Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Jejak Leluhur
Turun dari Puncak Void terasa seperti jatuh kembali ke bumi dari surga. Udara tipis dan magis di puncak perlahan tergantikan oleh angin kencang yang membawa butiran es tajam khas The Forbidden Wilds. Namun, ada yang berbeda kali ini. Valerius tidak lagi merasa kedinginan.
Api Pertama yang kini bersemayam di dalam darahnya—dan darah Aethela—bertindak sebagai tungku internal yang tak padam. Ia menggenggam tangan Aethela saat mereka menuruni jalan setapak terjal berbatu hitam. Cincin sihir di jari manis mereka berkedip redup, selaras dengan detak jantung satu sama lain.
Ia merasa fokus dan mematikan. Cinta yang meluap semalam tidak membuatnya lemah; sebaliknya, itu memberinya kejelasan tujuan yang menakutkan. Ia tahu persis apa yang harus dilakukan. Krow dan Alaric mungkin menguasai benteng batu, tetapi Valerius tahu bahwa kekuatan sejati Obsidiana tidak terletak di balik tembok, melainkan di alam liar ini—tempat di mana leluhurnya pertama kali menjinakkan naga.
"Kita tidak sendirian," bisik Aethela tiba-tiba. Langkahnya terhenti, matanya yang ungu menyipit menatap badai salju di depan.
Valerius juga merasakannya. Bukan dengan mata atau telinga, tapi dengan insting naganya yang kini diperkuat seratus kali lipat. Ada detak jantung lain di sekeliling mereka. Banyak. Besar. Dan lapar.
"Tetap di belakangku," perintah Valerius pelan, tangannya bergerak ke gagang pedang.
"Tidak," koreksi Aethela. Ia melangkah maju hingga berdiri di samping Valerius. "Kita sudah sepakat, Valerius. Kita menghadapinya bersama. Aku bukan barang pecah belah lagi."
Valerius menatapnya sekilas, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang bangga. "Baiklah. Kalau begitu, bersiaplah, Ratuku."
Dari balik tirai salju putih, bayangan-bayangan raksasa mulai bermunculan.
Mereka dikepung.
Bukan oleh manusia, dan bukan oleh prajurit naga biasa. Mereka dikelilingi oleh Wild Drakes—naga liar tanpa sayap yang tubuhnya dilapisi zirah tulang sekeras baja dan berukuran sebesar rumah kecil. Mata mereka menyala kuning liar, dan uap panas mendesis dari rahang mereka yang penuh gigi setajam pedang.
Ini adalah predator puncak Forbidden Wilds. Makhluk yang bahkan dihindari oleh pasukan patroli Obsidiana.
Jantungnya berpacu, namun anehnya, tidak ada rasa teror yang melumpuhkan seperti saat ia menghadapi Wyvern di jembatan. Api Pertama di dalam dadanya memberikan rasa tenang yang otoritatif. Ia merasa... terhubung dengan makhluk-makhluk buas ini. Ia bisa merasakan rasa lapar mereka, kewaspadaan mereka, dan rasa hormat mereka terhadap kekuatan.
Seekor Drake yang paling besar, dengan bekas luka melintang di matanya, melangkah maju. Ia menggeram, suara yang menggetarkan tanah di bawah kaki mereka.
"Mereka tidak menyerang," bisik Valerius, tangannya masih di gagang pedang tapi ia tidak menariknya. "Biasanya mereka akan langsung mencabik kita. Mereka... menunggu."
"Mereka menunggu pemimpinnya," kata Aethela. Ia menunjuk ke arah bukit batu di belakang kawanan Drake itu.
Di sana, berdiri sosok humanoid. Seorang pria jangkung yang mengenakan jubah dari kulit naga purba yang kasar, wajahnya tertutup topeng tengkorak hewan. Di tangannya, ia memegang tombak tombak bergerigi yang terbuat dari tulang naga hitam.
Sosok itu melompat turun dari batu setinggi sepuluh meter, mendarat dengan dentuman berat di depan mereka. Ia berdiri tegak, tingginya hampir menyamai Valerius dalam wujud manusia.
Pria itu membuka topeng tengkoraknya. Wajahnya keras, dipenuhi tato suku kuno, dan janggut abu-abu yang dikepang rapi. Matanya satu-satunya yang tersisa menatap tajam—mata naga berwarna merah darah.
