Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.
Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Nadia dan Sarah
Maira kembali dengan wajah dan pikiran yang tak tenang. Ancaman Nadia benar-benar melumpuhkan keberaniannya. Papanya adalah kelemahan terbesar yang selalu membuatnya tak berdaya. Bahkan alasan ia bekerja di tempat ini pun bukan karena pilihan, melainkan karena ancaman mamanya yang tak segan membuat sang ayah menderita jika Maira menolak menuruti kehendaknya.
Langkahnya terasa berat saat melewati lorong rumah. Tatapannya kosong, pikirannya dipenuhi ketakutan dan kebencian yang bercampur jadi satu.
"Maira.." panggil mami Rose ketika melihat gadis itu berjalan dengan wajah bengong.
"Ya, mami," jawab Maira pelan sambil menoleh.
"Kamu ke ruangan mami sebentar."
Maira mengangguk patuh. Ia mengikuti langkah mami Rose dari belakang menuju ruangannya. Aroma teh hangat langsung tercium begitu mereka masuk.
"Duduklah," ujar mami Rose sambil meletakkan secangkir teh di atas meja.
"Makasih, mami," ucap Maira sambil tersenyum tipis. Namun senyum itu tak mampu menutupi beban berat yang jelas terpancar di wajahnya.
Mami Rose menatap Maira cukup lama, seolah sedang menimbang sesuatu di dalam pikirannya. Ekspresinya berubah lebih serius.
"Tadi Pak Hazel datang ke sini," ucapnya akhirnya.
"Dia bilang ingin membebaskan kamu dari pekerjaan ini."
Maira terdiam, jemarinya refleks menggenggam cangkir teh.
"Bahkan dia melunasi semua hutang-hutang kamu. Termasuk hutang mama kamu ke mami," lanjut mami Rose.
"Apa?" Mata Maira membulat. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Di dalam hatinya, amarah mendadak memuncak. Ternyata mereka benar-benar menghalalkan segala cara agar dirinya mau menuruti keinginan mereka.
"Kamu jangan marah dulu," potong mami Rose, seolah bisa membaca isi kepala Maira.
"Menurut mami, Pak Hazel orangnya cukup baik. Tujuan dia membayar semua itu supaya kamu bebas menjalani hidup kamu sendiri. Kamu gak perlu lagi kerja di dunia malam ini."
Maira terdiam, napasnya terasa berat.
"Bahkan tadi dia melarang mami buat ngasih tahu kamu soal ini," tambah mami Rose.
"Lalu kenapa mami akhirnya bilang ke Maira?" tanya Maira dengan suara pelan.
"Karena kamu berhak tahu, Maira."
Mami Rose mendekat sedikit. Nada suaranya melembut, tapi tetap tegas.
"Mami gak nyuruh kamu harus balas budi sama dia. Tapi tempat yang aman buat kamu setelah keluar dari sini cuma satu, tempat Pak Hazel. Tempat itu yang gak akan sanggup disentuh mama kamu."
Maira terdiam cukup lama. Apa yang dikatakan mami Rose ada benarnya. Meski ia bebas dari dunia malam, hidupnya tetap tak akan pernah benar-benar tenang. Mamanya pasti punya ribuan cara lain untuk menjual dirinya kepada pria-pria hidung belang.
Namun bersama Pak Hazel pun bukan berarti segalanya mudah. Mau tak mau, ia harus menyerahkan sesuatu yang paling berharga. Keperawanannya. Bahkan rahimnya untuk mengandung anak dari pernikahan yang tak pernah ia inginkan.
Belum lagi ancaman Nadia, istri sah Pak Hazel, yang jelas tak akan tinggal diam.
"Maira," panggil mami Rose, menyadarkan gadis itu dari lamunannya.
"Ya, mami," jawab Maira pelan.
"Kamu pikirkan dulu mana yang paling baik buat kamu. Tapi setidaknya sekarang kamu sudah bebas. Kamu bukan lagi wanita malam. Kamu sudah bebas menjalani hidup kamu sendiri."
Ada raut lega dan bahagia di wajah mami Rose saat mengucapkan kalimat itu.
"Ya, mami," angguk Maira lirih.
