Kisah sepuluh orang pecinta alam yang sedang melakukan wisata alam disebuah hutan untuk mengunjungi situs peninggalan purbakala di Goa Istana Alas Purwo yang dianggap sangat menantang.
Hutan Alas Purwo adalah salah satu hutan terangker di Indonesia, dimana dinyatakan sebagai salah satu gerbang menuju alam ghaib.
Akan tetapi, petualangan itu membawa mereka pada sebuah masalah, dimana tanpa sengaja, salah satu diantaranya mengambil sebuah benda purbakala dan kitab kuno yang membuat mereka harus mengalami hal mengerikan. Hal itu membuat mereka mengalami mutasi dan menjadi petaka yang mencekam.
Apakah mereka dapat terbebas dari semua itu? ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan
Sosok Siluman Kerbau tak memperdulikan permintaan dari Nathan, ia tetap duduk diatas perut Kael yang saat ini sedang meringis kesakitan dan tak dapat bergerak bangkit.
"Tolong, maafkan teman saya." Nathan kembali memohon. Ia semakin cemas, sebab hari semakin senja, itu tandanya mereka harus segera pulang meninggalkan Goa Istana di Alas Purwo.
Akan tetapi, kondisi Kael tidak memungkinkan untuk berdiri, dan juga tidak mungkin ditinggalkan.
"Nath, kamu ngomong sama siapa?" tanya Naura, ia merasa bergidik ngeri.
"Kael buang pup sembarangan, dan gak sengaja mengenai penghuni Alas Purwo, dia sedang dihukum," jawab nathan dengan gelisah.
"Hah?! Serius?" Sena dan Naura berucap bersamaan.
Nathan menganggukkan kepalanya dengan lemah. Ia ingin meminta tolong kepada warga yang akan melakukan tapa, tetapi sepertinya mereka sedang sibuk sendiri untuk mencapai tujuannya.
Saat bersamaan, Gita dan Kenny datang menghampiri, disusul oleh Manda dan juga Jhony. Keempatnya merasa lemah, dan terlihat berwajah pucat.
"Kalian kenapa pula?" tanya Nathan dengan suara yang tertahan. Ia seperti dapat melihat sesuatu yang sangat mengerikan, dimana didalam lambung keempat rekannya terdapat puluhan kelabang yang bergerak hidup.
Pemuda itu tersentak kaget, ia merasa bergidik ngeri, tak lama, Manda terduduk lemah, sebab rasa sakit yang tak dapat ia tahan.
"Gak tau, kami tadi dikasih kue sama Alessa, habis makan kami langsung sakit perut," jawab Gita dengan wajah yang semakin pucat.
Sontak saja Nathan tersentak kaget. "Gila! Dia itu ngambil kue sesaji dari orang melakukan ritual dihutan Alas Purwo!" pemuda itu sangat marah. Baginya apa yang dilakukan oleh Alesaa tidak lah lucu, tak seharusnya gadis ceroboh itu melakukannya, .
"Sena, panggil mereka?!" Nathan tampak geram, tetapi mencoba untuk tenang, sedangkan Manda yang sudah lemah mereka sandarkan dipohon, dan tak lama menyusul Gita yang juga ikut lemah.
Suasana semakin pelik, sepertinya mereka sedang terkena kutukan dihutan ini, tetapi bukan tentang makanan sesaji saja, ada hal lain yang lebih mengerikan dari itu.
Sena mencari Alessa dan juga Axel, tetapi tak menemukan keduanya, entah dimana mereka, mungkin menghindar dari tanggung jawabnya karena sudah membuat mereka celaka.
Sena melihat jika para petapa mulai menancapkan payung kuning dan putih, yang sudah dikembangkan.
Asap dupa dan kemenyan mengepul dimana-mana, dan membuat nafas terasa sesak.
Sementara itu, ruangan semakin padat dan oksigen semakin berkurang, ditambah penglihatan yang terbatas, sebab asap yang semakin tebal.
Sena tak dapat menemukan keduanya, entah kemana mereka pergi, mungkin saja sudah pulang tanpa memberitahu.
Gadis itu merasa bulu kuduknya meremang saat melihat langit semakin menggelap, suasana didalam goa tak ubah seperti sebuah pasar yang berlalu lalang, tak hanya para manusia, tetap makhluk astral yang juga ikut beraktifitas dengan kegiatan mereka.
Sena beranjak keluar dari goa, kembali menemui rekan-rekannya, dan setibanya disana, ia dikejutkan oleh penampakan yang sangat mengerikan, Gita, ya, gadis yang selama ini tak menyukainya, terlihat muntahkan darah, dan dalam muntahannya, terdapat kelabang yang keluar dalam mulutnya jumlah cukup banyak.
