Rio terpaksa menyetujui menikah dengan Rayi demi warisan supaya tak jatuh pada Rayi yang merupakan cucu dari teman sejati Kakek Brata.
Mereka kuliah di satu kampus dengan jurusan berbeda. Rayi terpaksa menerima syarat dari Rio bahwa di kampus mereka pura-pura tak kenal.
Namun mulai timbul masalah saat Didit teman satu kampus Rayi naksir gadis itu, dan Lala mantan Didit yang ingin mencelakai Rayi, serta Aruna teman sekolah naksir Rio kembali disaat hati Rio mulai bimbang untuk melepaskan Rayi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosida0161, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istrinya Disukai Pemuda Lain
Rayi tiba-tiba berdecak dengan senyum lebar menatap Didit. "Oh ya aku ingat jadi Kakak ya yang waktu itu ..."
Didit sangat senang melihat Rayi penolongnya ingat akan peristiwa itu, "Ya sejak tiga hari lalu aku memperhatikanmu dan semakin kuperhatikan memang aku semakin yakin kamulah gadis itu."
Yuni masih menjadi penonton sekaligus pengamat bagi kedua orang yang masih saling mengingatkan itu.
"Aku Didit kakak tingkat kuliahmu, dan kita satu jurusan, aku semester lima," ujar Didit dengan gaya santainya mengulurkan tangan pada Rayi.
Rayi dengan agak ragu namun menerima uluran tangan Didit, "Rayi dan aku masih anak baru,"
"Semester pertama?"
Rayi mengangguk lalu menoleh pada Yuni.
"Kalian teman sekelas?" Didit menoleh pada Yuni mengikuti pandang Rayi.
Rayi mengangguk.
"Yuni ..." seseorang memanggil Yuni.
"Hai Ara," lalu Yuni menyentuh pundak Rayi "Sori aku duluan ya,"
"Oke," angguk Rayi.
"Oh ya aku kan belum sempat berterima kasih padamu, bagaimana jika sebagai tanda terima kasih aku traktir kamu makan bakso dan segelas es doger di kantin?" Didit menawari.
Panas gini enak juga makan semangkok bakso dan segelas es doger, batin Rayi.
"Jangan nolak, ya?" Tatap Didit penuh harap.
"Siapa yang mau nolak?" Rayi tersenyum.
Maka keduanya ke kantin untuk.menikmati makan bakso serta satu gelas es doger. Sungguh Rayi menerima ajakan Didit tak lebih.hanya menerima tawaran terima kasih dari pemuda itu, kebetulan pula perutnya tiba-tiba lapar saat kata bakso disebut barusan, karena yang bernama bakso itu adalah makanan favoritnya.
Didit sebenarnya ingin mengajak Rayi makan bakso sambil bercakap-cakap, tapi demi melihat Rayi sangat menikmati baksonya, maka dia mengurungkan keinginannya justru sangat menikmati pemandangan Rayi yang sibuk mengunyah bakso dalam keadaan kepedesan, dan sesekali menyedot es dogernya. Saking antusiasnya pada gaya Rayi yang serius memakan baksonya, maka diam-diam dia merekam kegiatan gadis yang berkeringat, namun semakin berkeringat semakin menarik hatinya.
"Bagaimana?" Didit mengerling Rayi yang baru saja menyelesaikan menghabiskan semangkok bakso, dan sedang mengaduk es dogernya.
"Kenyang dan nikmat, makasih, ya, Kak traktirannya," tangan Rayi mau menjangkau tissue, tapi segera Didit mengambilkan dan memberikan ke tangannya.
Rayi tersenyum menerima tissue dari tangan Didit, kemudian menyeka keringat yang mengucur dari dahinya dalam pandangan pemuda di depannya dengan tersenyum suka.
"Tiga minggu lagi ada event balap kuda apa kamu turut ambil bagian?" Didit menatap Rayi yang baru saja menghabiskan sisa terakhir es dogernya.
Rayi melap mulutnya dengan tissue, "Ya dong ..." angguknya.
"Melihat bagaimana kamu menolongku dari kudaku yang tiba-tiba saja ngadat, aku yakin kamu pasti berada di tiga besar," ujar Didit menjagokan Rayi walau baru sekali aksi Rayi di atas pelana kudanya.
"Jangan suka bikin aku besar kepala, Kak, di atas langit masih ada langit ..." tertawa Rayi, dia tak mau meninggikan diri.
"Aku berani taruhan," ujar Didit.
"Jangan berlebihan menilaiku yang lain pada jago-jago, Kak," ujar Rayi yang mengenal kuda sejak usia balita.
Masa itu dia sudah duduk di punggung kuda bersama kakek Satya, dan tertawa senang di atas kuda yang berlari pelan. Baru pada umur tujuh tahun kakeknya mengijinkan untuk belajar naik kuda sendirian.
Mulanya kakek Satya mengikuti dari samping kuda berlari-lari kecil, dan makin lama kakek Satya berlari-lari betulan karena Rayi kecil tanpa sadar memerintahkan kudanya lebih cepat lagi.
Didit menyukai gaya Rayi merendah, padahal dia sudah browshing tentang seorang Rayi Rusli Satya. Seorang cucu dari pecinta sekaligus pemilik pacuan kuda yang sudah berkali-kali menjuarai balap kuda sejak usia sepuluh tahun, dan kini menjadi penanggung pacuan kuda Satya.
"Wah aku duluan ya, Kak," segera Rayi berdiri karena supir Amat yang menjemput sudag pasti ada di depan kampus.
"Ada yang jemput?" Didit ikut berdiri.
"Ada, sekali lagi terima kasih traktirnya, Kak," tanpa menunggu segera Rayi bergegas ke depan.
