Keheningan malam yang gemuruh memeluk kota Topaz. Sinar gelap menerobos kegelapan dalam penantian panjang. Sunyi riuh memeluk hati yang gaduh merenung diri. Dhona, wanita berusia 22 tahun, dikurung di dalam ruangan sempit di salah satu rumah sakit jiwa.
Apakah dia gila? Tentu saja tidak. Dhona sengaja dibuat gila oleh saudara angkatnya agar dia bisa diusir dari rumah orang tuanya.
Semenjak kehadiran saudara angkatnya, kehidupan Dhona berubah. Dhona yang berhati bak malaikat, dimanfaatkan kebaikannya oleh Alia, anak angkat yang ditemukan ayahnya di sebuah panti asuhan.
Dhona dijadikan pembantu, difitnah, dibully.
Dalam keputusasaan, Dhona lelah menjadi orang baik. Dhona mematahkan julukan malaikat yang selama ini melekat. Dhona dipengaruhi ilmu hitam.
Apakah Dhona benar-benar terjebak dalam lingkaran kebencian?
Terus ikuti jalan ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenny Een, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Phia dimakamkan dengan layak di kota Opal. Haikal dan Mavisha juga mengadakan tahlilan untuk Phia. Dhona mulai menerima Mavisha sebagai ibu kandungnya. Dhona juga mengetahui alasan Mavisha selama ini tidak bisa bertemu dengan Dhona.
Sakit hati Dhona semakin bertambah saat mengetahui Mavisha begitu mencintai Ardian. Mavisha ditipu Ardian. Ardian pada saat itu mengaku masih bujangan. Ardian mengejar-ngejar Mavisha sampai akhirnya Mavisha tergoda dan jatuh cinta pada Ardian.
Mereka berdua akhirnya menikah. Pernikahan dilaksanakan di kantor KUA kota Opal secara sederhana karena Ardian tidak punya banyak uang. Mavisha dan keluarganya sangat memaklumi kondisi Ardian yang hanya seseorang dari kalangan biasa.
Selama hamil Mavisha, Ardian selalu ada di sisinya. Dan ketika Mavisha melahirkan Dhona, Ardian mulai menunjukkan sifat aslinya. Ardian memaksa Mavisha menandatangani dua buah surat. Karena terus didesak, tanpa membacanya, Mavisha menandatangani surat-surat itu.
Ardian memberikan Mavisha sekoper uang. Ardian menyerahkan Mavisha kepada keluarganya. Ardian menjatuhkan talak kepada Mavisha di hari Ardian membawa bayi mereka meninggalkan kota Opal.
Mavisha bersama sahabatnya berhasil menemukan Ardian di kota Topaz. Mavisha baru mengetahui, Ardian sudah memiliki istri. Mavisha juga mengetahui ternyata Ardian adalah anak dari pengusaha kaya di kota Topaz. Selama ini Mavisha dibohongi.
Di suatu kesempatan, Mavisha bertemu dengan Ardian yang saat itu bersama Phia dan Dhona yang berusia beberapa bulan. Mavisha meminta izin untuk melihat Dhona. Ardian mengingatkan Mavisha sudah menandatangani surat yang menyatakan Mavisha memutuskan hubungan dengan Dhona.
Phia yang mengetahui Mavisha adalah ibu kandung dari Dhona sempat kaget. Mavisha yakin, Phia juga dibohongi Ardian. Phia tanpa mendengarkan larangan Ardian, membiarkan Mavisha menggendong Dhona walaupun sebentar.
Sejak hari itu, Mavisha tidak bisa lagi melihat Dhona karena Ardian mengancam jika Mavisha ketahuan menemui Dhona, Ardian pastikan Dhona hidupnya tidak baik-baik saja.
"Tapi mengapa Zayyan bisa mengenaliku?" Dhona menatap Zayyan.
"Mama sangat merasakan kehilangan yang Tante rasakan. Mama dan Papa membayar jasa orang untuk mencari tahu informasi tentang kamu setiap tahunnya," jawab Zayyan.
"Bunda merasakan kesakitan kamu, Ka. Bunda bermimpi Kak Dhona berada di tempat yang gelap. Bunda cerita ke mamanya Kak Zayyan. Dan Kak Zayyan bersama Kak Rendra langsung menuju kota Topaz," sahut Athar.
"Terima kasih untuk semuanya," ucap Dhona dengan mata yang berkaca-kaca.
...----------------...
Setelah 100 hari meninggalnya Phia, Zayyan dan Dhona akhirnya menikah. Acara pernikahan diselenggarakan dengan meriah di kota Opal. Dhona sama sekali diperlakukan bak Ratu di keluarganya. Dhona merasakan kasih sayang dari Mavisha, Haikal dan Athar sebagai papa dan adik sambungnya.
Nikah kontrak hanya akal-akalan Zayyan agar Dhona mau menikah dengannya. Dhona menandatangani surat perjanjian kontrak yang isinya menjalani pernikahan seumur hidup dengan Zayyan sampai maut memisahkan.
Devi sengaja menghilang. Devi tidak tahan dengan keharmonisan sebuah keluarga. Devi membiarkan Dhona menikmati kebahagiaannya.
...----------------...
Devi adalah arwah yang tersesat. Devi selama hidupnya tidak seperti Dhona yang merasakan sebuah keluarga. Devi sejak kecil hidup bersama seorang pengasuh bernama Imas.
