Meski sudah menikah, Nabila Rasmini tetap menjadi aktris ternama. Filmnya laku dan dia punya banyak fans. Namun tak ada yang tahu kalau Nabila ternyata memiliki suami toxic. Semuanya tambah rumit saat Nabila syuting film bersama aktor muda naik daun, Nathan Oktaviyan.
Syuting film dilakukan di Berlin selama satu bulan. Maka selama itu cinta terlarang Nabila dan Nathan terjalin. Adegan ciuman panas mereka menjadi alasan tumbuhnya api-api cinta yang menggebu.
"Semua orang bisa merasakan cemistry kita di depan kamera. Aku yakin kau pasti juga merasakannya." Nathan.
"Nath! Kau punya tunangan, dan aku punya suami. Ini salah!" Nabila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 - Bantuan Nathan
Buru-buru Nabila membuka masker dan topinya sambil berucap, "Ini aku, Nath. Ini aku!"
"Kak Nabila?..." Nathan tentu kebingungan menyaksikan ada aktris Nabila Rasmini di kamarnya. Terlihat jelas sekali dari delik matanya.
"Aku bisa jelaskan. Aku tadi mencari suamiku. Tapi aku terpaksa masuk ke sini agar tidak ketahuan," jelas Nabila.
"Ketahuan? Aku masing nggak ngerti," tanggap Nathan.
Nabila menghela nafas panjang. Dia terpaksa mengatakan tujuannya datang ke hotel tersebut. Dimana dirinya baru mendapat kabar kalau Lukman sedang check ini bersama sekretarisnya di hotel itu.
"Benarkah? Itu sulit dipercaya. Seorang Lukman Bramantyo selingkuh?!" tukas Nathan.
"Hush! Jangan keras-keras! Ini masih dugaan. Aku masih berusaha mencari buktinya. Makanya aku di sini sekarang," kata Nabila. Dia sekarang bingung harus bagaimana.
"Lalu? Apa kau tahu dia berada di kamar mana?" tanya Nathan.
Nabila menggeleng. "Itulah masalahnya. Tadi aku mengikuti salah satu karyawannya yang datang. Tapi tidak sampai melihatnya masuk ke kamar. Saat dia menatapku, aku reflek masuk ke dalam kamarmu," ungkapnya panjang lebar.
Nathan menarik sudut bibirnya ke atas. "Sepertinya aku bisa membantu. Kebetulan aku bekerjasama dengan pemilik hotel ini. Aku di sini karena besok akan melakukan pemotretan untuk menjadi model iklan hotel ini," terangnya.
"Benarkah?" Mata Nabila terbelalak tak percaya.
"Aku akan menelepon kenalanku dan akan menanyakan kamar tempat suami Kakak menginap, oke?"
"Makasih banyak, Nath... Aku janji akan membayar kebaikanmu ini." Nabila terlihat sangat senang.
Nathan lantas segera menelepon kenalannya. Dengan jurus bantuan orang dalam, dia bisa mengetahui di kamar berapa Lukman menginap sekarang.
"Kamar 304! Dan pastinya ada di lantai ini," ujar Nathan.
"Sekali lagi makasih ya, Nath!" sahut Nabila sembari bergegas menuju pintu.
"Tunggu! Apa kau sendirian?" tanya Nathan.
"Tidak. Ada Indy yang menemaniku."
"Biarkan aku menemanimu juga." Nathan terlihat bergegas mengenakan baju.
"Nggak! Jangan, Nath! Aku bisa sendiri. Oke?" Nabila langsung menolak.
"Kau yakin bisa menghadapi segala kemungkinan terburuk?"
"Ya, dan aku tidak mau kau melihatnya. Ini urusan pribadiku. Aku harap kau bisa memakluminya," ucap Nabila. Dia segera keluar dari kamar Nathan dan mencari kamar bernomor 304.
Setelah ditemukan, Nabila memberitahu Indy untuk datang. Namun dia tak menunggu Indy datang. Nabila langsung mengetuk pintu kamar 304. Sebelum melakukannya, dia tak lupa memasang kembali masker dan topinya.
Tidak lama kemudian pintu terbuka. Sosok Olive yang langsung membukakannya.
Plak!
Sebuah tamparan langsung Nabila daratkan ke wajah sekretaris suaminya tersebut.
"Dasar jal*ng!" umpat Nabila kesal.
Sementara dari kamar 300, Nathan diam-diam menguping. Dia juga berusaha mengintip ke arah kamar 304 karena penasaran.
Kembali pada keadaan di kamar 304. Di sana Nabila langsung mengambil kesimpulan kalau Lukman selingkuh dengan Olive. Dia tambah yakin saat Olive yang membukakan pintu kamar.
"Beritahu aku! Mana Mas Lukman?!" pekik Nabila seraya melangkah masuk lebih dalam ke kamar. Ia lepas topi dan maskernya sehingga menunjukkan raut wajah marahnya. Namun alangkah kagetnya dia saat melihat kalau orang yang ada di kamar itu bukan hanya Olive dan Lukman. Tetapi ada beberapa orang lain dengan setelan jas rapi yang duduk di meja panjang. Sedangkan di dinding terlihat ada layar proyektor yang memperlihatkan presentasi tentang pemasaran.
Dari sana Nabila sadar kalau dirinya sekarang sudah salah menduga. Ternyata suaminya benar-benar bekerja di hotel itu. Semua atensi orang di kamar itu tertuju ke arah Nabila.
"Apa yang kau lakukan, hah?!" seorang lelaki tidak asing tampak berdiri saat melihat Nabila. Dia tidak lain adalah Lukman. Matanya menyalang tajam.
billa dipenjara tidak papa menyelamatkan semua korban lukman gak akan lama nanti para saksi akan muncul sendiri.
modelan lukman kalau gak dead gak akan berhenti