Dia menjadi pengganti posisi kakak nya untuk menikah dengan lelaki cacat. Lelaki cacat itu awal nya adalah pacar dari kakak nya sendiri. Sayang nya, karna kecelakaan yang membuat kaki lelaki itu lumpah. Itu menjadi penyebab kakak dari gadis itu memaksa adik nya menikah dengan pacar nya.
Bagai mana kisah gadis itu, setelah hidup sebagai pengganti pacar kakak nya. Ikuti terus kisah nya bersama Cahaya cibta pengganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
R07
Rina pun berjalan masuk, setelah di sambut dengan ramah dari Resti. Ia melihat sekeliling cafe, tidak ada Budi dan juga tidak ada Johan di sana.
"Di mana Johan dan Budi, Res?" kata Rina penasaran.
"Mereka sedang kepasar Rin, katanya ada banyak barang yang mau dibelikan. Makanya mereka pergi berdua dan meminta kita untuk beransur-ansur menyiapkan kotak-kotak nasi nya," kata Resti.
"Siapa sih yang pesan, kok mendadak banget?" kata Rina.
"Aku juga gak tahu Rin, yang aku tahu sih itu orang mau bagiin keanak jalanan. Minta doa agar anaknya baik-baik aja," kata Resti.
"Oh, ya sudah lah. Tidak penting juga kan, yang penting itu kita kerjakan pekerjaan kita. Buat pelangan tidak kecewa sama cafe ini," kata Rina penuh semangat.
Resti tersenyum manis melihat sahabatnya penuh semangat. Padahal saat datang tadi, ia merasa aneh melihat sabahatnya datang dengan wajah yang bagaikan punya masalah.
Ia tidak ingin menanyakan apa yang terjadi, karna belum tentu akan Rina jawab apa yang ia tanyakan.
***
Mereka berdua pun mengerjakan apa yang bisa dikerjakan. Sambil menunggu Budi dan Johan pulang dari pasar.
"Rin, apa acara kakak mu itu jadi di laksanakan bulan depan. Aku dengar kakak mu ingin mengadakan pesta yang sangat mewahkan." kata Resti.
"Tahu dari mana kamu Res, kalau kak Indah ingin mengadakan acara yang sangat mewah?" kata Rina menghentikan pekerjaannya.
"Yah, dari mana lagi Rin. Kamu kayak gak tahu aja kalau kakak mu mau nikah sama anak orang nomer satu di kota kitakan," kata Resti.
Rina diam saja, ia tidak menjawab apa yang Resti katakan. Ia sibuk melanjutkan memotong daun sayur yang akan di masak nanti. Mereka akan membuat nasi goreng yang di pesan oleh pelanggan.
***
Saat mereka asik mengerjakan apa yang bisa dikerjakan sebelum chefnya datang. Sambil sesekali mereka barengi dengan candaan. Tanpa mereka sadari, Johan dan Budi pun pulang dari pasar dengan membawa dua kantong besar bermacam-macam sayuran dan bumbu masak.
"Hei, kalian berdua ini asik ngerumpi aja ya. Gak lihat nih kami lagi repot bawain barang, bukannya bantuin malah asik ngerumpi," kata Johan.
"Ya ampun kak, maaf ya. Kitakan ngak tahu kalau kakak udah pulang," kata Resti sambil menghampiri kakaknya.
"Bagai mana mau sadar, kalian berdua asik ngobrol," kata Johan.
"Yah maaf, kamikan ngobrol biar gak terasa sunyi," kata Rina ikut bicara.
"Iya, mamang perempuan suka nya ngomong," kata Budi.
"Ini rumput ada aja ya, coba deh sesekali gak ikut bicarakan enak," kata Resti.
"Ikutkan enak, dari pada diam sendiri tanpa cerita," jawab Budi sambil senyum.
"Perdebatan di mulai," kata Rina dari arah belakang.
Mendengar apa yang Rina katakan, Resti dan Budi malah diam satu sama lain. Mereka tidak menjawab lagi, mereka sibuk dengan kerjaan mereka masing-masing.
