NovelToon NovelToon
Memorable Love

Memorable Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:131
Nilai: 5
Nama Author: Eva Hyungsik

Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CYTB

“Ini juga bukti beberapa rekaman CCTV. Mungkin saja berguna untukmu,” kata Rodez kembali sambil menyerahkan sebuah flashdisk pada Janice. 

“Terima kasih, aku akan tetap menyimpannya.” 

Rodez memperhatikan Janice dan kembali bersuara. “Jadi, apakah kamu akan memberitahukan Paman dan Bibi setelah acara nanti malam selesai?” tanya Rodez. 

Janice mendesah pelan, “Sepertinya tidak. Aku tidak ingin merusak acara penting mereka," jawab Janice. 

Janice tidak ingin egois dan merusak acara penting kedua orang tua Stendy. Ya, malam ini kedua orang tua Stendy akan merayakan hari pernikahan mereka. Walau acaranya sederhana dan hanya makan malam di villa utama. Janice yakin bukan hanya kerabat atau sahabat saja yang datang. Pasti kedua orang tua Stendy akan mengundang beberapa relasi bisnis mereka. Janice kembali menatap Rodez dan membuat pria itu menaikkan satu alisnya. 

“Aku masih butuh bantuanmu,” ucap Janice yang membuat Rodez memasang wajah serius. 

“Apalagi yang bisa aku bantu?” 

Janice tersenyum miring, “Pastikan Harisa bisa ikut dalam acara nanti malam,” 

Rodez terkejut, "Kau yakin?” tanya pria dengan ekspresi tidak percaya.

Janice mengangguk cepat. “Tentu saja,” jawabnya begitu meyakinkan. 

Janice memang sudah menyiapkan diri apapun yang terjadi di pertemuan besok. Sekilas ia teringat dengan apa yang dikatakan Briant kepadanya saat Freya dan James sedang mandi. 

“Apapun keadaan yang kamu hadapi sekarang, percayalah selalu ada seseorang yang sangat ingin kamu tetap kuat dan bahagia. Walaupun terkadang kamu merasa sendirian, ingatlah bahwa Tuhan selalu ada. Tuhan begitu  sayang sama kamu lebih dari siapapun,” 

Kata-kata Briant di akhir pembicaraan mereka berdua tadi siang benar-benar membekas dalam benak Janice. Janice tidak sendirian dalam hidup ini, jadi untuk sekedar kehilangan pria yang nyatanya tidak pernah mencintainya. Janice rasa itu bukan masalah besar, dan tidak akan merugikan dirinya di masa depan. 

Pagi menjelang, Stendy baru saja tiba di villa. Hal yang pertama dirasakan adalah kesunyian. Dahinya berkerut memperhatikan ke sekelilingnya. Namun, dia tidak menghiraukan dan memilih naik ke lantai atas menuju kamarnya. 

Setibanya di kamar Stendy langsung merebahkan tubuhnya. Kebetulan ini adalah hari Sabtu. Jadi dirinya tidak datang ke kantor. 

Baru memejamkan matanya, tiba-tiba suara ketukan terdengar dari pintu. Dengan perasaan malas Stendy pun bangkit dari posisinya. 

“Iya,” suaranya terdengar begitu lirih. 

Saat pintu terbuka ia mengerutkan dahinya. “Ada apa, Bi?” tanya Stendy. 

“Ah, itu Tuan. Apakah Nona Janice semalam pergi dengan anda?” tanya bibi Jane. 

Stendy semakin mengerutkan dahinya. “Tidak. Memangnya kenapa, Bi? Apa Janice tidak ada di villa?” cecar Stendy. 

Bibi Jane menjadi gugup dan merasa bersalah. “T-tadi Bibi coba membangunkan Nona Janice, tapi tidak ada jawaban. Sampai akhirnya Bibi masuk dan tidak melihat Nona Janice di dalam kamar. Bahkan kamarnya terlihat begitu rapi,” jawab bibi Jane berbicara tergagap. 

“Apa?” Stendy begitu terkejut, sampai dirinya bergegas menuju kamar Janice. 

