Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.
Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"
Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.
Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?
Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32
Dinginnya lantai semen di ruang tahanan sementara Mapolres Jakarta Selatan terasa menembus hingga ke tulang Arga. Hanya dalam hitungan jam, hidupnya yang tertata rapi berubah menjadi kehampaan yang mencekam.
Aroma pengap, suara gerendel besi yang beradu, dan pandangan merendahkan dari para petugas jaga menjadi kenyataan barunya.
Arga duduk menyudut, kepalanya tertunduk di antara kedua lutut. Bayangan peristiwa di lobi kantor tadi pagi terus berputar seperti kaset rusak, wajah-wajah rekan kerjanya yang penuh jijik, kilatan lampu kamera ponsel, dan yang paling menyakitkan, raut wajah Nabila yang hancur saat melihatnya diborgol.
"Tahanan 09! Ada pengacara!" teriak seorang petugas sipir, suaranya menggema kasar di koridor sel yang sempit.
Arga mendongak dengan harapan kecil. Ia berdiri dengan kaki lemas dan berjalan mendekati jeruji besi. Di ujung lorong, ia melihat Nabila. Istrinya itu berdiri dengan sisa-sisa ketegaran, meskipun lingkaran hitam di matanya menunjukkan bahwa ia telah menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengurus administrasi dan perizinan.
Nabila dipandu ke sebuah ruang pertemuan sempit yang hanya dibatasi oleh kaca tebal dan lubang suara kecil.
"Mas..." bisik Nabila saat Arga duduk di hadapannya. Ia menempelkan telapak tangannya ke kaca.
Arga menyentuh kaca itu dari sisi dalam, air matanya hampir jatuh. "Nabila, maafkan aku. Aku tidak seharusnya datang ke sana semalam. Aku terjebak."
"Jangan minta maaf, Mas. Simpan tenagamu," Nabila mencoba tersenyum, meski bibirnya bergetar. "Aku sudah memeriksa berkas laporan mereka. Siska bergerak sangat cepat. Dia tidak hanya melaporkan kejadian semalam sebagai pelecehan, tapi dia menyertakan laporan visum tentang lebam di pipinya sebagai bukti 'percobaan pemerkosaan dengan kekerasan'. Ditambah lagi, audit fiktif itu... mereka menuduhmu menggelapkan dana operasional untuk menutupi gaya hidup mewah kita."
"Itu gila, Nabila! Dia yang memaksaku! Dia yang melepas pakaiannya sendiri!" suara Arga meninggi karena frustrasi.
"Aku tahu, Mas. Aku percaya padamu. Tapi di mata hukum, bukti fisik adalah raja. Dan saat ini, Siska memegang semua kartu as," Nabila menarik napas panjang, mencoba kembali ke mode pengacara profesionalnya. "Firma hukumku... mereka memintaku mengundurkan diri, Mas. Mereka tidak mau dikaitkan dengan kasus 'predator seksual'."
Arga terpaku. "Apa? Nabila, kau kehilangan pekerjaanmu karena aku?"
"Itu tidak penting sekarang. Yang penting adalah mengeluarkanmu dari sini. Tapi Arga, aku tidak bisa menjadi pengacara utamamu. Secara kode etik, hubungan istri-suami akan membuat pembelaanku dianggap bias di depan hakim. Aku butuh pengacara pendamping yang berdarah dingin."
Setelah jam besuk habis, Nabila keluar dari kantor polisi dengan langkah gontai. Namun, penderitaannya belum berakhir. Saat ia tiba di lobi apartemen mereka, ia melihat beberapa petugas keamanan berdiri di depan lift, menghalangi jalannya.
"Maaf, Ibu Nabila. Manajemen apartemen telah menerima banyak keluhan dari penghuni lain terkait pemberitaan media tentang Pak Arga. Demi kenyamanan bersama dan menjaga nilai properti, pihak manajemen meminta Anda untuk segera mengosongkan unit ini dalam 24 jam," ucap kepala keamanan dengan nada dingin.
Nabila terperangah. "Ini properti pribadi! Kami sudah membayar lunas! Anda tidak bisa mengusir saya begitu saja tanpa perintah pengadilan!"
"Pihak manajemen menggunakan klausul 'pencemaran nama baik lingkungan' dalam kontrak penghuni, Bu. Silakan hubungi bagian legal jika tidak terima. Tapi untuk sekarang, akses kartu Anda sudah dibekukan."
Nabila berdiri di lobi yang mewah itu, dikelilingi oleh tatapan sinis dari tetangga-tetangga yang dulu sering menyapanya dengan ramah. Dunia benar-benar telah memunggungi mereka. Siska tidak hanya ingin memenjarakan Arga, dia ingin menghapus keberadaan Nabila dari pergaulan sosial.
Di sisi lain kota, di sebuah bar eksklusif yang hanya dikunjungi oleh para elit, Siska Roy sedang merayakan kemenangan awalnya. Di hadapannya duduk seorang pria dengan setelan jas seharga ribuan dolar, rambutnya klimis, dan matanya memancarkan kecerdasan yang licik.
"Dante, aku ingin kau memastikan Nabila tidak mendapatkan satu celah pun untuk membela suaminya," ucap Siska sambil menyesap martini-nya.
Dante, pengacara papan atas yang dikenal sering memenangkan kasus-kasus kotor, tersenyum tipis. "Menghancurkan Arga itu mudah, Nyonya Siska. Dia hanyalah manajer yang emosional. Tapi istrinya... Nabila adalah pengacara yang cukup berbakat. Dia akan mencoba mencari bukti dari masa lalu Anda."
