Menceritakan Kayla Eleody Seorang gadis kaya raya dengan kehidupan glamour sempurna, gadis pemberani ini tiba tiba saja bertukar jiwa dengan Zara seorang gadis miskin yang menjadi korban bully di sekolah, mampukan Kayla hidup dalam raga Zara dengan segala kesulitannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourbee Lebah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Mencuri?
Leon mendekati Zara, namun gadis itu masih berdiri ditempatnya bahkan tak mundur sedikit pun saat Leon semakin dekat padanya.
"Jadi lo mau cium gue apa nggak?" Tanyanya.
"Lo pikir gue bakalan takut dan bilang kalo gue milih nyium lo apa gimana?"
Leon tersenyum remeh, "Ya gue berharap sih gitu"
Bugh
Zara menendang selakangan Leon dengan kaki kanan nya.
"Aaarkh!" Teriak Leon sambil mengantupkan kedua kakinya, sial sekali Zara menendangnya tepat di area terlarang dan menyebabkan sakit yang begitu kuat.
"Makan tuh!" Zara meninggalkan Leon tanpa peduli kesakitan yang di alaminya.
"Arggh aanjingg!" Umpat Leon.
Pemuda itu menoleh ke arah perginya Zara, Zara tampak mengacungkan jari tengah padanya.
"Ahh sialan tuh anak! masa depan gue!" Rintihnya.
...****************...
"Zara?" Panggil amir kuat.
pemuda itu tampak mengayuh sepeda nya kuat untuk menghampiri dirinya.
"Ngapain lo?" Tanya.
"Habis panen jagung, mau jalan jalan?" Tawarnya.
"Gak ah! males kalo berurusan sama lo! pasti ujung ujungnya ke sawah!"
"Kali ini enggak ke sawah deh, kamu mau kemana? tak anterin pake sepedaku" Tawarnya.
"Hmm boleh juga nih"
"Gue mau ke rumah sakit" Ujar Zara.
"Siapa yang sakit?"
"Gue!" Jawabnya tak santai.
Amir menggeleng tak mengerti, namun kemudian pemuda itu mengisyaratkan nya untuk naik pada boncengan.
"Jalan!" Perintah Zara.
30 menit kemudian...
Kini keduanya sudah berada di parkiran salah satu rumah sakit terbesar di kotanya, tanpa berfikir panjang Zara menarik tangan amir untuk mengikuti nya.
"Mau kemana ini?" Tanya amir kebingungan.
"Udah lo diem aja"
Zara terus menariknya dan melewati lorong lorong rumah sakit.
"Gue yakin papi naruh naruh gue ke ruangan VIP" Batin kayla.
"Permisi sus?"
"Ya? ada apa?"
"Ruang inap Kayla dimana ya?"
"Oh itu VIP yang ujung" Katanya.
"Makasih ya Sus"
"Sama sama"
Zara kembali menarik tangan Amir dan berjalan menuju ujung ruangan didepannya.
"Siapa kayla?"
"Itu gue" Balas Zara.
Amir menggaruk pelipisnya tak mengerti dengan apa yang di maksud Zara, namun ia tetap mengikuti langkah kaki gadis tersebut.
Zara membuka ruangan tempat dimana kayla di rawat, amir pun mengikutinya.
"Itu siapa?" Tanya amir penasaran
Keduanya menghampiri seorang gadis yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit tersebut
"Kamu kenal?" Tanya amir lagi.
"Ini gue" Kata nya.
"Aku gak ngerti" balas amir.
"Gue bukan Zara" Zara tampak mendengus ketika mengatakannya, ia tak yakin amir akan percaya pada ucapannya.
"Kalo bukan Zara terus siapa?"
"Nama gue kayla, dan ini tubuh gue" Tunjuknya pada badan yang terbaring tersebut
"Kamu bercanda ya? mana mungkin ada yang begitu" Kata amir.
Ia sudah menduganya, amir pasti tak akan percaya.
"Gak apa apa juga kalo lo gak percaya, gak penting buat gue, gue kesini cuma mau mastiin kalo badan gue yang seksi cantik ini baik baik aja" Katanya.
"Tapi emang aku udah curiga dari awal sih, gaya bicaramu aneh" Katanya.
"Tuhkan! gue kan udah bilang gue bukan Zara"
"Tapi kalo di pikir secara logika ya mana mungkin juga"
"Kan gue udah bilang kalo gak percaya ya gak apa apa" Kata Zara
"Apa buktinya kalo ini bener bener kamu?" Tanya amir menunjuk tubuh kayla.
