Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.
Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.
Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.
Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rutinitas di Kebun Sumberjati
Pukul enam pagi, Mika hendak melangkah ke kebun. Matahari baru naik setinggi pucuk pohon, cahaya paginya masih lembut, belum menyengat. Waktu terbaik untuk memetik buah dan waktu yang paling ia kenal sejak kecil. Udara masih dingin, menyisakan embun di daun-daun kebun. Ia mengangkat keranjang, hendak melangkah sendiri, seperti biasa.
Namun langkah kaki lain menyusulnya. “Aku ikut,” suara Jovan terdengar dari belakang.
Mika menoleh cepat. “Kau tidak harus,”
“Aku tahu,” potong Jovan pelan. “Tapi aku ingin.” Ia berdiri di sana, kaos merah sederhana yang membungkus tubuhnya masih sedikit longgar di bahu yang diperban. Wajahnya pucat, tapi matanya jernih. Tidak memaksa. Tidak menuntut.
Mika ragu sejenak. Lalu mengangguk kecil. Mereka berjalan berdampingan menyusuri jalan tanah menuju kebun. Tidak ada yang bicara. Hanya suara langkah kaki, burung pagi, dan angin yang menyentuh daun.
Di antara keheningan itu, Mika menyadari sesuatu.Langkah Jovan selalu sedikit tertinggal darinya. Bukan karena lemah tapi karena ia sengaja menyesuaikan.
“Kalau terlalu sakit, bilang,” ujar Mika tanpa menoleh.
Jovan mengangguk. “Kalau kau capek, juga.”
Mika tersenyum kecil, nyaris tak terlihat.
Sesampainya di kebun, Mika mulai memetik buah. Jovan berdiri tak jauh, memperhatikan caranya memilih yang matang tidak terlalu keras, tidak terlalu lunak.
“Kau hafal semuanya,” kata Jovan.
“Tanah ini mengajarkanku,” jawab Mika. “Kalau salah ambil, besok tidak tumbuh lagi.”
Jovan terdiam.
Di dunianya, salah ambil berarti mati. Tidak ada kesempatan kedua.
Angin pagi bertiup lebih kencang. Mika meraih buah yang agak tinggi, berjinjit, tapi jarinya nyaris tak sampai.
Tanpa berpikir, Jovan melangkah mendekat. Ia mengulurkan tangan, menahan dahan itu agar tidak bergerak.
“Begini,” katanya.
Jarak mereka terlalu dekat.
Mika bisa merasakan hangat tubuh Jovan, napasnya yang tertahan, dan bau sabun sederhana yang ia pakai—bersih, tidak asing, tapi juga tidak mengancam.
Untuk sesaat, waktu berhenti.
Buah itu akhirnya terpetik, jatuh ke telapak tangan Mika. Tapi ia tidak langsung menjauh.
“Terima kasih,” katanya pelan.
Jovan masih menahan dahan itu. Lalu perlahan melepaskannya. “Aku yang berterima kasih,” jawabnya, suaranya rendah. “Karena membiarkanku di sini.”
Mika menoleh padanya. “Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya.”
Jovan menatap balik. “Aku juga.”
Tidak ada sentuhan. Tidak ada janji. Tapi di antara mereka, sesuatu telah berpindah tempat,
dari sekadar kewaspadaan… menjadi perhatian.
Dan bagi Jovan De Luca, perhatian selalu lebih berbahaya daripada peluru.
Matahari mulai condong ketika mereka berjalan pulang dari kebun.
Jalan tanah yang sempit membelah hamparan hijau sawah di satu sisi, kebun kecil di sisi lain. Udara hangat, beraroma tanah dan daun yang baru dipetik. Mika berjalan sedikit di depan, keranjang bambu tergantung di lengannya. Langkahnya mantap, terbiasa.
Jovan memperhatikan dari belakang.
