MAAF KARYA INI di REVISI. BARU SAMPAI BAB 6
Mauren adalah seorang putri dari keluarga kaya yang sedang tergila-gila menyukai adik dari seorang CEO berhati dingin dan tampan.
Suatu hari dia sengaja mengikuti adik sang CEO ke suatu night club. Maureen bertemu dengan Sean, sang CEO.
Mereka berdua beradu mulut, karena sang CEO tidak menyukai sikap Maureen kepada adiknya.
"Berhenti!" Maureen menghentikan seorang pelayan yang membawa dua gelas wine. "Kalo kamu bisa menghabiskan segelas wine ini, aku akan pergi dari sini tanpa mengganggu adikmu," tantang Maureen.
"Tapi, Nona. Wine ini milik-"
"Nanti saya ganti!"
Sang pelayan meneguk saliva-nya kasar. Tugasnya mengantarkan minuman yang berisi obat perangsang untuk seseorang gagal total.
Mau tau kelanjutan ceritanya? Yuk mampir dulu di cerita aku. Ini hasil karya original.
"CEO Posesif untuk Putri Agresif"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riri__awrite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Why?
Maureen menangis histeris menatap benda kecil di depannya. Dia tidak menginginkan ini. Mana mungkin menanamnya satu kali langsung tumbuh benih? Dia sungguh tidak menginginkan kehadiran bayi ini. Dan salahnya sendiri tidak membeli obat pencegah kehamilan.
"Jangan nangis, maskaramu luntur," ucap Key.
Maureen malah mengeraskan tangisannya dan semakin terisak. "Aku harus gi-gimana, Key?"
Key menatap kasihan Maureen. Key adalah anak tiri dari tante Maureen, kehadirannya di keluarga tante Maureen membuat semua orang membenci dia, karena Key adalah anak dari hasil hubungan gelap om Maureen.
"Kita harus menemui Sean. Dia harus bertanggung jawab dengan menikahimu." Key mengulurkan tangannya dan mengusap pelan air mata yang membasahi pipi Maureen. "Jangan benci anak ini, dia tidak bersalah," ucapnya seraya mengelus perut Maureen yang masih datar.
"Aku sudah menemuinya, Key. Tapi, responnya ... dia seolah tidak peduli, dia malah menginginkan aku untuk menggugurkan bayi ini," ucap Maureen. Dadanya sesak, api kemarahan seakan membara di dalamnya. Tangisnya perlahan mulai berhenti, digantikan cegukan-cegukan kecil.
"Jangan jadi wanita lemah, kamu harus bisa meyakinkan dia. Kalo bisa ancam dia, jangan mau mengalah. Masa depanmu sudah hancur gara-gara dia," ucap Key dengan tegas.
Maureen mengatur napasnya, bayangan Sean tiba-tiba muncul di kepalanya. Pria brengsek yang merenggut mahkotanya. Meskipun ini bukan seratus persen kesalahan Sean, tapi pria itu tetap salah. Dia dengan entengnya mengatakan tidak menginginkan bayi ini hadir demi citra keluarga dan perusahaan.
"Aku akan menemuinya sekali lagi. Kali ini langsung ke apartemennya," ucap Maureen. Dia mengusap kantung bawah matanya yang mulai bengkak. Kemudian membuka kamera hp untuk berkaca.
"Sepertinya aku harus ke salon dulu. Aku akan langsung pergi ke apartemen Sean setelah ini." Maureen mengambil tasnya. Sudah lima belas menit dia menangis di rumah Key dan membuat kamar Key penuh dengan setumpuk tisu dengan bercak hitam, akibat maskaranya yang luntur.
"Aku akan ikut denganmu," ucap Key. Dia segera memungut tisu-tisu yang berserakan bekas air mata dan ingus Maureen.
"Terima kasih, Key. Kamu selalu ada di saat aku kesulitan seperti ini." Maureen memeluk, Key. Dia sangat bersyukur memiliki saudara pengertian seperti Key. Menjadi anak bungsu dari tiga bersaudara dengan dua kakak laki-laki membuat Maureen sulit terbuka kepada kedua kakaknya.
...****************...
Sean menatap tajam Criss. Pria itu mendapat laporan jika Criss gagal melaksanakan tugasnya.
"Ini hal mudah, kenapa kau gagal melakukannya!" bentak Sean. Wajah pria itu merah padam. Dia paling benci jika seseorang gagal melaksanakan perintahnya dan membuat idenya hancur.
Criss diam menunduk, menatap lantai yang datar dan dingin, masih mending daripada manusia di depannya saat ini.
