"Seharusnya dia adalah adik iparku! tapi kini malah menjadi istriku!" ABIAN NUGRAHA.
"Pria itu seharusnya menjadi kakak Iparku, tapi sekarang dia adalah suamiku!" MAHARAYA FADILLA.
bagaimana jadinya dua orang yang sebelumnya tidak saling mengenal namun tiba-tiba dinikahkan. semua itu bermula karena Andira Fadillah atau yang akrab di sapa Dira selaku kakak Maharaya atau Raya, kabur tepat di hari pernikahannya dengan seorang pria yang telah di jodohkan oleh orangtuanya bernama Abian Nugraha. Dira yang tiba-tiba saja menghilang saat akad akan di mulai membuat Ayah Faizal panik. karena insiden itu Ayah Faizal meminta Raya putri bungsunya yang masih duduk di bangku SMA kelas 12 itu untuk menjadi pengantin pengganti Kakaknya. Demi menjaga nama baik keluarga.
Bagaimana kah kelanjutan kisah keduanya. apakah mereka bisa saling menerima satu sama lain? dengan rentang usia yang lumayan jauh.
Yuk! ikuti kisah mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenShafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Malam sudah semakin larut, tapi mata Abian belum bisa terpejam juga. Pikirannya masih berkelana mengingat perlakuan Ibu mertuanya pada istrinya yang sangat berbeda dengan perlakuan nya pada Dira. Abian menatap Raya yang tertidur pulas di dalam pelukannya.
Abian bahagia beristrikan Raya yang semakin kesini gadisnya ini semakin mengikis jarak padanya. Sudah mulai terbiasa menerima kehadirannya. Serta sentuhan-sentuhan yang yang dia berikan. Walaupun itu masih sebatas ciuman dan pelukan. Tapi tidak masalah, lambat laun Raya pasti akan mulai terbiasa dengan hal-hal intim yang mereka lakukan.
"Kenapa sikap Ibumu seperti itu, apa ada sesuatu yang mendasari sikap tidak adil nya itu?" Gumam nya sambil mengusap pipi Raya dengan punggung tangannya.
Perlahan Abian menggeser tubuhnya menurunkan tangan Raya dari dadanya. Abian mengganti dirinya dengan sebuah guling.
"Tidur yang nyenyak ya sayang, aku tinggal sebentar!" Ucapnya setelah berhasil bangun dari tempat tidurnya. Tidak lupa Abian mengecup kening Raya yang tidak terganggu sama sekali dengan apa yang dia lakukan itu.
Abian meraih ponselnya yang terletak di atas meja di depan sofa kemudian keluar dari kamarnya. Turun ke bawah sambil mengotak-atik ponselnya. Abian membuka pintu belakang sambil menempelkan ponsel di telinganya menunggu sahutan dari sebrang sana.
"Halo...pengantin baru! Tumben jam segini nelpon, apa ritual anu nya sudah selesai?"
Abian bisa mendengar suara cekikikan di sebrang sana. Benar-benar kurang kerjaan sepupunya itu.
"Ritual kepalamu! Aldo, kamu lagi sama siapa jam segini, sepertinya kamu nggak sendirian!" Sahut Abian sebab mendengar suara cekikikan yang ramai.
"Aku, lagi sama doi dong! Hehehe!" Sahut Aldo sambil terkekeh.
"Anak kurang ajar, jangan macam-macam kamu Do, orang tua kita lagi di tanah suci kamu malah berulah yang tidak-tidak!" Geram. Abian saat mendengar jawaban Aldo adik sepupunya yang tengil itu.
"Eits! Tenang bro! Jangan ngegas dulu, aku bercanda aja tadi! Aku lagi nginap di rumah Beni kok! Nih kalau nggak percaya bicara sama Beni!" Aldo cepat-cepat meluruskan sebelum kena ceramah panjang lebar kakak sepupunya itu.
"Halo Ian! Aldo nginap di rumahku kok, tenang aja kalau dia macam-macam langsung aku tepes kepalanya! Hahahaha!"
Abian merasa lega mendengar suara Beni. Ternyata dirinya di kerjain oleh sepupu tengil nya itu. _Dasar Aldo luknut_
"Awas kalian kalau berani macam-macam ya!" Ucap Abian lagi.
" Ampun sepuh, kami tidak Berani!" Sahut Beni dan Aldo di ujung telpon.
Abian hanya menggelengkan kepalanya saja dengan kelakuan adik sepupunya itu.
"Jadi, ada apa Baginda menelpon malam-malam begini, bukannya ini jam nya anuu...hihihi!" Tanya Aldo lagi di sertai kekehan.
Abian kembali menghela nafas nya mendengar kalimat Aldo itu.
"Aku mau minta tolong, carikan tukang yang bisa bikin Cat Room, kan di dekat rumah kalian itu banyak tukang kalau nggak salah!" Ucap Abian lagi menjelaskan tujuannya.
"Kat room? Sejak kapan kamu suka kucing Ian?" Tanya Beni dan Aldo heran.
"Sudah lah, kalian jangan banyak tanya. Pokoknya besok pagi bawa tukangnya ke rumah, aku tunggu!" Ucap Abian lagi tanpa menghiraukan pertanyaan kedua sepupunya itu. Setelahnya Abian langsung mengakhiri sambungan telponnya sebelum kedua sepupunya itu protes.
