"Hamili aku, please!"
Pemuda itu mengangkat sebelah alisnya lalu melirik dan meneliti gadis di depannya dengan seksama.
"Badan kamu ngga se mok, terkesan kaya orang kampung, mana bau kembang 7 rupa! Mana gue nav su!" gidiknya acuh sama sekali tak tertarik, bahkan mantan-mantannya 3 kali lipat lebih sempurna darinya.
Sontak saja mata bulat itu membola, "kamu ngga tau saya siapa?! Saya R.Rr. Rashmi Sundari Kertawidjaja!" logatnya sundanese banget.
Alva malah meneguk air mineral dalam botol sampai tandas, lalu berdiri. Tingginya cukup membuat gadis itu mendongak kaya lagi liatin jerapah, "lo kayanya kurang minum, dehidrasi bikin lo halu."
"Tunggu! Rakyat jelata!" jeritnya meneriaki Alva yang sudah berlalu.
Warna-warni kisah kasih si princess Rashmi yang ternyata seorang keturunan menak bersama Alvaro si pemuda datar, cuek terhadap sekitarnya terkesan apatis, mencintai kehidupan dari sisi hitam.
Bagaimana lika-liku perjalanan cinta keduanya, ditengah aturan dan pemahaman aristok rat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BCR #7. TERNGIANG-NGIANG
Langkah mereka selalu bertabrakan, saat Asmi ke kiri Alva ikut ke kiri, saat Asmi ke kanan Alva pun ikut ke kanan.
Ck! Asmi berdecak, "minggir atuh!Ini tuh jalanan masih luassss...!" geramnya, tak tau kenapa sejak pertama bertemu bawaannya ia ingin marah-marah liat wajah datar dan dingin Alva, berasa pengen siram pake siraman rohani!
Alva menatap wajah cantik nan bulat itu tajam, kakinya tak lagi melangkah demi membiarkan Asmi yang mengambil gerakan terlebih dahulu, tapi rupanya pikiran mereka seiras. Asmi melakukan hal yang sama dengan Alva, hingga kini keduanya menatap lama, diselingi hembusan angin sore.
Wajah itu begitu tajam nan lancip, tulang rahang yang tegas adalah pahatan sempurna Sang Maha Kuasa. Hidung bangir sepaket dengan bibir sexy, astagfirullah! Asmi tobat Asmi!
"Duh, meni mirip si Ice Panuwat!" benaknya bergetar.
"Kamu mau lewat apa cuma mau bengong kaya kambing be go?"
Pertanyaan kasar itu memecah lamunan Asmi, disebut kambing be go oleh cowok sombong nan kasar dan tak memiliki hati nuraeniii bikin jari gatel pengen jambak terus ngeramasin si gondrong satu ini pake sampo motor.
"Cuma lo! Diantara ribuan orang yang Asmi temuin kasarnya ngelebihin bibir yang lagi pecah-pecah!" cebiknya kesal lalu pergi, bahu yang tak bidang itu bahkan sudah menubruk lengan Alva, sementara Alva hanya bisa menaikkan alisnya yang tebal bak ulat bulu.
"Aneh," ia menggeleng dan mendengus setelah Asmi benar-benar pergi dengan gerakan kaki menghentak seraya tangan menaikkan kain sinjangnya sedikit ke atas sebatas betis.
Mood Asmi semakin diperburuk dengan hadirnya keluarga Agah yang kini bergabung bersama keluarganya, sekuntum bunga mawar yang diberikan Agah diterima dengan hati ragu dan terpaksa. Ia tersenyum yang dipaksakan, "makasih aden," wangi bunga mawar dihirupnya, namun tak membuat dada yang sesak jadi plong.
"Neng, benerin sinjangnya. Malu, masa di depan keluarga kanjeng kaya gitu! Kesannya ngga tau malu, ngga punya etika!" amih menarik Asmi untuk beranjak dari situ. Asmi mendelik dan sedikit manyun, biar saja...biar mereka ngga suka punya mantu kaya Asmi yang liar kaya buaya amazone.
Kutamaya tertawa renyah, "ngga apa-apa ya neng, yang penting tidak kelihatan aurat," ujarnya namun beda halnya dengan Sekar Taji, yang sudah menarik Asmi untuk menjauh.
Ia menarik ujung sinjang Asmi dan mulai merapikan kembali pakaian anaknya itu, "harus jaga sikapnya. Kanjeng Ayu sama kanjeng mas Harya sudah suka sama neng Asmi, apalagi amih liat den mas Agah suka sama neng," lilitan yang kembali mengencang semakin terasa sesak di perut Asmi, ia menarik nafas dalam-dalam demi memikul beban yang selalu merundungnya.
Tidak bisakah sekali saja amih tidak memaksakan kehendaknya, ini jaman modern bukan jaman *Dyah Pitaloka, Citra Rashmi*.
"Iya amih," jawabnya lemah seperti kehilangan daya hidup.
Alva sudah kembali ke home stay yang disediakan oleh pihak kampung, ia merebahkan dirinya setelah seharian ini mengikuti rangkaian acara.