Benar saja saat membuka pintu kamar yang biasa ditempati Janice. Kamar itu terlihat tidak berpenghuni, dan terlihat sangat rapi. Seolah tidak ada jejak Janice sama sekali di dalam kamar itu. 

Stendy meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Janice. Tetapi ponselnya tidak dapat dihubungi. Tiba-tiba saja ponselnya berdering setelah mencoba menghubungi Janice. Sebuah panggilan dari nomor Irene membuatnya segera menerima panggilan tersebut. 

“Halo, Bu.” 

“Dasar anak nakal! Kamu ini bagaimana, sih? Mengapa kamu membiarkan Janice datang ke villa sendirian? Jangan pernah mengabaikan Janice dan malahan sibuk dengan pekerjaanmu saja,” 

Mendengar ucapan sang ibu membuat Stendy merasa lega. Janice ternyata ada di villa utama. Akan tetapi hatinya masih merasa kesal, karena Janice tidak mengatakan apapun kalau dirinya ingin pergi menemui kedua orang tua Stendy. 

“Maafkan aku, Bu. Aku akan menyusul ke sana,” jawab Stendy memilih untuk mengalah pada sang ibu. 

“Baguslah. Cepat datang! Karena kamu dan Janice harus mencoba pakaian yang sudah Ibu pesankan untuk kalian berdua,” 

“Iya, Bu.” 

Stendy bernafas lega. Ia kembali menatap ke seluruh kamar sambil meremas kuat ponselnya. Lalu ia pun segera keluar dan menuju kamar. 

Di dalam kamar Stendy langsung melempar ponselnya di atas tempat tidur. 

Sambil menyugar rambutnya dia berkata. “Kau benar-benar membuatku kesal, Janice! Tidak bisakah kamu bicara padaku, bukan malah seperti ingin menghindariku!” pekik Stendy sambil berkacak pinggang. 

Stendy terdiam, seakan sedang memikirkan sesuatu. “Atau dia  memang sengaja menghindariku? Tapi, kenapa? Kenapa dia tiba-tiba ingin menghindariku?” 

Memikirkan itu membuat Stendy semakin kesal. Ia pun segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. 

Stendy sudah tiba di villa keluarga Canet sebelum acara dimulai. Pria itu berjalan masuk, beberapa maid segera membungkukkan tubuhnya menyambut kedatangan tuan muda mereka. Seorang kepala pelayan menyambut kedatangan Stendy, sambil membungkukkan tubuhnya sedikit dan berkata. 

“Selamat datang, Tuan.” 

“Hmm, dimana Ibu dan Ayah?” 

“Tuan dan Nyonya sedang berbincang dengan Nona Janice di ruang keluarga,” jawab Toni. 

Stendy terus berjalan menuju ruang keluarga, pria itu dapat mendengar suara kedua orang tuanya dan Janice sedang bercengkrama. Bahkan tawa Janice dan Irene pun terdengar begitu jelas. 

“Ah, itu dia Stendy sudah datang.” Fandy tersenyum saat melihat putranya sudah datang.

Janice hanya menoleh dan tersenyum pada Stendy, agar tidak membuat kecurigaan pada pria itu maupun Fandy dan Irene. Stendy tersenyum dan memeluk kedua orang tuanya bergantian. Namun, tatapannya tidak sengaja bertemu dengan mata Janice. Stendy menatap Janice begitu dingin, akan tetapi Janice malah terlihat tenang dan memilih mengalihkan tatapannya ke arah lain. 

“Ayo, duduk. Janice bilang kamu akhir-akhir ini sangat sibuk. Apakah ada kesulitan di perusahaanmu?” tanya Fandy pada Stendy. 

Stendy yang baru menjatuhkan bobot tubuhnya pun langsung menoleh ke arah Janice, sebelum ia menjawab pertanyaan sang ayah. 

“Ya, akhir-akhir ini aku memang sangat sibuk. Aku harus bolak balik mengurus perusahaan Ayah dan perusahaan milikku,” jawab Stendy. 

