Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.
Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.
Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.
Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Rahasia di Balik Rembulan
Malam yang petang menyelimuti Ibu Kota Astagina, namun gairah dari hasil babak penyisihan tadi sore masih terasa hangat di setiap sudut kedai.
Di sebuah penginapan kecil yang terletak di pinggiran kota, Wira Wisanggeni sedang berbaring santai di atas atap, menatap bintang-bintang sambil mengunyah sisa ubi bakar yang kini sudah dingin.
"Ternyata tidur di atas atap lebih enak daripada di dalam kamar yang pengap," gumamnya menikmati sisa ubinya.
Namun, ketenangan Wira terusik oleh suara langkah kaki yang sangat halus di bawah.
Seorang pria tua dengan jubah mewah yang ternyata adalah salah satu tetua penguji dari kompetisi tadi, kini tampak berdiri di kegelapan gang, menatap ke arah atap tempat Wira berada.
Pria itu adalah Ki Ageng jaya, seorang ahli bela diri tingkat tinggi yang bertugas mengawasi bakat-bakat baru.
Ki Ageng Jaya mengernyitkan dahi. Ia mencoba memindai aliran energi dalam yang ada di tubuh Wira dari jarak jauh.
Di dunia ini, tingkatan kanuragan dibagi menjadi beberapa ranah utama yaitu
Ranah Dasar, Ranah Perunggu, Ranah Perak, Ranah Emas, hingga Ranah Kedewaan yang hanya menjadi dongeng belaka.
Dan setiap tingkatan memiliki jarak yang cukup jauh serta kuat, sehingga membuat setiap pendekar juga merasakan tekanan ketika ingin menembus tingkatan yang lebih tinggi.
"Aneh... sangat aneh," bisik Ki Ageng Jaya pada dirinya sendiri.
"Dilihat dari auranya, bocah ini hanya berada di Ranah Dasar tingkat awal. Seorang Siswa yang bahkan belum becus mengumpulkan energi murni ke ulu hati. Bagaimana mungkin seorang Siswa mampu memukul mundur murid Perguruan Macan Hitam yang sudah mencapai puncak Ranah Perunggu hanya dengan satu ketukan ranting pohon?" lanjut gumamnya dengan tatapan yang kebingungan.
Pria tua itu terkejut. Logika bela diri yang ia pelajari selama puluhan tahun seolah runtuh.
Biasanya, perbedaan satu ranah saja sudah seperti jurang antara bumi dan langit. Namun Wira, yang tampak seperti pengemis kecil tanpa kultivasi yang berarti, memiliki kekuatan yang melompati logika tersebut.
Ia tidak tahu bahwa di dalam tubuh Wira, energi dewa milik Dewi Shinta Aruna telah menyegel kekuatan aslinya agar tidak menarik perhatian makhluk-makhluk surgawi terlalu dini.
Namun meskipun telah di segel, kekuatan Wira masihlah sangat kuat, karena dengan umurnya yang masih sangat muda, kemungkinan ia sudah mencapai tingkatan ranah kedewaan berkat bimbingan Dewi Shinta Aruna yang selalu memberikan energi Dewanya secara diam-diam saat Wira tidur, dan itu sudah berlangsung selama Wira tinggal di hutan terlarang.
Bahkan untuk saat ini saja, tanpa kekuatan tenaga dalamnya, dan hanya menggunakan kekuatan fisiknya saja sudah setara dengan ranah perak.
"Siapa di sana? Kalau mau minta ubi, tinggal bilang saja, tidak usah sembunyi seperti kucing mau mencuri ikan," celetuk Wira tiba-tiba tanpa menoleh.
Mendengar teriakan Wira secara tiba-tiba itu, membuat Ki Ageng Jaya tersentak.
Kepekaan bocah ini luar biasa. Tanpa menjawab, pria tua itu menghilang ke dalam kegelapan, menyisakan keraguan yang mendalam di hatinya tentang identitas asli sang pemuda lusuh itu.
Wira pun hanya menghela napas setelah merasakan kepergian sosok itu, ia kemudian hendak kembali memejamkan mata saat sebuah aroma harum bunga melati menyentuh indra penciumannya.
Aroma yang sangat ia kenal itu membuatnya seketika bangkit berdiri dan melompat turun dari atap dengan gerakan yang hampir tak bersuara.