Valerius tersentak. "Jenderal Thorne?"
Valerius hampir tidak mempercayai matanya. Thorne The Breaker adalah legenda. Dia adalah panglima perang ayahnya dua puluh tahun yang lalu, mentor yang mengajari Valerius cara memegang pedang. Namun, Thorne diasingkan sepuluh tahun lalu karena menolak perintah Dewan untuk membantai desa manusia di perbatasan. Kabar mengatakan dia mati dimakan serigala salju.
Ternyata, dia bertahan hidup. Dan dia tidak sendirian.
Rasa hormat dan nostalgia bercampur dengan kewaspadaan. Thorne adalah pria yang memegang prinsip "Kekuatan adalah Hukum". Jika Thorne melihat Valerius sebagai pangeran yang lemah dan terbuang, dia akan membunuhnya di tempat.
"Pangeran Kecil," suara Thorne terdengar seperti gesekan batu gerinda. "Aku mendengar bentengmu jatuh. Tikus-tikus Dewan akhirnya menggigit majikannya, eh?"
"Benteng itu tidak jatuh, Thorne," jawab Valerius dingin. "Ia hanya dicuri sementara. Dan aku datang untuk mengambilnya kembali."
Thorne tertawa, suara yang kasar dan meremehkan. "Dengan apa? Dengan sebilah pedang dan seorang pelacur Solaria di sampingmu?"
Mata Valerius menyala merah. "Jaga bicaramu, orang tua. Wanita ini adalah Ratu Obsidiana. Hina dia sekali lagi, dan aku akan memisahkan kepalamu dari lehermu sebelum kau sempat berkedip."
Thorne tidak mundur. Ia justru menyeringai, memamerkan gigi-giginya yang diasah tajam. "Oh? Kau sudah tumbuh taring rupanya. Tapi taring saja tidak cukup di sini, Nak."
Thorne menghentakkan tombaknya ke tanah. "Ini adalah wilayah Legiun Terbuang. Kami tidak melayani raja yang gagal. Jika kau ingin bantuan kami, kau harus membuktikannya. Lawan aku. Tanpa sihir. Tanpa bantuan gadismu."
Valerius tahu ia bisa mengalahkan Thorne dengan sihir Api Pertama dalam sekejap. Tapi itu tidak akan memenangkan loyalitas Legiun Terbuang. Orang-orang ini—para prajurit veteran yang diasingkan—hanya menghormati kekuatan fisik dan keberanian murni.
Valerius melepaskan tangan Aethela perlahan. "Aku akan meladenimu, Thorne."
Aethela ingin memprotes, tapi ia melihat tatapan Valerius. Percayalah padaku.
Ia mundur selangkah, memberikan ruang. Para Drake liar membentuk lingkaran arena alami, mendesis penuh semangat melihat prospek pertumpahan darah.
Pertarungan itu brutal dan cepat.
Thorne menyerang dengan tombaknya seperti badai. Valerius menghindar, menangkis dengan pedangnya. Denting logam dan tulang bergema di lembah itu. Valerius tidak menggunakan sihir bayangannya, tidak sedikit pun. Ia bertarung dengan teknik murni yang diajarkan Thorne padanya bertahun-tahun lalu, ditambah dengan kecepatan yang ia dapatkan dari pengalaman perangnya sendiri.
Ia menahan napas setiap kali tombak Thorne nyaris menggores wajah Valerius. Ia melihat Valerius berdarah di lengan, tapi pria itu tidak melambat. Valerius bertarung dengan ketenangan yang menakutkan.
Akhirnya, dengan satu gerakan memutar yang brilian, Valerius berhasil menendang lutut Thorne, membuatnya goyah, dan menempelkan ujung pedangnya tepat di tenggorokan sang Jenderal tua.
Hening.
Napas Thorne memburu. Ia menatap Valerius dari bawah, lalu melirik pedang di lehernya. "Kau menahan diri," gerutu Thorne. "Kau bisa membunuhku di tiga kesempatan tadi."
"Aku butuh jenderal, bukan mayat," jawab Valerius, menarik pedangnya dan mengulurkan tangan untuk membantu Thorne berdiri.
Thorne menepis tangan itu dan berdiri sendiri, membersihkan salju dari jubahnya. "Lumayan. Kau bukan lagi bocah ingusan yang kutahu."
