NovelToon NovelToon
Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Penyelamat
Popularitas:138
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.

Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.

Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.

Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.

Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Dusta yang Sempurna dan Wajah-Wajah Bertopeng

Bab 7: Dusta yang Sempurna dan Wajah-Wajah Bertopeng

Matahari hari ketiga menggantung tinggi di langit, menyinari gerbang batu raksasa Perguruan Lembah Kabut. Kabut ungu yang biasanya menyelimuti Hutan Maya perlahan menipis, seolah tirai panggung yang ditarik mundur untuk mengakhiri sebuah pertunjukan kolosal.

Di Alun-Alun Pancadarma, suasana tegang begitu pekat hingga bisa diiris dengan pisau. Para tetua perguruan, perwakilan dari Catur Wangsa, dan ratusan penonton yang terdiri dari pedagang serta penduduk desa, menunggu dengan napas tertahan.

Mereka menunggu siapa yang akan keluar: Pemenang yang membawa kejayaan, atau pecundang yang dibopong dalam kantong mayat.

Wangi dupa cendana yang dibakar di sudut-sudut alun-alun bercampur dengan bau keringat dan kecemasan.

Kirana berdiri di dekat meja pendaftaran ulang, meremas ujung selendangnya hingga buku jarinya memutih. Di sakunya, enam Token Giok terasa berat, seolah batu-batu itu memancarkan panas.

Dia dan dua temannya sudah keluar sejam yang lalu. Mereka selamat. Mereka lulus. Bahkan dengan nilai yang sangat memuaskan berkat token yang diberikan Bara.

Tapi Bara belum terlihat.

"Tenanglah, Kirana," bisik Laras, teman satu kelompoknya. "Mas Bara itu... dia lebih tangguh dari kelihatannya. Kalau kita saja bisa selamat berkat dia, dia pasti baik-baik saja."

"Kau tidak mengerti, Laras," gumam Kirana, matanya tak lepas dari lorong gelap gerbang hutan. "Hutan itu... ada sesuatu yang mengerikan di utara. Aku mendengarnya semalam. Suara runtuhan batu dan auman naga."

Tiba-tiba, kerumunan di depan gerbang membelah. Suara riuh rendah berubah menjadi pekikan kaget.

Empat orang petugas medis perguruan berlari keluar menggotong sebuah tandu darurat. Di atas tandu itu, terbaring sosok yang membuat semua orang menahan napas.

Arya Agnimara.

Pewaris kebanggaan Wangsa Agnimara itu terlihat menyedihkan. Pakaian mahalnya tercabik-cabik hangus. Wajahnya pucat pasi seperti mayat, dengan busa kering di sudut bibirnya. Dadanya diperban tebal, namun rembesan darah masih terlihat jelas.

"Minggir! Minggir!" teriak petugas medis. "Jalur meridiannya rusak parah! Panggil Tabib Utama!"

Kirana menutup mulutnya karena syok. Arya? Si jenius api itu? Siapa yang bisa membuatnya seperti itu? Siluman tingkat tinggi?

Dari podium kehormatan, sesosok pria paruh baya dengan jubah merah menyala melompat turun. Dia mendarat dengan dentuman keras yang meretakkan lantai batu.

Itu adalah Ki Rangga Agnimara, paman Arya sekaligus Tetua Klan. Wajahnya merah padam menahan murka.

"Siapa?!" raung Ki Rangga, suaranya menggetarkan gendang telinga semua orang. Aura panas meledak dari tubuhnya, membuat para penonton mundur ketakutan. "Siapa yang berani melukai keponakanku sampai seperti ini?! Siluman apa?!"

Tidak ada yang menjawab. Hening yang mencekam.

Kirana menunduk, jantungnya berdegup kencang. Dia tahu. Dia saksi matanya. Tapi jika dia bicara, jika dia mengatakan bahwa seorang pelayan bernama Bara yang melakukan ini... tidak ada yang akan percaya. Atau lebih buruk lagi, mereka akan percaya dan Bara akan diburu sampai mati.

Kirana memilih diam. Menelan rahasia itu bersama ludahnya yang terasa pahit.

