Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.
Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.
Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.
Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.
Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranti Septriharaira M.T (202130073), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Lantai lima belas
Siang itu, Jakarta tampak sedikit lebih bersahabat. Langit biru membentang luas tanpa awan kelabu, memberikan pencahayaan alami yang sempurna tanpa kilau matahari yang menyengat. Bela berdiri tegak di trotoar, menatap sebuah gedung pencakar langit yang menjulang tinggi nan megah di pusat bisnis ibu kota. Dinding kaca gedung itu memantulkan warna langit, memberikan kesan futuristik sekaligus elegan.
Bela menarik napas dalam-dalam. Baginya, gedung ini bukan sekadar beton dan kaca tetapi ini adalah simbol masa depan yang cerah. Senyumnya mengembang lebar, sebuah ekspresi jujur yang sudah lama tidak mampir di wajahnya. Dengan langkah optimis, ia memasuki lobi gedung yang luasnya hampir seluas lapangan bola, dengan lantai marmer yang mengkilat hingga ia bisa melihat pantulan wajahnya sendiri.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya seorang satpam dengan seragam rapi dan sikap yang sangat sopan.
Bela menunjukkan layar ponselnya yang berisi undangan interview. Setelah melalui prosedur pemeriksaan keamanan yang singkat, Bela diarahkan menuju deretan lift cepat. Begitu masuk ke dalam kotak logam itu, jantungnya mulai berpacu. Ia menekan angka 15.
'Ting!'
Pintu lift terbuka. Seketika, hembusan udara dari pendingin ruangan pusat menyentuh wajah Bela dengan lembut. Bau ruangan ini sangat khas, harum aromaterapi yang mahal bercampur dengan aroma kopi berkualitas tinggi. Inilah yang Bela sebut sebagai "aroma kekayaan".
Langkah kaki Bela membawanya ke sebuah ruang tunggu dengan interior minimalis modern. Namun, antusiasmenya sedikit menyurut saat menyadari bahwa ia bukan satu-satunya kandidat. Di atas sebuah sofa kulit berwarna abu-abu yang terletak tepat di depan sebuah ruangan kerja yang elegan, sudah duduk dua wanita lain.
Kedua wanita itu kompak menoleh saat Bela datang. Mereka tampil sangat totalitas. Pakaian bermerek, riasan wajah yang tajam, dan sepatu hak tinggi yang tampak mahal. Meskipun suasana terasa canggung karena mereka adalah rival, senyuman sapaan tetap terpoles di wajah masing-masing, meski hanya basa-basi di bibir saja. Setelah itu, keheningan kembali menguasai. Tidak ada percakapan. Semuanya sibuk dengan dunianya sendiri. Satu wanita berulang kali melakukan touch-up pada makeupnya di depan cermin kecil, sementara yang satu sibuk menggeser layar ponsel dengan ekspresi serius.
Mereka dipanggil masuk satu per satu. Waktu tunggu terasa begitu lambat bagi Bela. Masing-masing peserta menghabiskan waktu sekitar lima belas menit di dalam. Bela adalah peserta terakhir. Saat kedua rivalnya keluar, mereka langsung melenggang pergi begitu saja tanpa memberikan kisi-kisi atau sekadar senyum penyemangat. Hal itu membuat Bela semakin tegang. Apa yang menunggu di dalam sana?
"Bela Putri Mahendra?"
Suara seorang asisten dari balik pintu memanggil namanya. Jantung Bela yang tadinya rileks kini mulai berdegup kencang secara tidak terkontrol. Telapak tangannya mendadak dingin dan berkeringat. Ini adalah interview formal pertama dalam hidupnya yang terasa sangat menentukan hidup dan matinya.
Bela berdiri, merapikan kemejanya, lalu melangkah masuk. Di balik meja kaca besar, duduk seorang wanita yang tampak sangat profesional namun intimidatif. Wanita itu duduk dengan kedua sikut di atas meja, jemarinya saling bertaut di bawah dagu, dan matanya yang tajam langsung mengunci pandangan Bela. Senyumannya tipis, jenis senyuman yang terlihat ramah namun sebenarnya sedang menilai setiap inci keberadaan Bela.
"Duduk," perintahnya singkat.
Bela duduk dengan posisi tegak, berusaha menutupi kegugupannya.