Di balik pohon beringin besar di depan penginapan, kini terlihat seorang wanita dengan jubah biru tua sedang berdiri.
Ketika wanita melihat Wira sudah turun dan berada tepat di hadapannya, ia kemudian membuka penutup kepalanya, sehingga tampaklah sebuah wajah cantik Sekar Arum.
Namun, ada yang berbeda. Sorot matanya kini tajam, dan di pinggangnya terselip sepasang pedang pendek yang memancarkan energi dingin.
"Lama tidak bertemu, bocah hutan yang menyebalkan," ucap Sekar dengan senyum tipis menyapa.
Wira tertegun sejenak, lalu tawa komedinya pecah.
"Wah! Hahaha... Kakak Cantik yang dulu hobi mencari jamur sekarang sudah jadi pendekar? Apa sekarang Kakak mencari jamur menggunakan pedang?" canda Wira yang membuat Sekar menggelengkan kepalanya.
"Ternyata sifatnya masih sama saja" gumamnya dalam hati.
Sekar pun kemudian mendekat dan memukul pundak Wira dengan akrab.
"Diam kau! Setelah kejadian itu, hidupku berubah. Prajurit-prajurit itu ternyata anggota faksi hitam yang mencari budak. Aku diselamatkan oleh seorang guru dari Perguruan Langit Biru. Aku berlatih mati-matian agar tidak ada lagi yang bisa menyeretku seperti hari itu." ucap Sekar dengan senyumnya yang sangat indah.
Wira bisa merasakan aura Sekar. Ia telah mencapai Ranah Perak tingkat menengah, sebuah pencapaian luar biasa untuk gadis seusianya.
Bahkan ini termasuk pencapaian yang bisa di bilang tidak mungkin, karena hanya dalam waktu 2 tahun, wanita ini bisa menembus 3 ranah tingkatan sekaligus.
Meskipun begitu, Wira tidak memperdulikannya, ia justru terlihat sangat senang.
"Wira, kenapa kau di sini? Ikut kompetisi ini sangat berbahaya," suara Sekar berubah serius.
"Kerajaan Astagina tidak sesederhana yang kau lihat. Raja sedang mencari tumbal pendekar muda untuk memperkuat segel kuno di bawah istana. Kau harus pergi sebelum babak final dimulai." lanjutnya.
Wira memainkan tongkat kayu lusuhnya, memutarnya di sela-sela jari dengan lincah. "Pergi? Aku baru saja mulai menyukai nasi bungkus di kota ini, Kak. Lagi pula, ada hutang darah yang harus dibayar di istana itu. Ayah dan ibuku tidak akan tenang kalau aku hanya duduk diam di hutan."
Sekar terdiam. Ia tahu ia tidak bisa menghentikan Wira.
"Kalau begitu, aku akan mengawasimu. Jangan mati, atau aku akan memasak tongkat kayumu itu jadi kayu bakar."
"Siap, Kakak Cantikku!" jawab Wira sambil hormat dengan gaya yang konyol dan menggoda.
Tiba-tiba, suasana berubah dingin. Wira menatap ke arah istana yang menjulang di kejauhan. Ia merasakan sebuah getaran energi yang sangat jahat merayap dari bawah tanah kerajaan. Itu bukan energi manusia, juga bukan energi siluman biasa. Itu adalah energi yang pernah diceritakan Gurunya sebagai pertanda awal munculnya Konflik Semesta.
Berkat energi yang selalu di berikan Gurunya, Wira bisa merasakan energi asing itu.
Tanpa disadari oleh siapapun, termasuk para dewa di langit, pergerakan Wira malam ini telah menggeser satu takdir.
Keputusannya untuk tetap tinggal di Astagina mulai menggetarkan dinding-dinding pemisah antara alam manusia, alam iblis, dan alam dewa.
"Dunia ini memang kacau," gumam Wira pelan, matanya berkilat biru sesaat sebelum ia kembali tertawa menanggapi ocehan Sekar tentang betapa mahalnya harga bedak di ibu kota.
Pertemuan kembali ini adalah awal dari ikatan yang akan membawa mereka melintasi kerajaan-kerajaan besar, hingga suatu saat nanti, nama Wira Wisanggeni akan terpahat di setiap batu peringatan sebagai Manusia yang Mengguncang Langit.
......................
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