Benar saja Sopir Amat sudah menunggu. Segera Rayi masuk ke mobil,".
"Selamat siang, Non," sambut sopir Amat.
"Siang Pak Amat oh ya nanti antarkan aku ke rumah kakek Satya,"
"Baik, Non,"
"Di dalam mobil yang berjalan ke alamat rumahnya segera Rayi menghubungi kakek Brata, "Halo Kakek ..."
"Ya Rayi ..."
"Kek Rayi pulangnya sore karena mau mampir ke rumah kakek Satya "
"Oh ya, Nak gak apa-apa," ujar kakek Brata.
Setelah sampai di depan rumahnya Rayi turun dari mobil."Pak Amat nanti sore saja aku dijemput, ya,"
"Baik Non,"
Dan Rayi memasuki rumah kakek Satya, rumah masa kecilnya yang dihuni bersama kakeknya tetap sejuk.
Bibik dan seorang pelayan perempuan yang jauh lebih muda dari si bibik menyambut kedangan non muda mereka.
"Non Rayi ..."
"Santai ajah, Bik, Mbak aku mau istrahat di kamar " ujar Rayi menatap kedua asisten rumah tangganya.
"Mau dibuatkan.apa, Non?" seru si bibik menawari.
"Aku sudah kenyang nanti saja jam tiga lewat sebelum ke pacuan.tolong dibuatkan susu coklat angat dan roti isi keju," setelah itu Rayi menuju ke kamarnya untuk istirahat.
Tapi di ruang tamu langkahnya terhenti menatap foto berukuran besar dimana di atas punggung kuda duduk dirinya yang masih berumur sepuluh tahun di atas pelana kudanya. Dan di belakangnya duduk kakek Satya.
"Kakek semoga aku bisa mengurus pacuan kuda kita ..." ujarnya dengan wajah sendu menatap foto kakeknya.
Di tempat lain Didit sedang berhubungan telepon dengan seseorang yang berada di Jepang.
"Kak Rio aku sudah bertemu dengan gadis penunggang kuda yang menolongku tempo hari, nggak nyangka dia adik tingkatanku di kampus ,,," Suara Didit terkesan sangat bahagia.
"Oh ya?" Sambut Rio di sela istirahat siangnya.
"Kutraktir dia makan bakso dan es doger ..." lapor Didit yang masih ada hubungan famili dengan Rio, bahkan perusahaan papanya Didit adalah patner kerjasama dengan perusahaan milik kakek Brata.
"Wah traktir tanda terima kasihnya nggak banget bakso sama es doger ... Yang keren dikitlah ..." ujar Rio yang tak menyadari dan mungkin juga tak mau tahu jika gadis yang dimaksud itu adalah istri pilihan kakeknya yang kemarin dinikahinya.
"Bertahap, Kak, karena telah kuselidiki anaknya sangat low profil dan menggemaskan pokoknya ..."
Rio hanya senyum-senyum dan menyadari jika Didit tampaknya sedang kesemsem sama gadis penunggang kuda penolongnya.
Ah biar saja itu urusan cinta anak muda seusia Didit.
"Kak jangan bilang kamu pulang bawa gadis Nagasaki, ya ..." goda Didit mengakhiri pembicaraan di handphone dengan Rio
Rio hanya nyengir, masalah pernikahannya memang tidak bocor keluar. Walau Didit dan orang tuanya dikatagori masih memiliki hubungan famili, tapi mereka tak tahu tentang pernikahannya yang telah bersyarat tak bocor ke luar rumah.
Didit yang sedang mengenang pertemuannya dengan Rayi tahu jika Rio itu terlalu sibuk dengan beban pekerjaan kantor sejak masih di akhir sekolah menengah atasnya, karena telah dipersiapkan sebagai pengganti dari kakeknya, makanya tak pernah punya waktu untuk pacaran dan jatuh cinta.
Rio mengirim pesan untuk kakeknya sehubungan dengan tugas yang diembannya selama di Jepang. Jika bisa diselesaikan tak sampai satu bulan itu lebih bagus, karena bagaimana pun pengaruh nama kakeknya di kampus Nusa Bangga, dia tetap ingin menjalani perkuliahan normal sebagaimana mahasiswa lainnya pada umumnya.
(Rio apa kamu sudah menghubungi istrimu siang ini)
Rio membaca pesan kakeknya.
Huh kakek ini kayaknya seperti minum obat ajah kudu tiga kali sehari menghubungi gadis bocil itu sungutnya tanpa suara. Tapi untuk menyenangkan kakinya dia terpaksa berbohong pada kakek Brata.
(Sudah, Kek)
Pesan terkirim.
Padahal selama tiga hari di Jepang tak sekali pun dirinya menghubungi Rayi. Namun dia cukup puas dan berterima kasih jika nanti Rayi akan mengarang cerita lagi tentang teleponnya yang secara rutin menyapa dari Jepang.
Tapi kakek Brata ingin lebih meyakinkan maka segera mengirim pesan pada Rayi.
(Rayi apa Rio siang ini sudah menghubungi kamu, Nak?)
Rayi tersenyum membaca pesan itu dan langsung membalas dengan santai.
(Sudah, Kakek mas Rio mengingatkan Rayi makan siang)
Rayi membayangkan kakek Brata tersenyum senang membaca pesan balasan darinya. Dan merasa bangga pada cucunya yang penurut.
Huh aku bukan carmuk mas Rio, tapi aku hanya tak ingin membuat kakek Brata sahabat kakekku kecewa. Batin Rayi sesaat setelah membalas pesan dari kakek Brata.
suka banget alurnya