NovelToon NovelToon
Romantic Scent

Romantic Scent

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:537
Nilai: 5
Nama Author: Reviie Aufiar

Rona gadis cantik yang memiliki keberanian dibanding gadis lain, memilih menikmati hidup damai dan menjalankan usaha yang ditinggalkam kedua orangtuanya. Adakalanya setiap sore ia menikmati pemandangan indah berbukitan di belakang desanya dan menemukan sosok lelaki tampan jatuh tepat pada pelukkannya. Aroma tubuh lelaki itu berhasil memikatnya, dan siapa kah lelaki tersebut? dan apakah yang terjadi padanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Purnama

Garis tangan menarik goresan dan coretan sembari membolak balik berkas yang ada, keheningan tak menggemingkan pikirannya yang sempat terdiam termenung sementara. Rumah besar itu cukup luas ditinggalin dua orang gadis cantik dengan satu kepala pengurus rumah dua pelayan dan satu orang tukang masak.

Rona mencoba menatap ke arah jendela yang belum ditutup sedari sore, setelah ia meminum teh dan kembali ke meja kerjanya. Langkah kakinya menuju jendela itu menatap keluar penuh ragu. Keraguan mendadak bergejolak di dadanya mengingat kenangan lama keluarganya dan perpisahannya dengan Nathan.

Jika diingat kembali, sikap Emily yang sedikit dingin mengingat Nathan mungkin karena pertunangan semasa kecil mereka terputus, ada kalanya ingatan berlarian di kepalanya. Wajah putih dengan kepala bulat dan pipi cabi itu selalu memberikan tawa bersama.

“Dunia cepat sekali berlalu.” Gumam Rona menikmati angin malam yang semakin dingin itu.

Jika diingat Emily dan Nathan adalah pasangan kecil yang selalu terikat, wajar saja saat Ibu sakit dan keluarganya mendadak pergi ke Ibu kota karena bangkrut membuatku kecewa begitu juga Emily yang membuat dirinya harus kehilangan tunangan sekaligus teman masa kecilnya.

“Bagaimana jika Nathan datang dan meminangnya. Akankah hal tersebut menjadi sebuah harapan baru untuk Emily. Sepertinya aku tidak bisa menduga apapun dari pertemuan singkat tadi siang.” Rona memegangi kepalanya yang merasa pusing dan sedikit lelah.

Lamunannya begitu lama, sampai ia duduk di antara jendela dengan cahaya bulan menyinarinya. Bulan kala itu sangat tinggi dan bulat, pancarannya seakan mengatakan bahwa aku kembali di titik tertinggi di malam kali ini bersama beberapa bintang yang bergantian berkelap kelip dengan cantiknya.

Awan hitam mulai menyelimuti cahaya paling terang dimalam itu, angin juga mulai sepai-sepoi mendatangkan dinginnya, rambut Rona mulai berkibas tersapu angin. Lamunan Rona berakhir menyadari ada bau dari wangi yang ia kenali.

Mata Rona tertuju pada seseorang yang melambaik dari ruang gerbang rumahnya, lelaki bertunggang kuda dengan juba yang membalut di lehernya. Senyumannya dan lambaian tangannya membuat ku terpanah sejenak, seolah keresahanku yang baru saja menggangguku hilang tanpa arah.

“Sebentar!” Teriak Rona dan langsung melompati lantai dua tersebut dan ditangkap oleh Dean, dengan cepat lelaki itu memegangi pinggang Rona.

“Astaga kenapa kau melompat begitu saja?” Tanya Dean lembut sambil menurunkan gadis itu dari pegangannya.

“Ah maafkan aku, ini kebiasaan lama.” Sambil menggaruk kepalanya karena malu dan berbalik berjalan ke arah taman.

“Benarkah sudah kuduga.” Dean mengikuti langkah kaki Rona menuju air mancur kecil ditaman tersebut.

“Bagaimana kau datang selarut ini?” Rona berjalan dan berbalik namun kakinya hampir jatuh.

Dengan cepat Dena memegang tangan dan pinggangnya. Mereka saling bertatapan di bawah cahaya bulan, angin menghantarkan kelopak mawar yang bertebangan diantara mereka.

“Ah maafkan aku.” Ucap Dean membantu gadis itu berdiri.

“Tidak apa aku yang salah, terimakasih.” Wajah Rona merona kemerahan. Dean memalingkan wajahnya sedikit kekanan.

“Hampir saja aku mencium bibirnya.” Gumam Dena dalam hati.

“Hmm aku tidak masalah menangkapmu bahkan beribu-ribu kali lagi.” Dean yang tadinya menoleh kekanan kini menatap gadis itu.

“Haha kau bisa saja.” Dengan spontan Rona meninju kecil bahu Dean.

