NovelToon NovelToon
Bad Boy Agent

Bad Boy Agent

Status: tamat
Genre:Mata-mata/Agen / Bad Boy / Mafia / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:263.3k
Nilai: 5
Nama Author: Naya_handa

Ketenangan seorang gadis depresi bernama Gayatri mulai terusik setelah kedatangan seorang siswa baru yang masuk ke sekolahnya.
Tampan, gagah, keren dan cerdas, membuat sosok Shaka mendadak populer di sekolah.
Shaka mendekati banyak siswi di sekolahnya untuk mencari tahu informasi penting. Tanpa teman-temannya tahu, Shaka adalah seorang agent yang sedang melakukan penyamaran untuk mengungkap kasus pembullyan oleh genk motor yang telah merenggut nyawa adiknya.
Berbeda dari siswi lainnya, Gayatri begitu menghindari sosok Shaka hingga menguji kesabaran sang agent.
Bisakah mereka menemukan pelaku pembunuhan yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naya_handa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Preman pasar

“Aya,” seorang remaja menghampiri Gayatri yang sedang menikmati makanannya di kantin.

Gayatri hanya meliriknya sesaat sebelum kemudian melanjutkan makan siangnya. Hari ini tubuhnya sedikit lemas karena kurang tidur. Semalaman ia mendengar sang ayah terus menerus menyebut nama Galih dan Galih hingga dini hari. Ia sudah menutup telinganya dengan bantal tetapi suara sang ayah tetap terdengar diiringi isak tangis dalam tidurnya.

“Gue denger, kemaren bokap lo di pukulin ya, sama preman pasar?” Remaja itu mencondongkan tubuhnya mendekat sambil berbisik-bisik pada Gayatri. Ia tidak mau siswa lain mendengarnya.

Gayatri tidak mengiyakan atau membantahnya karena ia sendiri tidak tahu apa yang dilakukan sang ayah di luar rumahnya. Yang ia tahu, belakangan ini ayahnya memang sering mabuk-mabukan dan berbuat onar. Ia pulang dalam keadaan babak belur.

“Polisi udah nandain bokap lo. Katanya dia juga ikutan judi. Lo harus hati-hati Aya. Jangan sampe bokap lo di tahan. Lo gak mau kan keluarga lo tambah berantakan?” Remaja bernama Zaidan itu mencoba mengingatkan Gayatri. Rumah mereka cukup berdekatan, sehingga cukup mengenal satu sama lain. Gayatri adalah teman tumbuh bersamanya.

Tangan Gayatri berhenti memainkan makanannya. Mulutnya yang penuh makanan pun berhenti mengunyah. Gadis ini tampak berpikir, entah mengapa semakin hari masalah di keluarganya semakin banyak saja.

“Bokap gue udah bilang kalau dia gak mau bantuin bokap lo kalau sampe dia di tahan polisi. Dia udah gak ada duit buat ngasih jaminan. Lo juga harus mikirin nama baik lo di sekolah. Jangan sampe lo beneran di keluarin dari sini dan lo gak dapet beasiswa lagi. Lo gak mau kan, Ya?” Zaidan menatap Gayatri dengan khawatir.

Terdenger hembusan napas kesal dari mulut Gayatri. Ia segera menghabiskan makanannya dan meneguk air minumnya dengan serakah. Saat kesal, pelampisannya memang hanya makanan dan minuman. Entah sampai kapan ia akan bertemu dengan masalah yang tidak bosan mendatanginya.

Bell tanpa berakhir pelajaran telah berbunyi. Gayatri bergegas menuju tempat parkir. Ia melihat motornya terhalangi oleh motor hitam milik Shaka. Ia melihat ke sekitarnya, tidak ada tanda-tanda kalau pemiliknya berada di dekatnya. Remaja itu pasti sedang sibuk meladeni fansnya di kelas. Gayatri terpaksa memeriksa motor itu, beruntung tidak di kunci leher. Dengan sekuat tenaga ia memindahkan motor Shaka yang menghalangi jalannya. Memundurkannya sedikit demi sedikit hingga akhirnya motornya bisa lewat.

Gayatri tidak memindahkan lagi motor Shaka ke tempatnya karena beberapa motor lainnya pasti akan terhalangi oleh motor sport besar itu. Tanpa menunggu lama, ia segera mengenakan helmnya dan melajukan motornya keluar dari sekolah.

Tempat yang Gayatri tuju saat ini adalah pasar. Tempat yang dijadikan sang ayah sebagai lahan untuk mengais rejeki. Ia bekerja sebagai tukang parkir dan sesekali menjadi buruh angkut. Dari kejauhan Gayatri melihat sang ayah yang sedang membantu seseorang memundurkan motornya. Laki-laki itu menerima uang pecahan dua ribuan dan mengucapkan terima kasih. Lihat penampilannya yang lusuh dengan topi bundar yang lepek bermotif loreng lengkap dengan handuk lusuh yang melingkar di lehernya. Wajahnya yang terbakar matahari tampak kurus, dekil dan kemerahan.

