NovelToon NovelToon
Hantu Tampan Si Mesum

Hantu Tampan Si Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Dunia Lain / Spiritual / Hantu / Suami Hantu
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut.​"Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.​Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis.​"Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas.​"Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.​Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Jelita merasa tenaganya seolah tersedot habis oleh dekapan Arjuna yang terasa seperti medan magnet. Gelang hitam di pergelangan tangannya berdenyut kencang, memancarkan panas yang aneh namun menenangkan di tengah hawa dingin gedung tersebut.

Jelita perlahan melepaskan cengkeramannya pada kemeja Arjuna yang jatuh ke lantai. Tangannya yang gemetar kini merayap naik ke dada bidang Arjuna, meraba otot-otot yang terasa seperti pahatan pualam yang sempurna.

Ruangan itu kini dipenuhi dengan asap biru yang semakin tebal, membungkus mereka berdua dalam kepompong mistis yang memisahkan mereka dari kenyataan dunia luar.

"Kau berjanji tidak akan menyakiti mereka..." rintih Jelita, suaranya nyaris hilang saat bibir Arjuna mulai mengecup rahangnya dengan lembut namun posesif.

Arjuna menyeringai, sebuah ekspresi kemenangan yang sangat tampan namun mengerikan. Ia mengangkat tubuh Jelita dengan mudah, seolah gadis itu tidak memiliki bobot sama sekali.

Arjuna membawa Jelita menuju sebuah kursi besar di ujung ruangan yang tiba-tiba berubah wujud menjadi sebuah singgasana kayu tua yang megah dan berukir rumit. Ia duduk di sana dengan Jelita di pangkuannya, mengunci pinggang gadis itu dengan lengannya yang kuat.

Arjuna mencium dalam pundak Jelita yang terbuka, meninggalkan bekas kemerahan yang perlahan bersinar keemasan—sebuah tanda bahwa klaimnya malam ini sudah dimulai.

"Hanya jika kau bersikap manis, Sayang," gumam Arjuna sambil memainkan helai rambut Jelita. "Malam masih sangat panjang, dan aku punya banyak cara untuk membuatmu lupa bahwa kau pernah memiliki dunia di luar gedung ini."

Sementara kini Ira dan Dinda sudah berada di luar gedung tua dengan napas terengah-engah.

" Sumpah ini benar-benar nyata Ira, Lalu kita harus bagaimana? Tanya Dinda dengan mencoba menghirup oksigen sambil duduk di rerumputan.

" Sebaiknya kita harus mencari paranormal atau semacam dukun," Usul Ira.

" Kalau begitu sebaiknya kita pulang! Aku yakin Jelita pasti akan baik-baik saja," Ujar Dinda.

Ira menatap Dinda dengan tidak percaya. Di tengah kegelapan malam yang pekat, bayangan sosok Arjuna yang memeluk Jelita tadi masih membekas jelas di benaknya. Ia tidak habis pikir bagaimana Dinda bisa berpikir untuk pulang dalam keadaan seperti ini.

Angin malam berhembus kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon besar di sekitar gedung tua itu hingga menciptakan bayangan yang seolah sedang mengepung mereka.

Ira meremas bahu Dinda, mencoba menyadarkan sahabatnya itu. "Pulang? Kamu gila, Dinda! Kamu lihat sendiri bagaimana hantu itu memperlakukan Jelita. Dia bukan sekadar pacar rahasia, dia makhluk halus yang posesif!"

​"Aku tahu, Ira! Tapi lihat ponselku hancur, kita tidak punya senjata apa-apa, dan aku benar-benar takut kalau dia mengejar kita sampai ke rumah!" tangis Dinda pecah, tangannya yang gemetar menunjuk ke arah gedung tua yang kini tampak sepi namun memancarkan aura dingin yang menekan.

Di dalam gedung, waktu seolah berhenti berputar. Arjuna tidak memedulikan apa yang terjadi di luar sana. Baginya, dunia malam ini hanya sebatas ruang dekan yang kini telah berubah menjadi aula kerajaannya yang megah namun suram.

Arjuna duduk bersandar di singgasana kayu tua itu dengan gaya yang angkuh. Ia membiarkan Jelita duduk menyamping di pangkuannya, sementara tangannya yang pucat terus bergerak nakal, mengusap leher hingga pundak Jelita yang telah ia tandai.

Ia mendekatkan wajahnya, menghirup aroma leher Jelita yang membuat gairah mistisnya semakin memuncak. "Dengar itu? Sahabat-sahabatmu sedang berdebat apakah akan menyelamatkanmu atau meninggalkanmu. Manusia memang makhluk yang sangat rapuh, bukan?"

Jelita hanya bisa terengah-engah, tubuhnya terasa panas di tempat-tempat yang disentuh oleh Arjuna, sangat kontras dengan hawa dingin yang mengelilingi sisa tubuhnya. "Jangan... jangan bicara seperti itu, mereka teman-temanku," rintihnya sambil mencoba menjauhkan wajahnya dari hembusan napas Arjuna yang memabukkan.

Arjuna tertawa kecil, suara baritonnya terasa bergetar di dada bidangnya yang kini menempel pada tubuh Jelita. Ia tidak memberikan celah sedikit pun bagi Jelita untuk berpaling.

Arjuna memegang rahang Jelita dengan lembut namun penuh penekanan, memaksanya untuk menatap langsung ke dalam mata hazel yang kini berpendar dengan warna biru gelap.