"Coba perkenalkan diri kamu," ucap wanita itu, sebuah pertanyaan klasik yang menjadi formalitas pembuka.
Bela menarik napas, mencoba mengatur suaranya agar tidak bergetar. "Nama saya Bela Putri Mahendra. Saya lulusan..."
Sebelum Bela menyelesaikan kalimatnya, wanita itu mengangkat tangan, memberi isyarat agar Bela berhenti. "Oke, Bela. Nama saya Angel. Saya adalah HRD di perusahaan media entertainment ini. Tapi biar saya perjelas satu hal. Kamu di sini bukan untuk posisi staf kantor biasa. Kamu melamar untuk menjadi asisten pribadi seorang influencer. Sebenarnya, beliau bukan sekadar selebritas media sosial. Beliau adalah pengusaha sukses, direktur dari perusahaan F&B besar, dan punya kafe di beberapa lokasi elit yang mungkin sering kamu dengar namanya kalau kamu suka nongkrong."
Bela mengangguk paham. Clue yang diberikan Angel membuatnya sadar bahwa orang yang akan ia layani bukan orang sembarangan. Hening sejenak. Angel kembali mengamati Bela dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tangannya memegang sebuah pulpen berbulu yang tampak eksentrik, ujungnya ia gunakan untuk menunjuk-nunjuk ke arah Bela seolah sedang mengukur kualitas sebuah barang di etalase.
"Wajah oke, kulit oke, rambut juga terawat," gumam Angel sementara ujung pulpen bulunya hampir menyentuh dagu Bela. Bela merasa sedikit risi dengan cara wanita ini menilainya secara fisik, tapi ia tetap berusaha tenang.
"Parfum kamu merek apa? Kok enak baunya?"
"Ah, biasa saja Ibu, hehe. Saya pakai Jo Malone English Pear & Freesia," jawab Bela dengan senyum malu-malu. Ia sengaja memilih aroma yang lembut namun tahan lama agar memberikan kesan profesional sekaligus feminin.
"Berdiri. Coba putar badan kamu," perintah Angel lagi.
Bela menurut. Ia berdiri dan memutar tubuhnya perlahan. Di dalam benaknya, ia bertanya-tanya apakah memang harus melihat fisik sedetail ini? Apakah menjadi asisten pribadi harus secantik itu? Namun, Bela cukup percaya diri. Jika skalanya satu sampai sepuluh, ia tahu ia berada di angka sembilan untuk urusan penampilan. Mungkin karena bos yang akan ia asistenkan adalah seorang pengusaha terkenal, maka asistennya pun harus menjadi wajah yang bisa dibanggakan.
Angel kembali sibuk mengetik sesuatu di tablet miliknya setelah Bela kembali duduk.
"Kamu sudah menikah? Soalnya sulit jadi asisten pribadi kalau sudah terikat pernikahan. Jadwalnya sangat padat dan tidak menentu."
Bela terdiam sejenak. Pertanyaan itu menghantamnya seperti batu kecil yang menyakitkan. "Hehe... belum, Ibu," jawab Bela dengan tawa getir yang ia sembunyikan dengan baik.
'Belum nikah, tapi sudah hamil duluan. Sialan banget hidup ini!' batinnya memaki nasibnya sendiri yang ironis.
"Okay. Saya rasa cukup untuk hari ini," Angel meletakkan tabletnya. "Tunggu informasi dari kami tiga hari dari sekarang. Kalau kami tertarik dan kamu masuk kriteria, kami akan menghubungi kamu lagi. Tapi kalau tidak ada kabar sampai lewat tiga hari, artinya kamu belum berkesempatan bergabung dengan tim kami."
Bela mengangguk paham, ia bangkit dari kursi dan memberikan anggukan hormat yang sopan. "Baik, Ibu Angel. Terima kasih banyak atas undangan dan kesempatannya hari ini. Saya sangat menantikan kabar baik dari Ibu ke depannya."
Bela melangkah keluar dari ruangan itu dengan perasaan campur aduk. Ada kelegaan karena tahap pertama sudah lewat, namun ada kecemasan besar yang kini menggantung di kepalanya. Tiga hari. Ia hanya punya waktu tiga hari untuk berharap sebelum kenyataan kembali menghakiminya.