Di balik senyumnya yang lembut dan rumah tangga yang terlihat harmonis, Kiandra menyimpan luka yang tak kasat mata. Lima tahun menikah, pengorbanan dan cintanya pada Adam Mahendra, suaminya, seakan tak berarti.
Nadira, wanita manipulatif yang datang dengan sejuta topeng manis dan ambisi untuk merebut apa yang bukan miliknya.
Awalnya Kiandra memilih diam, berharap badai akan berlalu. Namun ketika suaminya mulai berubah, ketika rumah yang dibangunnya dengan cinta hampir runtuh oleh kebohongan, Kiandra sadar diam bukan lagi pilihan.
Dengan hati yang patah namun tekad yang utuh, Kiandra memulai perjuangannya. Bukan hanya melawan Gundik yang licik, tapi juga melawan rasa sakit yang suaminya berikan.
Di tengah air mata dan pengkhianatan, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Harga diri, dan cinta yang layak di perjuangkan.
Kiandra kembali membangun karirnya, membuat gundik suaminya semakin tidak setara dalam segala hal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Waktu seolah berlari tanpa menoleh, meninggalkan jejak-jejak sunyi di antara detik yang terus berdetak. Tanpa terasa, malam pun datang membawa agenda perpisahan singkat yang selalu terasa panjang bagi mereka yang ditinggalkan.
Mobil berwarna hitam itu melaju tenang di jalanan menuju bandara. Lampu-lampu kota berderet seperti bintang yang jatuh ke bumi, memantul di kaca jendela. Di kursi belakang, Zayyan duduk di pangkuan Adam, kedua tangannya melingkar erat di leher sang ayah seolah takut jika dilepaskan sedikit saja, Adam akan benar-benar menghilang.
Kiandra yang duduk di kursi samping Adam sesekali melihat ke arah mereka. Hatinya terasa hangat sekaligus nyeri melihat betapa putranya begitu bergantung pada Adam. Sejak sore tadi, Zayyan sudah menolak keras ketika Adam melarang mereka ikut mengantar ke bandara. Tangis bocah itu pecah tanpa bisa dibendung, lengkap dengan wajah memerah dan mata berkaca-kaca.
Awalnya Adam bersikeras. Ia tak ingin suasana perpisahan menjadi berat, apalagi untuk anak seusia Zayyan. Namun siapa yang mampu menolak permintaan bocah kecil dengan mata bulat penuh harap itu? Pada akhirnya, Adam mengalah, seperti biasa.
Kini, Zayyan memainkan jambang Adam dengan jemari kecilnya, menarik-narik pelan sambil mendongakkan wajahnya.
“Daddy jangan lama-lama pelginya. Kalau nda pulang-pulang, nanti Zay culuh mommy cali daddy balu buat gantiin daddy,” ancamnya polos, tapi terdengar sangat serius.
Adam langsung menoleh, memasang wajah tidak terima. “Mana boleh begitu. Mommy itu punya daddy, orang lain tidak boleh memilikinya,” serunya, nada suaranya dibuat tegas meski sudut bibirnya nyaris tersenyum.
“Boleh lah, ciapa culuh daddy nda pelnah pulang.” Zayyan mendengus kecil, lalu memalingkan wajahnya sebentar sebelum kembali menatap Adam.
Adam terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. Tangannya mengusap punggung kecil putranya dengan lembut. “Daddy tidak pulang bukan karena bermain, boy. Daddy bekerja. Nanti kalau sudah besar, kamu akan tahu,” ucapnya pelan, mencoba menjelaskan dengan bahasa yang bisa dipahami anak seusia Zayyan.
Namun bocah itu memang terlalu cerdas untuk sekadar menerima jawaban singkat.
“Oma juga kelja kok, tapi oma pulang telus nda cepelti daddy. Cibuk” sahut Zayyan cepat, alis kecilnya berkerut.
Ucapan itu membuat Adam kehilangan kata-kata. Ia melirik Kiandra yang ikut terdiam, lalu kembali menatap ke depan. Ada jeda sunyi beberapa detik di dalam mobil, hanya diisi oleh suara mesin dan lalu lintas malam.
Zayyan tak tahu, atau mungkin belum sepenuhnya mengerti bahwa tidak semua pekerjaan memberi ruang yang sama. Orang tua Kiandra, terutama Galuh, memang masih aktif bekerja meski usia tak lagi muda. Mereka memiliki perusahaan besar, bahkan lebih besar dari milik Adam. Namun Galuh selalu pulang setiap sore, memilih rumah dan keluarga sebagai batas akhir dari kesibukan.
Adam tahu, perbandingan itu adil di mata seorang anak, tapi terasa menampar bagi seorang ayah.
Kiandra menarik napas dalam-dalam, lalu berusaha mencairkan suasana. Tangannya terulur mengusap rambut Zayyan. “Zay, daddy pergi cuma sebentar. Nanti pulang bawain oleh-oleh,” ujarnya lembut.
Zayyan mengangguk pelan, tapi pelukannya justru semakin erat. Kepalanya bersandar di dada Adam, mendengarkan detak jantung ayahnya yang stabil, irama yang selalu membuatnya merasa aman.
Adam menunduk, mengecup kening putranya dengan penuh rasa bersalah. Dalam hati, ia berjanji, apa pun yang terjadi, ia akan selalu berusaha pulang. Karena bagi Zayyan, pulang bukan sekadar soal jarak, melainkan soal hadir, sesuatu yang tak bisa digantikan oleh siapa pun.