Fandy mendesah berat. “Bukankah Ayah sudah memberimu saran. Tapi kamu tetap ingin menjalankan perusahaan kamu itu,” kata Fandy menatap putranya begitu tegas. 

Stendy pun mendesah pelan. “Aku juga sudah memberikan alasan pada Ayah, mengapa aku ingin tetap mempertahankan perusahaan yang telah aku dirikan sendiri,” Stendy kembali menjawab. 

Irene merasakan aura tegang di antara anak dan ayah itu. Ia pun berdehem dan mencairkan suasana. 

“Apa kamu sudah sarapan?” tanya Irene. 

Stendy menatap ke arah Irene dan tersenyum sambil menggeleng. “Aku tidak sempat sarapan. Karena pagi ini aku tidak menemukan kucingku di villa,” jawab Stendy sambil melirik tajam ke arah Janice. 

Irene yang paham maksud sang anak pun, hanya bisa mengulum senyumnya. 

“Janice, tolong kamu temani Stendy untuk sarapan.” Irene memberi kode pada Janice. 

Janice mengangguk dan tersenyum. “Iya, Bu.” Janice pun segera berdiri dan menoleh ke arah Stendy. 

“Ayo,” ajak Janice pada Stendy. 

Tatapan Stendy masih begitu dingin pada Janice. Tanpa bersuara ia pun segera bangun, dan pamit pada kedua orang tuanya. 

Sepeninggalnya Janice dan Stendy, tinggallah Fandy dan Irene di dalam ruangan tersebut. Irene menatap sinis pada suaminya. 

“Sudah aku katakan berkali-kali padamu untuk tidak menyinggung masalah perusahaan pada Stendy. Tapi kamu malah terus menyinggungnya,” protes Irene pada suaminya. 

“Maafkan aku,” jawab Fandy sambil menghela nafasnya. 

“Malam ini adalah malam istimewa kita. Jangan sampai kamu membuat kesalahan. Aku tidak mau kamu membahas masalah perusahaan pada Stendy,” kata Irene memberi peringatan pada suaminya lagi. 

“Iya, aku janji. Maafkan aku, ya.” Fandy menggenggam tangan istrinya. “Tadi aku hanya khawatir pada Stendy. Dia bekerja begitu keras dan  harus mengurus dua perusahaan, itulah yang membuatku khawatir kepadanya. Aku takut dia kelelahan dan jatuh sakit,” Fandy memberi alasan pada sang istri, agar Irene tidak salah paham dengannya lagi. 

“Aku paham dengan kekhawatiran dirimu terhadap kondisi Stendy. Tapi aku yakin selama ada Janice di sisi Stendy, anak kita itu tidak akan kelelahan atau sakit. Karena Janice selalu memperhatikan kesehatan dan juga pola makan Stendy,” ujar Irene yang membuat Fandy manggut-manggut.

Memang benar apa yang dikatakan isterinya itu. Memang selama Janice bersama Stendy, kehidupan dan kesehatan Stendy semakin baik. Karena bagaimanapun juga Stendy memiliki riwayat sakit lambung. 

Di meja makan Janice melayani Stendy seperti biasa, dengan begitu terampil. Stendy diam, namun matanya terus memperhatikan gerakan tangan yang dilakukan Janice saat melayaninya. 

“Silakan dinikmati,” ucap Janice sambil mendudukkan tubuhnya. 

Stendy tetap diam, dia memandangi hidangan di depannya itu. Lalu melirik ke arah Janice dengan satu alis yang terangkat. 

“Kau sudah sarapan?” tanya Stendy. 

“Hmm, sudah.” 

Stendy semakin mengerutkan dahinya mendengar nada bicara Janice yang terdengar biasa saja. Ia memperhatikan Janice yang kini sedang sibuk dengan ponselnya. Stendy yang sejak pagi sudah dibuat kesal oleh Janice pun semakin kesal, karena merasa sedang di cuekin oleh Janice. 