Di saat kepanikan melanda kubu Agnimara, sebuah aura dingin yang anggun menyapu alun-alun, menurunkan suhu udara yang tadi memanas.

Dari dalam gerbang hutan, Rara Anjani melangkah keluar.

Penampilannya sangat kontras dengan Arya. Gaun biru mudanya hanya sedikit kotor oleh lumpur. Rambutnya masih tertata rapi. Dia berjalan tegak, dagunya diangkat sedikit, memancarkan wibawa seorang ratu muda.

Tapi yang membuat ribuan mata terbelalak adalah apa yang ditarik oleh dua pengawal bayangannya di belakang.

Sebuah kepala ular raksasa. Dan gulungan kulit sisik berwarna putih perak yang berkilauan ditimpa matahari.

"Demi Dewata..." desis seorang tetua perguruan. "Itu... Ular Sanca Kembang Bulan? Siluman penguasa Hutan Maya?"

"Mustahil! Itu monster tingkat Bumi Pala! Bagaimana mungkin seorang murid bisa membunuhnya?"

Bisik-bisik kekaguman meledak menjadi sorak-sorai.

Anjani berhenti tepat di depan podium utama. Dia melirik sekilas ke arah tandu Arya yang sedang dirawat. Tatapannya dingin, tanpa simpati.

Ki Ageng Seta, Ketua Perguruan, turun dari podium dengan wajah berbinar. "Nimas Anjani... apakah kau yang mengalahkan makhluk ini?"

Anjani terdiam sejenak.

Matanya mencari-cari di kerumunan. Dia belum melihat Bara.

Dia teringat kata-kata Bara semalam di gua: "Ambil kulit dan taring ular itu. Itu cukup untuk membuat ayahmu senang."

Kebohongan ini... adalah hadiah. Sekaligus beban.

Anjani menarik napas dalam, lalu mengangguk pelan. "Benar, Ki Ageng. Makhluk ini menghalangi jalan saya. Dengan sedikit keberuntungan dan teknik keluarga, saya berhasil memenggalnya."

"Luar biasa!" seru Ki Ageng Seta. "Wangsa Tirtamaya memang melahirkan naga-naga jenius! Ini rekor baru dalam sejarah perguruan!"

Di sudut podium, perwakilan Wangsa Tirtamaya tersenyum puas, membusungkan dada mereka. Sementara Ki Rangga Agnimara menatap Anjani dengan tatapan penuh kebencian dan kecemburuan. Keponakannya hancur, sementara putri saingannya pulang membawa trofi legendaris.

"Cih," ludah Ki Rangga ke tanah. "Pasti dia menggunakan senjata pusaka terlarang. Tidak mungkin gadis ingusan itu membunuhnya sendirian."

Anjani mendengar itu, tapi dia tidak peduli. Hatinya justru merasa hampa. Sorak-sorai ini... pujian ini... bukan miliknya.

Ini milik pemuda misterius yang kini entah berada di mana.

Bara keluar dari hutan sepuluh menit kemudian, saat euforia penyambutan Anjani masih berlangsung.

Tidak ada yang memperhatikan keluarnya Bara. Dia sengaja berjalan di pinggir, menempel pada bayangan tembok. Penampilannya... biasa saja. Bajunya robek-robek wajar, wajahnya sedikit cemong oleh tanah, dan dia membawa seikat tanaman obat di punggungnya seolah-olah dia habis memetik jamur, bukan membunuh raja siluman.

"Aktingmu jelek, Mitra," komentar Garuda. "Kau berjalan terlalu tegap. Bungkukkan sedikit bahumu."

"Diamlah," balas Bara. "Aku sedang menikmati udara segar."

Bara merasa berbeda. Sangat berbeda.

Sejak memakan Mustika Rembulan semalam, ada sensasi dingin yang mengalir konstan di jalur meridiannya, membungkus api Garuda yang biasanya liar. Rasanya seperti memiliki pendingin ruangan di dalam tubuh yang sedang terbakar.

Dia tidak lagi merasa sakit. Dia merasa... kuat. Stabil.

Dia berjalan menuju meja panitia yang sepi. Petugas di sana, seorang murid senior yang mengantuk, menatapnya malas.

"Nama?"

"Bara. Tingkat Dasar."

