NovelToon NovelToon
Ayah Mertua Mafia Menginginkanku

Ayah Mertua Mafia Menginginkanku

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Mafia / Selingkuh / Menikah dengan Musuhku / Dark Romance / Tamat
Popularitas:216
Nilai: 5
Nama Author: Larissa Marcelle

Dijodohkan dengan putra seorang bos mafia? Fiorella Ferraz, delapan belas tahun, sudah bertekad menolak. Dia diseret dari Berlin ke Sydney untuk pesta pertunangan yang tidak pernah dia inginkan, dan di depan semua orang dia berani berkata: aku tidak mau menikah.

Satu orang tidak terima dibantah. Argo Romanov, bos mafia Australia sekaligus calon mertuanya, pria dingin yang tak pernah ditentang siapa pun. Gadis keras kepala itu langsung dia tahan di rumahnya, "sampai tahu aturan".

Namun semakin sering mereka bertengkar, semakin sulit Fiorella menjelaskan kenapa tubuhnya bereaksi setiap kali pria itu mendekat. Dan semakin keras Argo berusaha menjauh, semakin ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Di tengah peperangan antar mafia, kontrak pernikahan yang membelenggu dua keluarga, dan rahasia yang menunggu terbongkar, siapa yang sebenarnya sedang menaklukkan siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larissa Marcelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7 - Berdua dengan Pitbull Galak

...ARGO ROMANOV...

Bocah sialan yang berisik. Semenit pun dia tidak berhenti mengoceh di telingaku. Kulakban mulutnya, dan akan kulakukan seribu kali lagi kalau perlu. Gadis itu punya bibir mungil yang cantik, tapi bicaranya seperti petasan.

Kuambil ponsel dan menelepon Loretha.

"Sayang, kalian di mana? Adalberto mencari putrinya, semua orang mengkhawatirkan kalian."

"Aku bersama putrinya. Dengar, aku tidak bisa pulang malam ini, ada mobil yang membuntuti kami."

"Kamu benar, Sayang."

"Bilang pada Adalberto kami akan tiba pagi-pagi supaya dia bisa pamit pada putrinya." Aku melirik Fiorella. Dia terpaku dengan mulut dan lengan terlakban.

"Bagaimana keadaan Fiorella?"

"Baik. Tenang, anehnya."

"Sudah kuduga, dia pasti akan terbiasa."

"Ya."

"Itu Batuhan?"

"Bajingan itu licin, tapi aku akan cari tahu di mana dia bersembunyi. Pantau berita, aku mau tahu siapa yang ada di mobil yang kami tembak. Selamat malam, Sayang."

"Selamat malam, Sayang. Dan sabarlah menghadapi Fiorella, mengertilah, semuanya serba baru untuknya."

"Ah, ya, aku akan sangat mengerti." Kumatikan ponsel dan memandang gadis itu lagi. Matanya kosong menatap ke depan. Kutarik lakban dari mulutnya.

"Kamu baik-baik saja?" tanyaku. Dia mengerang kesakitan, tapi tetap diam. "Tidak mau bicara?"

Kupegang lengan mungilnya dan kulepaskan dari lakban. Pergelangan tangannya merah, tangannya kecil dan dingin. Kuangkat mataku menatapnya. Fiorella ketakutan. Tapi untuk apa juga bocah ini harus masuk ke ruangan itu dan menuntut penjelasan dariku? Gadis sialan yang merepotkan.

Empat puluh menit kemudian kami tiba di sebuah rumah, semacam tempat persembunyian. Tidak ada yang tahu aku punya tempat ini, hanya kupakai dalam keadaan darurat.

"Oke, kalian boleh pergi, tapi tetap berjaga di dekat sini, mungkin aku butuh kalian."

"Baik, Bos."

Aku menoleh ke belakang. Fiorella masih di dalam mobil.

"Kamu turun atau tidak?"

"Tempat apa ini?" Akhirnya dia bicara, setelah lama diam.

"Jangan banyak tanya, cepat turun."