Abian masih berdiri di teras belakang sambil memperhatikan lahan kosong yang bersebelahan dengan taman bunga Mama nya. Sepertinya itu cocok di bangun Kat Room.
Lama berdiri memperhatikan halaman kosong itu akhirnya Abian memilih masuk kembali ke dalam rumah. Jam sudah hampir pukul 12 malam. Sudah waktunya tidur. Sesampainya di kamar Abian tersenyum geli saat melihat Raya yang sudah berubah posisi.
Istrinya itu memang tidak bisa tidur sendiri, pasti tempat tidur seluas itu sudah di putarinya. Tadi saat dia tinggal posisi Raya masih memeluk guling, dan saat ini posisinya sudah kaki di kepala, kepala di kaki.
"Hm, kek apa jika nanti kamu hamil Ya, aku bakal kerja ekstra jagain kamu di malam hari!" Gumam Abian, sesaat kemudian pria itu memukul keningnya merasa konyol dengan khayalannya sendiri. Sudah menghayal kan istrinya hamil padahal sampai saat ini belum juga di unboxing.
Abian mengangkat tubuh mungil Raya memperbaiki posisi tidurnya setelah itu dia pun ikut masuk ke dalam selimut dan memeluk erat tubuh istrinya agar tidur nya semakin nyenyak.
*
*
Hari ini adalah hari senin saatnya para siswa-siswi masuk sekolah kembali setelah liburan panjang. Kini saatnya menyambut tahun ajaran baru tentunya. Raya sudah bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan segala keperluan sekolahnya.
"Kak, aku berangkat sekolah boleh bawa motor sendiri? Soalnya kan pernikahan kita belum ada yang tahu selain keluarga. Jadi... untuk menghindari gosip yang tidak-tidak sebaiknya aku berangkat sendiri saja kak!" Tanya Raya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan tubuh segar. Ya, selama bersama Abian Raya kini sudah mulai terbiasa mandi subuh.
Raya juga mengungkap alasannya mengapa harus berangkat sendiri ke sekolah.
Abian berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan istrinya itu. "Hari ini aku antar ya, untuk kedepannya mungkin kita akan sesuaikan dengan keadaan saja bagaimana baiknya. Jika mengharuskan kamu berangkat sendiri ya nggak apa-apa juga!" Ucap Abian sambil menatap Raya yang sedang mengeringkan rambutnya.
"Oke kak!" Sahut Raya yang mulai mengenakkan seragam sekolahnya. Seragam putih abu-abu nya baru dibeli kemarin lusa. Kemarin Raya telah mencucinya pagi-pagi sekali dan sore harinya pun menyetrikanya sendiri juga. Abian telah melarangnya dan menyuruhnya untuk minta tolong saja pada Bi Ema. Tetapi Raya menolak, katanya itu seragam nya tidak kotor dan hanya di rendam beberapa menit saja tidak perlu merepotkan bi Ema yang sudah banyak pekerjaannya.
Abian pun mengagumi sikap Raya itu. Bukan hanya itu, selama mereka menikah Raya memang selalu mencuci pakaian tidur dan pakaian dalamnya sendiri otomatis juga pakaian dalamnya di cuci kan juga. Raya bilang pamali jika pakaian dalam di cucikan oleh orang lain.
"Kak, stop sampai sini saja ya! Biar nggak banyak yang tanya ini itu!" Raya menyuruh Abian berhenti di luar gerbang sekolah karena khawatir jika ada teman sekelasnya yang melihat akan menimbulkan pertanyaan besar. Sebab selama ini Raya tidak pernah di antar oleh siapapun selain Ayahnya. Itu pun sangat jarang. Seringnya Raya berangkat sendiri menggunakan sepeda motor.
Sebelum turun dari mobil Raya menyodorkan tangannya menyalim tangan Abian. "Aku sekolah dulu ya kak, makasih udah di anter!" Ucap Raya tersenyum manis.
"Belajar yang benar ya sayang, nanti kalau pulang kabarin saja nanti aku jemput!" Ucap Abian sambil mengecup kening Raya.
Hal itu tentu saja membuat kedua pipi Raya merona merah, gadis itu tersipu malu setiap kali Abian memanggil nya sayang. Membuat Abian gemas, ingin rasanya mengantongi istrinya itu dan membawanya pergi bekerja. Tetapi itu mustahil, Abian harus menerima kenyataan jika Istrinya masih seorang pelajar.
Setelah punggung Raya tidak terlihat lagi Abian pun kembali melajukan mobilnya menuju kantor.
*************
"Valdo, kamu kemana aja sih, kenapa kemarin nggak bisa di hubungi?" Kesal Dira yang saat ini nekat menghampiri Valdo di ruangannya. Wanita itu bahkan belum sempat duduk di kursi kerjanya dan lebih memilih mendatangi ruangan atasannya.
"Dira, kamu ngapain nekat masuk ke sini? Ini Berbahaya!" Panik Valdo sambil berdiri dari kursinya.
"Kamu nggak senang aku kesini?" Dira semakin kesal melihat reaksi Valdo. Yang keberatan saat dirinya masuk ke ruangan pribadi nya.
"Bukan begitu Dira, tapi ini masih di kantor! Nanti ada yang curiga!" Balas Valdo lagi. sambil menoleh ke arah pintu khawatir jika tiba-tiba ada yang masuk.
🌷🌷🌷🌷🌷
Kasih semangat othor dong akak2 cantik yang baik hati🤭🤭