*****
Selang beberapa menit kemudian, mobil yang mereka tumpangi akhirnya memasuki area bandara. Suasana di luar tampak sibuk meski hari sudah larut. Deretan kendaraan keluar-masuk tanpa henti, sementara orang-orang berlalu-lalang dengan wajah lelah bercampur harap. Lampu-lampu terang bandara menyinari setiap sudut, membuat malam terasa tak lagi gelap.
Adam turun lebih dulu dari mobil. Dengan gerakan sigap, ia menggendong Zayyan yang kini setengah mengantuk, kepalanya bersandar lemah di bahu sang ayah. Kedua mata bocah itu masih terbuka, berusaha melawan kantuk seolah takut jika memejamkan mata, sang daddy akan menghilang. Tangan kecilnya tetap mencengkeram kerah jas Adam.
Kiandra menyusul turun, menarik koper milik Adam dari bagasi. Raut wajahnya tenang, namun sorot matanya menyimpan banyak hal yang tak terucap. Ia berjalan di samping Adam, menyesuaikan langkah, sesekali melirik Zayyan yang tampak semakin lemas di gendongan.
“Di mana Pandu? “Sudah tiba atau belum?”” tanya Kiandra sambil menoleh ke sekitar, matanya menyapu area keberangkatan yang cukup ramai.
Adam mengangguk kecil. “Dia sudah berada di ruang tunggu,” jawabnya singkat, namun jelas.
Kiandra mengangguk paham. Tanpa banyak bicara lagi, mereka melangkah masuk ke dalam bandara. Suara pengumuman penerbangan bersahut-sahutan, berpadu dengan langkah kaki para penumpang dan derit roda koper yang diseret. Udara dingin dari pendingin ruangan menyambut mereka, membuat Kiandra merapatkan jaketnya.
Langkah mereka menyusuri lorong menuju ruang tunggu terasa berat, seolah setiap meter yang dilewati mendekatkan mereka pada perpisahan.
Adam sesekali menunduk, mengusap punggung Zayyan dengan lembut. Bocah itu menguap kecil, lalu kembali memeluk leher ayahnya dengan erat.
Tak lama kemudian, sosok Pandu terlihat dari kejauhan. Asisten kepercayaan Adam itu berdiri tak jauh dari deretan kursi ruang tunggu, memeriksa ponselnya dengan wajah serius. Begitu matanya menangkap kehadiran Adam, Pandu segera menyimpan ponsel dan melangkah cepat menghampiri.
Namun langkahnya sedikit melambat ketika menyadari Kiandra berjalan di samping Adam. Ada keterkejutan yang tak bisa ia sembunyikan dari wajahnya. Pasalnya, sebelumnya Adam sama sekali tidak memberi tahu bahwa Kiandra akan ikut ke bandara.
“Nyonya Kiandra, Anda ikut juga?” tanya Pandu sopan, matanya bergantian menatap Adam dan Kiandra.
Kiandra tersenyum tipis, senyum yang hangat namun sederhana. “Oh… tidak, saya hanya mengantar saja.” jawabnya lembut.
Ia lalu menyerahkan koper Adam kepada Pandu. Jemarinya melepas gagang koper itu perlahan, seolah enggan benar-benar melepaskannya. Pandu menerima koper tersebut dengan sigap, meski sorot matanya masih menyimpan sedikit kebingungan.
Zayyan bergerak pelan dalam gendongan, matanya setengah terbuka. Ia menatap sekeliling dengan wajah polos, belum sepenuhnya mengerti mengapa tempat ini selalu menjadi saksi perpisahan.
Kiandra menatap Adam dan putranya, hatinya bergetar. Ia tahu, setelah ini, waktu mereka akan terpotong oleh jarak dan kesibukan. Namun malam ini, setidaknya, mereka masih berdiri bersama, sebelum akhirnya harus saling melepas dengan senyum yang dipaksakan dan doa yang diam-diam dipanjatkan.
"Kapan pesawatnya akan berangkat?" tanya Kiandra.
"Satu jak lagi, nyonya" jawab Pandu.
Kiandra mengangguk, dia beralih menatap ke arah suaminya yang menggendong sang putra.
"Zayyan sama mommy ya, daddy sebentar lagi mau berangkat" bujuk mommy.
"Iya mommy" jawab Zayyan dan merentangkan tangannya berlaih ke gendong mommy nya.
"Salim sama daddy dulu, setelah ini kita pulang" ucap Kiandra.
Zayyan mengangguk patuh, dia mencium punggung tangan daddy nya. "Daddy hati-hati ya, jangan lupa kabalin Zay" ucapnya lirih.
"Iya boy, kamu jadi anak baik ya, jangan buat mommy kesal" pesan Adam.
Zayyan mengangguk mengerti.
Kini giliran Kiandra mencium tangan suaminya, Adam memeluknya, dan menciumi wajah istrinya.
"Jaga diri baik-baik" ucap Adam.
"Eum" jawab Kiandra.
Kiandra melambaikan tangannya sambil menjauh meninggalkan suaminya. Dia keluar bandara menuju ke mobilnya yang sudah menunggunya di depan.
Saat hendak keluar pintu bandara, tak sengaja Kiandra berpapasan dengan Nayla yang sedang berjalan sambil menarik koper.
"Itu bukannya Nayla yang berada di foto Marsha waktu itu ya? Untuk apa dia berada di sini? Apa mungkin dia juga ingin melakukan penerbangan juga?"