Gayatri masih memandangi sang ayah dari tempatnya. Kasihan sekali pria tua itu. Setelah diberhentikan secara sepihak dari tempat kerjanya, sekarang ia bekerja serabutan. Sering kali ia pulang tanpa membawa uang satu rupiah pun. Hanya bau minuman yang tercium dari tubuhnya yang mulai ringkih.

Barkah sebenarnya familiar hidup di jalanan, tetapi setelah memiliki anak perempuan, ia memutuskan untuk berhenti menjadi seorang preman. Ia ingin hidup dengan baik dan memberi makan anak perempuannya dengan cara yang baik. Ia ingin berhenti bermain-main sampai kemudian takdirlah yang mempermainkan hidupnya dan memaksanya kembali ke jalanan yang dulu menempa hidupnya.

Gadis muda itu memutuskan untuk menemui sang ayah. Ia mengambil botol minum yang tadi ia beli di kantin dan bergegas menghampiri laki-laki yang sedang berteduh di bawah pohon. Ia mengipasi tubuhnya dengan topi lepek yang ia kenakan. Rambutnya sudah berkeringat dan berantakan, jauh dari kesan rapi.

“Weh, lagi santai lo!” seru seorang preman pasar yang datang bersama dua temannya.

Langkah Gayatri pun segera terhenti. Ia memperhatikan terlebih dahulu dari kejauhan.

“Pasti bakal di ajak judi lagi, terus kalau menang duitnya di ambil dan digebukin,” komentar pemilik warung yang ikut mengintip. Sepertinya wanita ini sudah terbiasa melihat kejadian di sekitar tempatnya berjualan.

Benar saja, laki-laki itu menarik kerah baju Barkah hingga laki-laki itu berdiri dengan gelagapan. “Mana duit lo?” tanya preman itu dengan mata menyalak.

“Ampun bang, saya belum dapet duit banyak. Baru dapet tiga puluh ribu,” sahut Barkah dengan tangan gemetaran. Bukan gugup menghadapi preman ini, melainkan karena ia terlalu sering mengkonsumsi minuman beralhokol. Hal itu yang membuat Barkah tidak bisa melawan.

“Bohong lo! Lo pikir gue bakalan percaya, hah?!” Laki-laki itu menyalak pada Barkah, mulutnya terbuka lebar seolah ingin memakan laki-laki yang gemetaran di tangannya.

“Kagak bohong bang, sumpah. Abang bisa liat sendiri, duit saya cuma segini.” Dengan tangannya yang gemetar Barkah menunjukkan uang recehan yang ia dapat.

Laki-laki itu menyeringai, dengan cepat ia mengambil uang dari Barkah. Tidak sampai di sana, laki-laki itu juga menendang tubuh Barkah hingga laki-laki itu tersungkur jatuh di atas tanah beraspal kasar. Tidak puas dengan hal itu, ketiga preman itu menendangi Barkah yang hanya bisa menggeliat-geliat di tanah, sambil meringis menahan sakit.

Merasa tidak terima, Gayatri segera berlari menghampiri sang ayah. Ia tidak bisa tinggal diam melihat laki-laki itu di perlakukan dengan kasar. Ia mendorong tubuh preman itu hingga terdorong cukup jauh lalu merentangkan tangannya, melindungi tubuh Barkah di belakangnya. Laki-laki itu terbatuk karena tendangan preman yang mengenai dadanya.

“Weh, di bantuin anak cewek nih!” seru preman itu saat melihat Gayatri yang menghadang mereka.

“Aya, ngapain lo ke sini? Pulang sana!” Barkah segera mendorong putrinya agar segera pergi. Ia khawatir putrinya ditindas oleh tiga preman bertubuh kekar itu.

Dorongan Barkah tidak membuat kaki Gayatri beranjak. Tidak pula menimpali dan memilih berdiri menantang sang preman demi melindungi sang ayah yang ada di belakangnya.

“Eh si curut malah nantangi gue! Mau gue apain lo bocah?” Dengan santai preman itu meraih dagu Gayatri dan mencengkramnya.

Tidak di duga, tiba-tiba Gayatri meraih lengan laki-laki itu lalu ia pelintir 180 derajat hingga laki-laki itu meringis kesakitan.

“Aaakkkk aakkk aakhhh... Sakit anjir! Bantuin gue goblok!” seru laki-laki yang meringis kesakitan.

“Sialan ini bocah, minta di beri kayaknya!” Dua preman lainnya pun tidak tinggal diam. Ia segera menyerang Gayatri, melayangkan bogem mentahnya pada Gayatri. Dengan cepat Gayatri mendorong tangan preman yang ia pelintir lalu menggunakan botol minuman di tangannya untuk melawan bogem mentah preman yang hampir mengenai wajah cantiknya.