Prak…

Janice menghentikan gerakan jarinya yang sedang berselancar di layar ponsel, lalu melirik ke arah Stendy. 

“Ada apa? Kau tidak suka dengan makanannya?” tanya Janice dengan bingung. 

Bukankah itu menu sarapan yang selalu dimakan Stendy, dan Janice juga tahu itu makanan kesukaan pria itu. Stendy mendengus remeh sambil tertawa kecil. 

“Tidak ada yang tidak aku sukai dari makanan ini. Semuanya aku suka,” jawab Stendy dengan suara datarnya. 

Janice menaikkan satu alisnya. “Lalu, mengapa kamu bersikap seolah tidak menyukai makanan itu?” tanya Janice yang masih belum menyadari kesalahannya. 

Stendy semakin tertawa remeh dan menatap Janice dengan tatapan sinis. 

“Kamu yang bermasalah. Tidak biasanya disaat kau menemaniku makan kau malah sibuk dengan ponselmu itu.” 

Perkataan Stendy membuat Janice semakin mengerutkan dahinya. 

Bukankah kamu selalu mengabaikan setiap kata yang keluar dari bibirku? Dan malahan sibuk dengan ponselmu," gumam Janice dalam hatinya.  

Stendy menatap tajam dengan penuh rasa kesal dan marahnya pada Janice. Pria itu bahkan sudah merasakan ada sikap Janice yang mulai berubah. Janice tidak peduli dengan tatapan dan rasa kesal yang sedang Stendy rasakan saat ini. Janice tidak  ingin melakukan hal bodoh lagi. Dimana dirinya harus menjatuhkan harga dirinya hanya untuk minta maaf dan membujuk Stendy, agar pria itu tidak marah atau kesal padanya lagi. 

“Kalau kamu merasa risih akan keberadaanku di sini. Sebaiknya aku pergi,” Janice pun bangun dari kursi dan hendak meninggalkan Stendy sendirian. 

Namun, tangannya langsung di cekal oleh Stendy membuat wanita itu tidak siap dan terhuyung, jatuh ke pangkuan Stendy. Tatapan keduanya bertemu, Janice dapat melihat tatapan dingin yang dipenuhi oleh kemarahan yang tertahan dalam diri Stendy. 

Janice segera bangkit dan sedikit mendorong tubuh Stendy. Janice merapikan pakaiannya dan berkata. 

“Aku akan ke kamar. Sebaiknya kamu habiskan sarapanmu, jangan sampai asam lambung kamu kumat karena tidak sarapan.” Janice segera meninggalkan Stendy sendirian di meja makan. 

Stendy mengepalkan tangannya melihat reaksi Janice seperti itu. Sikap Janice mulai terasa asing bagi Stendy. Ia menatap kepergian Janice dengan kesal. Akan tetapi, hati kecilnya merasa senang sebab Janice masih memperhatikan kesehatannya. Stendy kembali menatap makanannya dan dengan terpaksa ia kembali menghabiskan sarapannya. 

Malam pun tiba, semua tamu sudah berkumpul di aula villa utama. Seperti diawal, pertanyaan tersebut hanya dihadiri oleh keluarga, teman dan beberapa rekan bisnis Fandy dan Irene saja. Maka dari itu acaranya hanya diadakan di aula yang ada di villa mereka. Suka tersebut cukup luas dan mampu menampung orang lebih dari dua ratus. 

Di sisi lain, Owen dan Yohan baru saja tiba. Mereka tidak datang hanya berdua, tapi bersama Harisa yang dibawa oleh Yohan. Stendy cukup terkejut melihat kedatangan Harisa. Ia pun segera bertanya pada Rodez. 

“Mengapa Harisa ada disini?” bisik Stendy pada Rodez. 

“Harisa datang bersama Yohan. Seharusnya kamu bertanya pada Yohan, bukan denganku.” Rodez menjawab kembali dengan berbisik. 

Stendy mendengus mendengar jawaban Rodez. Sedangkan Janice yang tidak jauh dari posisi Stendy hanya bisa menyeringai melihat kepanikan Stendy. 