Dean masih mengikuti langkah kaki Rona sambil memperhatikan dirinya dari atas kebawah, gadis cantik dan sangat berani mengenakan celana panjang dan baju selutut dengan rambut diikat satu di samping.

“Aku suka sekali rambutnya terurai seperti pertemuan pertama dan saat kencan kemarin.” Tangan Dena menarik ikatan rambut Rona.

Rambut gadis itu berkibas kekanan dan kekiri, kepala gadis itu menoleh menatap Dean memegangi tali ikat rambutnya.

Dengan kuat angin mengibas rambut dan juga mawar-mawar yang ada disana. Tak dipungkiri wangi dari bunga mawar dan aroma tubuh Rona sekana. Jadi satu. Dean mendekat dan mencium rambut yang berkibas itu dengan tali ikat rambut Rona yang masih melilit tangannya.

“Kenapa harum tubuhmu begitu sangat lembut, membuatku tersipu.” Ucap Dean memejamkan mata mencium Rambut Rona.

“Deg…Deg…?! Perasaan apa ini.” Tangan Rona mengelus kepala Dean membuat lelaki itu membuka matanya dan memegangi tangan Rona.

“Maafkan aku Rona pasti kau terkejut.” Dean memegang tangan Rona dan membanya ke pipi wajahnya.

“Tanganku yang dingin menjadi hangat, ya hangat sekali dan berada di wajahnya.” Rona dan Dena saling menatap sementara. Tatapan mata Dean begitu tajam namun lembut.

“Apa ini mengapa tanganmu begitu dingin.” Dean mengambil satu tangan Rona menaruh keduanya di pipinya.

Rona tak bergeming mendapatkan kehangatan dari pria yang belum lama ia kenali, angin semakin dingin. Rona mencoba menarik tangannya pada waja lelaki itu yang ditimpa dengan tangan Dean.

“Sepertinya waktu kita sudah berakhir.” Dena memegang tangan Rona dan berjalan menuju pintu gerbang rumah Rona.

Langkah kaki mereka melambat sebelum menuju pintu gerbang depan tersebutkan , seakan akan tidak mau saling melepaskan.

Tibalah kedua orang tersebut di depan pintu tersebut, Dena menoleh ke kudanya yang ia ikat di depan gerbang rumah tersebut lalu menatap Rona.

“Kau belum menjawab kenapa kau datang?” Rona menatap lelaki itu yang juga menatapnya.

“Aku sudah bilangkan bahwa aku menantikan pertemuan kita selanjutnya.” Dean yang masih menggenggam tangan Rona mengambilnya dan mencium punggung tangan gadis tersebut.

Wajah Rona tersipu malu, saat tau Dean mencium punggung tangannya perasaan apa ini, dadanya seakan bergejolak begitu kencangnya.

“Baiklah anda harus pulang.” Kembali menatap lelaki itu dengan senyuman.

“Ah aku benci hal ini.” Dean bersandar di pintu.

“Ha, apa yang kau benci? Aku?” Rona kebingungan dengan pernyataan Dean.

“Bukan itu, maksudku pertemuan singkat kita.” Dena tertawa kecil menggoda gadis itu yang langsung merespon.

“Sudah lah pulang sana.” Rona mendorong Dean keluar pintu.

“Ya Ampun baiklah, karena tuan rumah sudah mengusirku aku harus segera pulang.” Tawanya menaiki kudanya.

“Ya ya pergilah dan hati-hati.” Lambai Rona.

“Baiklah, jangan menungguku besok karena aku takkan datang. Jaga diri ya.” Dean memacu kuda nya melambai dari atas tanpa menoleh kebelakang.

Rona kembali ke kamarnya merebahkan tubuhnya perlahan. Ingatan tentang Emily dan Nathan seakan terhapus karena kehadiran Dean walau sebentar. Senyum di wajah Rona begitu merekah. Ia berguling kekanan dan kekiri menikmati pertemuannya bersama Dean.

“Apa-apaan dia menggenggam tangan orang lain, menaruhnya di wajahnya dan mencium tangan seorang gadis??” Rona kegirangan sambil memasuki selimut. Lalu menariknya sehingga yang terlihat hanyalah mata dan alisnya saja.

“Tapi apa itu, jangan menungguku besok? Dia mau kemana besok dan dengan seenaknya juga dia ingin bertemu? Hmm tidak bisa di tebak? Jadi kemana dia besok?” Rona bertanya pada dirinya sendiri dan mencoba menutup matanya agar segera tertidur namun tetap saja ia kegirangan dengan senyuman mengingat ingat Dean.

“Ya tuhan, ada apa dengan kepala dan dadaku kenapa begitu menggebu gebu.” Pungkasnya dengan wajah memerah menatap langit-langit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!