NovelToon NovelToon
Hukuman Penjara Pengantin Pengganti Sang Mafia

Hukuman Penjara Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:29.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.

Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.

Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Mobil mewah berwarna hitam milik Adam Lorenzo Maxnore terparkir di halaman rumah sakit. Mesin kendaraan itu masih menyala, sementara beberapa pengawal berpakaian serba hitam berdiri di sekitar mobil dengan sikap siaga.

Di kursi penumpang belakang, Adam duduk dengan punggung bersandar pada jok kulit. Pria itu mengenakan setelan hitam dengan kemeja senada. Wajahnya dingin dan datar, sementara tatapannya sesekali mengarah ke pintu masuk rumah sakit.

Di balik kemudi, Marco memeriksa jam tangannya.

Tak lama kemudian, pintu rumah sakit terbuka. Seorang perawat terlihat mendorong kursi roda yang diduduki Giana Bianca Conti. Wajah perempuan itu masih pucat, tubuhnya tampak lemah, dan gerakannya belum sepenuhnya pulih setelah kejadian yang hampir merenggut nyawanya. Beberapa pengawal Adam berjalan di belakang mereka, memastikan tidak ada seorang pun yang menghalangi perjalanan Gia menuju mobil.

Ketika rombongan itu tiba di sisi kendaraan, salah seorang pengawal segera membukakan pintu belakang. Pandangan Gia langsung bertemu dengan sosok Adam yang duduk di dalam mobil.

Pria itu tidak menyapanya. Ia hanya menatap Gia sekilas, lalu mengalihkan pandangan seolah-olah kedatangan perempuan itu bukan sesuatu yang perlu ditanggapi. Perawat mendorong kursi roda mendekati pintu mobil.

“Pelan-pelan, Nona. Kami akan membantu Anda masuk ke mobil.”

Salah seorang pengawal membantu Gia berpindah dari kursi roda ke jok mobil. Gia menahan napas ketika tubuhnya bergerak, sebab luka di punggungnya masih terasa nyeri. Ia berusaha tidak menunjukkan rasa sakit itu, meskipun jemarinya sempat mencengkeram sisi jok untuk menahan diri.

Setelah Gia duduk dengan posisi yang nyaman, perawat menyerahkan sebuah tas berisi perlengkapan pribadinya kepada pengawal, disusul beberapa kotak obat dan selembar catatan medis.

Perawat kemudian menghadap Adam.

“Permisi, Tuan. Ini perlengkapan pribadi Nona Gia, obat-obatan yang perlu diminum, serta catatan kondisi medisnya.”

Adam menerima dokumen tersebut tanpa banyak bicara.

“Bagaimana kondisinya?” tanyanya singkat.

“Kondisi Nona Gia sudah cukup stabil untuk pulang, tetapi beliau masih membutuhkan istirahat. Obat-obatan harus diminum sesuai jadwal yang tertera. Kami juga menyarankan agar beliau tidak melakukan aktivitas berat untuk sementara waktu.”

Perawat menunjuk bagian tertentu pada catatan medis.

“Luka di punggung Nona Gia masih memerlukan perawatan rutin agar tidak kembali meradang. Area luka harus dibersihkan dan obat olesnya digunakan sesuai petunjuk dokter. Yang paling penting, luka tersebut jangan sampai terkena air secara langsung.”

Tatapan Adam turun ke catatan medis yang dipegangnya.

“Berapa lama perawatannya?”

“Untuk saat ini, perawatan harus dilakukan secara rutin sampai luka benar-benar membaik. Lama pemulihannya bergantung pada kondisi luka dan respons tubuh Nona Gia. Jika muncul kemerahan yang semakin parah, pembengkakan, nanah, demam, atau rasa sakit yang meningkat, beliau harus segera diperiksa kembali.”

Adam mengangguk sekali, “Ada hal lain yang perlu diperhatikan?”

“Pastikan Nona Gia mendapatkan makanan yang cukup, beristirahat, dan tidak melewatkan jadwal kontrol. Jika beliau merasa pusing, sesak, atau kembali kehilangan kesadaran, segera bawa ke rumah sakit.”

“Baik.” Hanya itu jawaban Adam.

Perawat tampak sedikit ragu sebelum kembali berbicara.

“Mohon pastikan juga ada seseorang yang membantu Nona Gia selama masa pemulihan. Untuk sementara, beliau mungkin masih kesulitan melakukan beberapa aktivitas sendiri.”

