NovelToon NovelToon
TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Berbaikan
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.

Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.

Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.

"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.

Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Mandi Bersama

"Aku pasti sudah gila!!"

Alissa berteriak frustasi. Tidak percaya apa yang semalam dia lakukan bersama Sean. Dia dan Sean. Mereka Berdua---

"Sia-lan! Kenapa kau sangat murahan sekali Alissa!"

Sekali lagi Alissa mengerang frustasi. Menggelung tubuh--ehem, tubuh polosnya dengan selimut, Alissa turun dari ranjang yang semalam menjadi saksi bisu tentang betapa liarnya seorang Sean Balrick.

"Pria itu sangat kuat." gumam Alissa mengingat betapa ganasnya Sean semalam.

"Dan kenapa juga aku mau-mau saja! Apa yang semalam merasukiku, dasar Alissa bodoh!" umpat istri Sean itu pada dirinya sendiri.

Alissa tidak tahu apa yang terjadi padanya semalam. Semuanya terasa seperti---bagaimana cara Alissa menyampaikannya. Bahwa semalam dirinya seperti kucing betina yang sedang birahi.

Perempuan itu menatap pantulan dirinya pada cermin dengan perasaan miris. Lehernya yang tidak tertutup oleh selimut memperlihatkan bercak merah keunguan bekas ulah Sean. Yah, semalam dirinya benar-benar dijadikan pela-cur oleh antagonis sia-lan itu.

"Baiklah Alissa. Ini yang terakhir. Kedepannya tolong kontrol dirimu."

Menyesal pun tidak ada gunanya. Semua telah terjadi. Dan juga--tidak bisa dia pungkiri jika semalam, Alissa juga menikmatinya. Mereka melakukannya atas dasar mau sama mau.

Akhirnya Alissa pergi ke kamar mandi. Badannya terasa sangat lengket dan bau. Namun hal tak terduganya adalah, ketika perempuan itu membuka tuas pintu, betapa terkejutnya dia melihat laki-laki tanpa busana tengah berdiam diri di bawah pancuran shower.

"Apa yang sedang kau lakukan?!" jerit Alissa yang sontak menutup matanya.

Sedangkan sang pelaku yang membuat Alissa terkejut setengah mati hanya menatap perempuan itu datar. Ia abaikan reaksi Alissa yang menurutnya sangat lebay. Mengambil shampoo kemudian membuat rambutnya penuh busa.

"Padahal suka, tapi gayanya seperti masih gadis saja." dengus Sean acuh.

"Pakai bajumu sia-lan!" seru Alissa masih setia memejamkan matanya.

"Kau ini bodoh atau bagaimana? Orang sedang mandi harus pakai jas, begitu?" ujar Sean membalas.

"Lagipula, sebenarnya kau suka kan, melihatku tanpa busana? Kenapa menutup matamu segala? Ayo sini, lihat sepuasmu. Atau sekalian melanjutkan yang semalam?" sambung laki-laki itu dengan nada menggoda. Terdengar sangat menyebalkan di telinga Alissa.

"Najis! Dasar pria gila!"

"Pria najis ini yang membuatmu berteriak keenakan semalam."

Berdebat dengan Sean hanya akan membuatnya darah tinggi. Mendidih layaknya api yang memanasi. Maka dari itu Alissa lebih memilih mengalah. Dia akan mandi di kamar mandi yang berada di kamarnya saja.

"Mau kemana kau?!" seru Sean ketika Alissa beranjak pergi sambil membenarkan selimut di tubuhnya.

"Mandi."

Sean yang sedang membilas rambutnya itu seketika menghentikan pergerakannya. Pikirannya membayangkannya sesuatu yang membuat darahnya mendidih tiba-tiba.

Sebelum Alissa benar-benar pergi dari kamar mandi, ia tarik istrinya itu hingga membuatnya memekik kaget.

"Sean, apa yang kau lakukan?!" marah Alissa menatap suaminya tajam.

Sean abaikan tatapan itu. Ia lebih memilih menarik selimut yang membungkus tubuh mungil istrinya. Membuat Alissa seketika berteriak dengan mencoba menutupi tubuhnya menggunakan tangan.

"Ck, lagipula aku sudah melihat semuanya." decak laki-laki itu.

"Dasar ca-bul!" umpat Alissa yang berusaha mengambil kembali selimut yang kini sudah tergeletak dan basah.

"Biarkan saja. Sudah basah." Sean tahan pinggang Alissa. Tubuh mereka menempel. Tentu saja Alissa mati kutu. Mereka kini tidak memakai apapun. Sehingga---oke, mari lupakan.

"Sean, kapan kau akan mengurusnya?" Alissa melepaskan rengkuhan tangan suaminya.

Daripada lelah berdebat, lebih baik Alissa abaikan rasa malu yang menggerogotinya dan mulai membersihkan tubuhnya.

"Apa maksudmu,?"

"Kapan kau akan mengurus perceraian kita, Sean."