"Mana tokenmu?"

Bara merogoh sakunya. Dia mengeluarkan satu keping Token Giok. Token paling kecil, yang biasanya didapat dari kelinci hutan atau musang.

"Cuma satu?" tanya petugas itu meremehkan. "Yah, setidaknya kau lulus. Masuk sana, gabung dengan barisan pecundang lain."

Bara mengangguk terima kasih, lalu berjalan menuju barisan murid-murid biasa. Di sana, Kirana sudah menunggu.

Saat melihat Bara, Kirana hampir saja berteriak dan memeluknya, tapi tatapan tajam Bara menghentikannya.

"Mas Bara!" bisik Kirana setengah menangis saat Bara mendekat. "Kau selamat! Dan... dan Arya..."

"Sstt," Bara menempelkan telunjuk di bibirnya. Wajahnya datar, tapi matanya hangat. "Kita bicara nanti. Sekarang, pasang wajah biasa saja. Jangan menarik perhatian."

Bara berdiri di samping Kirana, melipat tangan di dada, dan memandang ke arah panggung utama. Di sana, Rara Anjani sedang menerima medali penghargaan.

Mata mereka bertemu.

Hanya sepersekian detik. Anjani di atas panggung yang megah, dikelilingi bunga dan pujian. Bara di barisan belakang yang kumuh, tidak dianggap.

Anjani mengangguk sangat tipis. Hampir tak terlihat.

Bara membalas dengan kedipan mata yang malas.

Kerja sama yang bagus, batin Bara.

Dari atap menara lonceng perguruan, Nimas Sekar mengunyah apel hijau sambil mengayun-ayunkan kakinya.

Dia melihat "pertunjukan" di bawah sana dengan geli.

"Dunia ini lucu," gumamnya. "Yang kuat berpura-pura lemah, yang lemah berpura-pura kuat, dan yang beruntung berpura-pura hebat."

Dia mengeluarkan gulungan laporan yang baru dia tulis ulang.

Laporan Misi Pengamatan Ujian:

Target: Raden Bara Wirasena.

Status: Lulus dengan nilai minimum.

Catatan: Tidak menunjukkan potensi berbahaya. Hanya keberuntungan bertahan hidup. Diduga dilindungi oleh Nimas Anjani karena hubungan asmara rahasia.

Sekar tertawa kecil membaca tulisannya sendiri. "Ayah pasti akan muntah membaca bagian 'asmara rahasia' ini. Tapi ini satu-satunya cara agar mereka tidak curiga kenapa Anjani melindunginya."

Sekar menggulung laporan itu, mengikatnya di kaki burung merpati pos, dan menerbangkannya.

"Hutang nyawa sudah lunas, Bara," bisiknya pada angin. "Mulai sekarang, kau mainan pribadiku."

Malam harinya, di dalam tenda medis VIP yang dijaga ketat.

Ki Rangga duduk di samping ranjang Arya. Tabib terbaik sudah selesai mengobati luka luarnya, tapi Arya masih belum sadar sepenuhnya.

"Bagaimana kondisinya?" tanya Ki Rangga dingin.

"Buruk, Tuan," jawab Tabib tua itu dengan gemetar. "Jalur meridian apinya... hancur berantakan. Bukan karena serangan luar, tapi karena tekanan balik. Seolah-olah dia menabrak tembok yang tak bisa ditembus saat mengerahkan kekuatan penuh."

"Dan efek obat itu?"

"Obat Mustika Asura memperparah keadaannya. Maafkan saya Tuan... Tuan Muda Arya mungkin tidak akan bisa berkultivasi lagi ke tingkat yang lebih tinggi. Batasnya sudah patah. Dia akan cacat permanen sebagai pendekar."

BRAK!

Ki Rangga menghantam meja di sampingnya hingga hancur berkeping-keping.

"Cacat?!" raungnya. "Pewaris Agnimara... cacat?!"

Ini bencana. Dalam politik Catur Wangsa, pewaris yang lemah adalah undangan bagi klan lain untuk menyerang.

Tiba-tiba, Arya bergerak gelisah dalam tidurnya. Dia mengigau.