Adam melipat catatan medis itu, kemudian menyimpannya bersama obat-obatan.

“Aku akan mengurusnya.”

Perawat mengangguk lega, “Kalau begitu, semoga Nona Gia segera pulih dan membaik.”

Adam tidak menjawab. Ia hanya menggerakkan tangannya, memberi isyarat kepada pengawal agar segera menyelesaikan proses keberangkatan.

"Kita berangkat,"

Pengawal yang masih berdiri di luar segera menutup kursi roda dan merapikan perlengkapan Gia. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, mereka memberikan ruang agar pintu mobil dapat ditutup.

Sebelum pintu itu tertutup sepenuhnya, perawat kembali berpamitan kepada Gia.

“Jaga kesehatan Anda, Nona. Jangan lupa minum obat.”

“Terima kasih,” jawab Gia lirih.

Pintu mobil kemudian ditutup.

Suasana di dalam kendaraan mendadak terasa sunyi. Gia duduk di sisi Adam dengan kedua tangan bertaut di atas pangkuannya. Jemarinya terasa dingin. Entah karena tubuhnya belum sepenuhnya pulih atau karena keberadaan pria di sebelahnya, ia sendiri tidak tahu. Sesekali, ia melirik Adam dari sudut mata.

Pria itu sedang membaca catatan medisnya dengan ekspresi yang sama sekali tidak berubah. Tidak ada pertanyaan mengenai rasa sakit yang dirasakannya. Tidak ada pula ucapan yang menunjukkan kepedulian.

Adam tetap menjadi Adam yang selama ini dikenalnya, dingin, sulit ditebak, dan seolah-olah tidak pernah membiarkan perasaannya memengaruhi keputusan.

Dahulu, tatapan seperti itu cukup untuk membuat Gia gemetar ketakutan. Ia selalu khawatir akan melakukan sesuatu yang membuat pria tersebut marah. Ia bahkan terbiasa menimbang setiap kata sebelum mengucapkannya, takut ucapannya kembali dianggap sebagai kebohongan.

Namun, kali ini Gia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Kebenaran tentang kecelakaan itu telah ia sampaikan. Adam pun sudah mengetahui bahwa Amerda memiliki kaitan dengan kejadian yang menewaskan Veronika Setidaknya, ia tidak perlu lagi berjuang sendirian untuk membuat pria itu mendengarkan ceritanya.

Meski begitu, Gia tahu bahwa terungkapnya kebenaran tidak serta-merta menghapus semua yang telah terjadi. Luka di punggungnya masih terasa, tubuhnya belum pulih, dan ingatan tentang perlakuan Adam masih meninggalkan ketakutan yang sulit dijelaskan. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi ketika mereka tiba di kediaman Conti.

'Ayah, apa kali ini kau akan berpihak padaku?'

Gia menarik napas perlahan, lalu mengalihkan pandangan ke jendela. Kali ini, ia tidak akan memohon agar keluarganya memercayainya. Ia juga tidak akan menghabiskan tenaganya untuk meyakinkan orang-orang yang sejak awal memilih menutup mata. Jika mereka masih menganggapnya bersalah, biarlah bukti yang berbicara.

“Marco,” panggil Adam dari kursi belakang.

“Ya, Tuan?”

“Bawa kami ke kediaman Conti.”

“Baik, Tuan.”

Marco menyalakan lampu sein, kemudian menginjak pedal gas. Mobil mewah itu perlahan meninggalkan halaman rumah sakit, diikuti kendaraan pengawal yang berada di belakang mereka. Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan di antara Adam dan Gia.

Adam kembali menyimpan catatan medis ke dalam map, sementara Gia memandang jalanan yang bergerak di balik kaca jendela. Kedua tangannya masih saling menggenggam, tetapi kali ini bukan semata-mata karena takut kepada pria di sampingnya. Ia sedang mempersiapkan dirinya untuk menghadapi keluarganya sendiri. Keluarga yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung, tetapi justru membiarkannya menanggung kesalahan yang bukan miliknya.

Di sampingnya, Adam menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras. Ia belum meminta maaf kepada Gia. Ia juga belum berniat memberikan janji apa pun kepada perempuan itu. Baginya, masih ada banyak hal yang harus diselesaikan, termasuk memastikan apakah Sadam benar-benar tidak mengetahui perbuatan Amerda.