Melihat hal itu, Johan tersenyum senang pada Rina.
"Tahu aja kamu bagai mana cara menghenti kan mereka berdua ya Rin," kata Johan.
"Yah, kalau gak dihentikan. Urusannya akan tambah panjang nanti, aku gak mau mendengarkan mereka berdebat terlalu lama," jawab Rina.
Johan kembali lagi tersenyum saat mendengar apa yang Rina katakan. Senyum yang selalu Rina tunggu. Namun sayangnya, senyum itu tidak bisa ia miliki. Karna orang yang ia kagumi saat ini sedang mengagumi orang lain.
Dulu pernah rasanya ingin Rina katakan apa yang ada dalam hati pada Johan. Hanya saja, hal itu tidak pernah ia lakukan karna harga dirinya yang begitu tinggi. Hingga pada suatu hari, Johan mendekatinya dan mengatakan pada Rina satu hal.
"Rina, tolong dekatkan aku sama kakak mu. Aku mohon, kamu bantu aku untuk mendapatkan kakak mu ya," kata-kata yang keluar dari mulut Johan saat itu, bagaikan petir yang tiba-tina menyambar tubuh Rina.
Namun walau pun begitu, ia tetap bersikap biasa-biasa saja. Malahan ia bersedia membantu Johan dekat sama kakaknya. Yang pada akhirnya, Johan hanya dijadikan Indah sebagai koleksinya saja.
Sampai saat ini, rasa itu tetap terkubur dalam hati Rina. Ntah kenapa, entah apa yang tidak menarik dari Rina. Selain dari dia tidak suka berdandan terlalu berlebihan, rasanya tidak ada yang kurang dari gadis cantik itu.
Bahkan, ia jauh terlihat lebih cantik dari kakaknya. Hanya saja, ia tidak terlalu suka jual tampang pada kaum laki-laki. Ia lebih suka berpakaian yang tidak terbuka. Ia tidak suka berpakaian yang serba seksi seperti kakaknya.
Kembali kepada saat Rina dan Johan masih di dapur. Rina terlihat melamun setelah Johan baru saja memberikan sebuah senyuman. Lalu, Johan lambai-lambaikan tangannya didepan wajah Rina yang tidak berkedip itu.
"Hei, kamu kok malah melamun sih," kata Johan sambil memegang bahu Rina.
Saat sentuhan itu mendarat di bahu Rina, ia kaget bukan main. Sontak, tubuhnya terperanjat karna kaget.
"Lho kamu kok kaget sih, makanya jangan banyak melamun kalau sedang kerja ya," kata Johan.
"Eh, maaf ya Johan. Aku gak melamun kok, hanya memikirkan sesuatu saja," jawab Rina.
"Apa bedanya melamun sama memikirkan sesuatu Adrina," kata Johan.
"Ya beda lah, jauh banget malahan bedanya," kata Rina.
"Ya udah deh, serah kamu aja lah. Kamu sama Resti itu sama aja ternyata," kata Johan.
Rina tersenyum manis, ia tidak bisa menjawab lagi apa yang Johan katakan. Memang benar, ia dan Resti sama aja. Ia tidak akan mau mengalah sama apa yang ia debatkan.
"Udah, ayo mulai masaknya. Kita cuma punya waktu empat jam untuk menyiapkan seratus pesanan nasi goreng kita," kata Johan.
"Ya kalau mau mulai, mulai aja lah. Yang dari tadi ngobrol itukan cuma kakak sama Rina. Kami udah mulai dari tadi juga kale," kata Resti yang tiba-tiba ikut bicara.
"Alah, kamu juga gak mulai-mulai pun dari tadi. Gak tahu apa yang kamu kerjakan, main aja mungkin," kata Johan.
"Iya nih, mana ada dia mulai kerjanya. Dari tadi juga cuma lipat-lipat kertas," jawab Budi pula.
"Eh, bisa gak ikut campur gak sih kamu rumput," kata Resti.
"Yah, mulai lagi deh," kata Rina dari samping.
"Mau debat apa mau masak nih?" kata Rina lagi.