NovelToon NovelToon
Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Sci-Fi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.

"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"

Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak menyadari perasaan sendiri

Rangga menghabiskan suapan terakhirnya, lalu meneguk sisa kopi hitamnya hingga tandas. Ia menyadari bahwa memperlama waktu di kedai ini tidak akan merubah kenyataan di antara mereka.

Ia berdiri, merapikan jaket kulitnya, lalu berjalan menuju etalase tempat Ayu berdiri. Rangga merogoh dompetnya, mengeluarkan selembar uang.

"Berapa, Yu?" tanya Rangga.

Ayu mendongak sebentar, lalu dengan cepat menundukkan kepalanya lagi sambil menghitung. "Dua puluh lima ribu, Mas," jawabnya pelan.

Rangga menyodorkan uangnya. Ia sempat terdiam sejenak setelah menerima kembalian. Lidahnya terasa kelu. Di kepalanya, ada banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan

Apakah kamu bahagia? Siapa saja yang tinggal bersamamu di sini? Apa kamu sudah melupakanku?

Namun, Rangga juga tidak tahu harus bertanya apa. Ia merasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak lagi relevan bagi pria berusia tiga puluh tahun yang sudah memiliki jalannya sendiri. Bertanya lebih jauh hanya akan membuka luka lama yang sudah susah payah ia tutup.

"Terima kasih," ucap Rangga akhirnya.

Ayu mengembuskan napas panjang, bahunya yang sejak tadi tegang seketika merosot lemas. Ia menyandarkan kedua tangannya di pinggiran etalase kaca, mencoba mengatur detak jantungnya yang masih berpacu tidak keruan. Kehadiran Rangga selama tiga puluh menit tadi terasa seperti ujian yang sangat panjang baginya.

Terdengar langkah kaki kecil dari arah belakang. Nenek keluar dengan perlahan, tangannya memegang kain lap bersih. Ia menatap ke arah pintu depan, lalu beralih menatap wajah cucunya.

"Sudah pergi, Ayu?" tanya Nenek lembut.

Ayu hanya mengangguk pelan tanpa suara. Ia mulai berpura-pura merapikan tumpukan piring yang tadi digunakan Rangga.

Nenek Tari menghela napas, ia berjalan mendekat dan mengelap meja kayu di samping Ayu. Nenek Tari memang tahu seluruh cerita Ayu. Ia tahu siapa pria itu, ia tahu bagaimana hancurnya Ayu saat harus melepaskan pria itu bertahun-tahun lalu, dan ia tahu bahwa hingga detik ini, tidak ada nama lain yang singgah di hati cucunya selain pria bernama Rangga itu.

"Dia sudah jadi orang sukses ya, Yu?" gumam Nenek Tari, suaranya tenang namun penuh makna. "Gagah. Persis seperti yang sering kamu ceritakan dulu, kalau dia memang pria pekerja keras."

Ayu terdiam, tangannya berhenti bergerak di atas piring. "Iya, Nek. Dia sudah sampai di tempat yang seharusnya."

Nenek Tari menatap Ayu dengan tatapan iba yang berusaha ia sembunyikan. "Kenapa tadi tidak bicara lebih banyak? Dia sepertinya juga tidak membencimu yu"

"Bicara apa, Nek? Aku tidak punya hak lagi. Melihat dia masih mau makan di kedai kita dan bicara baik-baik saja, itu sudah keajaiban buatku. Aku tidak mau merusak ketenangan hidupnya lagi."

Nenek Tari hanya bisa mengelus punggung Ayu. Ia tahu cucunya sedang mencoba bersikap kuat.

......................

Rangga duduk diam di kursi, Ia menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit ruang kantornya yang modern.

"Sudah empat tahun," gumamnya pelan, mengulang jawaban Ayu tadi.

Berarti hampir sepanjang waktu ia membangun RG Custom Garage hingga sebesar ini, Ayu ada di kota yang sama, berjarak hanya beberapa kilometer darinya, namun mereka seolah hidup di dua dunia yang berbeda.

"Apa dia benar-benar baik-baik saja?" bisik Rangga pada ruangan yang sunyi itu.

Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Sudah bertahun-tahun ia tidak mengizinkan dirinya mengkhawatirkan wanita itu.

"Apa lelaki itu mencampakkannya? Atau keluarganya sendiri sudah tidak peduli lagi?"

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Rangga. Ia teringat jelas alasan mereka berpisah dulu orang tua Ayu yang menginginkan menantu dari kalangan sederajat, seorang pria mapan yang konon sudah disiapkan untuk menjadi pendamping Ayu. Pria yang membuat Rangga dulu merasa begitu kerdil hingga akhirnya memilih mundur dan membuktikan diri.

"Kalau dia bahagia dengan pilihannya yang dulu, dia tidak mungkin ada di sana," pikir Rangga tajam.

Ada rasa perih yang aneh menyelinap di hatinya. Rangga tidak merasa menang melihat kondisi Ayu sekarang. Sebaliknya, ia merasa marah. Marah karena pengorbanannya melepaskan Ayu ternyata tidak berujung pada kebahagiaan wanita itu. Ia merasa sia-sia telah merelakan cintanya jika akhirnya Ayu tetap harus hidup menderita.

"Ke mana perginya semua kemegahan keluarganya dulu? Ke mana pria yang mereka bangga-banggakan itu?"