"Mata... mata emas..." racau Arya, keringat dingin membanjiri dahinya. "Bukan manusia... karat... jangan tatap aku..."

Ki Rangga mendekatkan telinganya. "Siapa Arya? Siapa yang melakukannya? Anjani?"

"Bukan..." desis Arya dalam tidurnya, air mata mengalir dari sudut matanya yang tertutup. "Pelayan... Bara... iblis..."

Ki Rangga mengerutkan kening. "Bara? Siapa itu? Pelayan?"

Dia menoleh ke pengawal pribadinya. "Cari tahu siapa murid bernama Bara. Bawa dia ke hadapanku. Hidup atau mati. Aku ingin tahu kenapa nama sampah itu ada di mulut keponakanku."

Sementara itu, di asrama murid biasa, suasana meriah meski sederhana. Murid-murid yang lulus mengadakan pesta kecil-kecilan dengan membakar ubi dan jagung.

Bara duduk agak menjauh, di bawah pohon mangga, menikmati ketenangan malam. Dia sedang memedhatankan kondisi tubuhnya (Scanning).

Inti rembulan itu bekerja luar biasa.

Kekuatan fisiknya meningkat pesat. Kulitnya kini terasa lebih padat, setara dengan Raga Besi tingkat lanjut. Dan yang paling penting, dia bisa mengakses sekitar 5% dari Chakra Garuda tanpa merasa sakit.

5% mungkin terdengar kecil. Tapi bagi Bara yang teknik beladirinya sudah sempurna, 5% kekuatan Dewa itu cukup untuk meratakan gedung aula.

"Kau tampak senang, Mitra," sapa Garuda.

"Lumayan," jawab Bara. "Setidaknya aku tidak perlu mandi es setiap malam lagi."

"Jangan lengah," peringatkan Garuda. "Si tua dari klan api itu sudah mencium baumu. Dan gadis es itu... dia cerdas. Dia memegang rahasiamu. Kapan kau akan membungkamnya?"

"Membungkam tidak harus dengan membunuh," Bara mengambil sepotong jagung bakar. "Kadang, menjadikan sekutu itu lebih menguntungkan."

Tiba-tiba, seorang pelayan wanita dari asrama tamu mendekat. Dia membungkuk hormat pada Bara—sikap yang aneh mengingat status Bara.

"Tuan Bara?"

"Ya?"

"Ada undangan untuk Anda. Dari Nimas Rara Anjani. Beliau menunggu di Jembatan Merah sekarang."

Bara menghela napas panjang. Dia sudah menduga ini.

"Bilang padanya aku sedang sibuk makan jagung," jawab Bara asal.

Pelayan itu bingung. "T-tapi Tuan... ini perintah Putri Wangsa Tirtamaya..."

Bara tertawa kecil melihat wajah pucat pelayan itu. "Bercanda. Aku akan kesana."

Dia bangkit, menepuk-nepuk debu di celananya.

"Siapkan lidahmu, Bocah," kekeh Garuda. "Debat dengan wanita lebih melelahkan daripada melawan ular sanca."

Jembatan Merah adalah jembatan lengkung yang menghubungkan area asrama tamu dengan taman utama. Di bawahnya mengalir sungai kecil yang jernih.

Rara Anjani berdiri di tengah jembatan, membelakangi Bara. Dia tidak lagi memakai gaun pesta, melainkan pakaian latihan yang lebih santai namun tetap elegan.

Bara berjalan mendekat, langkahnya tanpa suara. Namun Anjani tahu dia datang. Air di sungai di bawah mereka bereaksi terhadap kehadiran Bara.

"Kau terlambat lima menit," ucap Anjani tanpa menoleh.

"Aku harus menghabiskan jagung bakarku dulu. Mubazir kalau dibuang," jawab Bara santai, bersandar pada pagar jembatan di samping Anjani.

Anjani menoleh, menatap Bara dengan tatapan tajam yang menyelidik. "Semua orang di pesta membicarakanku. Memujiku sebagai pahlawan pembunuh ular. Sementara pahlawan aslinya malah asyik makan jagung di pojokan."