Devi sering bertanya kepada bi Imas, kenapa Devi tidak seperti anak-anak yang lain yang mempunyai ibu dan ayah. Bi Imas hanya menjawab orang tua Devi berada di luar kota karena urusan pekerjaan.
Sampai Devi berusia remaja, Devi mencari tahu sendiri informasi mengenai kedua orang tuanya. Devi menemukan ibu kandungnya. Apa yang diharapkan Devi sungguh di luar dugaan. Ibu kandung Devi tidak menerima kehadiran Devi. Dia tidak mengizinkan Devi menemuinya. Dia bahkan mengusir Devi dari rumahnya.
Semalaman Devi berada di depan rumah ibunya. Tidak perduli hujan deras angin ribut, Devi tetap menunggu di depan rumah ibunya hanya untuk mendapatkan pengakuan bahwa Devi adalah anaknya.
Ibu Devi menghubungi bi Imas. Bi Imas yang mengkhawatirkan Devi bergegas menuju kediaman majikannya. Bi Imas berusaha membujuk Devi untuk kembali ke rumahnya.
Devi saat itu sedih, marah. Devi berlari meninggalkan rumah ibunya dalam keadaan basah kuyup. Devi terus berlari. Dipikiran Devi saat itu, Devi ingin membalas sakit hatinya. Devi menuju sebuah rumah yang selama ini dilarang bi Imas untuk melewatinya.
Devi berdiri di depan rumah yang terbuat dari kayu. Devi lama memandangi rumah kayu yang hampir lapuk itu. Devi melihat pintu rumah itu terbuka lebar. Tanpa ragu Devi masuk ke dalam.
Devi memperhatikan isi rumah. Rumah kecil yang hanya memiliki satu tempat tidur di pojok ruangan dekat jendela. Tidak ada kursi tamu hanya ada karpet kecil dan meja kecil di tengah rumah yang di atasnya ada tempat untuk membakar kemenyan.
Devi merinding ketika melihat ada tengkorak manusia menempel di dinding rumah itu. Devi terbatuk saat mencium aroma kemenyan yang sangat menusuk indera penciuman. Devi mendengar langkah dan perhatiannya berpindah ke pintu kecil yang ada di belakang sana.
Seorang wanita tua terbungkuk-bungkuk berjalan dari arah belakang. Dia perlahan duduk di atas karpet sambil memandangi Devi yang basah kuyup tanpa permisi masuk ke dalam rumahnya. Dia mempersilahkan Devi untuk duduk.
Devi duduk di depan nenek tua. Devi menangkap handuk yang dilempar nenek tua itu ke arahnya. Devi langsung mengeringkan rambutnya. Devi menyelimuti tubuhnya yang basah dengan handuk.
"Apa kamu tidak takut datang kemari? Sekali kamu masuk, aku tidak akan melepaskanmu," kata nenek tua.
"Iya, saya tau. Apa Nenek sudah tau apa maksud kedatangan saya kemari?" Devi memberanikan diri memandang nenek.
"Kamu ingin membuat Ibumu merasakan sakit hatimu. Kamu ingin menyingkirkan ibu kandungmu. Coba kamu pikirkan lagi, menghilangkan nyawa orang bayarannya tidak sedikit!"
Nenek itu melempar sesuatu ke dalam wadah kemenyan, alhasil asapnya yang keluar dari kemenyan bertambah banyak.
Devi kembali terbatuk. Devi memegangi dadanya yang mulai terasa sakit. Asap kemenyan itu membuat napasnya sesak. Devi mulai yakin nenek itu punya kesaktian karena bisa membaca pikiran Devi.
Iya, keinginan Devi hanya satu. Devi ingin membuat ibu kandungnya sakit hati dan pergi dari dunia untuk selama-lamanya. Percuma dia hidup di dunia hanya untuk menelantarkan seorang anak yang tidak berdosa.
Devi menyalahkan kebodohan ibunya. Mengapa dia mempertahankan kehamilan dan melahirkan Devi ke dunia. Jika dia tidak menginginkan kelahiran Devi, mengapa dia tidak menggugurkan kandungannya.
"Kenapa kamu diam!" Teriak nenek tua.
"I ... iya, Nek. Lakukan apa saja, asalkan dia menghilang untuk selama-lamanya. Saya tidak punya uang, kalo perlu ambil juga nyawa saya," jawab Devi.
Nenek itu mengambil gelas kaca yang ada di sampingnya. Kemudian dia menuangkan air minum dari kendi ke dalam gelas. Nenek tua mengiris ujung jarinya. Dari ujung jari keluar sedikit darah dan darah itu diteteskan ke dalam gelas yang berisi air.
"Minum air ini! Kamu tidak punya uang. Kamu sudah menyerahkan dirimu sendiri!"
"Setelah minum air ini, apakah keinginan saya bisa tercapai?" hati-hati Devi bertanya.
"Iya! Cepat lakukan!" Nenek itu melotot ke arah Devi.
Dengan tangan dan tubuh yang bergetar, Devi mengambil gelas yang diberikan nenek tua. Awalnya Devi merasa jijik, tapi setelah mengingat betapa besarnya keinginannya, Devi akhirnya meminum air putih yang bercampur darah itu dalam sekali tegukan.
"AAAAAGGGHH!" Devi kesakitan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...