Ia pun berdiri dan kembali masuk ke kamarnya. Begitu pintu tertutup, Maira bersandar di sana. Dadanya sesak. Kebebasan yang ia dapatkan ternyata tetap dibayar mahal.
**
Maira berada di dalam kamarnya saat ponselnya tiba-tiba berdering. Sekilas ia melirik layar, dan seperti yang sudah ia duga, nama mamanya tertera di sana. Jantungnya langsung berdegup tak beraturan. Ia yakin, kali ini mamanya pasti mengamuk besar. Apalagi dirinya tak jadi melayani Pak Vincent, bahkan pria itu sempat terluka di bagian kepala.
Maira memilih mengabaikan panggilan itu. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, menatap kosong langit-langit kamar. Desahan berat keluar berulang kali dari bibirnya. Kepalanya terasa penuh, pikirannya benar-benar mumet menghadapi semua yang terjadi hari ini.
Tak lama kemudian, bunyi notifikasi pesan masuk terdengar. Maira meraih ponselnya dengan tangan gemetar dan segera membuka pesan tersebut. Matanya membulat tak percaya. Sebuah foto muncul di layar. Papanya terlihat duduk di atas kursi roda, wajahnya pucat dan tampak lemah.
Tenggorokannya terasa tercekat.
“Kamu temui mama sekarang juga! Kalau tidak, kamu tahu sendiri apa yang akan terjadi sama lelaki tua ini.”
Pesan itu membuat tubuh Maira membeku sesaat. Napasnya terasa sesak. Ia sangat mengenal sifat mamanya. Ancaman itu bukan sekadar kata-kata kosong. Mamanya benar-benar bisa mencelakai papanya tanpa ragu.
Maira langsung bangkit dari ranjang. Dengan gerakan tergesa, ia mengambil tas dan bergegas keluar rumah. Tangannya gemetar saat memanggil taksi. Hatinya benar-benar tak karuan.
Begitu berada di dalam taksi, Maira langsung menelpon mamanya.
“Mama di mana sekarang?” teriak Maira, suaranya bergetar menahan panik.
“Tenang, putriku yang cantik. Kamu gak usah terlalu terburu-buru. Tenangkan diri kamu,” jawab Sarah dengan nada santai, bahkan disertai tawa kecil.
“Mama tunggu kamu di depan rumah sakit tempat papa kamu dirawat.”
Panggilan terputus. Maira menatap layar ponselnya dengan perasaan campur aduk. Taksi pun melaju menuju rumah sakit.
Beberapa menit kemudian, taksi berhenti tepat di depan rumah sakit. Dari balik kaca, Maira bisa melihat mamanya duduk santai di sebuah lapak penjual jus di pinggir jalan. Seolah tak ada masalah apa pun. Maira segera turun setelah membayar ongkos, langkahnya cepat dan tergesa.
Sarah yang melihat Maira turun dari taksi dengan wajah panik justru tersenyum puas. Ia tahu betul kelemahan anaknya ada pada sang ayah.
“Di mana papa?” tanya Maira tanpa basa-basi.
“Kamu tenang dulu. Ngejus dulu, kenapa?” tawar Sarah sambil terkekeh, menikmati kepanikan anaknya.
Maira menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ia akhirnya duduk di hadapan mamanya, meski dadanya terasa sesak.
“Kamu temui Pak Vincent nanti,” ucap Sarah. Kali ini nadanya berubah serius.
“Ma…” Maira menggeleng pelan. Penolakannya jelas.
“Kamu menolak?” Sarah menaikkan alis.
“Tanggung sendiri akibatnya.”
“Apapun yang selama ini mama minta, aku turuti. Tapi aku mohon, untuk kali ini jangan paksa aku,” ujar Maira lirih, suaranya hampir pecah.
“Maira, itu tugas kamu sebagai anak. Mama capek-capek membesarkan kamu,” balas Sarah tanpa sedikit pun melunak.
“Bukankah membesarkan anak itu kewajiban orang tua?” sahut Maira, berusaha bertahan.
“Dan bukankah anak juga wajib membalas jasa orang tuanya selama ini?” balas Sarah cepat.
Maira terdiam. Rahangnya mengeras, matanya berkaca-kaca. Ia tahu, percuma berdebat lebih jauh. Mamanya tidak akan pernah mau kalah, dan lagi-lagi, papanya yang menjadi taruhannya.