Siska yang urus! Hari ini kita akan melakukan sabotase balik dengan cara yang sangat elegan," Nika mengedipkan mata, lalu menutup pintu kamar mandi, meninggalkan Devan yang masih tercengang di depan ratusan bebek karet.
Satu jam kemudian, Devan keluar dengan perasaan yang jauh lebih segar—dan sedikit malu karena ia baru saja menghabiskan waktu memencet bebek karet agar berbunyi. Ia menemukan Nika sudah menunggu di garasi dengan mobil Jeep terbuka, mengenakan topi pantai besar dan membawa keranjang piknik.
"Kita mau ke mana?" tanya Devan, kini ia sudah pasrah pada kegilaan istrinya.
"Kita ke pasar loak!" seru Nika semangat.
"Pasar loak? Untuk apa?"
"Mencari barang antik untuk dikirim ke Rendy sebagai kado kemenangan. Aku sudah siapkan kartu ucapannya: 'Selamat atas tender yang kau curi. Semoga proyekmu seawet barang-barang tua ini yang sebentar lagi hancur'. Dan setelah itu, kita akan makan bakso urat di pinggir sungai," jawab Nika sambil menginjak gas.
Sepanjang perjalanan, Nika terus menyanyi dengan suara sumbang, mengikuti lagu-lagu di radio. Ia bahkan sengaja memesan es krim lewat aplikasi dan meminta ojeknya mengejar mobil mereka di lampu merah hanya karena ia tiba-tiba ingin makan es krim cokelat.
"Ni, kamu benar-benar tidak takut kalau perusahaan kita goyah?" tanya Devan di sela suapan es krimnya yang mulai meleleh.
Nika menghentikan nyanyiannya, menatap Devan dengan tatapan yang tiba-tiba sangat dewasa. "Mas, uang bisa dicari lagi. Saham bisa naik lagi. Tapi kesehatan mentalmu? Itu tidak ada harganya. Rendy mau kamu stres, dia mau kamu panik dan buat kesalahan. Kalau kita malah piknik dan makan bakso dengan bahagia, dia yang akan stres karena merasa serangannya tidak mempan."
Devan terdiam. Ia baru menyadari bahwa keceriaan random Nika adalah tameng yang sengaja diciptakan istrinya untuk melindunginya. Nika sedang menjadi "bebek karet" dalam hidupnya—selalu mengapung meski ditekan ke bawah air.
Tiba-tiba, ponsel Devan bergetar. Pesan dari Siska: "Pak, Rendy baru saja menelepon. Dia marah-marah karena Anda tidak bisa dihubungi dan akun media sosial perusahaan justru memposting foto... sekumpulan bebek karet di bathtub dengan caption 'Keep Floating'? Investor malah menganggap ini strategi marketing jenius yang menunjukkan ketenangan perusahaan. Saham mulai stabil!"
Devan menatap Nika yang sedang sibuk mencoba menawar harga sebuah setrika arang tua di pasar loak dengan gaya yang sangat heboh.
"Nika!" panggil Devan.
"Ya, Mas?" Nika menoleh dengan wajah penuh keringat namun terlihat sangat cantik.
Devan mendekat, menarik pinggang istrinya dan menciumnya di tengah keramaian pasar loak, mengabaikan bau besi tua dan debu di sekitar mereka. "Kamu benar-benar asisten strategi paling random dan terbaik yang pernah ada."
"Tentu saja! Dan sekarang, bantu aku angkat setrika arang ini. Berat sekali, Mas! Ini mau aku kirim ke kantor Papa biar dia sadar kalau cara bisnisnya sudah kuno!"
Hari itu, di tengah kehancuran rencana sabotase Rendy, Devan belajar satu hal: terkadang, untuk menghadapi masalah yang sangat serius, Anda hanya butuh ratusan bebek karet dan seorang istri yang cukup gila untuk mencintai Anda tanpa batas.