Pertemanan dua keluarga tidak menjadikan Allegri dan Allegra akrab. Sejak kecil keduanya selalu berdebat dan membuat Allegra sebagai gadis mungil yang memiliki tubuh berisi menangis karena bullying yang di lakukan Allegri.
Allegra selalu memeluk Monica, mengadu pada wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu kedua baginya setelah Giana.
Beberapa tahun berlalu keduanya telah dewasa. Kini Allegri menjadi pimpinan rumah yang di dirikan orang tuanya. Laki-laki tampan itu menjadi pemimpin yang terkenal dingin dan berdedikasi tinggi terhadap aturan yang telah ia tetapkan.
Allegra tidak bisa menolak ketika kedua orangtuanya Valentino dan Giana , meminta ia melanjutkan bekerja untuk mengabdikan diri dirumah sakit yang kini di pimpin Allegri.
Bagaimana saat keduanya menjadi rekan kerja? Apakah keduanya masih saling membenci?
Ikuti sekuel TERJEBAK CINTA MAFIA ini ya. Anak Monica-Luigi & Valentino-Giana. Semoga kalian suka.
Jangan lupa interaksi kalian di setiap bab, agar novel ini bisa berk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGUNJUNGI PASIEN
Allegra menelisik tampilannya di depan cermin berukuran besar yang ada di kamarnya.
Wajahnya terlihat segar dan berseri-seri. Saat mata terbuka, ia begitu bersemangat. Langsung membersihkan tubuhnya dan memilih pakaian kerja. Celana panjang hitam dengan dalaman senada dengan blazer putih yang Allegra pilih untuk beraktivitas hari ini.
Gadis berkulit putih bersih itu menyapukan make-up tipis ke wajahnya. Sementara rambut berwarna caramel bergelombang di biarkan terurai.
Alle menyemprotkan parfum channel bunga aldehida favoritnya. Yang membuat tampilan gadis itu semakin segar.
Ia mengambil tas kerja, sebelum menuruni tangga lengkung di rumah orangtuanya.
"Selamat pagi nona Allegra", ucap salah satu pelayan yang melihat Alle menuruni tangga, sudah siap dengan pakaian kerjanya.
"Pagi. Di mana mommy dan daddy, apa sudah keluar kamar?", tanya Allegra.
"Nyonya dan tuan sedang menikmati sarapan di dekat kolam nona Alle. Sarapan nona juga sudah saya siapkan di sana", jawab pelayan sopan.
"Terimakasih Berta, aku akan melahap habis makanan yang kau sajikan. Oh ya Berta, bisakah kau cuci jaket kulit yang ada di kamarku?", ucap Allegra tersenyum ramah.
"Tentu saja nona Alle".
Allegra tersenyum pada pelayan itu, Kemudian melangkahkan kakinya berlalu.
"Sayang...kamu sudah siap bekerja? Ayo sarapan dulu sama mommy daddy", ucap Giana ketika melihat putri kesayangannya telah turun dengan rapi.
Allegra memeluk Giana. Kemudian memeluk leher ayahnya yang sedang membaca berita di surat kabar. "Aku menyayangi daddy", ucap Allegra bergelayut manja pada Valentino.
Melihat kelakuan putrinya itu membuat Giana tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana hari pertama bekerja, apa ada yang menyulitkan mu?Kenapa kamu pulang malam sekali semalam, sayang? Apa pekerjaan mu sangat banyak?", tanya Valentino melipat surat kabar.
Allegra duduk di kursi, minum susu hangat. "Iya dad, tapi aku bisa mengerjakannya. Aku baik-baik saja, ternyata bekerja di rumah sakit tidak membosankan seperti yang aku pikirkan".
Valentino menganggukkan kepalanya.
"Apa juga mommy bilang, kamu pasti cepat beradaptasi bekerja di sana, sayang".
"Iya mom. Hm...pagi ini aku minta Marco mengantar ku, mobil ku aku tinggalkan di rumah sakit semalam". Allegra menyuapkan sereal kemulutnya.
"Kamu pulang dengan siapa semalam, Sayang?", tanya Giana menatap putrinya.
"Di antar Allegri". Allegra kembali mengangkat gelas.
Sesaat Giana dan suaminya bertukar pandang. Sambil menyantap makanan masing-masing.
"Sebelum pergi Al menitip salam buat daddy dan mommy", ujar Allegra memberi tahu orang tuanya.
"Kamu sudah benar pulang bersama Allegri, karena masih rawan kejahatan di Castemola. Sebaiknya kalau kau pulang malam minta Marco menjemputmu, daddy tidak mau terjadi apa-apa pada mu sayang", ujar Valentino.
Allegra menganggukkan kepalanya. "Iya dad", jawabnya singkat.
*
Allegra melangkahkan kakinya menuju ruangannya. Sekarang masih jam setengah delapan. Tiga puluh menit lagi mulai bekerja.
Allegra menaruh tiga pigura berukuran kecil di atas meja sudut yang ada di samping kursinya. Foto ketika ia wisuda yang di apit kedua orangtuanya dan foto ia sendirian,
Alle memilih merubah beberapa letak furniture yang bisa ia geser sendiri sebelum mulai jam kerja.
Bahkan sofa yang tadinya di tengah ruangan ia geser menempel ke dinding.
Tok...
Tok...
"Masuk!!"
"Heii apa yang kau lakukan. Sofa itu berat Alle..."
Ternyata Allegri yang masuk. Dan ia kaget melihat Alle memindahkan furniture sendirian.
