Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Gerbang SMA International Bima Karya terbuka lebar menyambut kedatangan para murid. Namun, pagi ini ada yang berbeda. Sheila turun dari motor Risma dengan gerakan yang kaku dan perlahan, menahan rasa perih yang masih menyengat di tubuhnya. Ia mengenakan seragam yang sangat rapi, kancing kerah tertutup rapat untuk menyembunyikan jejak kejam di leher dan bahunya.
Gadis yang biasanya turun sambil berteriak heboh atau menggoda satpam sekolah itu, kini melangkah dengan tatapan kosong dan dingin. Rambutnya yang biasa dikuncir asal kini terurai menutupi sebagian wajah pucatnya. Murid-murid lain yang berpapasan dengannya merasakan aura mencekam hingga mereka secara tidak sadar memberi jalan.
"Sheil, kalau kamu gak kuat, kita ke ruang UKS saja ya?" bisik Risma sambil terus merangkul bahu sahabatnya, menjaga agar Sheila tidak ambruk.
"Aku baik-baik saja, Ris," jawab Sheila datar. Suaranya terdengar seperti logam dingin, tanpa emosi.
Langkah mereka terhenti saat mencapai area parkir utama yang sudah dipenuhi kerumunan siswa. Di tengah lingkaran itu, berdiri sebuah motor sport hitam mengkilap yang masih tercium aroma mesin baru. Di sampingnya, Devano Narendra berdiri dengan keangkuhan yang luar biasa, dikelilingi oleh Indra dan Bayu.
"Gila, Dev! Ini sih seri terbaru! Taruhan paling worth it yang pernah kita buat!" seru Indra sambil memukul tangki motor itu dengan bangga.
Devano tertawa kecil, menyesap kopi kalengnya dengan gaya cool. Ia terlihat sangat bahagia, seolah malam tadi hanyalah sebuah transaksi bisnis yang sukses. Tak ada sedikit pun bayang-bayang penyesalan di wajah tampannya.
Kerumunan itu tiba-tiba menyisih saat menyadari kehadiran Sheila. Devano menoleh, tatapannya bertemu dengan mata Sheila. Untuk sesaat, ada kilatan kaget di mata Devano melihat Sheila masuk sekolah dengan keadaan seperti itu, namun dengan cepat ia kembali memasang wajah angkuh.
Sheila berhenti tepat di depan Devano dan motor barunya. Ia tidak menangis, tidak berteriak, dan tidak menampar seperti yang orang-orang harapkan dari sosok Sheila yang bar-bar. Ia hanya menatap Devano dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu menatap motor itu dengan tatapan menghina.
"Jadi, ini harganya?" ucap Sheila sangat pelan namun cukup jelas untuk didengar Devano. "Murah sekali."
Wajah Devano mengeras. Seringainya menghilang. Sementara Indra dan Bayu langsung terbungkam diam, merasa terintimidasi oleh tatapan Sheila yang seolah bisa membunuh.
"Pergi dari sini, Sheila. Jangan rusak mood gue," balas Devano datar, mencoba mempertahankan egonya di depan banyak orang.
Sheila hanya tersenyum sinis—sebuah senyum yang terlihat begitu menyakitkan. Tanpa kata lagi, ia melangkah melewati Devano begitu saja, menabrak bahu pria itu dengan keras seolah Devano hanya sampah yang menghalangi jalannya. Risma mengikuti dari belakang setelah memberikan tatapan meludah ke arah Devano.
Di belakang mereka, Devano terpaku. Ia merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Ia berhasil mendapatkan motor sport itu, tapi untuk pertama kalinya, sang most wanted merasa benar-benar kalah telak menghadapi tatapan dingin gadis yang baru saja ia hancurkan.
Kini Sheila melangkah menuju kelas dan diikuti Risma di belakangnya.
