"Ketika cinta datang disituasi yang salah"
Rieta Ervina tidak pernah menyangka, jika keputusannya untuk bekerja pada Arlan Avalon, pria yang menjadi paman dari suaminya justru membuat ia terjebak dalam lingkaran cinta yang seharusnya tidak ia masuki.
Pernikahan tanpa cinta yang awalnya ia terima setulus hati berubah menjadi perlawanan saat Rieta menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya bersama wanita yang menjadi rekan kerjanya. Dan di saat yang sama, paman dari suaminya justru menyatakan peraasaannya pada Rieta.
"Cinta ini adalah cinta yang salah, tapi aku tidak peduli." Arlan.
Apa yang akan Rieta lakukan setelahnya? Akankah ia menerima cinta yang datang? Atau tetap bertahan pada pernikahan bersama suami yang sudah mengkhianati dirinya?
Ikuti kisah mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Membeli Pakaian.
"Rihana?"
Arlan mengulang nama yang baru saja asistennya sebutkan dengan kening berkerut yang segera mendapatkan anggukan dari sang asisten.
"Bagaimana mungkin?" sanggah Arlan setengah tak percaya. "Rihana sudah bekerja kantor ini dalam waktu lama, dan dia tidak pernah sekalipun merugikan perusahaan. Sebaliknya, Rihana sudah berulang kali membuat perusahaan ini mendepatkan keuntungan."
"Saya tahu, Tuan." Liam mengangguk pelan. "Saya tidak menyangkalnya. Tapi, justru karena hal itulah yang membuat kecurigaan saja menjadi lebih besar terhadap Nona Rihana."
Arlan tidak mengatakan apapun, menunggu asistennya mengatakan apa yang akan dia katakan selanjutnya.
"Pertama." Liam memulai.
"Nona Rihana sangat mengenal tata letak kantor ini tanpa ada yang terlewat. Mulai dari lantai dasar, ada berapa banyak ruangan di setiap lantai, sampai lantai teratas, termasuk ruangan Anda. Semua sudah berada di luar kepala Nona Rihana mengingat Nona sudah bekerja cukup lama di sini."
"Kedua. Nona Rihana mengetahui di mana saja ruangan yang terpasang CCTV, termsuk titik buta CCTV di kantor ini. Dan hanya mereka yang sudah berkerja di sini dalam waktu lama saja serta memiliki posisi di atas staf biasa yang mengetahui hal ini. Itu memberi Nona Rihana keuntungan tersendiri jika memang ingin melakukan sesuatu, salah satunya sabotase."
"Dan ketiga. Nona Rihana mengenal hampir semua dewan direksi yang menjalin hubungan dengan kantor ini, itulah mengapa Anda menjadikan Nona Rihana sebagai mentor saat Anda membutuhkan sekretaris. Kerena Nona Rihana memiliki kemampuan yang Anda butuhkan, itu bisa digunakan untuk menutupi motif Nona Rihana sebenarnya."
"Dan dua orang yang saya curigai selain Nona Rihana memiliki posisi yang sama."
Semua yang Liam katakan membuat Arlan terdiam, ia merenungkan semua yang asistennya ucapkan. Pikirannya kembali ke saat data presentasi Rieta hilang. Andai saat itu Rieta tidak bisa menyelesaikan masalah yang terjadi, bisa dipastikan saat ini dirinya-lah yang berada dalam masalah.
"Yang menjadi pertanyaan saya adalah..." Liam kembali berbicara, menarik atensi Arlan untuk kembali menatap asistennya.
"Mengapa Nona Rihana menargetkan Nona Rieta. Kenapa Nona Rihana tidak melakukan hal seperti ini pada sekretaris Anda sebelumnya-..."
Kalimat Liam terhenti ketika tiba-tiba pria itu mengingat apa yang baru saja dia lupakan. Ia terdiam, menggali ingatannya tentang insiden serupa yang pernah dialami oleh sekretaris sebelum Rieta.
"Selidiki tentang ini," putus Arlan seakan mengerti apa yang akan asistennya ucapkan.
Liam mengangguk, memeriksa tab yang sebelumnya ia letakkan di meja, dan mulai menelusuri data di bulan-bulan sebelumnya.
"Lalu, apakah kau sudah tahu siapa yang masuk ke dalam mobil Evan waktu itu?" Arlan bertanya lagi.
Wajah Liam terangkat, membuat pandanganya bertemu dengan sang atasan.
"Wanita itu berada di titik buta kamera, Tuan," jawab Liam. "Seolah..."
"Evan sengaja menurunkan Rieta di sana kerana tahu wanita itu akan mendekat?" potong Arlan cepat.
Liam mengangguk. "Benar, Tuan."
"Apa saja yang tertangkap CCTV?" tanya Arlan.
"Beberapa mobil karyawan yang sudah saya pastikan tidak ada hubungannya sama sekali, mobil keponakan Anda yang meninggalkan gedung ini, Nona Rieta yang berjalan masuk ke dalam kantor, dan mobil taksi," jawab Arlan.
"Itu dia." Arlan meletakkan satu tangannya di meja. "Selidiki taksi itu. Catat nomor platnya, cari sopir itu dan tanyakan pada sopir itu."
Kedua mata Liam melebar singkat, seolah ia baru saja mendapatkan jawaban dari pertanyaannya sendiri.
"Segera saya lakukan." jawab Liam seraya bangun dari duduknya.
Sesaat setelah Liam pergi meninggalkan ruanganya, Arlan meraih gagang telepon di mejanya, menekan beberapa angka, lalu menempelkan gagang telepon ke telinganya.
"Ke ruanganku sekarang."