Aku butuh kesabaran ekstra menghadapi bocah ini. Malam ini akan panjang, berdua saja dengannya di tempat ini. Lebih baik seharian mengurus masalah dan membunuh musuh daripada harus menahan dia.

...ADALBERTO FERRAZ...

Aku mulai menyesal. Putriku menghilang di pesta pertunangan, dan sekarang aku tahu dia akan bermalam sendirian bersama Argo Romanov.

Argo pria berbahaya, dan jelas dia benci dibantah. Bantah-membantah adalah keahlian terbaik Fiorella, terutama padaku. Semoga dia tidak memprovokasi mertuanya. Aku sangat menyayangi putriku, dan kukira dia akan terlindungi di tengah keluarga Romanov, mafia terbesar di seluruh Australia dan mereka berkuasa. Aku mulai ragu apakah aku mau meninggalkannya sendirian di sini.

"Pa, adikku nggak suka Tuan Argo. Sekarang dia gimana ya?"

"Pelankan suaramu, Jonah, jangan sampai ada yang dengar. Papa juga cemas. Adikmu tumbuh di bawah lindungan Papa, dan sekarang dia akan jauh dari kita."

"Aku juga nggak mau ninggalin Fiorella, Pa. Dia nggak baik-baik saja."

"Apa Papa sudah mengambil keputusan yang benar, Jonah?"

"Papa baru bisa tahu beberapa bulan lagi. Kelihatannya tunangannya sangat menyukainya."

"Fiorella sudah memohon agar Papa tidak menikahkannya. Papa akan bicara dengan Argo, dan tergantung jawabannya, Papa batalkan kontrak ini dan membawanya pulang ke Jerman."

...FIORELLA FERRAZ...

Aku tidak percaya harus menghabiskan malam di rumah menyeramkan bersama pitbull galak itu.

"Tempat apa ini? Kenapa kita tidak ke rumahmu? Aku mau bicara dengan Papaku." Aku memandang sekeliling. Rumah ini dikelilingi pepohonan dan terbuat dari kayu. Sederhana dan bagus, tapi ada pintu besi yang menyeramkan. "Tuan Argo, Papa dan Jonah baik-baik saja?"

"Mereka baik-baik saja. Besok pagi-pagi kita pergi. Lihat pintu itu?" Dia menunjuk. "Masuk ke sana dan baru keluar besok, mengerti? Aku tidak mau kamu berkeliaran."

"Aku harus mandi."

"Ada kamar mandi di dalam."

"Aku nggak punya baju, nggak bisa tidur pakai gaun ini."

"Tidur telanjang, sialan! Terserah kamu, asal jangan keluar dari sana."

Walaupun sedang marah, pria ini menarik. Aku selalu mendambakan seseorang yang romantis dan penyayang, dia kebalikan dari itu, tapi tetap saja memikatku. Pria jahat dan beristri, dan lebih parah lagi, ayah tunanganku.

"Kenapa berdiri saja di situ?" tanyanya.

"Kamu tidur di mana?"

"Di ruangan ini." Dia duduk di sofa, menunduk, dan menarik napas dalam. Aku duduk di sampingnya.

"Ada makanan apa di sini?"

"Lihat saja di kulkas."

"Argo?" panggilku. "Tuan Argo, bisa nggak kita coba akur? Aku akan menikah dengan putramu, dan kurasa Tuan nggak menyukaiku."

"Kamu benar, aku tidak menyukaimu."

"Aku juga nggak suka Tuan." Dia menatapku tak percaya. "Tapi karena aku harus jadi bagian keluarga ini, kita bisa..." Dia memegang lenganku dan dengan mudah menarikku ke dadanya. Tubuhku mengkhianatiku, di antara kedua kakiku terasa basah. Aku bisa memandangnya dari dekat sekali. "Kenapa Tuan nggak suka aku, Tuan Argo?" tanyaku, merintih karena cengkeramannya yang kuat di lenganku.

"Sebaiknya kamu pergi ke kamar, Barbie."

"Barbie?"