Keranjang itu tidak kecil. Isinya penuh, umbi, daun singkong, beberapa buah yang masih berdebu. Bahunya yang terluka berdenyut pelan, tapi bukan rasa sakit itu yang membuatnya gelisah. Melainkan cara Mika memikul beban seolah itu bukan apa-apa.
“Keranjangmu pasti berat,” kata Jovan akhirnya.
Mika menoleh, tersenyum singkat. “Lumayan.”
Jovan mempercepat langkah, berdiri di sampingnya. Tanpa banyak bicara, ia meraih sisi keranjang, berniat mengangkat.
“Tidak perlu,” Mika langsung menahan tangannya.
Gerakannya cepat, refleks.
“Bahumu masih terluka,” lanjutnya, nada suaranya tegas tapi tidak keras. “Jangan banyak bergerak dulu. Aku bisa mengatasi ini. Ini hal biasa.”
Jovan terdiam. Tangannya masih menggantung di udara, lalu perlahan diturunkan. Ia menatap Mika bukan dengan kesal, tapi dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Di tempatku,” katanya pelan, “orang yang membiarkan orang lain membawa beban sendirian dianggap lemah.”
Mika menghela napas kecil, lalu kembali menatap jalan di depan. “Di sini,” jawabnya, “orang yang memaksakan diri saat terluka dianggap bodoh.”
Jawaban itu membuat Jovan terdiam lebih lama.
Mereka berjalan berdampingan dalam sunyi beberapa langkah. Angin pagi menggerakkan dedaunan, menimbulkan suara gesek lembut. Jovan memperhatikan cara Mika menyesuaikan langkahnya, sedikit melambat bukan karena lelah, tapi karena sadar ia berjalan bersama orang yang belum pulih.
“Aku tidak keberatan,” tambah Mika, lebih lembut. “Lagipula… kalau aku butuh bantuan, aku akan bilang.”
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi Jovan, itu terdengar seperti sesuatu yang asing.
Ia terbiasa memberi perintah.
Terbiasa membaca situasi tanpa diminta. Bukan menunggu diminta. “Baik,” katanya akhirnya.
Tapi ia tetap berjalan lebih dekat. Terlalu dekat bagi dua orang yang baru saling mengenal. Jika Mika tersandung, ia bisa langsung menahan. Jika ada sesuatu apa pun ia berada di jarak yang cukup dekat untuk bereaksi.
Mika menyadarinya.
Ia tidak menyingkir. Tidak juga menegur.
Sesampainya di tikungan kecil sebelum rumah Pak Raka, Mika berhenti sejenak, mengatur pegangan keranjangnya. Jovan refleks mengulurkan tangan, kali ini hanya untuk menahan sisi bawahnya agar tidak miring.
“Sedikit saja,” katanya.
Mika ragu sepersekian detik… lalu mengangguk.
Berat keranjang itu berpindah sebagian ke tangan Jovan. Bahunya terasa ngilu, tapi ia menahannya. Mika memperhatikan wajahnya, sorot matanya tajam.
“Kalau sakit, bilang,” ujarnya.
Jovan tersenyum tipis. “Aku masih hidup.”
“Itu bukan ukuran yang baik,” jawab Mika datar.
Mereka saling pandang sejenak hening, dekat, dan anehnya terasa pas.
Tak ada sentuhan lain. Tak ada kata tambahan. Tapi sesuatu bergerak pelan di antara mereka, bukan perasaan besar, melainkan kesadaran.
Bahwa mulai saat itu, mereka tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
Dan Jovan, yang sepanjang hidupnya dilatih untuk membawa beban dan melindungi siapa pun tanpa ragu, mulai memahami satu hal yang berbahaya: di desa ini, ia belajar ditahan.
Dan justru itulah yang membuatnya lengah.
.
Siang di Desa Sumberjati bergerak lebih lambat dari yang Jovan bayangkan.