Thorne menatap Aethela. Tatapannya masih penuh keraguan. "Fisikmu kuat, Valerius. Tapi kau masih terikat pada manusia ini. Dia adalah kelemahanmu. Legiun tidak akan mengikuti pemimpin yang bisa dimanipulasi oleh 'cahaya' lembut."
Aethela tahu ini gilirannya. Valerius telah membuktikan kekuatan fisiknya. Sekarang, ia harus membuktikan otoritas spiritualnya.
"Aku bukan kelemahannya, Jenderal," suara Aethela memecah udara dingin, jernih dan penuh wibawa. "Aku adalah alasannya dia masih berdiri."
Aethela melangkah maju, masuk ke tengah lingkaran. Ia tidak membawa senjata. Ia mengangkat tangannya yang mengenakan cincin tanda pasangan.
Ia tidak menyerang Thorne. Sebaliknya, ia memusatkan pandangannya pada Alpha Drake yang ada di belakang Thorne. Naga liar itu menggeram, merasakan tantangan.
Aethela memanggil Api Pertama. Bukan sebagai ledakan, tapi sebagai aura. Matanya menyala perak cemerlang. Rambutnya melayang seolah berada di dalam air. Suhu di sekitar mereka naik drastis, mencairkan salju dalam radius sepuluh meter.
Ia berbicara dalam bahasa Naga Kuno—bahasa yang tidak pernah ia pelajari, tapi bahasa yang kini mengalir di darahnya berkat fusi dengan Valerius.
"Drakon ael Vespera. Suul ael Nightshade. Tunduklah."
Suaranya bukan suara manusia. Itu adalah suara gema dari Puncak Void.
Sang Alpha Drake, makhluk yang bisa meremukkan batu dengan rahangnya, terdiam. Pupil matanya melebar. Ia merasakan esensi dari First Flame—sumber dari segala naga. Perlahan, dengan keraguan yang terlihat jelas, monster raksasa itu merendahkan tubuhnya. Ia menekuk kaki depannya, menundukkan kepalanya hingga menyentuh tanah di depan kaki kecil Aethela.
Melihat pemimpin mereka tunduk, puluhan Drake liar lainnya ikut menunduk. Suara desisan mereka berubah menjadi dengkuran rendah tanda kepatuhan.
Thorne ternganga. Ia menatap Aethela, lalu menatap Valerius yang berdiri di sampingnya dengan seringai bangga.
"Demi gigi para leluhur..." bisik Thorne. "Dia bukan sekadar manusia. Dia adalah... Mother of the Flame."
Valerius merangkul pinggang Aethela, menunjukkan pada semua orang bahwa wanita ini adalah miliknya dan dia adalah milik wanita ini.
"Kami memiliki Api Pertama, Thorne," kata Valerius. "Kami akan merebut kembali Obsidiana. Bukan untuk Dewan, tapi untuk mengembalikannya ke jalan leluhur. Jalan di mana Naga tidak bersembunyi di balik tembok, tapi terbang bebas."
Valerius menatap mata mentor lamanya. "Pertanyaannya adalah, apakah Legiun Terbuang akan tetap bersembunyi di sini memakan sisa daging rusa, atau kalian akan ikut kami membantai para pengkhianat?"
Thorne terdiam sesaat, lalu tertawa keras. Tawa yang menggelegar. Ia berlutut dengan satu kaki, menundukkan kepalanya dalam-dalam—sesuatu yang belum pernah ia lakukan bahkan kepada Raja Malakor.
"Pedangku milikmu, Rajaku," kata Thorne. "Dan nyawaku milikmu, Ratuku."
Dari balik bebatuan dan gua-gua di sekitarnya, ratusan sosok mulai bermunculan. Pria dan wanita dengan zirah usang, para penunggang naga yang terbuang, para prajurit yang dilupakan. Mereka semua berlutut, serentak.
Aethela merasakan getaran yang merambat di punggungnya. Ini bukan lagi sekadar pelarian. Ini adalah awal dari sebuah revolusi.
"Bangunlah," perintah Aethela. "Kita tidak punya waktu untuk berlutut. Kita punya kerajaan untuk dimenangkan kembali."
Thorne berdiri, seringai buas kembali ke wajahnya. "Berapa lama kita punya waktu sebelum badai berikutnya?"
"Kami tidak menunggu badai," jawab Valerius, menatap ke arah selatan di mana Benteng Obsidian berada. "Kami adalah badainya."
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...