"Kamu gadis yang menyebalkan, aku sudah tidak tahan melihatmu. Sekarang pergi ke kamar." Dia memerintah, tapi masih mencengkeramku erat.

"Tahu Tuan itu apa? Pitbull galak, yang cuma tampangnya seram tapi nggak pernah menggigit."

"Kamu kira aku tidak menggigit?"

"Aku yakin."

"Kamu bocah ingusan yang lancang, tahu?"

"Dan Tuan harus menghadapiku, Tuan Argo." Dia mengeratkan cengkeraman di lenganku. "Aduh, sakit, lepasin!"

"Enyah dari hadapanku." Lenganku berdenyut karena cengkeramannya.

Aku keluar dan buru-buru masuk ke kamar. Baru hari ini aku tiba di negara ini dan sudah jadi musuh bebuyutannya. Pria itu terus memanggilku gadis kecil, bocah ingusan, sialan!

Kulepas gaun dari tubuhku dan masuk ke kamar mandi. Vaginaku terasa terangsang dan aku mulai takut pada hal itu. Argo tampak kejam dan jahat, tapi aku tidak merasa dia akan berbuat buruk padaku. Justru sebaliknya, aku merasa terlindungi di sampingnya, meski juga merasa terintimidasi karena dia besar dan berwajah seram.

Aku mandi lalu berbaring di ranjang. Aku berguling-guling memikirkan Papa, memikirkan apa yang harus kulakukan dengan hidupku di sini sendirian. Harus tidur dengan orang yang tidak kuinginkan, menyerahkan keperawananku karena dipaksa, menikah karena dipaksa, dan jadi istri di usia 18 tahun. Aku tidak akan punya hidup? Ini tidak adil!

Sesekali aku teringat ucapan Argo di pesta, soal ditiduri pria sejati. Bagiku dia terlihat seperti pria sejati. Aku ingin mengerti maksud tersiratnya.

Aku lapar, karena tadi masuk kamar dalam keadaan marah dan lupa melihat isi kulkas. Aku bangun dan menempelkan telinga ke pintu. Di seberang sunyi, mungkin Argo sudah tidur. Lagi pula pria sebesar itu pasti mendengkur seperti dinosaurus.

Dia menyuruhku jangan keluar, tapi kenapa? Apa dia menyembunyikan sesuatu di ruangan berpintu besi itu? Dengan ragu kubuka pintu pelan-pelan. Gelap sekali. Kupakai gaunku seadanya untuk keluar. Hal terburuk yang bisa terjadi adalah dia melihatku telanjang, aku bahkan belum kenal pria ini dengan baik, siapa tahu apa yang bisa dia lakukan padaku. Amit-amit!

Kubuka pintu dan berderit, butuh minyak pelumas secepatnya. Meski begitu, tak kudengar suara Argo. Cahaya bulan masuk lewat jendela, dan kulihat dia berbaring telentang di sofa, memakai celana bahan, kaus kaki, tanpa kemeja. Dadanya bidang dan berbulu. Ada tato di rusuknya, dalam gelap aku tidak bisa melihat gambarnya dengan jelas. Ada juga tato di lengan bawah kirinya.

Aku tidak mendekat terlalu jauh dan langsung ke kulkas. Begitu kubuka, kejutan: isinya cuma air. Aku mulai tersenyum frustrasi, hal terburuk memang tidur dalam keadaan lapar. Sepertinya aku bahkan tidak bisa tidur.

Baiklah! Kutoleh lagi ke Argo untuk memastikan dia tidur, lalu aku menuju pintu besi. Semoga aku tidak menemukan barang-barang erotis. Kemarin aku sama sekali tidak berpikir begini, dan baru hari ini aku basah dua kali tanpa menonton film panas sekalipun.

Kuletakkan tangan di gagang pintu dan mencoba membukanya. Terkunci.

"Boleh tahu kamu sedang apa di sini? Sudah kubilang jangan keluar dari kamar itu, Nona kecil."

Tulang punggungku membeku saat merasakan tubuhnya di belakangku, suaranya di punggungku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!