Cup! Arjuna mengecup sudut bibir Jelita dengan gerakan lambat yang sengaja menyiksa. "Malam ini, aku akan menghapus setiap ingatanmu tentang rasa takut. Aku akan membuatmu hanya bisa memikirkan aku, merindukan sentuhanku, dan memohon agar malam ini tidak pernah berakhir."

Jelita merasakan gelang hitam di tangannya semakin berdenyut kuat, seolah-olah perhiasan itu sedang memompa keberanian sekaligus kepasrahan ke dalam nadinya. Tangannya yang tadi meraba dada Arjuna kini tanpa sadar mulai merangkul leher pria itu, menariknya lebih dekat.

Sementara di luar gedung, Ira akhirnya melepaskan cengkeramannya pada pundak Dinda. Matanya menatap tajam ke arah pintu masuk gedung yang tadi membanting tertutup.

"Kalau kamu mau pulang, pulanglah sendiri, Dinda. Aku tidak akan membiarkan Jelita terjebak dengan makhluk itu sendirian. Aku akan mencari bantuan, siapa pun itu, yang bisa mengeluarkan Jelita dari sana."

Dinda tertegun melihat keberanian Ira. "Tapi Ira... ini sudah tengah malam. Ke mana kita harus mencari?"

" Kemana saja! Aku tidak akan membiarkan Jelita sendirian disana, asal kamu tau Dinda! Semua ini terjadi karna kita pernah menantang Jelita untuk ke gedung itu," Jelas Ira dengan mencoba menahan emosinya.

Kalimat Ira menghantam Dinda seperti godam berat. Memori tentang taruhan konyol beberapa minggu lalu di kantin kampus terputar kembali—saat mereka berdua menertawakan ketakutan Jelita dan memaksanya masuk ke gedung tua hanya demi konten media sosial.

Lampu motor Ira berkedip redup, seolah energinya diserap oleh bangunan di depan mereka. Hawa dingin dari dalam gedung mulai merayap keluar, membekukan embun di atas jok motor.

Dinda menunduk, air matanya jatuh ke atas layar ponselnya yang hancur. "Kamu benar, Ira. Aku yang paling semangat menyuruhnya ke sana. Ini semua salahku."

" Kalau begitu mari kita kembali ke dalam! Kita hadapi bersama," Tegas Ira dengan sorot mata tajam sebuah tekad untuk membantu Jelita, sahabat mereka.

" Hah! Kembali ke dalam, aku takut Ira Bagaimana kalau aku mengompol," Panik Dinda

Ira menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia tahu, kembali ke dalam gedung itu sama saja dengan menyerahkan diri ke dalam mulut singa, namun rasa bersalahnya jauh lebih besar daripada rasa takutnya.

Gedung tua di depan mereka tampak semakin hidup, jendela-jendelanya yang gelap seolah menjadi mata yang terus mengawasi setiap gerak-gerik mereka. Kabut hitam yang tadi mengejar kini mulai membentuk pusaran di depan gerbang, seolah menjadi dinding yang melarang siapapun untuk keluar atau masuk.

"Pakai jaketmu, Dinda! Kalau kamu mengompol, biarkan saja. Tapi kita tidak akan membiarkan Jelita 'dimakan' sendirian oleh hantu mesum itu!" Putus Ira dengan tegas

​Dinda gemetar hebat, kakinya terasa seperti jeli. "Ira... lihat itu! Bayangan di jendela lantai atas... bukankah itu Jelita dan... dan makhluk itu?"

1
Ani Suryani
merah merah karena hantu
Mingyu gf😘
Arjuna jahat
Mingyu gf😘
sadar jelita sadar
Stanalise (Deep)🖌️
Ya, kalau setannya kayak gini visualisasi nya siapa yang ga kepincut. Beneran 🐊 nih the mycth
Stanalise (Deep)🖌️
Tapi thor, sebenarnya nih si Jelita dia emang bisa nglihat atau ngga Thor? #Bertanya dengan nada lembut. 🥺
Greta Ela🦋🌺
Jangan woi. Hantu ini gak tahu tempat, dah tahu sekarang lagi jam kuliah malah diganggu
Greta Ela🦋🌺
Ya wajib lah dengerin dosen. Kocak amat lu
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ganteng gini mah🤣
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ini ngada2 ya🤣
Blueberry Solenne
Cape banget Ini yang Jadi temen-temennya, harus rebutan Jelita sama Hantu
Wida_Ast Jcy
tidak semudah itu juga kali. kalau teror berakhir otomatis ceritamu tamat donk. ya kan thor
Wida_Ast Jcy
Bukan masalah begitu jelita. namanya juga sahabat mungkin mereka ingin membantu. dan kesian harus membiarkan dirimu
studibivalvia
merinding tapi bikin terang-sang ya kan jel? 🤣
chemistrynana
ALAMAKK TAKUTNYA
arunika25
memangnya hantu tampan itu lebih menakutkan dari hantu biasa. suka posesif gitu padahal baru ketemu.😱
Ani Suryani
hantu cabul
CACASTAR
jujur cerita ini rada bikin merinding tapi campuran romantika saat penggambaran tokoh ya muncul..hantu kok tampan sih
CACASTAR
kenapa jadi gerah bacanya yaaa🤭
CACASTAR
kak Jing Jing ilustrasinya bikin salfok 😄
Blueberry Solenne
Leluhur si Jelitanya jahat banget, wajar lah si Arjuna nuntut haknya, eweh tapi serem ya bagaimana mungkin dua makhluk beda alam bersatu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!