Raka terlahir dari keluarga kaya raya.
Raka hidup bergelimang harta, dengan semua kekayaan yang ia miliki, raka menjadi semau mau nya, berfoya foya bahkan pergaulan nya sangat bebas.
Al hasil kedua orang tua nya tidak tahan terhadap diri nya kemudian mengirim raka ke kampung halaman sang nenek.
Di sanalah cerita di mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ril, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Akhir nya, bapak itu bersedia membantu raka untuk sekedar menumpang sampai tempat yang sedikit ramai.
“Perjalanan mu masih jauh nak, Masih butuh belasan jam lagi untuk sampai kampung itu, kampung itu berada di paling ujung, bapak hanya bisa memberikan tumpangan sampai ke desa nadi, dan selebih nya nanti kamu hubungi saja keluarga mu yang ada di desa sadap,untuk menjemput mu,” Ucap sang sopir
“Sebelum nya saya berterima kasih kepada anda pak karna anda bersedia membantu saya, Tapi saya tidak tau bagaiamana saya bisa menghubungi nenek saya, semua barang barang saya di ambil para begal, dompet, hp jam tangan semua nya di ambil, tidak ada yang tersisa, Semua kartu debit saya pun ludes di ambil, Saya kehilangan semua nya,” Sahut raka
“Kasihan sekali kamu nak, seharus nya mereka berdua yang sudah tau jalanan ini sepi dan sangat rawan, setidak nya mereka berhenti saja dulu di desa sebrang, dan kalian bisa melanjutkan perjalanan pagi hari nya,” Sahut pak sopir
“Entahlah pak, saya juga tidak tau, saya hanya ikut mereka, lagi pula saya orang baru jadi tidak tau apapun,” Sahut raka
“Kasihan sekali kamu nak, Kamu sudah kehilangan puluhan juta di tambah lagi begal itu berhasil melukai tangan mu,” Sahut pak sopir
“Puluhan juta?, Jam tangan saya saja harga nya 550jt pak, Ponsel saya 35jt, belum lagi uang yang ada di kartu debit saya,” Sahut raka
“Apa? jam tangan apa bisa sampai semahal itu? kamu pasti bukan dari keluarga sembarangan, Apa pekerjaan orang tua mu,” sahut pak sopir
“Ayah saya punya 5 prusahaan, Tiga di antara nya bergerak di bidang tambang batu bara, Satu nya bergerak di bidang properti, dan satu nya lagi bergerak dalam bidang kelapa sawit, Saya anak satu satu nya pak,” Sahut raka
“Kamu anak orang kaya, tapi kenapa kamu bisa sampai di tempat ini sendiri, apa papa kamu tidak berfikir untuk menyuruh orang lain mengawal mu sampai tujuan,” Sahut sang sopir
Raka terdiam, Benar apa yang di katakan oleh pak sopir.
Kenapa papa nha tidak menyuruh satu atau dua orang mengawal nya sampai tujuan.
Raka kembali kesal dengan kedua orang tua nya.
“Sudah jam 5 pagi, 2 jam lagi kita akan sampai di desa nadi, nanti kalian bertiga mampir saja di rumah bapak, Nanti saya carikan orang untuk menghantar kalian sampai desa tujuan,” Ucap pak budi sang sopir baik hati tersebut.
“Terimaksih banyak pak,“ Sahut raka.
Raka sangat mengantuk, al hasil dia pun tertidur.
Perjalanan masih panjang untuk sampai di kampung sang nenek.
*
Di rumah raka.
“Raka belum sampai di kampung, Tidak ada kabar dari orang yang menjemput raka ke bandara, Perasaan mama tidak enak pa, Bagaimana jika raka kenapa napa di jalan,“ Ucap mama eni
“Mama jangan panik, Mereka pasti akan baik baik saja, Mama pasti akan mempersiapkan semua nya,“ Sahut pak atta
“Papa, Mama benar benar khawatir, Jalanan menuju kampung mama sangatlah rawan, Jalan itu sudah terkenal berbahaya dari dulu, Papa lakukan sesuatu, mama benar benar khawatir,” Sahut mama eni
“Iya ma iya, mama tenang ya,” Sahut pak atta
“Bagaimana bisa mama tenang, Raka belum ada kabar, Ponsel nya mati, Lakukan sesuatu pa, jika sampai malam raka belum ada kabar, mama akan menyusul nya,“ Sahut mama eni
Pak atta kebingungan dengan istri nya, Namun benar apa yang di katakan oleh istri nya tersebut, seharus nya raka sudah sampai di kampung, kalau memang belum sampai pasti akan ada kabar dari dua orang jemputan nya.
