Berawal disalahpahami hendak mengakhiri hidup, kehidupan Greenindia Simon berubah layaknya Rollercoaster. Malam harinya ia masih menikmati embusan angin di sebuah tebing, menikmati hamparan bintang, siangnya dia tiba-tiba menjadi istri seorang pria asing yang baru dikenalnya.
"Daripada mengakhiri hidupmu, lebih baik kau menjadi istriku."
"Kau gila? Aku hanya sedang liburan, bukan sedang mencari suami."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kunay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketakutan Disalahkan
Greenindia memacu skuternya dengan kecepatan tinggi, angin kering mengeringkan air mata di pipinya. Rasa sakit karena dipermalukan di depan ibunya dan penolakan dingin Nyonya Anderson terasa jauh lebih menusuk daripada ancaman Rex.
Ia tahu apa yang ia butuhkan. Dan ia tahu di mana menemukannya.
Begitu tiba di lantai dasar apartemennya, Greenindia langsung menuju Toko Tomi.
“Tomi, beri aku semua yang bisa kau berikan,” kata Greenindia, nadanya datar dan dingin.
Tomi menatap wajah Greenindia yang pucat dan mata yang bengkak. Ada bekas air mata kering di sudut matanya. Ia tidak perlu bertanya. Ia tahu, hari ini adalah hari yang buruk—atau mungkin hari peringatan.
“Green, kau tahu ini hari apa, kan?” Tomi meraih beberapa kaleng bir dan dua botol minuman beralkohol yang lebih keras. “Sudah cukup. Kau tidak terlihat sedang merayakan. Kau baru pulang kerja dan... kau tidak merespons pesanku tadi pagi.”
Greenindia hanya diam, tatapannya kosong, menatap deretan minuman di rak. Ia tidak merespons teguran Tomi. Ia juga tidak menanggapi kekhawatiran Tomi. Ekspresinya rumit, sebuah campuran rasa sakit yang dalam dan kekosongan yang menakutkan.
Tomi menghela napas, menyadari bahwa Greenindia sedang berada di batasnya. Ia tahu Greenindia tidak akan mengeluarkan sepatah kata pun saat dalam kondisi seperti ini.
“Baiklah, baiklah. Tujuh kaleng, dua botol. Totalnya…” Tomi menyebutkan harganya, lalu menatap Greenindia lama. “Jika terjadi sesuatu, telepon aku, Green. Aku serius.”
Greenindia hanya membayar tanpa bicara, mengangguk sedikit, dan bergegas pergi dengan kantong belanjaan penuh alkohol.
***
Greenindia sampai di unit apartemen kecilnya di lantai tiga. Ia masuk tanpa memedulikan Rex. Pintu apartemennya langsung mengarah ke ruang tamu kecil dengan sofa usang dan TV jadul, tetapi yang ia tuju adalah balkon kecilnya.
Balkon itu sempit, hanya cukup untuk satu kursi kayu tua yang menjadi singgasananya. Pemandangan di depannya bukanlah gedung pencakar langit yang mewah, melainkan deretan bangunan rendah, didominasi oleh sebuah toko buku usang di seberang jalan.
Pemandangan toko buku itu adalah bagian gelap Greenindia. Entah kenapa, ia pernah beberapa kali melihat ibunya diam-diam mengunjungi toko buku tersebut. Ini adalah satu-satunya tautan rahasia yang ia miliki dengan ibunya, sebuah kerinduan yang ia nikmati dalam kesepian.
Greenindia duduk di kursi kayu, membuka kaleng bir pertama, dan meneguknya dengan rakus. Ia mengabaikan Rex yang seharusnya berada di sofa—mungkin pria itu sedang tidur atau bersembunyi.
Tegukan demi tegukan, cairan pahit itu mulai meredam nyeri di dadanya. Ia tidak menangis, tapi matanya mulai berkaca-kaca saat ia menatap toko buku yang sepi. Malam ini adalah malam peringatan kematian Ayahnya, malam di mana ia kembali mendengar tuduhan itu.
Saat Greenindia mulai kehilangan kesadaran akibat alkohol yang ia konsumsi dengan cepat, pintu kamar perlahan terbuka.
Rex keluar dari kamar dengan kursi roda. Ia hanya mengenakan celana training hitam dan bertelanjang dada. Perban putih di kakinya menonjol kontras dengan kulitnya yang kecokelatan. Wajahnya terlihat letih dan sedikit terluka, sisa-sisa perkelahian di tebing yang baru saja ia alami.
Ia melihat Greenindia di balkon, dikelilingi kaleng-kaleng kosong.
“Kau sudah pulang?” tanya Rex, suaranya sedikit serak.
Tidak ada sahutan dari Greenindia. Rex menggerutu dan perlahan menghampiri, memastikan kondisi istrinya yang baru ia dapatkan secara ilegal.
