Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.
Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.
Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.
Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..
Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7.
“Ayah kamu,” jawab Rizky singkat, lalu membalikkan badan dan pergi.
Aurely menoleh ke arah Bu Wiwid yang sedang sibuk melepas apron dari tubuh Elin dan Elang.
“Temui Ayahmu. Belajar hari ini sudah cukup. Kalau capek, kamu boleh pulang,” ujar Bu Wiwid tanpa menoleh lama.
“Iya, Bu… tapi kalau boleh, hari ini saya mau belajar sampai sore. Di rumah juga gabut,” kata Aurely ragu, lalu berdiri.
“Boleh. Kalau mau minum atau makan, minta Bu Lastri, ya.”
“Gratis… tis… tis… Mbak!” seru Elang sambil tertawa lebar.
“Terima kasih,” ucap Aurely tulus. “Permisi, Bu. Saya temui Ayah dulu.”
Aurely segera melangkah keluar. Di depan toko roti, agak menjauh dari lalu-lalang pelanggan, terlihat Ayahnya berdiri.
Kaos Ayahnya tampak kotor dan basah oleh keringat. Sesekali ia berbincang dengan tukang parkir.
“Ayah…” sapa Aurely sambil berjalan terpincang-pincang mendekat.
Ayahnya menoleh. Di tangannya ada dua bungkus nasi bekal dari rumah.
“Aurely, bagaimana kakimu?” tanya Pak Baskoro sambil menatap lutut putrinya.
“Ini dimakan dulu. Jangan ngerepotin mereka,” lanjutnya sambil menyodorkan satu bungkus nasi.
“Yah, aku di sini sedang belajar,” jawab Aurely sambil tersenyum. “Training, Yah.” Ucapnya lagi dan senyumnya lebih lebar..
Senyum yang sudah berhari-hari tak Ayahnya lihat.
“Syukurlah kalau kamu mau belajar capek yang benar,” ucap Pak Baskoro, masih menyodorkan nasi itu.
“Iya, Yah. Nanti juga dapat makan kok. Tadi sudah makan kue-kue, kenyang.” Aurely memegang perutnya.
“Nasi bekalnya buat Ayah saja. Ayah kan harus makan banyak.” Ucap Aurely lagi
Pak Baskoro tersenyum. “Baiklah. Yang penting kamu tidak kelaparan di pasar.”
“O ya, nanti Ayah pulang lebih awal. Bongkar muat sudah selesai.” Suara Pak Baskoro kemudian, terdengar lebih serius.
“Kalau Ayah selesai duluan, aku ditinggal nggak apa-apa, Yah. Kata pegawai di sini, mobil catering lewat rumah kita.”
Tangan Pak Baskoro merogoh saku celananya, ia ambil satu lembar uang lusuh.. dua puluh ribuan.. “Ambil ini, Rel.. kamu nanti bisa pakai ojek.” Ucap Pak Baskoro sambil mengulurkan uang lusuh itu.
“Jangan merepotkan orang yang sudah menolong kamu.” Ucap Pak Baskoro lagi.
Awalnya Aurely ragu untuk menerima uang itu. Bukan karena tidak mau naik ojek, tapi ia tahu.. Uang lusuh itu kini sangat berarti bagi Ayahnya..
Namun akhirnya.. Aurely mengangguk pelan pada Ayahnya, menerima uang lusuh itu.. Dan ia simpan hati hati di dalam saku celananya.. Lalu kembali melangkah ke dalam kios.
Aroma lezat makanan, suara tawa ceria Elin dan Elang beradu dengan sibuknya kios.. kembali menyambutnya..
Dan di saat itulah matanya menangkap sosok yang baru saja keluar dari ruang belakang ..
Rizky.
Namun… penampilannya berbeda. Ia tidak lagi mengenakan kaos kerja atau apron berdebu. Kini tubuhnya terbalut kemeja rapi berwarna netral, celana jeans bersih, sepatu yang tampak mahal, dan sebuah tas ransel tersampir di bahunya.. persis seperti tas milik teman-teman kampus Aurely dulu.
Langkah Aurely terhenti. Ada sesuatu yang tiba-tiba mengencang di dadanya.
Untuk sesaat, bayangan lama menyeruak begitu saja. Koridor kampus, bangku bangku di dalam kelas, tawa yang dulu terasa wajar, dan dirinya yang pernah menjadi bagian dari dunia itu. Dunia yang kini terasa jauh, seperti milik orang lain.
Rizky melangkah ringan, menunduk sebentar pada Bu Lastri yang lewat, lalu berhenti sejenak saat pandangannya bertemu dengan Aurely.
Rizky tersenyum sopan. Bukan senyum kerja. Bukan pula senyum basa-basi. Senyum yang rapi, seperti penampilannya.
“Aku pamit dulu,” ucap Rizky singkat.
Aurely hanya mengangguk. Bibirnya mencoba membalas senyum itu, meski dadanya terasa penuh oleh perasaan yang tak segera bisa ia beri nama. Bukan iri. Bukan juga penyesalan.