Matahari sudah tinggi, tapi tidak terasa menyengat. Angin bertiup malas, menggerakkan tirai tipis di jendela rumah Pak Raka. Dari dapur, terdengar bunyi sendok beradu dengan piring. Bau nasi hangat dan tumisan sederhana memenuhi ruangan.
Jovan duduk di bangku kayu dekat jendela.
Dari posisinya, ia bisa melihat halaman depan dan sedikit jalan desa. Kebiasaan lama menempatkan diri di titik dengan pandangan terluas. Meski tidak ada ancaman nyata, tubuhnya tetap bekerja seperti biasa.
Mika duduk di meja makan, menghitung uang hasil penjualan buah. Uang kertas itu disusunnya rapi, dipisahkan berdasarkan nominal.
Gerakannya cekatan, nyaris otomatis. Sesekali ia mencoret angka di buku kecil yang sudutnya sudah melengkung karena sering dipakai.
“Laku semua?” tanya Jovan.
Mika mengangguk tanpa mengangkat kepala. “Syukurlah. Jambu sama jeruk cepat habis.”
Jovan memperhatikan wajahnya tidak ada euforia, tidak juga keluhan. Hanya kepuasan kecil yang tenang.
“Dan bajuku?” tanyanya.
Mika berhenti sejenak, lalu menoleh. “Itu… aku pakai uang sendiri. Jangan dipikirkan.”
Jovan menyandarkan punggung. “Aku tetap berutang.”
Mika tersenyum tipis. “Di desa ini, utang tidak selalu harus dibayar dengan uang.”
Jovan tidak bertanya lebih jauh.
Di luar, seorang anak kecil berhenti di depan rumah, pura-pura mengikat tali sepatunya sambil melirik ke arah Jovan. Beberapa detik kemudian, seorang ibu lewat dengan ember air, langkahnya melambat saat melewati pagar.
Jovan menangkap semuanya.
“Orang-orang mulai memperhatikan,” katanya pelan.
Mika menghela napas kecil. “Itu biasa. Orang asing jarang tinggal lama di sini.”
“Dan aku?”
“Kau belum pergi.”
Jawaban itu terdengar sederhana, tapi menyisakan ruang yang aneh di antara mereka.
Pak Raka muncul dari dapur membawa dua gelas air. “Jangan terlalu lama di depan jendela,” katanya pada Jovan.
“Nanti mereka kira kau menunggu sesuatu.”
Jovan tersenyum singkat. “Aku memang terbiasa menunggu.”
Pak Raka menatapnya sejenak, tatapan orang yang tahu hidup tidak selalu ramah lalu berlalu tanpa komentar.
Beberapa saat kemudian, Mika berdiri, merapikan uang ke dalam kaleng kecil.
“Aku mau ke kebun sebentar,” katanya. “Ambil daun singkong.”
Jovan refleks bangkit. “Aku ikut.”
Mika menoleh cepat. “Tidak. Bahumu,”
“Aku hanya berjalan.”
Ia ragu. Tatapannya turun ke perban yang masih terlihat jelas di balik kaos. Lalu ke wajah Jovan, yang kali ini tidak terlihat memaksa, hanya meminta.
“Baik,” katanya akhirnya. “Tapi kalau pusing atau sakit, kita langsung pulang.”
Jovan mengangguk.
Di jalan menuju kebun, mereka berjalan berdampingan tanpa banyak bicara. Panas siang membuat suara serangga lebih jelas. Tanah kering berderak di bawah langkah mereka.
Mika memetik daun, satu per satu, sementara Jovan berdiri tak jauh, memperhatikan sekeliling. Beberapa meter dari sana, seorang pria berhenti terlalu lama di bawah pohon, pura-pura merokok, tapi matanya mengarah ke arah rumah Pak Raka.
Jovan mengingat wajah itu.
Ia tidak mengatakan apa-apa pada Mika.
Belum.
Karena untuk pertama kalinya, ia ingin menjaga tanpa mengganggu ketenangan.
Dan itu jauh lebih berbahaya daripada menarik pelatuk.