Di pesantren Queen Al-Falah, Abigail, seorang Ning yang dingin dan penuh talenta, lebih memilih kopi dan kesibukan pondok daripada cinta. Ia adalah permata yang tersembunyi di balik sikap judes dan penampilannya yang sederhana. Namun, takdir berkata lain ketika sang kakek menjodohkannya dengan seorang Gus Abdi Ndalem, partnernya dalam tim multimedia dan hadroh. Di antara jadwal padat, sholawat, dan misteri masa lalu, Abigail harus membuka hatinya untuk cinta yang tak pernah ia duga. Mampukah ia menemukan kehangatan di balik dinginnya ndalem dan kerasnya hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan Kakak dan Kunjungan Diam-Diam
[Gus Arka dan Gus Arzan semakin curiga dengan adik dan adik sepupunya itu. Mereka penasaran siapa yang menelepon, hingga membuat Abigail dan Faiq terlihat gelisah. Gus Arka dan Arzan mencoba menanyai mereka.]
Gus Arka: "Dek, tadi siapa sih yang nelpon? Kok kayaknya penting banget?"
Gus Arzan: "Iya, Faiq. Siapa yang nelpon sampai kamu tegang gitu?"
Ning Abigail: (dengan nada dingin, lebih dingin dari biasanya) "Nggak siapa-siapa. Nggak penting."
Gus Faiq: (menjawab dengan nada yang sama dinginnya) "Iya, mas. Cuma teman biasa aja."
[Gus Arka dan Gus Arzan saling bertukar pandang. Mereka tidak percaya dengan jawaban Abigail dan Faiq. Namun, mereka tidak ingin memaksa. Setelah itu, mereka melanjutkan obrolan dengan yang lainnya. Beberapa saat kemudian, Abigail izin meminjam toilet di ndalem Gus Ivan.]
Ning Abigail: (dengan nada datar) "Gus, pinjam toilet sebentar."
Gus Ivan: "Oh, iya, Dek. Silakan."
[Setelah selesai, Abigail kembali ke teras dan tidak lama kemudian ia pamit untuk kembali ke ndalem barat.]
Ning Abigail: (berdiri) "Saya pamit dulu ya. Mau istirahat."
Gus Atha: (dengan nada bercanda) "Dek, kok cepet banget mau pulang? Nggak betah ya sama kita?"
Ning Abigail: (menjawab dengan nada dingin) "Males aja."
Gus Faiq: "Bijel, jangan gitu dong. Kita kan lagi seru-seruan."
Ning Abigail: "Bukan urusanmu."
Gus Arka: (dengan nada serius) "Dek, kalau ada apa-apa cerita aja sama kita. Kita kan kakakmu."
Ning Abigail: (menjawab dengan nada acuh) "Nggak ada apa-apa."
Gus Arka: "Iya, Dek. Hati-hati."
Gus Arzan: "Jangan lupa istirahat yang cukup."
[Ning Abigail hanya mengangguk singkat dan beranjak pergi.]
[Setelah shalat Isya', Ning Abigail pergi ke ndalem tengah. Ia ingin meminta kunci mobilnya. Ia berencana untuk keluar sebentar. Tujuannya adalah pesantren Al-Fattah. Ia ingin menemui seseorang. Ia pergi ke pesantren Al-Fattah diam-diam, tanpa memberitahu siapapun. Ia mengambil kunci di kang Resya, keamanan ndalem tengah.]
Ning Abigail: (dengan nada dingin) "Kang, minta kunci mobil."
Kang Resya: "Mau kemana, Ning? Sudah malam."
Ning Abigail: (menjawab dengan nada cuek) "Ada urusan sebentar. Nggak lama."
Kang Resya: (memberikan kunci dengan ragu) "Nggih, Ning. Hati-hati di jalan."
[Ning Abigail mengambil kunci mobilnya dan berangkat menuju pesantren Al-Fattah pukul 19.30. Perjalanan cukup macet, hingga ia baru sampai di sana pukul 21.35. Sesampainya di pesantren Al-Fattah, ia menemui Kang Izzul, orang yang kemarin datang ke pesantren menemaniku Gus Ar.]
[Abigail tetap dengan sifat dan karakternya yang judes, cuek, cool, dan dingin. Ia berkata kepada Kang Izzul agar menjaga jarak dan tidak membuat keluarganya curiga.]
Ning Abigail: (dengan nada dingin dan tegas) "Kang, saya minta tolong jangan terlalu dekat sama saya. Jangan sampai keluarga saya curiga."
Kang Izzul: (mengangguk) "Nggih, Ning. Saya mengerti."
Ning Abigail: "Saya ke sini cuma mau ngomong itu aja. Jangan sampai ada yang tahu tentang hubungan kita."
Kang Izzul: "Nggih, Ning. Siap."
Ning Abigail: "Saya juga minta tolong sama Kang Izzul, jangan sering-sering hubungi saya. Saya takut ketahuan sama keluarga saya."
Kang Izzul: "Nggih, Ning. Saya akan usahakan."
Ning Abigail: "Ya sudah, saya pamit dulu."
Kang Izzul: "Nggih, Ning. Hati-hati di jalan."
[Setelah selesai berbicara dengan Kang Izzul, Ning Abigail pamit untuk pulang ke pesantren Queen Al-Falah karena takut membuat orang curiga. Pukul 23.55, ia sampai di pesantren Queen Al-Falah karena Alhamdulillah tidak macet dan jalanan lancar sepi, jadi ia juga bisa ngebut. Sesampainya di Queen Al-Falah, ia langsung ke ndalem barat dan memarkirkan mobilnya, dan langsung masuk ke ndalem untuk istirahat.]
[Ning Abigail masuk ke dalam ndalem barat dengan hati-hati, agar tidak ada yang tahu tentang kepergiannya. Sesampainya di kamarnya, ia menghela napas lega. Ia merebahkan diri di tempat tidur dan memejamkan mata.]
Ning Abigail: (dalam hati) "Semoga nggak ada yang curiga."
[Ia memikirkan tentang pertemuannya dengan Kang Izzul. Ia merasa bersalah karena telah menyembunyikan hubungan mereka dari keluarganya. Namun, ia juga tidak tahu harus berbuat apa.]
[Dengan pikiran yang kacau, Ning Abigail akhirnya tertidur.]