Di kelas XII-IPA 1, suasana begitu hening. Sheila duduk tegak di bangkunya, menatap kosong ke papan tulis. Risma yang duduk di sampingnya sesekali melirik dengan cemas, memperhatikan jemari Sheila yang mencengkeram pinggiran meja hingga memutih. Meskipun secara fisik ia berada di kelas, jiwanya sedang membangun tembok baja untuk menutupi trauma yang masih berdarah.
Guru wali kelas mereka, Bu Ambar, masuk dengan membawa beberapa lembar brosur berwarna emas dan biru.
"Anak-anak, Bapak Kepala Sekolah baru saja mengumumkan lewat speaker tadi, bahwa sekolah kita akan mengirimkan perwakilan untuk Olimpiade Sains Nasional. Ini adalah kesempatan besar. Siapa pun yang menang akan mendapatkan beasiswa penuh dan nilai prestasi mutlak," jelas Bu Ambar.
Sementara itu, di kelas XII-IPS 3, Devano sedang duduk santai sambil memutar kunci motor sport barunya di atas meja. Ia menjadi pusat perhatian. Guru di kelasnya sudah menunjuk Devano sebagai salah satu kandidat utama karena citranya sebagai ikon sekolah.
"Devano, kamu pasti ikut kan? Kita butuh orang populer seperti kamu untuk mewakili nama sekolah," ucap guru di kelas IPS tersebut yang disambut sorakan kagum dari Indra dan Bayu.
"Tentu, Bu. Saya akan pastikan trofi itu ada di tangan saya," jawab Devano dengan keangkuhan yang menjadi-jadi. Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa di ujung koridor, seseorang sedang merencanakan kehancurannya.
Kembali ke kelas IPA 1, Bu Ambar menatap murid-muridnya. "Biasanya kelas kita selalu mengirimkan Risma, tapi kali ini kita butuh dua orang. Ada yang mau mencalonkan diri?"
Tiba-tiba, sebuah tangan terangkat tinggi. Seluruh kelas terkesiap. Itu adalah Sheila. Gadis yang selama dua tahun ini dikenal hanya bisa membuat onar dan sering berada di ruang guru karena tingkah bar-bar-nya.
"Saya ingin mendaftarkan diri, Bu. Secara individu," ucap Sheila dengan suara lantang, tenang, dan sangat dingin.
Risma terbelalak, namun kemudian tersenyum bangga. Ia tahu Sheila memiliki IQ di atas rata-rata, namun selama ini kecerdasannya tertutup oleh obsesi butanya kepada Devano. Kini, setelah obsesi itu berubah menjadi kebencian, Sheila menunjukkan taringnya.
"Sheila? Kamu serius? Ini Olimpiade Sains tingkat nasional, bukan lomba lari di lapangan," tanya Bu Ambar ragu.
"Saya serius, Bu. Saya ingin membuktikan bahwa prestasi tidak selalu milik mereka yang hanya mengandalkan wajah dan harta," balas Sheila dengan tatapan mata yang tajam.
Berita tentang Sheila yang mendaftarkan diri tersebar cepat ke seluruh sekolah lewat grup chat. Di kelas IPS 3, Devano membaca pesan tersebut dan seketika tawanya berhenti. Ia merasa terusik.
"Gila, si cewek bar-bar itu mau lawan lo, Dev? Dia pikir otaknya sanggup?" cibir Bayu sambil menunjukkan layar ponselnya.
Devano menatap layar itu dengan rahang mengeras. Ada rasa tidak nyaman yang menyelusup. Ia melihat foto Sheila yang dikirim secara diam-diam oleh murid lain; Sheila sedang memegang buku tebal dengan tatapan yang begitu dingin dan asing.
"Dia cuma cari perhatian gue," ucap Devano mencoba menenangkan egonya. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ia tahu bahwa Sheila yang ia lihat di parkiran tadi pagi bukan lagi Sheila yang akan bertekuk lutut di hadapannya.
"Nikmati motor sport-mu selama kamu bisa, Vano. Karena di akhir semester nanti, aku akan memastikan semua orang tahu bahwa kamu hanyalah seorang pengecut yang kalah dari gadis yang kamu anggap 'sampah'." batin Sheila.
Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/