Rangga mengepalkan tangannya di atas meja. Di usianya yang hampir tiga puluh, ia sudah cukup banyak melihat kejatuhan bisnis orang-orang besar di Bandung. Mungkinkah keluarga Ayu salah satunya? Ataukah Ayu telah dibuang karena sebuah kesalahan?

Lamunan Rangga terpecah ketika pintu ruangannya terbuka. Seorang pria sebaya dengannya melangkah masuk sambil menggendong seorang balita laki-laki yang sedang asyik mengenyot biskuit.

"Woi, Ga! Ngelamun aja lo,"

Dimas memang sudah menikah dua tahun yang lalu, dengan kekasihnya yang ia kenal sejak bangku SMP. Mereka sempat putus nyambung dan berakhir di pelaminan.

Rangga langsung berdiri, wajahnya yang tadi tegang seketika mencair melihat keponakan kecilnya. "Eh, Dim. Tumben bawa dia ke sini. Nggak dicariin istri lo?"

"Nggaklah, emaknya lagi arisan. Gue bagian jaga anak," jawab Dimas sambil mendudukkan anaknya di sofa kulit. Anak itu, yang baru berumur satu tahun, menatap sekeliling dengan mata bulat yang lucu sebelum asyik main sendiri.

Rangga mendekat, mengelus kepala anak Dimas. Melihat kedekatan Dimas dengan anaknya, pikiran Rangga kembali melayang pada monolognya tadi. Kehidupan Dimas terlihat sangat lengkap dan tenang di usia mereka yang sekarang.

Ia menatap anak Dimas yang sedang berusaha berdiri sambil memegang pinggiran sofa. Tanpa banyak bicara, Rangga mendekat dan mengulurkan tangannya.

Balita itu menyambutnya dengan tawa kecil, dan Rangga dengan sigap menggendongnya.

"Ga, gue serius nanya. Umur lo udah mau tiga puluh. Lo nggak ada niat mau nikah apa gimana? Atau..." Dimas menjeda kalimatnya sejenak, menatap punggung sahabatnya itu. "Atau lo sebenarnya lagi nunggu seseorang?"

Rangga hanya tersenyum tipis tanpa menoleh. Pertanyaan itu terasa sangat akrab karena baru semalam Andi menanyakan hal yang sama.

"Andi aja gue dengar mau tunangan ya bulan depan?" lanjut Dimas lagi. "Tadi pagi gue sempat papasan sama dia pas dia mau ke stasiun, mukanya cerah bener cerita soal Rania. Masa lo sebagai abangnya masih betah sendirian"

"Andi memang sudah waktunya, Dim. Dia sudah mapan, sudah siap tanggung jawab," jawab Rangga santai. "Kalau gue... nunggu siapa juga? Lo tahu sendiri hari-hari gue cuma di sini."

Ia mengembalikan anak itu ke dekapan Dimas karena si kecil mulai terlihat mengantuk.

"nih anak Lo udah mau ngantuk tuhh," ucap Rangga memberikan Dafa pada Dimas.

"Ya elahhh, umur lu udah tiga puluh tuh. mau jadi bujang lapuk lu atau mau cosplay jadi sugar Daddy. Kasian tuh si Joni lu ngga kebagian merasakan nikmatnya dunia"

"Mulut Lo, Dim. Anak Lu masih kecil udah diajari yang nggak-nggak." ucap Rangga.

" Ya lu juga Ga, sampai sekarang ngga ada cewek yang dekat sama Lo. Atau jangan-jangan lu gay ya" selidik Dimas.

"Udah pulang lu sono. Makin lama ucapan lu makin ngawur aja"

"Yaa ini juga mau pulang, istri gue tercinta juga udah dirumah, mau bercinta dulu. Pamit dulu sama om Rangga boy. Dadah om Rangga cepat-cepat ya nikahnya" ucap Dimas menirukan suara bayi.

Setelah Dimas pergi, Rangga juga mulai ikut membantu pekerjaan karyawannya. ia baru menyadari semenjak putus dengan ayu, tak ada lagi wanita yang dekat dengannya. Atau dia hanya merasa trauma dengan masa lalunya.

1
kalea rizuky
gemes deh kalian
kalea rizuky
q uda kirim bunga lanjut banyak ya thor
kalea rizuky
lanjut donkk
Evi Lusiana
waduh rangga puny saingan y thor
Evi Lusiana
klo pura² sakit aj trs biar ayu kwatir dn perhatian sm km rangga🤭
Evi Lusiana
knp d bkin ribet sih yu,hrsny km trimakasih sm rangga
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Ayu membatalkan pertunangan dan pergi harusnya Rangga benci ke Ayu dan ngga mau lihat Ayu lagi dong
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Padahal orang yang di suruh mengantar motornya Ayu sudah bilang kalau gratis tapi malah Ayu datang ke bengkel dan memberikan uang ke Rangga sebagai biaya perbaikan sepeda motor dan ganti sparepart
Evi Lusiana
rangga laki² baik bertahun² sjak dia gk lg nersm ayu dia hny fokus kerja tp tdk maen perempuan
Aidil Kenzie Zie
bicara dari hati ke hati
Evi Lusiana
ini yg nmany jodoh gk akn kmn y thor
Aidil Kenzie Zie
move on Rangga kalau nggak kejar lagi cinta itu
Aidil Kenzie Zie
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!