Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konsep Pernikahan.
Pagi itu ruang keluarga rumah Prameswari dipenuhi berbagai macam kertas, katalog dekorasi, dan beberapa tablet yang menampilkan foto-foto konsep pernikahan. Di atas meja besar terhampar gambar pelaminan, contoh undangan, hingga daftar vendor yang sepertinya tidak akan pernah habis dibahas.
Bima duduk di salah satu kursi dengan ekspresi serius seperti seorang direktur yang sedang memimpin rapat perusahaan. Lestari di sampingnya memegang catatan kecil, sesekali menuliskan sesuatu sambil mendengarkan pembicaraan. Di sisi lain meja, Surya dan Ratna Mahendra duduk dengan sikap tenang yang sama elegannya seperti biasanya.
Pertemuan dua keluarga itu awalnya dimaksudkan untuk membicarakan hal sederhana.
Konsep pernikahan.
Namun masalah kecil itu ternyata berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit begitu Alya ikut membuka mulut.
Alya duduk dengan santai di kursinya sambil menggoyangkan kaki kecilnya di bawah meja. Rambutnya dibiarkan terurai lembut, sementara di tangannya ada sebuah tablet Aurelia Nova X yang menampilkan berbagai referensi pernikahan dari internet.
Adrian duduk di kursi seberangnya dengan posisi tegak dan tenang. Ia mengenakan kemeja abu-abu sederhana, kedua tangannya terlipat di atas meja. Jika dilihat sekilas, ia tampak seperti orang paling stabil di ruangan itu.
Dan memang benar.
Karena Alya baru saja membuka diskusi dengan kalimat yang membuat seluruh ruangan terdiam.
“Alya mau ada Reog.”
Sunyi.
Bima mengerjap dua kali.
“Reog… apa?”
“Reog Ponorogo,” jawab Alya santai. “Yang ada topeng singa gede itu.”
Lestari menatap putrinya dengan ekspresi yang perlahan berubah menjadi khawatir.
“Kamu serius?”
Alya mengangguk dengan sangat mantap. “Serius.”
Ia lalu menambahkan dengan nada yang lebih bersemangat, “Terus ada juga Kuda Lumping.”
Ratna yang tadi masih tersenyum ramah mulai terlihat bingung.
“Kuda Lumping?”
“Iya!” Alya mengangkat tangannya seperti seseorang yang sedang mempresentasikan ide brilian. “Yang penarinya kadang kerasukan itu loh. Seru banget.”
Bima menutup wajahnya dengan telapak tangan.
“Alya…”
Namun gadis itu belum selesai.
“Terus kalau bisa ada juga Hanoman atau Anoman,” lanjutnya dengan mata berbinar. “Yang lompat-lompat itu. Pasti keren banget.”
Ruangan kembali sunyi.
Lestari memandang suaminya dengan ekspresi putus asa.
“Mas… anak kita ini kenapa?”
Sementara itu Adrian masih duduk dengan tenang seperti biasanya. Ia menatap Alya beberapa detik seolah benar-benar mempertimbangkan ide tersebut.
Alya dalam hati sebenarnya sedang menunggu.
Ia menunggu ekspresi tidak nyaman.
Menunggu penolakan.
Menunggu Adrian akhirnya berkata sesuatu seperti, ini terlalu aneh atau kita cari konsep lain saja.
Karena itu memang tujuan utamanya.
Semakin aneh konsepnya, semakin cepat Adrian akan merasa lelah.
Namun yang terjadi justru sangat berbeda dari ekspektasinya.
Adrian akhirnya berkata dengan nada tenang, “Boleh juga.”
Alya langsung menoleh cepat.
“Hah?! Kamu bilang apa?!”
Adrian melanjutkan dengan santai, “Kalau ada Reog dan Kuda Lumping…”
Ia berhenti sebentar.
“…kita juga bisa tambahkan Barongsai.”
Sunyi.
Alya membeku.
Bima perlahan menurunkan tangannya dari wajahnya.
“Barongsai?”
Surya tertawa kecil. “Keluarga kami memang ada keturunan Chinese. Jadi Barongsai juga cukup simbolis.”
Ratna mengangguk setuju. “Pasti meriah. Selera Alya boleh juga yaaa, anaknya sangat cinta negara dan tradisionalisme.”
Alya menatap Adrian dengan ekspresi yang sangat sulit dijelaskan.
Ia sudah merancang konsep yang cukup gila.
Dan pria ini malah… menambahkan sesuatu yang lebih besar.
“Barongsai?”
“Iya,” jawab Adrian santai. “Supaya lengkap.”
Alya membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Untuk pertama kalinya dalam diskusi itu, ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa.
Padahal dalam hati Alya sebenarnya tidak menyukai konsep seperti itu sama sekali. Semua ide tadi hanya akal-akalan agar Adrian merasa pernikahan mereka terlalu ribet dan akhirnya menyerah.