Pluk!
Sebuah lembaran handuk kecil mendarat di wajahnya, "mandi sono Va, airnya seger gillaaa," Filman melemparkan itu saat selesai mandi. Ia kemudian meraih peralatan seperti deodorant dan parfum dari dalam tasnya.
"Kosong?" tanya Alva, Filman mengangguk. Lantas Alva beranjak mengambil satu pouch peralatan sabunnya dan meraih handuk miliknya.
Di kamar mandi yang airnya langsung mengalir dengan bambu dari sumbernya, Alva menarik sumbat hingga aliran itu menyembur deras, ia berjongkok di bawah aliran air segar dengan memejamkan mata merasakan dingin yang mulai menjalari seluruh badan.
Mata indah nan bulat dengan alis yang tak terlalu tebal, dipadukan dengan pipi merona dan bibir tipis yang selalu sewot milik raden rara menjadi bayangan Alva saat ini.
****
Pemuda itu duduk di teras depan bersama beberapa mahasiswa lain, sambil tertawa-tawa ditemani secangkir bandrek, kacang dan pisang rebus mereka mulai mengolah hasil liputan untuk kemudian diserahkan sebagai tugas kampus. Angin malam menghembuskan suara lantunan adzan isya dari masjid kampung bersama dengan para binatang malam yang mulai liar keluar sarang.
Abang Alva kapan pulang? Ibun, mpap sama Bagas lagi nginep di rumah oma.
Sebuah pesan dari bundanya membuat ponsel yang ditaruh di teras keramik samping laptop menyala dan bergetar. Alva menghembuskan asap putih dari dalam mulutnya.
Iya.
Hanya jawaban singkat dari Alva, jiplakan sang papa, Nata Prawira. Mata itu memantulkan sinar dari layar laptop, malam semakin larut tapi Alva belum juga selesai mengedit tugasnya, hingga kini posisinya berpindah masuk ke dalam kamar, bahkan Filman saja sudah terlelap duluan.
Senyumnya tersungging tatkala melihat hasil jepretan lensa kameranya menampakkan sosok Rashmi.
"Rashmi Sundari..." Alva mendengus senyum sendiri.
Di lain tempat, seorang gadis masih saja terjaga, padahal sejak sejam yang lalu ia sudah beberapa kali menguap. Notifikasi ponselnya berbunyi beberapa kali
Ada pesan dari Agah, dari kang Hendi dan dan teman kampusnya Elisa.
🍃 Kang Hendi 12 pesan belum terbaca
📷 11 foto
Den Rara, ini foto yang tadi 😉
🍃 Den Mas Agah 3 pesan belum terbaca
🍃 Elisa 5 pesan belum terbaca
Jarinya menscroll beberapa foto kiriman kang Hendi saat sesi foto tadi siang, hingga kini matanya mulai terasa berat.
Jendela kamar ia buka sedikit melebar, pemandangan pertama yang ia lihat adalah halaman samping, aliran air yang tumpah ke kolam ikan menjadi penyelaras suasana pagi bersama kokok'kan ayam. Belum lagi suara desisan air diatas wajan panas disusul aroma bumbu dari arah dapur yang langsung menyambung dari halaman samping melengkapi pagi Asmi, ciri khas dapurnya orang sunda itu gede ketimbang ruangan tengah maka maklumlah jika dapur rumah Asmi akan seperti dapur umum terdengar hingga ke area halaman samping.
Warna langit masih menunjukkan sisi gelapnya senada dengan suasana hati mengingat obrolan keluarganya dan keluarga Agah kemarin.
Ia berdiri dan bertopang dagu di gawang jendela kamar hingga ia tersentak sampai terjengkang ke belakang saat dengan tak tau dirinya Candra mengejutkan Asmi.
"Haa!" pria itu masih berbalut kemko maroon dan sarung ungu, entah datang dari mana tiba-tiba saja ia mengusili adiknya itu. Malam tadi baik Bajra ataupun Candra sekeluarga menginap di rumah ini, karena memang sudah terlalu malam untuk pulang.
"Astagfirullah!"
"Aa ih!!" jerit Asmi ia menepuk udara karena Candra sudah menghindar lebih dulu sambil cekikikan.
"Subuh-subuh udah ngelamun, solat!" ia mengusap kasar wajah adiknya itu yang masih berwajah bantal.
Dengan bibir merengut manyun tak bersahabat, Asmi mencebik, "ck, iya ih! Ini juga mau ke kamar mandi, buka dulu jendela biar seger!" bibirnya maju 5 cm membuat Candra tertawa.
"Neng, hari ini ngampus engga?"
"Iya lah, tugas Asmi banyak. Mana kebagian jadwal bikin video blog sama anak karawitan yang mesti di upload KMT (Keluarga Mahasiswa Teater)." Gadis itu berlalu menjauh dari jendela yang masih terbuka untuk kemudian pergi ke kamar mandi.
.
.
.
.
part bikin ngakak👏👏👏