Allegri terlihat sedang menghubungi seseorang melalui handphone nya. Laki-laki itu menahan Allegra agar berhenti memindahkan barang-barang seorang diri begitu.
"Guiliano, akan memerintahkan orang memindahkan furniture ruangan mu sesuai keinginan mu", ujar Allegri.
"Aku bisa melakukannya sendiri, lagi pula tidak terlalu berat", jawab Alle.
"Kau ikut dengan ku sekarang. Aku akan melakukan kontrol pasien-pasien ku. Bukankah kau berencana melanjutkan pendidikan mu? Mulai sekarang kamu harus paham menangani pasien Alle".
"Tapi yang aku inginkan sub anak atau seperti daddy. Aku tidak berminat seperti kamu Allegri", ujar Allegra.
"Mau melanjutkan di bagian apapun, dasarnya tetap sama saja. Kamu harus menerapkan ilmu yang sudah kau dapatkan. Ayo mulai bekerja yang sebenarnya". Allegri tidak menunggu jawaban Alle, tanpa sungkan ia menarik tangan Allegra yang sempat kaget.
Alle tidak bisa protes karena yang di katakan Allegri memang benar. Mengontrol keadaan pasien sesuai dengan bidang pendidikannya, daripada menyusun berkas seperti kemarin.
*
Tiba di ruang HCU, Allegri mengajak Allegra ketempat tidur salah satu pasien yang masih terbaring lemah pasca operasi jantung.
"Ini pasien yang aku ceritakan kemarin. Ia memiliki komplikasi diabetes dan ginjal. Setelah keadaannya stabil harus menjalani cuci darah".
Alle menganggukkan kepalanya. Menatap pasat wajah tua pasien. Ternyata memiliki resiko tinggi. Tapi pasien dan pihak keluarga sepakat untuk menjalani operasi.
Salah satu perawat menjelaskan di luar ruangan, pasien tersebut semalam sempat mengalami sesak.
"Aku akan menambah obat. Saat ini kondisi pasien stabil. Jika kondisinya terus membaik, besok sore sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat inap", ucap Allegri di hadapan salah satu keluarga pasien yang langsung sumringah dan mengucap syukur mendengar kabar baik itu.
Allegra pun ikut senang mendengar hasil pemeriksaan Allegri pada pasien itu. Ia bisa merasakan rasa syukur keluarganya begitu mendengar kabar baik yang di sampaikan dokter.
Setelah selesai memeriksa satu-persatu pasiennya, Allegri mengajak Allegra keruangan nya.
Alle tidak membantah, bagaimanapun Allegri adalah atasannya apalagi sekarang masih jam kantor.
"Bagaimana setelah melihat pasien-pasien tadi, apa kau masih tidak menyukai pendidikan jantung?". Allegri menyesap teh hangat yang tersaji di atas meja sofa di ruangannya.
Keduanya kini duduk bersebelahan di sofa berukuran besar yang ada diruangan itu.
"Aku bukan tidak suka, tapi aku merasa kesulitan jika harus mendalami melanjutkan pendidikan di bidang jantung, Al", jawab Allegra sambil memegang gelas tatakan porselin biru berisi teh hangat.
"Aku tahu kamu pintar Alle, apa yang kau kuatir kan tentang pelajaran jantung. Jika kau lebih dalam mempelajari ilmu jantung, kamu pasti ingin lebih jauh mempelajari nya. Jantung itu organ vital yang sangat penting bagi tubuh manusia".
Allegri berdiri, laki-laki itu membuka lemari tempat buku-buku tersusun rapi. Ia mengambil salah satu buku. Laki-laki itu kembali duduk di samping Allegra. "Bacalah buku ini, aku yakin kau menyukainya", ujar Allegri memberikan buku itu pada Alle yang langsung menerimanya.
Buku tentang kesehatan jantung.
Allegra membuka lembar buku tersebut. Matanya fokus melihat inisial huruf ‘AA’ di tulis indah dengan ukir. "Apa artinya Allegri-Alice?", tanya Alle menatap Allegri yang sesaat tercenung.
Laki-laki itu kembali menyesap minumannya. "Iya", jawabnya singkat.
"Kau pasti sangat mencintai kekasihmu Alice. Dimana dia, apa kalian menjalin hubungan LDR-an?".
Allegri mengambil kacang dari toples dan memasukkan ke mulutnya. "Urusan pribadi tidak masuk dalam kerjasama kita. Jadi aku tidak akan menjawab pertanyaan mu", ujarnya tanpa menoleh pada Alle.
Mendengar jawaban tersebut, Allegra spontan menubruk kan bahunya pada bahu Allegri. "Kau membalas ku semalam? Huhh... ternyata kau pendendam juga", ujar Alle dengan nada ejekan.
"Jangan menggodaku Alle atau aku akan menghukum mu...".
Allegra tidak menggubris ancaman Allegri, gadis itu masih menubrukkan bahunya pada bahu berotot laki-laki itu. "Aku tidak takut ancaman mu–"
Mendengar jawaban itu, spontan tangan Allegri melingkar ke leher Alle yang membuat gadis itu menghentikan perbuatannya. "Al, K-amu membuat ku sesak. Kau harus bertanggung jawab kalau jantung kenapa-napa", protes Alle sambil memegangi lengan Allegri yang ada di lehernya.
"Aku tidak akan melepaskan mu, sampai–"
"Ceklik...."
...***...
To be continue
Ayo siapa yang dateng??
Lanjut di kolom komentar dong🙏