Hanya kesadaran yang datang perlahan: bahwa setiap orang berjalan dengan waktunya masing-masing.
Rizky melangkah pergi, menyatu dengan keramaian pasar. Tas ransel itu bergoyang kecil di punggungnya, menjauh, lalu menghilang dari pandangan.
Aurely menarik napas panjang. Ia menunduk, memandang kedua tangannya sendiri, tangan yang masih berbau kardus makanan, lecet, sedikit perih karena jatuh dan angkat angkat barang di kios Bu Ridwan..
Sesaat sebuah tepukan di bahunya, mengagetkan dirinya. Meskipun tepukan itu hanya pelan saja.. “Mbak, makan dulu, kita gantian istirahatnya.” Suara seorang perempuan.. salah satu karyawan kios besar itu.
Aurely mengangguk dan menjawab terbata bata. “O.. i.. ya Mbak.”
Karyawan perempuan itu tersenyum, “Mas Rizky ganteng ya Mbak?” ucapnya lalu melangkah pergi..
Aurely pun segera melangkah ke belakang mencari Bu Lastri..
🌸🌸🌸
Waktu pun terus berlalu. Sore hari telah menjelang, namun Aurely masih berada di pasar. Sementara itu, di sebuah rumah kayu sederhana, ibunya mulai diliputi kegelisahan.
“Yah, bagaimana sih Ayah ini? Kok membiarkan Aurely sendirian di pasar?” ucap Ibu Aurely sambil menatap suaminya yang duduk tenang di beranda. “Kakinya masih sakit, dan dia baru beberapa hari tinggal di sini,” lanjutnya dengan suara penuh kekhawatiran.
“Berilah dia waktu untuk belajar mandiri dan menghadapi hidup, Bun,” jawab Ayahnya dengan nada tenang.
“Tapi hari sudah sore, Yah. Dia juga belum pulang,” balas sang ibu cemas.
“Tunggu saja. Ayah sudah memberinya uang untuk pulang,” ujar Ayah meyakinkan.
Ibu Aurely akhirnya kembali masuk ke dalam rumah, melanjutkan pekerjaannya menyiapkan makan malam sederhana. Namun kegelisahan itu tak juga hilang.
Hingga senja tiba dan langit mulai menggelap, Aurely masih belum juga pulang.
Senja kian larut, dan malam perlahan mengambil alih. Kegelisahan di hati Ibu Aurely semakin menjadi. Ia mondar-mandir di dalam rumah, sesekali melirik ke arah pintu, berharap sosok puteri semata wayangnya itu segera muncul.
“Yah… kenapa Aurely belum juga pulang?” suaranya bergetar, tak mampu lagi menyembunyikan rasa takut.
Ayah yang sejak tadi duduk diam akhirnya bangkit. Raut wajahnya yang tadi tenang mulai memudar, digantikan oleh kegelisahan. Ia merogoh ponsel dari saku dan segera menekan nomor Aurely.
Namun tak ada nada sambung..
Ayah mencoba lagi. Kali ini wajahnya menegang.
“Ponselnya mati,” ucapnya pelan, seakan tak ingin mengakui kenyataan itu.
Ibu Aurely terdiam. Tangannya gemetar, napasnya tertahan. Kekhawatiran yang sejak sore ia pendam kini berubah menjadi ketakutan.
“Yah… jangan-jangan terjadi sesuatu…” suaranya lirih, hampir tak terdengar.
Malam semakin gelap, dan rumah kayu itu dipenuhi keheningan yang menyesakkan.. sebuah keheningan yang membawa rasa cemas akan keberadaan Aurely.
Ayah kembali menatap layar ponselnya yang kini gelap. Ia menghela napas panjang, lalu berjalan.. “Tunggu sebentar…” katanya pelan.
Ia menuju kamar Aurely. Pandangannya menyapu ruangan kecil itu, hingga matanya terhenti pada sebuah benda di atas meja kayu. Sebuah ponsel tergeletak di sana.. layarnya mati, tak bernyawa.
Ayah terdiam. Dadanya terasa sesak. “Bun…” suaranya berat.
Ibu Aurely segera menyusul, langkahnya tergesa. Begitu melihat ponsel itu, wajahnya langsung pucat.
“Ponselnya… di rumah?” ucapnya terbata.
Ayah mengangguk perlahan. “Sepertinya Aurely lupa membawanya. Baterainya juga habis.”
Ibu Aurely menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata. “Yah… dia sendirian… tanpa ponsel…” suaranya bergetar menahan tangis.
gak banyak drama2 yg bikin hatinya bertambah luka
sampai2 ada yg dapat foto ayah Aurel pas lagi bekerja? kayaknya niat banget deh ngepoin keluarga Aurel
optimis bahwa kmu bisa
suatu saat pasti menang dan karya mu jdi luar biasa
juga.. dapat pelajaran juga dari elang dan elin..kamu tidak sendirian...karena terlalu lama di zona nyaman🤭
dan hebat aurel
harus lebih kuat dong rel
tp tak apa ya pak bas slow aja spa tau nnti dpt yg lebih gede lagi rezekinya
harus kuat dan tahan banting