NovelToon NovelToon
Aluna : Bayang - Bayang Luka

Aluna : Bayang - Bayang Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Pelakor / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Naik ranjang/turun ranjang / Cintapertama
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Ikrar Tanpa Jiwa

​Seminggu telah berlalu sejak pemakaman Mbak Sarah.

​Rumah besar keluarga Hardinata yang biasanya hangat kini terasa seperti makam raksasa. Hawa dingin seolah menempel di setiap dinding, di setiap perabot, dan terutama di wajah-wajah penghuninya. Karangan bunga duka cita masih berjejer di halaman depan, kelopaknya mulai layu dan membusuk, persis seperti perasaanku saat ini.

​Hari ini adalah hari pernikahanku.

​Tidak ada dekorasi bunga melati yang harum. Tidak ada tenda pesta yang megah. Tidak ada gaun pengantin rancangan desainer ternama seperti saat Mbak Sarah menikah dulu.

​Aku duduk di depan cermin rias di kamarku. Wajahku pucat, lingkaran hitam di bawah mataku tak bisa disembunyikan meski sudah dipulas bedak tipis. Aku mengenakan kebaya putih sederhana milik Mama—kebaya lama yang bahkan sedikit longgar di tubuhku yang menyusut drastis seminggu ini.

​"Kau sudah siap?"

​Mama masuk tanpa mengetuk. Wajahnya datar, tanpa senyum sedikit pun. Beliau memegang kerudung putih polos.

​"Sudah, Ma," jawabku pelan.

​Mama memasangkan kerudung itu di kepalaku dengan gerakan kasar. Dia menatap pantulan kami di cermin. "Jangan berpikir kau menang, Aluna. Kau menikahinya hanya karena wasiat kakakmu. Ingat itu baik-baik."

​"Aku tahu, Ma. Aku tidak pernah merasa menang," bisikku.

​"Bagus. Sekarang turun. Penghulu sudah datang."

​Aku berjalan menuruni tangga dengan langkah berat, seolah kakiku dirantai bola besi. Di ruang tengah, karpet yang biasanya digunakan untuk berkumpul menonton TV kini digelar untuk akad nikah.

​Hanya ada keluarga inti. Papa, Mama, Nenek, orang tua Arvino, Ardo, dan penghulu beserta dua saksi.

​Dan dia. Arvino.

​Dia duduk bersila di depan meja kecil. Dia mengenakan kemeja putih dan peci hitam. Wajahnya tampan, namun aura yang dipancarkannya begitu gelap hingga membuat udara di sekitarnya terasa sesak. Dia tidak menoleh sedikit pun saat aku duduk di sampingnya. Dia menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras.

​"Baik, bisa kita mulai?" tanya Pak Penghulu, tampak sedikit canggung merasakan ketegangan yang kental di ruangan itu.

​Papa mengangguk. Beliau menjabat tangan Arvino. Tangan Papa gemetar. Aku tahu betapa beratnya bagi Papa menikahkan putri keduanya hanya seminggu setelah menguburkan putri pertamanya dengan menantu yang sama.

​"Saudara Arvino Raharja bin Haryo Raharja..." suara Papa bergetar. "...Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Aluna Hardinata..."

​Papa tersedak saat menyebut namaku. Air mata Papa jatuh. Beliau berhenti sejenak, menarik napas panjang untuk menguatkan hati. "...dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."

​Arvino menarik napas pendek. Tidak ada keraguan, tapi juga tidak ada kelembutan. Suaranya tegas, dingin, dan tanpa emosi.

​"Saya terima nikah dan kawinnya Aluna Hardinata binti Wijaya Hardinata dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

​"Bagaimana saksi? Sah?"

​"Sah."

​Kata itu bergema di ruangan. Sah.

Satu kata yang mengikatku selamanya dengan pria yang membenciku.

​Tidak ada ucapan "Barakallah". Tidak ada sorak sorai. Yang terdengar hanya suara isak tangis Mama dan Ibu Arvino yang berpelukan di sofa belakang. Ini adalah pernikahan paling menyedihkan yang pernah ada.