1
Naufal Affiq
harus nya memang begitu ibu maudi terhadap amerda,dia sudah kelewatan batas jadi manusia
merry
harus adam jgn tglin gia disarang ular tar hbs tu gia ap sadam belain ank ya pdhll sstss cm ank angkt kn blm tau klo amerda ank kandung dgn cwe msa lalu ya,, hrs y maudi juga cari tau knp laki y lbh milih ank angkat pyn kuasa pyn uang srh ajj org cari tau lhh jgn diem ajj gt,, kshn gia gk salh laki y jg di embat sm ank angkt,,
merry
mati lah kau gia di pukulin Bpk mu yg jahaman itu,,, nnt kt adam bukn cari kmu slhin kmu bhkn ud kmu bela msh ajj mrh mrh,, harus nya adam bongkor jg klo amerda ank y sadam dgn kekasih y dgn bgtu maudi gk bkln dikibulin trs menerus,,
Ana Martino
membosankan
Desy Nchie
jangan buat karakter gia bodoh gtu dong kk plisss
Ass Yfa
Gia...kamu nggk dianggp ayahmi..harusnya biarin Sadam mampus...sebel aku
dyah EkaPratiwi
kapan diungkapnya kalau amerda anak kandung sadam
Muft Smoker
apa ini Gia????
ap Dy punya rencana sendri???
nyonya
gpp pisah dulu toh adam juga awalnya jahat nyiksa gia jadi adam sama sadam sama aja
Ariany Sudjana
bodoh kamu gia, kamu lebih membela Sadam daripada Adam? kamu cari mati gia
Ni'mah azzahrah Zahrah
bawa gia adam, kau akan menyesal bila gia sampai mati di tangan sadam
sri hastuti
Gia ,kok ya bodoohh banget sih, sdh spt itu msh dibela, km tu bukan anaknya sadam yg spt iblis itu 😡😡😡
Al Fatih
Apa-apaan ini gia,, koq gitu sih sikapnya....,, mengecewakan...
Qta semua membelanya,, mendukung nya...,, eh malah dia yg nawarin diri utk bertahan d rumahnya Sadam. Kecuali kalo dirimu kuat,, d jahatin bisa balas,, d pukul bisa balas memukul,, bisa mu hanya menangis saja...,, Qta perempuan memang makhluk lemah....,, tapi jangan melemahkan dirimu kayak gitu juga Gia. Kau berharap ayahmu Sadam akan terharu....,, hingga akhirnya menyayangimu....,, seperti berharap salju turun d tengah hutan yang terbakar....,, mustahil.
Ita rahmawati
malah ditinggalin di sarang setan 🤦
+1
hamil🌚
Aisyah Alfatih: 🤣🤣🤣 kak
total 1 replies
⍥⃝⃝꩗ᴜᥱ֟፝ᥱɴ_𝔅𝔢𝔢𖹭.ᐟ🐝
Paok, bodoh, tolol, bego. Bisa2 nya kau tinggal dirumah bersarang manusia egois, & tak punya hati serta penjahat gitu 😤 kesal akh lihat kekonyolan si gia. Seharusnya dia sadar klau d rumah itu tidak ada yg jdi pelindung untuk ny.Apalagi kalau amerda tau kau d rumah, mampus lah kau d siksa d tambah ayahmu
Ita rahmawati
kelamaan lah dam dramanya,, cus bilang aja amerda anak Sadam SM selingkuhannya Niar gia SM mamanya tau
Ita rahmawati
sama aja si Sadam SM Adam 🙄
ngapain nyari amerda dirumah Adam GK langsung tempat mertuanya 🤔
Aisyah Alfatih: Kalau dia menang, seluruh negara miliknya 😩
total 3 replies
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
berharap Adam membuka jati diri siapa amerda siih ,,
Susma Wati
kalau tuan adam mengatakan kalau amerda adalah anak kandung tuan sadam dari wanita masa lalu nya, apakah nyonya maudi dan gia akan tetap membela tuan sadam atas siksaan tuan adam terhadap tuan sadam, apakah nyonya maudi akan pergi meninggalkan tuan sadam karena kebohongan yang di simpan tuan sadam brrtahun tahun, dan lebih membela amerda yang terbukti bersalah dan menyalahkan gia!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!