Tidak ada yang sulit, tetapi dia bukan tipeku.~Rafandra Darren Adelio.
Kupikir dia itu berbeda, ternyata sama saja.~Kimmy Rosella.
Kisah di antara hati bertemu logika. Siapa yang mampu mengalahkan rasa? Lalu apakah keduanya dipertemukan dalam garis kehidupan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 7#Restoran Mozart's
Pertanyaan itu terdengar seperti menyembunyikan sesuatu membuat Rafa mengernyit. Kenapa bundanya terlihat gelisah? Apa calon jodoh pilihan orang tuanya memiliki kekurangan? Bukan bermaksud ingin berburuk sangka hanya saja, rasanya janggal dengan situasi yang ada.
Mobil memasuki halaman sebuah cafe yang ternyata langganan keluarga menikmati waktu santai bersama. Restoran Mozart's yang memiliki menu andalan serba keju, meski tetap tersedia menu makan lain sebagai hidangan pelengkap. Setelah memarkirkan mobil, ketiganya turun bersamaan.
"Bund, pesan meja nomor berapa? Rafa kebelet mau ke toilet." Pemuda itu memang menahan diri sejak setengah perjalanan dari rumah menuju restoran. Sang ayah mengacungkan empat jari yang menjadi jawaban tanpa lanjutan.
Tak perlu menunggu izin lagi, Rafa masuk ke restoran tetapi langsung menuju ke toilet pria. Sementara ayah dan bunda menyusul ke tempat yang sudah dipesan. Dimana kedua sahabatnya sudah menunggu kedatangan keluarga mereka. Senyum hangat bersambut pelukan mengawali pertemuan dua pihak keluarga.
"Mana calon menantuku?" Papa Fairuz menoleh ke belakang dimana pintu masuk berada tapi tak ada siapapun yang menyusul kedua sahabatnya.
Lion tersenyum menanggapi ketidaksabaran sang sahabat, "Sabar, Bro. Dia tadi pamit ke toilet dulu. Trus mana calon menantuku?"
"Kok bisa sehati gitu ya? Tadi Kimmy juga ke toilet, paling sebentar lagi balik. Ayo duduk, aku sudah pesan makan malam kita. Bagaimana tadi perjalanan, lancar?" tanya balik Fairuz yang memberikan pernyataan apa adanya.
Keisha duduk bersebelahan dengan Lily, Lion dan Fairuz, sedangkan kursi tengah dari kedua belah pihak sengaja dikosongkan untuk kedua calon mempelai perjodohan. Obrolan para orang tua berlanjut basa-basi hingga kedatangan Rafa mengalihkan perhatian semua orang.
"Assalamu'alaikum, Om, Tante, Ayah, Bunda." sapa Rafa mengucapkan salam yang dijawab serempak oleh keempat orang tua yang ada di depannya.
Niat hati ingin duduk menghampiri bangku yang disyaratkan sang ayah tetapi di saat berbalik tiba-tiba tatapan mata terhenti terpatri menatap wajah anggun dengan langkah kaki yang berjalan ke arahnya. Wajah yang membuat ia harus berjuang di lapangan seorang diri. Kenapa ada si guru pengganti?
"Perkenalkan putriku, Kimmy Rosella." Papa Fairuz memperkenalkan putri tunggalnya yang datang tanpa sungkan, "Kimmy, dia sahabat Papa dan Mama. Ayah Lion dan Bunda Keisha, salim dulu, Nak."
"Salam kenal, Om, Tante." Langkahnya melewati tempat Rafa berdiri tanpa menoleh ke arah pemuda itu meski hanya lirikan mata sekalipun.
Speechless dengan apa yang baru saja terjadi. Apakah benar itu gurunya atau hanya wajah saja yang sama. Di tengah kebingungan tiba-tiba tangannya ditarik hingga harus duduk diapit kedua orang tuanya lagi. Obrolan dari A ke D lalu ke Z hanya sekedar basa-basi, sesekali mengikut sertakan kedua anak yang tampak canggung dengan situasi reuni para sahabat.
Keisha menatap lekat ke arah Kimmy. Gadis yang terlalu pendiam dengan pandangan menunduk, meski tak mengenakan hijab. Ia bisa melihat putri sahabatnya memiliki etika dan pasti bisa menjaga diri sendiri sebagai wanita. Apalagi setelah mendengar sekilas cerita lara yang akan menjadi alarm keras selama sisa hidup gadis itu.
"Kimmy bekerja dimana?" tanya Bunda Keisha membuat yang ditanda mendongak membalas tatapannya.
Tatapan mata yang saling beradu menghadirkan rasa nyaman. Perasaan seorang ibu tidak pernah salah. Ia percaya Kimmy bisa menghadapi keras kepala Al yang semakin besar. Disisi lain ia juga yakin akan kedewasaan yang terpancar dari sikap tenang sang putri sahabatnya.
Sementara Kimmy tengah berusaha menahan diri agar tidak mencampur adukkan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Sebenarnya ia terkejut melihat leader basket ada di ruangan yang sama hanya saja tak menunjukkan kepada keluarga bahwa mereka berdua sudah bertemu di sekolah.