"Maafkan saya, Tuan. Saya terlalu meremehkan wanita itu," ucap Criss dengan masih menunduk.
"Pergi," titahnya dengan wajah dingin.
Mood Sean hari ini benar-benar buruk. Kabar gagalnya Criss menggugurkan kandungan Maureen dan keluarganya yang memaksa dia untuk makan bersama, membuat suasana hatinya sangat buruk. Semua yang dia lihat seolah-olah salah, seperti saat ini.
"Pecat pegawai itu! Bagaimana bisa guci berwarna dongker di letakkan di pintu utama?!" Sean berteriak kepada kepala asisten di mansion keluarganya.
Dia baru saja tiba di mansion keluarga Exela, namun matanya malah tidak sengaja melihat seorang pelayan memindahkan guci abu dan diganti dengan guci dongker.
"Nyonya yang memerintahkan saya untuk memindahkan guci itu, Tuan," ucap sang kepala asisten.
"Saya tidak mau tahu! Pecat dia." Sean melenggang pergi menuju meja makan yang sudah ditunggu oleh keluarganya.
"Sean. Cepat duduk, kami menunggumu." Sima - mama Sean menunjuk kursi kosong tepat di samping Devan. Kursi yang selalu kosong, namun tidak pernah ditempati selain seseorang yang ditunggu tiba, Sean.
Sean mendudukkan bokongnya, dia membalikkan piring yang terbalik menghadap meja. Tangannya dengan cepat mengambil nasi dan lauk pauk.
"Kapan kamu menikah?" Baru saja dia membuka mulut untuk sesendok nasi, tapi sang nenek tiba-tiba menanyakan hal yang paling dia benci.
Sean meletakkan kembali makanannya. "Sean masih muda, Nek. Tidak terburu-buru untuk menikah," alibinya, padahal jauh di benaknya dia ingin segera menikah dengan tunangannya.
"Jangan menunggu dia. Ini sudah lima tahun sejak kalian tunangan, tapi apa? Hubungan kalian tidak ada kemajuan." Nenek Sean menghela napas berat. " Putuskan dan tinggalkan dia. Cari wanita yang tidak sibuk dengan karirnya. Kamu butuh wanita pengertian dan penyayang, yang bisa meluangkan waktunya untukmu."
"Nek, Alice itu wanita baik. Dia masih fokus dengan karirnya," bantah Sean.
"Wanita seperti Alice itu super sibuk, Sean. Dia sibuk pemotretan di US hingga lupa jika mempunyai kamu yang selalu menunggunya." Nenek Sean menatap serius Sean yang entah kenapa membuat pria itu semakin sebal saat sang nenek tiba-tiba menyuruhnya meninggalkan Alice - tunangannya.
"Aku tidak akan meninggalkan Alice." Sean berdiri .
"Mau kemana kamu, Sean? Jangan meninggalkan meja makan." Haris - papanya mencoba membuat Sean bersikap hormat dan menghargai orang yang lebih tua.
Sean kembali duduk di kursinya dengan perasaan sebal. Dia berusaha agar tidak menanggapi celotehan neneknya lagi dengan berusaha menukikan pendengarannya.
Makan malam menyebalkan itu terasa begitu lama. Papanya, mamanya, dan Devan terlihat begitu menikmati. Mungkin gara-gara dia yang jarang pulang dan memilih betah di apartemennya sendiri membuat Sean merasa terkucilkan.
"Aku mau pulang," pamit Sean.
Mereka semua hanya menganggukkan kepala, mengizinkan Sean pergi. Sebenarnya hubungan Sean dengan kedua orang tuanya itu baik-baik saja. Kembali lagi pada diri sendiri. Semua itu tergantung mindsetnya.
...****************...
Mata memandang lurus lebih fokus. Layar laptop yang berada di depan Sean Menampilkan rekaman clubnya saat momen di mana seseorang menyampurkan obat itu ke dalam wine.
Masih membelakangi kamera. Terlihat tangan wanita itu memberikan beberapa lembar kertas uang merah kepada pelayan. Rambutnya hanya panjang sebahu dengan kalung hitam yang melingkar di leher jenjangnya.
"I get it," gumam Sean setelah melihat wajah asli wanita itu. Dia mengenalnya. Dan dia tahu target wanita itu.
Devan. Wanita itu akan menjebak adiknya. Namun, nahas malah Sean yang meminum minuman neraka itu.
"Urusan Devan urusanku juga."
padahal aku udah sayang sama Sean 😭
hajarr aku dukung 😤
aku mampir lagi nih bawa like and subscribe 🤗