Siska meletakkan gelasnya dengan dentingan keras. "Masa laluku sudah terkubur dalam. Tugasmu adalah membuat opini publik semakin membenci mereka. Buat Nabila terlihat seperti istri yang melindungi monster demi harta. Hancurkan mentalnya sampai dia sendiri yang meminta Arga untuk mengaku bersalah."
"Pertunjukan akan segera dimulai, Nyonya," Dante mengangkat gelasnya. "Besok, saya akan merilis 'bukti' baru ke media. Sesuatu yang akan membuat Nabila malu untuk sekadar keluar rumah."
Nabila akhirnya terpaksa menginap di kantor lamanya yang kecil, sebuah ruangan sempit yang dulu ia gunakan saat baru merintis karier sebagai pengacara mandiri. Di sana, ia menggelar tikar di lantai, dikelilingi oleh tumpukan berkas yang ia bawa dari apartemen.
Ia mencoba menghubungi Pak Roy berkali-kali, namun ponsel pria tua itu selalu dialihkan ke asisten pribadinya. Siska benar-benar telah mengisolasi Pak Roy.
Tiba-tiba, ponsel Nabila berdering. Sebuah nomor tidak dikenal.
"Halo?"
"Nabila Mandala? Ini Dante. Pengacara Ibu Siska Roy."
Darah Nabila mendidih mendengar nama itu. "Mau apa kau?"
"Hanya ingin memberikan saran bersahabat. Aku melihat profilmu, kau punya masa depan yang cerah. Jangan hancurkan kariermu demi pria yang sudah jelas-jelas akan membusuk di penjara. Jika kau membujuk Arga untuk mengaku bersalah dan menandatangani surat cerai tanpa tuntutan harta, Ibu Siska mungkin akan mempertimbangkan untuk mencabut tuntutan perdatanya padamu."
Nabila menggertakkan gigi. "Sampaikan pada klienmu, Dante. Aku tidak akan pernah mundur. Jika dia ingin perang, aku akan memberinya neraka yang paling panas."
"Sayang sekali," Dante tertawa kecil. "Besok pagi, periksalah berita utama. Ada kado kecil untukmu."
Keesokan paginya, Nabila terbangun dengan suara notifikasi ponsel yang bertubi-tubi. Ia membuka situs berita utama, dan jantungnya seolah berhenti berdetak.
Di sana terpampang foto-foto lama Arga yang diedit sedemikian rupa, disandingkan dengan testimoni palsu dari seorang wanita yang mengaku pernah "dilecehkan" oleh Arga di kantor lama mereka bertahun-tahun lalu. Fitnah ini semakin terstruktur. Siska sedang membangun narasi bahwa Arga adalah seorang predator berantai.
Namun, di tengah keputusasaannya, Nabila menemukan sebuah komentar di bawah artikel berita tersebut. Sebuah akun anonim menulis. "*Ini pola yang sama. Siska Roy melakukan ini lagi. Cari tahu tentang Hendri di Surabaya*."
Nabila menatap layar ponselnya dengan intens. "Hendri? Surabaya?"
Ia segera meraih laptopnya. Insting detektifnya bangkit. Ini adalah benang merah pertama yang ia temukan. Siska mungkin merasa dia adalah sutradara yang hebat, tapi setiap sutradara pasti meninggalkan jejak di belakang layar.
Nabila berdiri, merapikan setelan kerjanya yang kini tampak agak kusut. Ia tidak punya waktu untuk menangis. Ia harus segera menuju Mapolres untuk memberikan semangat pada Arga, lalu ia harus terbang ke Surabaya.
Arga dibawa kembali ke ruang pertemuan. Wajahnya terlihat jauh lebih kuyu. Ada lebam baru di sudut matanya, sepertinya narapidana lain telah memberikan sambutan bagi seseorang yang dituduh sebagai predator seksual.
"Mas! Apa yang terjadi dengan matamu?" Nabila memekik cemas.
"Tidak apa-apa, Nabila. Hanya sedikit perkenalan di dalam," Arga mencoba tersenyum pahit. "Bagaimana di luar? Apa media masih menyerang kita?"
Nabila menggenggam tangan Arga melalui celah di bawah kaca. "Mas, aku menemukan sesuatu. Nama 'Hendri' di Surabaya. Siska mungkin pernah melakukan ini sebelumnya. Aku akan pergi ke sana hari ini."
Arga menatap Nabila dengan penuh kekhawatiran. "Nabila, ini berbahaya. Siska punya orang di mana-mana. Jika dia tahu kau sedang menggali masa lalunya, dia tidak akan tinggal diam."
"Aku tidak takut lagi, Mas. Dia sudah mengambil rumah kita, pekerjaan kita, dan kebebasanmu. Dia tidak punya apa-apa lagi untuk diambil dariku kecuali nyawaku, dan aku tidak akan memberikannya dengan mudah."
Nabila berdiri saat petugas memberikan isyarat bahwa waktu habis.
"Tunggu aku, Mas. Aku akan membawa bukti yang akan membungkam mereka semua," ucap Nabila dengan nada yang sangat yakin.
Arga melihat istrinya berjalan pergi. Untuk pertama kalinya sejak ia ditangkap, ada secercah harapan di matanya. Namun, ia tidak tahu bahwa di luar sana, Dante sudah menyiapkan jebakan lain yang jauh lebih kejam untuk menghalangi perjalanan Nabila ke Surabaya.
Nabila berdiri di bandara, menatap jadwal penerbangan, sementara dari kejauhan, seorang pria misterius berpakaian hitam sedang memperhatikannya sambil berbicara melalui ponsel. "*Target sedang menuju gerbang keberangkatan. Laksanakan rencana B*."
...----------------...
**Next Episode**....
Pengen nonjok mulutnya Siska sampai bonyok Gedeg banget melihat tingkah laku manusia satu ni ..memaksa kemauannya sendiri yg kelewat batas wajar 😤😏
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