Selesai dengan satu perintah itu, Arlan meletakkan kembali gagang telepon ke tempatnya semula. Dan tak berapa lama, suara ketukan pintu terdengar diikuti sosok Rieta yang melangkah masuk.
"Tuan memanggil saya?" tanya Rieta.
"Ya. Kita pergi ke suatu tempat." jawab Arla seraya berdiri.
"Pergi?" ulang Rieta mengerutkan kening. "Bukankah hari ini tidak ada jadwal di luar kantor, Tuan?"
"Kita pergi untuk membeli gaun untukmu," jawab Arlan.
"Aaa...?"
.
.
.
Berulang kali Rieta menghembuskan napas kala melihat apa yang pamannya lakukan. Pria itu menunjuk deretan gaun malam yang berada di sebuah toko dan meminta dirinya untuk mencoba gaun yang dia tunjuk.
"Tuan-... Uhm Paman..." Rieta segera meralat panggilan yang ia gunakan saat Arlan menatap tajam padanya.
"Aku sudah memiliki gaunku sendiri," ucap Rieta.
"Maksudmu gaun murah yang kamu beli untuk acara prom night setelah kelulusan?" sambut Arlan tidak rela. "Lupakanlah. Gaun itu tidak cocok jika untuk menghadiri acara ulang tahun perusahaan."
Kedua mata Rieta melebar kerena terkejut. "Bagaimana Paman bisa tahu?"
Arlan hanya menaikkan bahunya, merutuki diriya sendiri yang sudah salah berbicara. Ada rasa kesal di hatinya setelah ia mendapatkan laporan dari asistennya jika Rieta hampir tidak pernah menggunakan uang yang sengaja di berikan kepada wanita itu untuk kebutuhan pribadi. Saat membeli gaun untuk acara prom night pun, nominal yang Rieta keluarkan terlalu kecil baginya.
"Cobalah beberapa gaun yang aku tunjuk," ucap Arlan.
"Tapi-"
"Kamu sudah setuju untuk datang bersamaku, tentu saja aku tidak mau kamu berpenampilan biasa," potong Arlan cepat.
"Tapi harga gaun ini-..."
"Aku membelikan gaun itu untukmu, dan gajimu tetap utuh. Cobalah, aku ingin melihatnya," potong Arlan lagi diakhiri desakan.
Rieta menghela napas. "Baiklah."
"Suamimu juga akan datang di acara, kau tidak masalah?" tanya Arlan tiba-tiba.
Gerakan tangan Rieta saat menyentuh gaun terhenti, lalu menurunkan tangannya dan berbalik.
"Dia tidak akan peduli. Lagipula, dia tidak akan mengajakku. Tidak ada yang tahu dengan status kami selain Paman," jawab Rieta dengan bahu terangkat.
"Aku datang ke acara pesta bukan karena dia, tapi karena aku bagian dari AVA Corp, dan aku tidak memiliki alasan untuk tidak datang," lanjutnya tersenyum.
Alis Arlan terangkat. "Oh... Sekarang kau menggunakan perusahaanku sebagai tameng?"
"Mungkin." Rieta kembali berbalik menghadap gaun yang sebelumnya ia sentuh. "Aku akan mencoba ini." lanjutnya menunjuk gaun hitam.
Arlan mengangguk, meminta pegawai toko untuk membantu Rieta membantu mengganti pakaian, sementara dirinya duduk menunggu di sofa yang tersedia. Dan ketika Rieta keluar dari ruang ganti dengan gaun yang melekat di tubuhnya...
"Tidak." Arlan menggeleng
Berulang kali Arlan menggelengkan kepala saat Rieta keluar dari ruang ganti dengan gaun yang berbeda, dan berulang kali juga Rieta mendengus kesal dengan kelakuan pamannya. Ia bahkan sudah mencoba delapan gaun yang berbeda yang Arlan pilih, tetapi itu tidak membuat Arlan puas.
"Gaun yang kamu pakai cantik, tapi itu belum cukup."
Itulah yang Arlan ucapkan. Hingga, saat Rieta kembali keluar dengan gaun yang ke lima belas, Arlan terpaku di tempat duduknya dengan netra menatap lekat sosok Rieta yang kini mengenakan gaun tanpa lengan berwarna biru elegan.
Kulit seputih susu yang Rieta miliki seolah menyatu dengan gaun berwara biru yang kini melekat sempurna di tubuh Rieta. Sementara pegawai toko yang menangkap bagaimana reaksi Arlan segera mundur perlahan, seolah pegawai itu ingin memberi pembelinya waktu privasi untuk sementara waktu
"Paman... Aku lelah. Bisakah kita sudahi saja?" keluh Rieta tidak menyadari ekspresi Arlan sudah berubah dari sebelumnya.
"Sempurna." komentar Arlan tidak bisa mengalihkan pandangannya.
"Akhirnya..." Rieta menghembuskan napas lega.
Namun, kelegaan di wajah Rieta berubah menjadi kekecewaan mendalam saat netranya menemukan sosok suaminya tengah bersama wanita lain. Menggandeng mesra wanita berambut sebahu yang sangat ia kenali, bahkan memberikan kecupan di dahi wanita itu. Hal sederhana yang tidak pernah suaminya lakukan terhadapnya.
"Ada apa, Rie-..."
Sebelum Arlan menyelesaikan kalimatnya, Rieta sudah menarik lengannya masuk ke ruang ganti terdekat dari posisi mereka berdiri, pria itu bahkan belum memiliki kesempatan untuk melihat apa yang Rieta lihat. Tetapi, pertanyaan itu terjawab ketika ia berada di ruang ganti bersama Rieta selama beberapa saat, ia mendengar suara familiar.
"Bagaimana menurutmu dengan gaun ini?"
. . . .
. . . .
To be continued...