Karena jika ia jujur, konsep pernikahan yang sebenarnya ia inginkan sangat berbeda.
Ia ingin sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Lebih tenang.
Lebih romantis.
Seperti yang sering ia lihat di majalah pernikahan luar negeri.
Akhirnya Alya menghela napas panjang lalu meletakkan tablet di meja.
“Baiklah,” katanya.
Semua orang menoleh.
Alya menyilangkan tangan sambil bersandar di kursinya. “Kalau begitu Alya juga punya konsep lain.”
“Seperti apa?” tanya Ratna penasaran.
Alya menyalakan lagi layar tablet Aurelia Nova X miliknya dan memperlihatkan beberapa foto.
Di layar terlihat taman luas dengan dekorasi bunga mawar putih dan merah. Lampu-lampu kecil tergantung di pepohonan, menciptakan suasana hangat seperti pesta pernikahan di film-film romantis.
“Intimate wedding,” kata Alya.
Bima mengangkat alis.
“Di luar negeri biasanya begitu.”
Ia menunjuk gambar lain di layar. “Setelah sangjit, pernikahannya kecil saja. Cuma keluarga dan teman dekat. Penuh bunga mawar putih dan merah.”
Ratna menatap gambar itu dengan kagum. “Wahhh, Cantik sekali.”
Lestari juga terlihat sedikit terkesan. “Ini memang elegan.”
Namun Bima masih terlihat curiga.
“Kamu yakin ini yang kamu mau?”
Alya mengangguk santai.
“Yakin.”
Ia melirik Adrian sebentar sebelum menambahkan dengan nada ringan, “Daripada ada Reog sama orang kerasukan.”
Surya tertawa kecil.
"Lahh? Itukan pilihan kamu sendiri tadi, lagi pula Adrian ga keberatan kan?" Goda Lestari pada anak semata wayangnya.
Ratna menutup mulutnya menahan senyum.
Sementara Adrian masih memperhatikan layar tablet dengan ekspresi serius.
Beberapa detik kemudian ia berkata, “Kalau kamu suka yang ini…”
Ia menoleh pada Alya.
“…kita pakai ini saja.”
Jawaban itu terlalu mudah.
Terlalu cepat.
Alya mengerjap.
“Kamu gak keberatan?”
Adrian menggeleng pelan. “Tidak.”
Alya menyipitkan mata curiga.
“Kamu yakin?”
“Iya.”
Alya menatapnya lebih lama.
Seolah sedang mencoba membaca pikiran pria itu.
Namun seperti biasanya, Adrian sama sekali tidak terlihat terganggu.
Di sisi lain meja, Lestari sudah mulai memijat pelipisnya lagi.
“Mas…” bisiknya pada Bima. “Bunda cuma berharap satu hal.”
“Apa?”
“Semoga anak kita bisa sedikit normal.”
Bima menghela napas panjang.
“Ayah juga berharap begitu.”
Diskusi itu akhirnya berlanjut cukup lama. Mereka membahas lokasi, dekorasi, tamu undangan, hingga detail kecil seperti warna bunga dan jenis musik yang akan dimainkan.
Namun sepanjang pembicaraan itu Alya terus memperhatikan Adrian dengan ekspresi penuh kecurigaan.
Ia sudah mencoba berbagai cara selama beberapa minggu terakhir.
Masakan gagal.
Nyanyian fals.
Cosplay Spiderman.
Konsep pernikahan absurd.
Tapi pria ini… tidak pernah terlihat kesal.
Bahkan sedikit pun tidak.
Ketika pertemuan akhirnya selesai dan keluarga Mahendra bersiap pulang, Alya berdiri di teras rumah sambil menyilangkan tangan.
Adrian berjalan mendekat.
“Kamu masih memikirkan konsep pernikahan?”
Alya menatapnya dengan wajah datar.
“Enggak.”
“Lalu?”
Alya menghela napas panjang.
Kemudian ia tiba-tiba tersenyum.
Senyum yang sangat… nakal.
“Mulai sekarang Alya mau panggil kamu pakai nama panggilan.”
Adrian mengangkat alis sedikit. “Nama apa?”
Alya mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
“Direktur Es Batu.”
Sunyi dua detik.
Alya menahan napas menunggu reaksi.
Namun Adrian hanya menatapnya sebentar lalu berkata dengan tenang,
“Kenapa?”
Alya menunjuk wajahnya.
“Karena kamu dingin banget.”
Adrian berpikir sebentar.
Lalu ia mengangguk kecil.
“Masuk akal.”
Alya membeku.
Ia benar-benar ingin melihat pria ini kesal sekali saja.
Tapi yang ia dapat justru jawaban datar seperti biasa.
Dan itu… jauh lebih menyebalkan.