NovelToon NovelToon
Only Ever

Only Ever

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Running On

Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab : 19

Waktu berjalan dengan cepat.

Di lokasi syuting, suasana selalu tampak sibuk. Setiap orang tenggelam dalam tugasnya masing-masing—begitu pula Karin. Ia terlibat langsung, membimbing para aktor agar memahami emosi dan alur cerita sesuai dengan naskah yang ia tulis.

Hari demi hari berlalu. Lebih dari satu minggu.

Selama itu, Karin dan Arka tidak pernah benar-benar saling menyapa. Meski bertemu hampir setiap hari, hubungan mereka terbatas pada hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Diskusi singkat, arahan teknis—tak lebih. Di luar itu, mereka seperti dua orang asing yang kebetulan berada di ruang yang sama.

Dan perlahan, Karin berubah.

Ia tak lagi sering menangis seperti sebelumnya. Rasa sesak di dadanya tak lagi muncul setiap kali bertemu Arka. Bahkan kini, saat pandangan mereka tak sengaja berpapasan, hatinya sudah bisa tetap tenang. Ada sisa luka, tapi tak lagi menguasainya.

Sementara itu, Arka… tanpa ia sadari, justru semakin sering memperhatikan Karin.

Ia melihat Karin saat sedang serius berdiskusi dengan tim. Saat menyampaikan ide dengan tenang dan yakin. Bahkan saat Karin tertidur sebentar di sela-sela waktu istirahat, kelelahan setelah bekerja seharian.

Kadang Arka tersenyum sendiri.

Terutama saat Karin terlihat sedikit lambat merespons pertanyaan serius—seperti sedang “loading”—sesuatu yang dulu selalu ia anggap remeh, namun kini justru terasa… lucu.

Dan di situlah Arka mulai menyadari satu hal yang terlambat: Karin bukan lagi perempuan yang dulu ia tinggalkan.

Saat sore tiba, Arka mengumpulkan seluruh tim di lokasi syuting. Aktivitas mulai melambat, namun suasana tetap hidup oleh suara orang-orang yang masih bekerja.

Arka berdiri di depan mereka, wajahnya tenang namun tegas.

“Alright everyone,” katanya.

(Baik semuanya.)

“Still feeling energized?”

(Masih semangat?)

“Yes!” jawab mereka serempak.

(Iya!)

Karin ikut tersenyum kecil. Ia mengangguk pelan, mencoba fokus pada pekerjaannya saja.

Arka melanjutkan,

“I have an announcement.”

(Aku punya pengumuman.)

“Starting tomorrow, our base will be joined by a new team from the music production department.”

(Mulai besok, base kita akan kedatangan tim baru dari departemen produser musik.)

Beberapa orang tampak antusias, ada yang bertepuk tangan pelan.

“So let’s keep the spirit up.”

(Jadi, tetap jaga semangat kalian.)

“We’re doing great.”

(Kita sudah bekerja dengan sangat baik.)

“Got it!” jawab tim bersamaan.

(Siap!)

Karena malam telah tiba, satu per satu anggota tim meninggalkan lokasi syuting dan pulang ke tempat masing-masing. Karin pun melakukan hal yang sama. Ia kembali ke hotel dengan taksi, namun sebelum benar-benar sampai, ia meminta pengemudi berhenti.

Sisa jarak itu ia tempuh dengan berjalan kaki.

Udara malam Inggris terasa dingin, namun segar. Lampu-lampu jalan menyala temaram, menerangi trotoar yang lengang. Karin melangkah pelan, earphone terpasang, musik mengalun pelan di telinganya. Untuk sesaat, ia membiarkan pikirannya kosong.

Setelah berjalan beberapa menit, Karin hampir tiba di hotel. Di tengah langkahnya, ponselnya tiba-tiba berdering. Ia merogoh saku celananya dan tersenyum kecil saat melihat nama ibunya muncul di layar.

“Hai, Ma. Apa kabar?” tanya Karin sambil melanjutkan langkahnya.

“Hai, sayang. Kamu gimana kabarnya?” suara sang ibu terdengar ceria dari seberang.

“Aku baik. Mama baik?” balas Karin.

“Baik dong,” jawab ibunya antusias. “Mama habis jalan-jalan sama teman-teman mama. Baru pulang ini.”

Karin tertawa kecil. Ia sudah sangat hafal dengan nada ceria ibunya, terutama saat sedang bersama teman-temannya.

“Terus gimana di sana?” tanya sang ibu lagi. “Kamu sudah punya teman baru? Atau pacar baru?”

Karin menghela napas kecil sambil tersenyum. Ia tahu pertanyaan itu hanya candaan. “Teman baru ada banyak, Ma. Tim proyek semua,” jawabnya santai. “Kalau pacar… Mama doain aja.”

Sang ibu langsung tertawa mendengarnya.

Tanpa terasa, Karin sudah sampai di hotel. Ia naik ke kamar sambil tetap berbincang dengan sang ibu. Obrolan mereka mengalir panjang malam itu. Karin bercerita tentang Inggris, tentang proyek filmnya, tentang ide-ide yang ia sampaikan, tentang kesibukannya—bahkan hal-hal yang selama ini jarang ia ceritakan.

Hingga tanpa ia sadari, matanya terasa berat.

Karin tertidur dengan ponsel masih di dekatnya, sementara suara ibunya masih terdengar berbicara panjang lebar di seberang.

Dan pagi pun datang.

Cahaya matahari menembus tirai jendela, membuat Karin terbangun. Ia mengedipkan mata, lalu melirik ponselnya.

Panggilan itu sudah berakhir.

Karin tersenyum kecil.

Ternyata semalam, ia tertidur saat masih menelepon ibunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!