​"Silakan mempelai wanita mencium tangan suaminya," instruksi penghulu.

​Aku menoleh ke arah Arvino. Dengan ragu, aku meraih tangan kanannya. Tangannya dingin dan kaku. Saat bibirku menyentuh punggung tangannya, aku merasakan sentakan kecil—dia ingin menarik tangannya, tapi dia menahannya demi formalitas.

​Arvino tidak mencium keningku seperti yang dia lakukan pada Mbak Sarah dulu. Dia bahkan tidak menatapku. Dia langsung menarik tangannya begitu aku selesai, lalu berdiri dan berjalan cepat meninggalkan meja akad tanpa sepatah kata pun.

​Dia berjalan menuju boks bayi di sudut ruangan di mana Lili sedang tidur, mengangkatnya, dan membawanya pergi ke lantai atas.

​Aku ditinggalkan sendirian di meja akad, dengan buku nikah yang masih basah tintanya di hadapanku.

​Malam harinya, suasana semakin mencekam.

​Aku sudah memindahkan koper-koperku ke kamar utama—kamar yang dulunya milik Arvino dan Mbak Sarah. Mama menyuruhku menempatinya karena Lili tidur di sana, dan tugasku sekarang adalah mengurus Lili.

​Aku berdiri di depan pintu kamar itu dengan jantung berdebar kencang. Ini malam pertamaku. Apa yang akan terjadi?

​Perlahan, aku memutar gagang pintu dan masuk.

​Kamar itu luas dan mewah, didominasi warna krem dan emas. Foto pernikahan Arvino dan Mbak Sarah berukuran besar masih terpajang gagah di dinding tepat di atas kepala ranjang. Senyum bahagia mereka di foto itu seolah mengejek keberadaanku.

​Arvino sedang duduk di sofa dekat jendela, menimang Lili yang sudah tertidur. Dia masih memakai baju koko bekas akad tadi, tapi kancing atasnya sudah dibuka berantakan.

​Mendengar langkahku, dia menoleh.

​"Siapa yang menyuruhmu masuk?" tanyanya tajam.

​"Ini... ini kan kamar kita sekarang, Kak. Mama bilang aku harus tidur di sini untuk menjaga Lili," jawabku takut-takut.

​Arvino berdiri, meletakkan Lili dengan sangat hati-hati di boks bayinya. Lalu dia berjalan mendekatiku. Aura intimidasi itu kembali muncul.

​"Kamar kita?" Arvino tertawa sinis. "Jangan bermimpi, Aluna. Tidak ada 'kita' di sini."

​Dia menunjuk foto besar di dinding. "Lihat wanita itu? Itu istriku. Satu-satunya istriku. Sarah Hardinata. Kau..." Dia menunjuk dadaku, menusukkan telunjuknya tepat di jantungku. "...kau hanya ibu pengganti. Babysitter yang kebetulan punya surat nikah."

​"Tapi Kak, aku istrimu yang sah..."

​"Di atas kertas!" bentaknya. "Di hatiku, kau tidak lebih dari pembunuh yang mengambil kesempatan dalam kesempitan!"

​Arvino berjalan ke arah lemari, mengeluarkan sebuah bantal dan selimut, lalu melemparnya ke wajahku.

​"Aku tidak sudi tidur satu ranjang denganmu. Aku tidak sudi berbagi oksigen yang sama denganmu jika tidak terpaksa."

​"Lalu aku tidur di mana?" tanyaku lirih, memeluk bantal itu.

​"Di mana saja asal tidak di atas ranjangku. Di sofa, di lantai, atau di kamar mandi sekalian. Aku tidak peduli."

​Arvino kembali duduk di samping boks Lili, memunggungiku. "Dan satu lagi aturannya. Jangan pernah sentuh barang-barang Sarah. Jangan pakai bajunya, jangan pakai parfumnya, jangan duduk di kursi riasnya. Kau tidak pantas menjadi bayangannya sekalipun."

​Air mataku menetes lagi. Malam pertama yang seharusnya indah, kini menjadi malam penghinaan.