Begitu Rex sampai di ambang pintu balkon, Greenindia tiba-tiba menoleh. Pandangannya kabur, terdistorsi oleh alkohol dan air mata.
“Kau… kau pencuri, kan?” tanya Greenindia, menunjuk Rex dengan kaleng bir yang tersisa.
Rex terkejut, hendak membuka mulut untuk bertanya apa yang ia curi.
Greenindia melambaikan tangannya di udara, melantur. “Kau mencuri Ayahku. Dan… dan… kau mencuriku, kan?”
Rex mengerutkan kening. “Kau sudah mabuk parah, Nyonya Carson.”
“Tidak! Aku tidak mabuk!” Greenindia membantah keras, lalu segera menghabiskan isi kaleng yang terakhir. Ia terisak. “Aku tidak pernah mabuk. Aku hanya… jujur. Kau pencuri.”
Greenindia kembali menatap Rex, dengan mata berkaca-kaca. Ia menyodorkan wajahnya ke depan, seolah ingin menyampaikan sebuah rahasia besar yang menyakitkan.
“Rex, kau… kau melamarku di tebing dengan sengaja, kan? Supaya kau bisa meninggalkanku sendirian di sana. Kau ingin aku mati, kan?”
Rex semakin bingung dengan pertanyaan itu, ia memilih untuk tidak menjawab omong kosong ini. Ia hanya ingin dia aman.
“Kau sudah mabuk. Lebih baik masuk ke rumah,” kata Rex tegas, berusaha terdengar seperti suami sungguhan. “Udara di luar sangat dingin.”
Greenindia menolak, menggeleng keras kepala. “Tidak mau! Ini tempatku.”
Rex menggeram, frustrasi dengan kekeraskepalaan wanita yang telah ia nikahi secara paksa ini. “Kenapa kau suka sekali dengan minuman pahit seperti itu? Rasanya seperti racun.”
Greenindia mengabaikan suaminya, kembali memiringkan kepalanya, matanya dipenuhi kesedihan yang tak terlukiskan.
“Rex,” panggilnya pelan. “Kalau kau… kalau kau mati di tebing malam itu… karena pisauku… Apakah kau… kau akan menyalahkanku?”
Pertanyaan itu menusuk, langsung ke jantung ketakutan Greenindia. Rex, yang sadar istrinya sudah mabuk parah dan berhalusinasi, memilih menjawab asal-asalan agar Greenindia mau masuk.
“Tentu saja,” jawab Rex, tanpa berpikir. “Karena kau membunuhku.”
Tiba-tiba, Greenindia terdiam. Ia menundukkan kepala, membiarkan rambutnya menutupi wajah. Bahunya mulai bergetar.
Tangisan Greenindia yang awalnya tertahan, perlahan berubah menjadi ratapan keras, isakan yang dipenuhi penderitaan dan penyesalan yang mendalam. Itu bukan tangisan amarah yang sering ia tunjukkan, tapi tangisan anak kecil yang terluka.
Rex terkejut. Ia tidak menyangka jawaban asal-asalannya akan memicu reaksi yang begitu kuat. Ia segera menghampiri, melupakan kakinya yang sakit.
“Hei! Hentikan. Aku hanya bercanda, Greenindia! Aku tidak mati. Hentikan tangisanmu!” perintah Rex.
Namun, tangisan istrinya semakin keras, melukai keheningan malam.
Rex akhirnya menyerah. Dengan nada yang lebih lembut, ia berkata, “Baiklah, baiklah! Aku tidak akan menyalahkanmu. Itu salahku sendiri karena berdiri terlalu dekat. Aku tidak menyalahkanmu. Jadi, berhentilah menangis.”
Ajaibnya, Greenindia mulai tenang. Tangisannya mereda menjadi isakan pelan. Matanya terpejam. Greenindia akhirnya tertidur.
“Greenindia? Jangan tidur di luar,” kata Rex, menyuruh.
Wanita itu tidak mendengarkan.
Rex kebingungan. Mustahil ia bisa mengangkat Greenindia dengan kondisi kakinya yang seperti ini. Lagi pula, apartemen ini kecil. Mereka tidak akan jauh. Ia membiarkan Greenindia tetap di kursi kayu itu, ditemani kehangatan bir yang diminumnya, dan membiarkannya tertidur.
Rex pincang kembali ke sofa di ruang tamu. Ia duduk, lalu melirik ke arah balkon. Greenindia masih di sana, tampak rapuh.
Meskipun ia berusaha untuk tidak peduli, ada sesuatu yang mengganggu Rex. Ia mulai merenungkan:
Siapa pencuri yang Greenindia maksud? Dan mengapa dia sangat takut akan disalahkan atas kematian seseorang di tebing itu? Rasa penasaran Rex semakin besar, mengalahkan rasa sakit di kakinya.
semangat up