Kita kembali pada raka.
“Diam kalian berdua, Kalian berdua sama hal nya dengan belatung, tidak berguna, sebaik nya kalian tidak usah menjemput ku, Kalian beban, benar benar tidak berguna,” Ucap raka menunjuk ke arah bobi dan juga dodi
Mereka berdua hanya bisa terdiam.
Raka kesal karna mereka berdua tidak ingin mencari solusi untuk keluar dari masalah yang tengah mereka hadapi, Di saat genting genting nya seperti itu, mereka berdua malah memilih untuk tidur.
“Nak maafkan bapak, bapak seperti nya tidak bisa menghantarkan kalian sampai ke tempat tujuan, Karna bapak sekarang harus pergi lagi ke kota waringin untuk menghantarkan sayur sayur ini,” Ucap bapak abud
“Apa tidak bisa besok saja pak menghantarkan sayur sayur itu, Kamu sangat butuh tumpangan,” sahut bobi
“Itu benar sekali pak, kami sangat butuh tumpangan, Kami baru saja terkena musibah, tolong kami pak, Tolong hantarkan kami, jika tidak bisa sampai ke desa sadap, cukup sampai mengkuru saja, di sana nanti kita cari tumpangan lagi,” Sahut dodi
“Berapa pendapatan anda jika pergi menghantar sayur sayur ini pak?, Saya batar 2× lipat, Cukup hantarkan kami pulang ke rumah,” sahut raka
“Maafkan bapak nak, bapak tetap tidak bisa, pelanggan bapak sudah menunggu semua,” Sahut pak abut
“Baik lah kalo begitu, 3× lipat, Saya siap membayar anda,” Sahur raka
“Maafkan saya nak, saya harus tetap pergi,” Sahut pak abud
“10× lipat, Penwaran terakhir saya, jika and tidak mau, saya akan mencari orang lain,” sahut raka
Pak abud diam memikirkan tawaran dari raka
10× lipat itu sudah sangat banyak sekali.
“Tapi.
“Baik lah jika anda tidak mau, saya akan mencari orang lain saja,” Sahut raka
Saat raka hendak beranjak pergi, tiba tiba saja. Pak abud langsung menerima tawaran dari raka.
“Baik lah saya bersedia, Saya akan menghantarkan kalian sampai desa sadap,” Ucap pak abud
“Tidak usah, saya akan berjalan kaki saja sampai desa sadap, Hantarkan saja sayuran itu, tidak baik membiarkan orang lain menunggu, Bobi, dodi ayok kita lanjutkan perjalanan,” Sahut raka
“Tidak tidak, mereka tidak menunggu, Aku bisa memberitahukan para pelanggan ku sekarang jugak,” Sahut pak abud
“Tidak usah, anda pergi saja, saya akan berjalan kaki sampai desa sadap,” Sahut raka
Raka tidak mood dengan pak abud yang berbelit berlit.
Raka akhir nya berjalan kembali dengan santai nya.
Perut yang belum terisi sama sekali, bahkan uang sepeserpun tidak ada ia pegang, begitupun dengan dodi.
“Bos kenapa tidak anda terima saja tawaran dari bapak itu, Kita tidak mungkin berjalan sejauh ini sampai kampung, Bisa bisa kita patah kaki bos,”Ucap dodi
“Benae sekali itu bos, kita bisa patah kaki kalau sampe berjalan, Sebaik nya kita terima saja tawaran bapak itu tadi,” Sahut dodi
“silahkan saja kalian yang pergi dengan bapak itu, aku tidak mau,” Sahut raka
Raka kembali berjalan santai menyusuri jalanan kampung nadi tersebut.