​Aku membentangkan selimut tipis itu di atas karpet tebal di kaki ranjang. Sofa terlalu dekat dengan Arvino, aku takut dia akan marah jika aku di sana. Jadi aku memilih tidur di lantai, di bawah bayang-bayang ranjang tempat suamiku tidur.

​Lampu kamar dimatikan oleh Arvino.

Gelap.

​Nafasku mulai sesak. Nyctophobia-ku kambuh. Kamar ini besar dan sudut-sudutnya gelap gulita. Hanya ada cahaya remang dari lampu tidur kecil di sebelah boks bayi, tapi itu tidak cukup menerangi tempatku di lantai.

​"Kak... boleh nyalakan lampu kamar mandinya sedikit?" pintaku dengan suara bergetar. "Gelap sekali..."

​"Jangan manja," suara Arvino terdengar dari atas ranjang. "Sarah suka tidur dalam gelap. Biasakan dirimu."

​"Tapi Kak, aku takut gelap... tolong..."

​"Tidur atau keluar!"

​Aku menggigit bibirku kuat-kuat hingga berdarah, menahan isak tangis agar tidak keluar. Aku menarik selimut hingga menutupi seluruh kepala, meringkuk seperti janin. Tubuhku gemetar ketakutan. Bayangan-bayangan mengerikan mulai menari di pikiranku—bayangan jenazah Mbak Sarah, bayangan gudang, bayangan monster dalam imajinasiku.

​Di malam pertamaku sebagai istri Arvino, aku tidur di lantai dingin sambil gemetar ketakutan, ditemani rasa bersalah dan cinta yang perlahan berubah menjadi luka yang bernanah.

​Dan di atas sana, di ranjang yang hangat, suamiku mungkin sedang memimpikan wanita lain yang sudah tiada.

...****************...

Bersambung....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
leahlaurance
kabur aja menjau sana aluna.hatinya tetap untuk sarah istrinya
leahlaurance
tungu aja istri mu mati ,mungkin rasa bersalamu sampai masuk kubur
leahlaurance
kenapa si kamu bodoh amat wajai perempuan tingalin aja dia
اختی وحی
trllu bertele² ceritanya, sampe bab ini msih bgitu² aja,kejadian berulang
leahlaurance
kan ada pengasuh
leahlaurance
makanya jangan bodoh,masa enga ada kamar lain
اختی وحی
ada bab yg seolah² mrk ini tinggal bareng sma mertua,tp ad bab yg menjelaskan klw mrk tdk serumah dngn orang tuanya, bingung jg
leahlaurance
perempuan bodoh,kau pantas dapat perlekuan seperti itu.
leahlaurance
bagus bangat ceritanya,jiwa ku ikut terseksa tambah beben fikiran😂🤭
leahlaurance
menurut ku aluna juga punya hak menolok.tapi demi cinta butanya kali ya.
leahlaurance
bertepuk sebelah tangan ya aluna
shabiru Al
sebaiknya jika ingin memulai lagi,, carilah rumah baru agar suasana nya pun baru tanpa ada kenangan menyakitkan dan bayangan sarah
leahlaurance: enga dapak ku bayangkan kalau aku menikah dgn ipar ,walau itu wasiatnya
total 1 replies
shabiru Al
entah dengan cara apa arvino bisa meluluhkan hati aluna
shabiru Al
hukuman yang terberat adalah pengabaian dan rasa yang sudah hilang sepenuhnya
shabiru Al
benar maaf saja tdk cukup untuk satu tahun penyiksaan yang kejam dan tdk berdasar.. enak aja
shabiru Al
aluna yang malang tpi hebat mau bangkit dan ttp maju kedepan💪
shabiru Al
bodoh kalau aluna ttp bertahan demi lili
shabiru Al
ya kirain bakalan berubah fikiran aluna nya,, good aluna setidaknya tdk terlalu tercekik berada dlm atap yang sama
shabiru Al
aku kira aluna tdk akan berani memperjuangkan kebahagiaan nya sendiri kebebasan nya sendiri,, good job aluna... 👍
Yulianti Yulianti
ini udah tamat sampai sini bukan kak
tanty rahayu: belum ka 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!