Harisa datang sambil melingkarkan tangannya di lengan Yohan. Keduanya berjalan mendekat ke arah Fandy dan Irene yang sedang menyapa para tamunya. 

“Selamat malam Paman, Bibi,” sapa Yohan terlebih dahulu. 

Irene dan Fandy pun menoleh dan saat itu juga senyum keduanya pun memudar ketika melihat sosok wanita masa lalu putranya itu. 

“Ah, Yohan. Apa kabar?” tanya Fandy bersikap ramah dengan Yohan. 

Yohan tersenyum dan mengangguk. “Kabar baik Paman, Bibi. Oh, ya, selamat atas hari jadi pernikahan kalian. Aku doakan Paman dan Bibi langgeng terus sampai tua nanti,” jawab Yohan. 

“Terima kasih atas doanya, Yohan,” kata Irene yang juga berlaku ramah pada Yohan. 

“Paman, Bibi, apa kabar?” 

Irene dan Fandy menoleh ke arah Harisa dan menatapnya dengan tatapan tidak suka. 

“Hmm, seperti yang kamu lihat.” Irene menjawab dengan nada sinis. 

Yohan paham dengan situasi saat ini. Ia pun memilih untuk menengahi dan berkata. 

“Ah, ya, Paman, Bibi. Harisa baru saja kembali beberapa hari yang lalu. Kebetulan hari ini adalah hari bahagia kalian, jadi aku mengajaknya untuk datang ke acara ini untuk kembali silaturahmi dengan kalian dan yang lainnya,” ucap Yohan yang langsung mendapat tatapan dingin dari Fandy. 

“Oh, begitu. Tapi sepertinya itu tidak perlu kamu lakukan, Yohan. Apalagi sekarang Stendy sudah memiliki Janice. Kelak Janice lah yang akan menjadi menantu di keluarga kami,” Irene langsung menjelaskan agar Yohan sadar betul bahwa diantara Stendy dan Harisa sudah tidak ada hubungan apapun. 

Yohan merasa tidak enak setelah mendengar ucapan Irene. Pria itu pun, langsung tersenyum canggung. Sementara Harisa sudah mengepalkan kedua tangannya, ia tahu kalau kedua orang tua Stendy begitu membenci dirinya dan sangat tidak menyukainya sejak dahulu. Bahkan ketika Harisa dan Stendy masih berstatus pacaran pun, baik Irene maupun Fandy sangat tidak menyukai Harisa. 

“I-iya, Bibi. Eum, kalau begitu kami ke sana dulu. Ingin menyapa teman yang lainnya,” Yohan segera mengajak Harisa untuk pergi dari hadapan Irene dan Fandy. 

Sepeninggalnya yohan dan Harisa. Irene langsung menatap Fandy dan berkata. “Sayang, aku tidak ingin wanita itu mengganggu hubungan Stendy dan Janice,” kata Irene dengan sorot mata penuh kebencian pada Harisa. 

“Kamu tenang saja, sayang. Aku akan  mengawasi gerak gerik Harisa dan keluarganya,” jawab Fandy. 

Yohan dan Harisa berjalan menghampiri Stendy dan Janice yang sedang berbincang dengan rekan bisnisnya. Stendy terkejut saat tiba-tiba keduanya sudah berada di dekatnya. Namun, ekspresi itu hanya sesaat. 

“Halo, Janice. Apa kabar?” Yohan berpura-pura menyapa Janice. 

Janice cepat tanggap pun membalas sapaan Yohan sambil tersenyum lembut. Harisa melihat Janice merangkul lengan Stendy dengan mesra pun mengeratkan genggaman tangannya pada gaunnya. 

“Baik. Wah, sepertinya malam ini kamu datang bersama kekasihmu, ya. Boleh aku berkenalan dengannya?” tanya Janice dengan ramah. 

“Tentu saja boleh, tapi dia bukan kekasihku. Dia hanya temanku saja,” jawab Yohan. “Namanya Harisa. Harisa ini adalah Janice, dia…” 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!