Satu malam dalam keadaan mabuk berat, Permana merusak hidup seorang wanita yang bahkan tak ia kenal.
Wanita itu—Aaliyah, putri dari orang terpandang di kota London. Ia merasa bersalah sudah menodai wanita itu, sampai kata - kata yang di ucapkan oleh Aaliyah pada malam itu masih terus terngiang di kepala Praman.
“Bertaubatlah !! Kasihani orang tua mu. Aku tahu siapa dirimu sebenarnya.”
Sejak saat kejadian itu, Pramana. Merasa bersalah pada Aaliyah. meretakkan cintanya pada sang kekasih, mengguncang keyakinannya, dan menyeretnya pada pertanyaan terbesar:
mampukah ia menebus dosanya selama ini ia lakukan atau justru tenggelam dalam masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Millea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Hujan tipis turun membasahi jalanan kota London, menyulap trotoar menjadi cermin yang memantulkan cahaya lampu jalan berwarna kuning pucat. Dari balik kaca jendela rumah yang dingin, Pramana berdiri kaku. Matanya tak benar-benar menatap ke luar, hanya kosong, menembus gemerlap malam. Tangannya gemetar ketika menyalakan rokok—batang keempat malam itu. Asapnya menari sebentar, lalu lenyap, sama seperti ketenangan yang tak pernah benar-benar ia miliki.
Dadanya sesak. Ada beban yang menindih, seolah setiap tarikan napas adalah hukuman. Bukan pekerjaan, bukan juga masalah sepele yang bisa ia ceritakan pada orang lain. Rasa itu berasal dari sesuatu yang tak bisa ia lepaskan—rasa
bersalah yang terus menghantui, menggerogoti pikirannya sedikit demi sedikit.
Ia menutup mata, berharap gelap bisa memberi jeda. Namun yang datang bukan ketenangan, melainkan bayangan wajah seorang wanita. Tatapan mata itu, penuh luka dan kemarahan, menusuknya setiap kali ia berusaha melupakan. Kalimat yang diucapkan wanita itu menempel erat, tak mau pergi.
“Bertaubatlah. Kasihani orang tuamu. Aku tahu kamu seorang pria gay.”
Kalimat sederhana, tapi seperti belati yang mengiris pelan-pelan. Pramana menggertakkan giginya, memukul meja dengan kepalan tangan, mencoba menepis gema itu. Tapi semakin keras ia melawan,
semakin dalam kata-kata itu menancap.
Ponselnya tiba-tiba bergetar di meja. Nama itu muncul di layar—Ethan.
Pramana mendesah panjang, menatap layar beberapa detik. Bagian dirinya ingin mengabaikan, pura-pura sibuk, pura-pura lupa. Tapi ia tahu, Ethan tidak akan berhenti. Dengan enggan ia menjawab.
“Halo?”
“Pram, kau masih di rumah?” suara Ethan terdengar agak kecewa, meski ditutupi senyum ramahnya. “Aku sudah menunggu di kafe. Kau janji datang jam delapan, ingat?”
Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas.
“Oh… aku hampir lupa. Maaf, Ethan. Aku… aku akan datang sekarang.”
" Cepat lah datang, aku sudah menunggu mu begitu lama... " ucap Ethan dengan nada kesal di sebrang sanan.
Sudah hampir satu jam ia menunggu kedatangan Pramana di cafe langganan mereka berdua. Tapi sang pujaan hati malah tak kunjung datang. Membuat Ethan merasa semakin kesal dengan sikap Pramana sekarang.
" Maaf... aku akan segera datang kesana. Kamu jangan kemana - mana dulu.. "
Pramana bergegas berganti pakean lalu keluar menuju mobilnya yang terparkir di depan rumahnya. Dalam keadaan kepala pusing penuh dengan beban pikiran, Pramana akan tetap menemui sang pujaan hati yang selalu ada di sampingnya selama ini.
---
Kafe kecil di Soho itu hangat dan penuh cahaya. Musik jazz pelan mengalun, bercampur aroma kopi dan roti panggang yang baru keluar dari oven. Biasanya, tempat ini menjadi pelarian Pramana dari penat—tempat di mana ia bisa tertawa, berbagi cerita, dan menatap mata Ethan tanpa rasa takut. Tapi malam ini, suasana yang sama justru menjeratnya.
Ethan melambai dari meja dekat jendela. Senyum itu masih sama seperti dulu—ramah, tulus, dan penuh cinta. Tapi saat tangan Ethan meraih jemarinya, Pramana
hanya diam.
“Kau terlambat,” ucap Ethan lembut, mencoba bercanda.
Pramana memaksa tersenyum tipis. “Ya… maaf.”
Ethan menatap wajahnya lekat-lekat. “Kau terlihat berbeda. Kau bahkan tidak menatapku sejak duduk tadi. Ada apa, Pram?”