"Dunia butuh simbol, Nimas," kata Bara, menatap pantulan bulan di air sungai. "Kau cantik, kuat, dan berasal dari keluarga terpandang. Kau simbol yang sempurna. Kalau aku yang bawa kepala ular itu... besok pagi aku pasti sudah mati diracun karena dianggap ancaman atau dituduh mencuri."

"Kau takut?"

"Aku realistis."

Hening sejenak. Hanya suara gemericik air yang terdengar.

"Aku sudah memeriksa tubuh ular itu," kata Anjani tiba-tiba. "Tidak ada Mustika-nya. Para tetua bingung, mereka pikir mustikanya hancur saat pertarungan. Tapi aku tahu kau memakannya."

Bara diam saja.

"Apa rencanamu, Bara?" desak Anjani, kali ini suaranya lebih lembut, hampir seperti memohon. "Dengan kekuatan seperti itu... kau bisa mengguncang Catur Wangsa. Kau bisa menjadi raja. Kenapa kau bersembunyi di sini menjadi pelayan?"

Bara menoleh, menatap mata Anjani dalam-dalam.

"Raja?" Bara tersenyum sinis. "Menjadi raja berarti kau harus duduk di singgasana, mengurusi birokrasi, dan takut pada bayanganmu sendiri setiap kali ada yang membawa racun."

Bara menegakkan tubuhnya, menunjuk ke langit malam yang luas.

"Aku tidak ingin jadi Raja, Anjani. Aku ingin jadi Bebas. Bebas dari takdir, bebas dari kutukan di dadaku ini, dan bebas pergi kemana saja tanpa ada yang mengatur."

Anjani tertegun. Jawaban itu... sangat sederhana, tapi juga sangat ambisius. Di dunia di mana semua orang haus kekuasaan, kebebasan adalah hal yang paling mahal.

"Keluarga Agnimara tidak akan melepaskanmu," kata Anjani memperingatkan. "Ki Rangga sudah mulai menyelidiki. Namamu akan segera naik ke meja mereka."

"Biarkan mereka datang," mata Bara berkilat emas sesaat. "Selama mereka tidak menyentuh milikku, aku akan diam. Tapi jika mereka melanggar batas..."

Bara tidak melanjutkan kalimatnya, tapi Anjani merasakan hawa dingin yang lebih menusuk daripada es miliknya.

"Aku akan membantumu," kata Anjani impulsif.

Bara mengangkat alis. "Oh? Kenapa?"

"Karena..." Anjani memalingkan wajah, rona merah tipis muncul di pipinya. "Karena aku berhutang nyawa padamu. Dan... karena aku bosan. Politik keluargaku membosankan. Kau... kau menarik."

Bara tertawa renyah. "Alasan yang jujur. Baiklah, Nimas Anjani. Kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan bermain api tanpa terbakar."

Bara berbalik, melambaikan tangan tanpa melihat ke belakang. "Tidurlah. Besok pengumuman penempatan kelas. Aku yakin kita akan sering bertemu."

Anjani menatap punggung Bara yang menjauh.

"Bara Wirasena..." bisiknya. "Kau adalah badai yang paling tenang yang pernah kutemui."

Di kejauhan, guntur bergemuruh pelan. Era Sembilan Surya sedang bersiap menyambut fajar baru, di mana peta kekuatan Benua Arcapada akan digambar ulang oleh seorang pemuda dan iblis di dalam tubuhnya.

Glosarium & Catatan Kaki Bab 7

Pendopo: Bangunan luas terbuka (tanpa dinding) yang terletak di bagian depan rumah bangsawan Jawa, biasanya digunakan untuk pertemuan atau pertunjukan seni.

Unggah-ungguh: Tata krama atau sopan santun dalam budaya Jawa, terutama terkait tingkatan bahasa dan perilaku antara yang muda dan yang tua/dihormati.

Tabib: Dokter atau ahli pengobatan tradisional.

Ki Rangga: Gelar jabatan menengah dalam struktur keraton/pemerintahan kerajaan Nusantara kuno. Di sini digunakan sebagai gelar tetua klan.

Jalur Meridian (Nadi): Saluran energi dalam tubuh. Jika rusak, aliran Prana akan bocor atau tersumbat, membuat seseorang tidak bisa menggunakan tenaga dalam lagi.

1
Panda
jejak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!