"Saya hanya dosen magang dan memiliki bisnis online kecil-kecilan, Tante." jawab Kimmy mengungkapkan pekerjaan asli yang memang menjadi pilihannya sendiri tapi pengakuan itu justru mengalihkan tatapan Rafa ke arahnya dengan seringai tipis yang masih dia sadari.
Anak satu itu, kenapa tersenyum aneh? Apa karena jawabanku atau penampilanku? Sudahlah, biarkan saja mau berpikir apa tentangku.~ucap hati Kimmy tak ingin ambil pusing dengan ekspresi wajah Rafa.
Sedangkan Rafa tengah memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya. Bagaimana jika guru pengganti itu benar-benar wanita yang dimaksud orang tuanya. Jika soal pekerjaan saja sudah bohong, apa jaminan informasi lain masih original? Tentu tidak ada bukan.
Tanpa Rafa ketahui, Kimmy memang seorang dosen magang tapi lebih tepatnya menjadi wakil pimpinan yang bisa memiliki pekerjaan lain di luar tugasnya sebagai pengatur kebijaksanaan di fakultas tempat ia mengajar. Sehingga ketika salah satu kepala sekolah SMA favorite meminta bantuannya, gadis itu sungkan untuk menolak.
Bukan tentang gaji hanya saja mengingat hubungan dari beberapa pihak begitu dekat seperti keluarga kedua. Maka Kimmy setuju dengan catatan hanya menjadi guru olahrga dan bukan guru mata pelajaran umum. Kontrak pun ditiadakan karena memang niat hatinya hanya membantu sebagai sesama tenaga pengajar.
"Alhamdulillah semoga semua pekerjaan Kimmy dimudahkan. Kalau begitu setelah lulus SMA biar Rafa kuliah di tempat kamu mengajar saja, kan kalian bisa semakin akrab. Ide bagus bukan?" celetuk Keisha yang berhasil membuat Rafa tersedak minuman karena terkejut akan saran darinya.
Lion menepuk pundak Rafa dengan perasaan. Malam ini putranya terlihat lebih pendiam tetapi ia tahu sang putra mendengarkan semua obrolan dengan serius. "Minum pelan, Rafa. Gak ada yang rebut loh."
"Maaf, ada telpon. Kimmy permisi keluar sebentar." pamit Kimmy tak ingin ambil pusing dengan apa yang terjadi pada Rafa.
Acuh atau dingin? Gadis itu benar-benar memiliki karakteristik yang kuat yang menyadarkan Rafa bahwa kehadirannya dianggap angin lalu oleh si guru pengganti. Kenapa tidak bilang saling kenal saja atau menceritakan tantangan di sekolah yang bernilai seri. Kenapa justru menjadi dua orang asing yang baru pertama kali bertemu.
"Bolehkah aku menyusul Ka Kimmy?" tanya Rafa hati-hati setelah merasa lebih baik dan tidak merasa pedas di hidungnya.
Papa Fairuz mengangguk mempersilahkan, begitu juga dengan Ayah Lion. Persetujuan para orang tua membuat langkah kaki beranjak meninggalkan ruangan makan malam, Rafa bergegas mencari keberadaan guru pengganti di sekolahnya dari satu sudut ke sudut lainnya. Sayang sekali tak menemukan keberadaan Kimmy.
Gadis itu sengaja keluar dari restoran agar merasa lebih nyaman dan bebas. Tatapan mata menatap gelapnya malam di atas langit yang begitu mendung. "Aku harus menolak perjodohan kali ini tapi bagaimana dengan janjiku pada Mama dan Papa? Apakah masih mau menerima alasan klasik yang bisa menjadi jalan terakhir?"
Bingung akan apa yang harus diputuskan. Ia tak menyangka akan dijodohkan dengan siswanya sendiri. Apalagi perbedaan usia jelas menjadi salah satu pertimbangan yang wajib dipikirkan secara matang. Saat ini usianya dua puluh dua tahun, sedangkan menurut catatan Rafa baru genap delapan belas tahun dua bulan yang lalu.
Empat tahun kurang menjadi perbedaan yang terlihat begitu nyata. Akan tetapi posisinya sebagai wanita yang lebih tua, jujur saja merasa tidak etis jika perjodohan tetap diteruskan. Bagaimanapun ia sadar diri tidak seharusnya berpikir masa depan tanpa mengenal satu sama lain.
Penolakan hati dan pikiran Kimmy menjadi kemelut perdebatan jiwa dan emosi. "Sekarang aku harus bagaimana? Masa bayar orang buat jadi pacar dadakan. Bisa-bisa langsung di sahkan tanpa pikir panjang. Serem juga kalau sampai terjadi."
"Papa, Mama sepertinya kebelet pengen aku nikah, tapi akunya sendiri belum siap. Hanya saja kenapa harus Rafa yang jadi calon jodohku? Tidak bisakah yang lebih dewasa dari putrinya sendiri. Astaghfirullah, Kimmy sadar kamu! Ngapain malah ngedumel sendiri." gumamnya seraya menepuk kening tanpa kekuatan.
"Jadi, menurut ibu, aku belum dewasa ya?" tanya Rafa mengalihkan perhatian sang guru pengganti yang menoleh kearahnya.