Ia berdiri terpaku, menatap semuanya dengan nanar. Kesalahan apa yang sudah mereka perbuat, mengapa harus terjadi? Sena terlihat bingung dengan apa yang menimpa rekan-rekannya.
Sementara itu, Alesaa dan Axel menyelinap keruangan lainnya. Pemuda itu duduk diatas lantai goa, lalu mengeluarkan batu permata hitam miliknya.
Ia menatapnya dengan seksama, dan melihat wajahnya dari pantulan batu hitam tersebut.
Semakin ia memandangnya, seolah ada yang sedang menyedot jiwanya.
Saat bersamaan, Alessa membuka kitab kuno bersampul beludru berwarna hitam tersebut.
Tulisannya yang sangat kecil, membuat ia mengambil kaca pembesar, dan membaca isinya.
Kemampuannya dalam membaca huruf hanacaraka, membuat ia begitu lancar melafalkannya.
Saat bersamaan, dinding goa kembali bergetar, dan para petapa yang tadinya sedang melakukan ritual terlihat panik.
Alessa tak menyadari apa yang sedang dilakukannya, ia terus saja membacanya, dan tanpa sadar membuat Sesuatu yang ada didalam liontin permata hitam itu bergerak ingin keluar, sebuah kekuatan hitam yang selama ini tersegel didalamnya terbebas dari pengurungan jiwa.
Tanpa sadar, ia membutuhkan jiwa manusia yang masih hidup, dan saat yang tepat satu sosok Siluman Ular kobra bersisik hitam raksasa dan bermata merah, terdapat mahkota di atas kepalanya, juga taring yang mencuat dari sudut mulutnya keluar dengan ukuran yang semakin memanjang.
Alessa masih tak menyadari apa yang terjadi, ia terus membacanya hingga hampir dibarisan terakhir, dan membuat Axel tersentak kaget saat melihat kemunculan sosok yang mengerikan itu.
Ia mencoba membuang liontin tersebut, tetapi seperti tak dapat diputuskan talinya.
Wajah pemuda itu memucat saat sosok mengerikan itu membelit leher sang pemuda, dan membuat Axel kepayahan. Nafasnya tersengal dan kian sesak, ular itu memperkuat belitannya, dan membuat Axel semakin melemah.
Alessa selesai membacanya, dan ketika itu ia melihat Axel sedang disesap jiwanya dan membuat sosok itu semakin kuat dan tumbuh besar.
Sang pemuda mengejang, lalu melemah, dan tubuhnya terkapar dilantai goa.
Sedangkan Alessa sendiri dalam ketakutan, dimana sosok yang bersarang di dalam rahimnya sudah membesar, dan melakukan yang sama, menyesap jiwanya.
Alessa membolakan kedua matanya, ia mengejang karena lehernya dibelit oleh tubuh ular tersebut, dan ia berusaha menyelamatkan dirinya, tetapi sudah terlambat, ia telah membangkitkan jiwa yang terpenjara, dan membuat petaka yang sangat mengerikan.
Suasana semakin mengerikan, dimana terlihat kegaduhan dari para makhluk astral di dalam ruangan goa dan juga hutan, suara riuh terjadi.
Para petapa kebingungan, dan mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi, hanya saja para makhluk astral terlihat mengamuk.
Alessa berjuang menyelamatkan nyawanya, tetapi sia-sia, dan kaca pembesar ditangannya terjatuh dilantai, getaran dinding goa semakin kuat, dan tubuhnya terjatuh dilantai dengan luka membiru.
Diluar sana, Nathan dan yang lainnya terlihat kebingungan, tetapi ia melihat banyak makhluk mengerikan yang seperti kebingungan, dan wajah-wajah mereka sangat mengerikan.
Sementara itu, didalam Goa Istana, dua makhluk sepasang Siluman Ular Kobra bersisik hitam sedang memburu petapa yang sedang konsentrasi dalam ritualnya.
Para makhluk yang tadinya menjadi pendamping para petapa, tiba-tiba saja berbelok arah dan menyerang.
Kegaduhan semakin parah, saat para wisatawan ikut terbantai, dan kematian massal datang melanda.
Sosok Siluman Ular Kobra itu terus membantai para petapa, menghisap jiwanya, dan membuat ia semakin kuat.
Mayat-mayat bergelimpangan, suatu pemandangan yang sangat mengerikan. Mereka menikmati setiap jiwa yang sudah mereka paksa untuk keluar.
Saat setelahnya, kedua Siluman itu bergerak keluar dari goa, tetapi satu sosok wanita cantik menghalanginya, ia terlihat marah, sebab dua Siluman itu membuat ke onaran.
kasihan yaa para keluarga nya yg kebingungan mencari keberadaan mereka semuanya 😔
Semoga Naura dan Kael serta Nathan bisa menemukan kitab kuno itu, sehingga mereka bisa bebas dari hutan Alas Purwo.. 🙏