“Aaakkkk!!!” laki-laki itu mengibas-ibaskan tangannya yang seperti tersengat listrik sampai ke lengan atasnya saat tinjunya malah berbenturan dengan botol plastik. Ia tidak menyangka kalau botol plastik itu bisa mengalahkannya.

“Sama bocah lo kalah! Dasar begok!” seru preman ke tiga. Ia merunduk hendak meraih tubuh Gayatri untuk ia gendong, tetapi dengan cepat Gayatri mengangkat lututnya hingga membentur dahi preman tersebut lantas memutar tubuhnya dan menendang kepala preman itu hingga jatuh terjengkang.

"Akh!! Brengsek!" Laki-laki itu terjengkang hingga mundur beberapa langkah sambil memegangi dahinya yang pusing berputar.

“SERANG!!!” seru ketua preman yang menyuruh kedua anak buahnya menyerang Gayatri. Gadis itu pun sudah siap dengan kuda-kudanya. Saat ketiga preman itu berlari ke arahnya, Gayatri segera menendang perut preman pertama hingga terhuyung dan menggunakan tubuh tegap laki-laki itu sebagai tolakan dan menendangkan kaki kanannya ke leher preman kedua.

Ketiganya jatuh terjungkal di tanah beraspal. Satu orang memegangi tangannya, satu lainnya memegangi leher yang terasa patah dan satu lainnya terlentang tidak berdaya setelah perutnya di tendang keras oleh kaki kokoh Gayatri. Mereka tidak menyangka kalau gadis bertubuh kurus ini bisa melumpuhkan mereka sekaligus hanya dalam beberapa gerakan.

Tidak bernyali untuk melawan, ketiga preman itu segera pergi lari terbirit-birit setelah bisa bangun. Satu preman lainnya bahkan di tarik paksa oleh temannya agar segera pergi. Mereka ketakutan melihat sorot mata tajam milik Gayatri.

Setelah preman itu pergi, Gayatri mengulurkan tangannya pada sang ayah. Tetapi Barkah mengabaikannya. Ia masih sanggup untuk bangun sendiri.

“Udah bapak bilang kamu gak usah pamer!” seru Barkah dengan kesal. Matanya yang bengkak bekas terbentur, menatap Gayatri dengan kesal.

Gayatri tidak menimpali. Ia lebih memilih membantu Barkah bangun dan mendudukkannya di bangku. Ia juga memberi ayahnya minum. Laki-laki itu merebut botol minuman dari tangan Gayatri dan meneguknya dengan tergesa-gesa sampai tertumpah di bajunya yang kotor dan dipenuhi keringat.

“Kamu berhenti ngomong, tapi kamu tetep gak bisa nahan diri.” Laki-laki itu berbicara dengan sinis, menatap Gayatri dari samping. Lantas ia tersenyum kecil. “Kamu anak bapak,” imbuh laki-laki itu seraya mengusap rambut Gayatri dengan kasar hingga berantakan. Ia bangga karena anak gadisnya masih bisa membela diri.

“Kenapa gak kamu tendang aja burungnya, biar dia kapok gangguin kita,” Laki-laki itu masih berceloteh dan Gayatri tetap tidak menimpali. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, arah berlalunya preman seraya berharap semoga orang-orang itu tidak akan pernah kembali lagi.

“Kamu anak bapak! Anak bapak!” seru Barkah seraya mengacak rambut Gayatri dengan kasar. Kalau saja tubuhnya tidak lemah, maka ia tidak akan membiarkan putrinya yang berkelahi. Ia yang akan menghadapi para preman itu sampai titik darah penghabisan.

****

1
Eka Kurnia Sari
kereeennn ceritanya 👍👍👍
Siti Nina
Ya ampun ngakak 😂😂😂
Siti Nina
oke 👍👍👍
Anis Mawati
gayatri sekar ayu
Anis Mawati
kyknya jodohnya galih si alya
Anis Mawati
😭😭😭
Anis Mawati
serang
Anis Mawati
ikut tegang
Anis Mawati
kayaknya dion dech,trus si galih dkambing hitamkan
Anis Mawati
ruwet mikirin benang kusut,ceritanya seru thor
Anis Mawati
kakanya aya jd kmbing hitam perbuatan dion deh kuaknya
Anis Mawati
ikut tegang q thor
Anis Mawati
jangan2 itu yg bunuh rasya
Anis Mawati
pa g da dokter dsana smpai dbwa kedokter hewan
Anis Mawati
motor rasya
Anis Mawati
gayatri saksi meninggalnya rasya
Anis Mawati
muka shaka baby face y thot😁😁😁
Supriyatijunaidi Wicaksono
Luar biasa
Kirana di Nabastala
ceritamu keren banget Thor👍🏾
Kirana di Nabastala
keren bingit kak 😱💪🏾💪🏾💪🏾😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!