Pramana menunduk, meremas tangannya sendiri. Ia ingin berkata jujur, ingin berteriak bahwa ada badai dalam dirinya, bahwa ia sudah melakukan hal yang tak bisa dimaafkan. Tapi lidahnya kelu.
“Tidak ada apa-apa,” jawabnya pendek.
Ethan mendesah, suaranya terdengar lebih berat. “Kau pikir aku tidak tahu? Beberapa minggu terakhir, kau bukan dirimu yang biasa. Kau dingin. Kau jauh. Apa… kau sudah tidak mencintaiku lagi?”
Pertanyaan itu menamparnya. Kata-kata Ethan penuh harap sekaligus takut. Pramana ingin menyangkal, ingin meraih tangan itu dan berkata “tidak”, tapi bayangan wajah wanita itu kembali muncul. Aaliyah. Ia melihat tatapannya lagi, mendengar kata-katanya lagi. Setiap kali Ethan mendekat, yang muncul justru Aaliyah.
Ethan mendekat sedikit, menatapnya lekat. “Kalau ada masalah, bicaralah denganku. Aku ada di sini. Aku mencintaimu, Pram. Jangan diam saja.”
" Aku ingin hubungan kita seperti dulu lagi. Saling bertukar pikiran dan bercerita tentang apa pun." Lanjut Ethan sambil menatap wajah Pramana dengan lekat dan cinta.
Pramana merasa dadanya kian sesak. Cinta Ethan seharusnya menjadi pegangan, tapi justru membuat rasa bersalah semakin dalam. Ia teringat ibunya di Indonesia, seorang wanita sederhana yang selalu menasihati lewat telepon agar ia tetap dekat dengan Tuhan. Ia teringat wajah ayahnya yang tegas dan penuh wibawa. Mengejar banyak tentang kehidupan pada Pramana.
Dan kini, suara Aaliyah bercampur dengan itu semua, menjadi pusaran yang membuatnya hampir gila.
“Aku… aku hanya butuh waktu, Ethan.” suaranya bergetar.
Ethan terdiam, menatapnya dengan bingung. Waktu? Untuk apa? Namun ia menahan diri. Ia tahu mendesak hanya akan membuat keadaan semakin runyam.
Mereka makan malam dalam diam. Hidangan pasta dingin di piring, kopi latte tinggal setengah, dan suasana yang biasanya hangat kini terasa dingin. Ethan sesekali mencoba membuka percakapan, tapi jawaban Pramana selalu pendek, nyaris hampa.
---
Usai mengantar Ethan pulang, Pramana
menyetir tanpa arah. Jalanan London berkelip-kelip oleh lampu jalan, tapi di dalam mobil, hanya ada gelap. Ia berputar, berkeliling kota tanpa tujuan, hingga akhirnya berhenti di tepi Sungai Thames.
Big Ben berdiri megah di kejauhan, jamnya berkilau memantul di permukaan air. Dulu, pemandangan ini selalu menenangkan. Kini, hanya menambah beban.
Pramana mematikan mesin mobil, menyalakan rokok lain, menatap kosong ke sungai. Ia mengingat kembali hasil pencarian tentang Aaliyah. Nama itu bukan sekadar nama—ia adalah seseorang dengan garis keturunan kuat, dengan keluarga yang terhormat. Amira Yasmin Dhandaru, diplomat senior yang disegani. Edwards Johnston, hakim agung yang pernah menjadi kebanggaan Inggris.
Aaliyah sendiri seorang desainer interior muda yang dikenal, wajahnya menghiasi majalah internasional.
Dan dirinya? Pramana Adiyaksa. Seorang analis keuangan dari Indonesia yang hidup di balik bayang-bayang, menutupi siapa dirinya sebenarnya. Kini, lebih dari itu—ia juga membawa dosa besar, noda yang menodai hidup seorang wanita terhormat.
Ia menunduk, air matanya jatuh begitu saja. “Kenapa aku? Kenapa harus aku yang menghancurkan hidupnya?” suaranya pecah.
Setir mobil ia pukul dengan keras. Sekali. Dua kali. Tiga kali. “Sial! Bodoh! B*ngs*t!” teriaknya, dadanya berguncang oleh amarah pada dirinya sendiri.
" Andai saja malam itu aku tak mabuk... aku tidak akan sampai seperti ini. "
Di dalam kesunyian malam London, hanya suara desah napas beratnya yang terdengar. Namun jauh di dalam dirinya, gema suara Aaliyah tak berhenti berbisik, menusuk, memaksa ia menghadapi kenyataan.
“Bertaubatlah. Kasihani orang tuamu. Aku tahu kamu seorang pria gay.”
Malam itu, Pramana sadar, bayangan itu tak akan pernah hilang—sampai ia menemukan cara untuk menebus segalanya.
Bersambung.....