"Gue punya tanda lahir di perut, cek aja kalo gak percaya" katanya.
"Ya masa aku mau buka buka baju dia, gak boleh dong, bukan muhrim" Katanya.
"Yaudah!" Zara mendudukkan dirinya di kursi yang ada di sana, menatap kayla yang terbaring dengan alat bantu pernapasan.
Amir melihat bagaimana zara tampak menyendu ketika menatap gadis yang terbaring di ranjang tersebut, ia ingin mempercayai ucapan Zara walaupun itu sulit.
"Capek tau gak hidup melarat, apa apa gue gak bisa, bahkan untuk bela diri aja gue harus mikir, di suruh tunduk terus" Gerutunya.
"Kalo jadi orang kaya? gimana?" Tanya amir.
"Bagaikan langit dan bumi! hidup gue dulu serba sempurna, gak ada yang berani dan semua orang tunduk sama gue!" Sombongnya.
"Nah! kayanya aku tau kenapa Tuhan menukar takdir kalian" Ucap amir tiba tiba.
"Katanya lo gak percaya?"
"Ya berhubung muka kamu kaya orang gak bohong aku jadi percaya deh"
"Jadi maksud lo apa?"
"Ya mungkin aja Tuhan pengen kamu melihat dari posisi si miskin, Tuhan pengen kamu tau gimana sulitnya jadi orang miskin biar kamu gak bisa menindas mereka" Katanya.
"Gue ralat ya! walaupun gue kaya gue gak pernah nindas orang miskin, ya kalo sombong wajar dong! kan emang kaya" Katanya.
"Nah sekarang kan posisi kamu lagi miskin, kalo denger orang sombongin kekayaannya kamu seneng?"
Zara berdecak dengan ucapan amir, kenapa pemuda ini selalu menyebalkan ketika berbicara, apa karena ia menyadari bahwa ucapan nya benar.
"Ya kesel! rasanya gue juga mau teriak di depan mereka semua kalo sebenernya gue kaya! gue punya segalanya! ya walaupun gak bakal ada yang percaya" Kata nya.
"Nah sama tuh, sebenernya si miskin juga sama kaya kamu, pengen bales kesombongan mereka, minusnya mereka sadar mereka gak punya apa apa"
"Nyebelin banget sih lo!" Kesal Zara.
Amir terkikik pelan, "Kaya yang udah aku bilang tadi, mungkin Tuhan punya maksud kenapa dia jadiin kamu si miskin biar kamu bisa merasakan gimana sulitnya jadi mereka, biar kamu pikir pikir lagi kalau mau sombong, atau mungkin Tuhan pengen kamu ngelakuin sesuatu yang selama ini gak bisa di lakuin si miskin, gak ada salahnya kan bantu orang?"
"Lakuin apa?"
"Gak tau tuh" Amir mengendikkan bahunya.
Sedetik kemudian Zara menggeledah isi tasnya dan menemukan ponsel Zara.
"Lo tau pin hp ini apa?" Tanya Zara pada amir.
"Ya mana aku tau, itu kan HP kamu"
"Ya siapa tau kan lo tau" Balasnya lesu.
"Kita masih lama di sini?"
"Ntar dulu" Zara mulai berjalan ke arah meja nakas di samping ranjang kayla.
"Dompet gue!" Serunya.
Ia tahu dengan pasti bahwa ayahnya akan menyimpan dompet ini pada laci nakas saat ia berada di rumah sakit.
"Eh Zara! dompet siapa itu?!" Peringat amir.
"Punya gue!" Balasnya.
"Tapi itukan di nakasnya rumah sakit"
"Ya tapi ini punya gue, lo liat nih" Zara menggeledah dompet tersebut dan menemukan sebuah kartu ATM yang membuat amir terkejut.
"Ini punya gue! gue tau persis pin nya!" Kata Zara.
"Zara jangan! punya orang kamu jangan ambil, mencuri itu namanya!" Peringat amir.
"Kan gue udah bilang ini punya gue! udah ah!" Zara mengantongi kartu tersebut dan mengembalikan dompet pada laci.
"Aduh kamu mencuri itu namanya!" kata amir.
"Diem deh! ayo pergi!" Zara menarik amir berlari keluar ruangan tersebut.