Sean terdiam. Ia tatap Alissa yang kini tengah berendam di dalam bathtub.

"Tidak adakah candaan lain? Candaanmu sudah tidak lucu." ujar laki-laki itu. Ia ambil jas mandi yang tergantung untuk membungkus tubuhnya.

"Dan harus berapa kali aku bilang, aku serius ingin bercerai darimu. Setelah itu kau bebas mengejar cinta gilamu pada Stella." balas Alissa merasa kesal. Sean masih menganggap jika permintaan cerainya hanya lelucon semata.

Mendengar itu Sean terkekeh sinis. Ia pandangi Alissa remeh. "Bercerai atau tidak bercerai darimu, itu tidak memengaruhi apapun. Aku masih bisa meyakinkan Stella untuk bersama."

"Tapi di dalam novel, kau akan membunuh istrimu sendiri karena menganggapnya sebagai penghalang, Sean." jerit Alissa di dalam hatinya.

Apakah jika dia mengatakan, jika dunia yang mereka huni ini adalah dunia novel, semua orang akan percaya? Jangankan percaya. Mungkin Alissa akan dikirim ke rumah sakit jiwa.

Perempuan itu menghela nafas pasrah. Baiklah jika antagonis bernama Sean Balrick ini tidak percaya padanya. Biar waktu yang membuktikan.

"Baiklah jika kau tidak mau. Biar aku yang mengurus perceraian kita." Alissa basahi bibirnya yang mendadak terasa kering.

"Secepatnya, aku akan keluar dari rumah ini." lagi-lagi hatinya merasa seperti tercubit setelah mengatakan perceraian.

Sean tak serta merta percaya. Setelah mendengar ucapan Alissa yang menurutnya hanyalah omong kosong, Sean menyunggingkan satu sudut bibirnya.

"Terserah apa katamu." ucapnya acuh. Laki-laki itu yakin, jika Alissa hanya membual.

Brak.

Alissa terpaku. Ia tatap pintu yang baru saja dibanting suaminya dengan tatapan yang tak berarti.

Lama berdiam diri, Alissa sentuh perut polosnya. Dia harus memastikan sesuatu terlebih dahulu. Jika benar dia memang ada, maka Alissa akan merawatnya. Melahirkannya dan membesarkannya dengan penuh cinta. Meskipun semua itu mungkin tidak bisa ia lakukan dengan ayahnya dia.

.

.

"Nyonya mau kemana?"

Seorang pelayan menghadang jalan Alissa yang hendak keluar rumah.

"Aku ada urusan." balas Alissa singkat dan hendak melanjutkan langkahnya.

"Tuan Sean melarang anda untuk keluar rumah hari ini." sahut pelayan itu menyampaikan amanat tuannya.

Alissa berdecih. "Aku tidak peduli. Lagipula, memangnya dia siapa?" ujarnya sebal.

"Tuan Sean suami anda, Nyonya."

Mendengar balasan pelayan itu membuat Alissa berdecak. Kita lihat saja, sebentar lagi akan Alissa lepas statusnya sebagai Nyonya Alissa Sean Balrick.

"Tapi aku benar-benar harus keluar. Ada urusan penting yang harus aku kerjakan."

"Mungkin sebaiknya anda minta ijin langsung pada Tuan Sean. Saya tidak berani memberikan ijin itu, Nyonya." aku masih sayang dengan nyawaku.

"Merepotkan!"

Alissa cari ponselnya dari dalam tas branded yang dikenakannya. Untunglah Alissa asli tidak membuatnya semakin repot dengan menyembunyikan ponselnya. Sehingga Alissa yang sekarang tidak perlu repot-repot mencari ponsel baru.

Perempuan itu cari kontak bernama---ahh, baiklah tidak perlu dicari. Karena Alissa asli telah meletakan nomor kontak Sean di paling atas dengan nama--My Lovely Hubby?! Benar-benar menggelikan.

Sakit mata melihatnya, Alissa ganti nama kontak Sean. Lovely Hubby terlalu manis untuk monster menyeramkan seperti Sean Balrick.

Psikopat Gila is ringing.

Dering pertama, panggilannya belum diangkat. Panggilan ketiga masih sama. Bahkan sampai tidak terdengar deringan lagi, Sean tidak menjawab panggilannya. Alissa menatap layar ponselnya kesal.

"Ck, sudahlah. Aku akan pergi. Masalah nanti Sean marah biar menjadi urusanku." cih, Alissa tidak akan mengemis dengan kembali mencoba memanggil antagonis itu.

Mengemis perhatian, bukanlah gayanya.

"Taa--tapi Nyonya! Nyonya, tunggu!" habislah nyawaku. Sedih pelayan itu.

1
Ahrarara17
Nanti dikabulin panik sendiri kamu, Alissa
Ahrarara17
Dih, gombal banget Sean
Ahrarara17
Wajar aja denial. Takut Sean bohong
Ahrarara17
Semangat nulisnya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!