💞 NOVEL ini sedang dalam tahap REVISI demi perbaikan kualitas karya. Namun, alur dan isi tetap sama. Pemberitahuan akan saya hapus setelah REVISI SELESAI. Terimakasih.
Bunga seorang gadis desa yang mengawali karirnya sebagai karyawan biasa menjadi seorang asisten pribadi CEO tampan dan mapan yang sangat cemerlang di kantornya, harus pasrah dengan keadaan. Setelah berpisah dengan Dirga, lelaki yang sudah menjadi tunangannya dalam waktu empat tahun karena perjodohan kesalah pahaman keluarga saat itu. Dia pergi menjelajahi tempat-tempat yang pernah di singgahi untuk mengenang jejak kebersamaan mereka. Hidup begitu pilu baginya. Hingga ia teringat dengan seseorang yang selalu ingin ada di dekatnya.
Bunga mengenang kegagalan percintaan di masa lalunya dan bercerita pada kakak angkatnya Jeny. Namun belum sempat Bunga menceritakan keseluruhan kisah hidupnya, Jeny mengatakan agar Bunga tidak perlu risau akan hari esok, sebab Ryan sang CEO tampan mantan bosnya akan membuatnya bahagia.
Nb: Ini kisah sedih petualangan hidup gadis desa, menguras emosi dan air mata.
"Jika penasaran... baca terus lanjutan ceritanya ya... jangan lupa like dan komentar positifnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lintang Lia Taufik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghadap CEO
🌹 Jangan lupa tekan tombol like dan votenya juga ya, setelah selesai membaca 🌹
~ Happy reading love~
Siang itu, Jeny mengajak Bunga makan siang bersama Ferdi. Mereka makan di sebuah kafe kecil yang tepat berada di seberang jalan kantor mereka. Terlihat juga beberapa karyawan lainnya yang juga menikmati makan siang di sana.
Suasana dalam cuaca panas yang cukup ramai dengan hiruk pikuk pengunjung kafe.
"Fer, tadi Bunga tuh bantuin bu Mery masuk ke ruangan pak Ryan lho," ucap Jeny membuka obrolan mereka dengan bercerita.
"Sebaiknya Kamu jangan berurusan dengan bu Mery, Bunga. Nanti kalau ada apa-apa takutnya kita gak bisa bantu," sergah Ferdi memberi penjelasan karena peduli.
"Memangnya kenapa sih? Tadi kayaknya Pak Ryan baik orangnya, Bu Mery juga sama." Bunga menatap serius saat bertanya, sebab penasaran serta menjelaskan situasi yang dialaminya.
"Tadi Bu Mery gak marah-marah sama Kamu Bunga?" tanya Ferdi penasaran.
"Enggak tuh mereka berdua baik dan ramah malahan," kata Bunga sambil memasukkan makanan yang sedari tadi ia pesan ke dalam mulutnya.
"Kamu gak lagi pakai pengasihan 'kan?" tanya Ferdi sambil menggoda Bunga yang ia selingi dengan tawa terkekeh mendominasi.
"Apa sih Kak, buat apa kayak begituan. Aku udah cantik, Kak. Kalau emang mereka suka ya Alhamdulillah, Kak," ujar Bunga sambil tersenyum manis.
"Percaya Dek sama Kamu, cuma aku cerita saja nih ya, aku sama Ferdi saja sering kena omelan, Dek. Menurutku bu Mery itu aneh, mencampur adukkan masalah pribadi dengan urusan kantor," jelas Jeny pada Bunga sambil menikmati makan siangnya.
"Sudah yuk balik, cepetan ntar telat kena marah. Tapi kayaknya mobil bu Mery lewat tuh, aman ," ucap Ferdi sambil beranjak dari tempat duduknya. Sementara matanya memperhatikan jalan.
*****
Selang beberapa menit mereka sudah berada di meja kerja masing-masing, usai menjalankan sholat zhuhur berjamaah di mushola kantor.
"Bunga. Ikut aku ke ruangan pak Rico ya, kamu di panggil ke ruangannya," kata Ferdi yang tiba-tiba duduk di kursi depan meja kerja Bunga.
"Oke deh, kak," ucap Bunga langsung beranjak dari tempat duduknya mengikuti langkah Ferdi dan terhenti di depan ruangan Rico.
Rasa takut sempat menyelimuti pikiran Bunga kala itu. Langkahnya terasa berat, tapi tetap ia paksakan.
"Pak Rico, nih Bunga, aku tinggal dulu ya,Pak," ucap Ferdi kemudian berlalu pergi meninggalkan Bunga setelah sejenak ia menatap Bunga dan menepuk bahunya. Seolah sengaja berusaha menenangkan.
"Makasih Fer," ujar pak Rico sambil mempersilahkan Bunga duduk dengan gestur tangan bagian sebelah kanan yang sengaja di gerakkan terbuka.
"Ada apa ya, Pak panggil saya?" tanya Bunga dengan raut cemas.
"Kenapa? Takut bikin salah ya. Enggak kok, cuma minta tanda tangan Kamu saja. Saya jelaskan Bunga, biasanya karyawan yang kerja disini 3 bulan kontrak, setelah melewati 3 bulan jika memang pekerjaannya bagus dan kami cocok langsung karyawan tetap. Tapi itu tidak berlaku buat kamu, Pak Ryan menginginkan kamu langsung jadi karyawati tetap," jelas Rico.
Bunga terkejut mendengar ucapan Manager operasional yang dirasa dingin menurutnya ini. Hatinya bertanya-tanya tentu saja. Tapi ia berusaha tenang menjaga sikap.
"Kenapa Pak alasannya kalau boleh tahu?" tanya Bunga yang mencetuskan rasa penasarannya.
"Haduh ... saya juga gak paham, Bunga. Cuma jalankan perintah saja, tanda tangan cepat, nanti saya kena marah dikira menahan kamu berlama-lama disini," ucap Rico sambil tersenyum ramah.
Entah apa sebabnya, lelaki genit itu tiba-tiba mengubah sikapnya menjadi sopan dalam hitungan jam.
Setelah selesai, Bunga kemudian berjalan menuju ke ruangannya kembali, terlihat Jeny sedang berbicara dengan seseorang di sambungan telepon interkom kantor.
Kemudian, setelah menyadari Bunga kembali, ia segera menutup sambungan telepon. Bahkan gagang telepon tanpa sengaja terhentak keras.
"Bunga, suruh masuk ke ruangan Pak Ryan, sekarang!" seru Jeny agar Bunga bergegas pergi sambil menaik turunkan alisnya menggoda Bunga.
Bunga kemudian segera membalikkan tubuhnya menuju ruangan Ryan dengan ekspresi datarnya.
Tok ... tok!
"Permisi, Bapak panggil saya? Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Bunga sambil gemetar.
Tentu wajar ini kali kedua Bunga berhadapan langsung dengan bosnya dan hanya berdua saja di ruangan mewah itu.
Ryan menatap tajam ke arah Bunga tanpa berkedip, lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Bunga, gadis manis yang berasal dari desa itu semakin gemetar dibuatnya. Ryan memang terkenal kasar pada semua karyawannya.
"Bisa bantu aku foto copy berkas dan mengirim stock terakhir barang pada supplier melalui Fax?" tanya Ryan sambil menatap tajam Bunga tepat di depan wajah Bunga dengan gestur tubuhnya yang sedikit di condongkan.
Tatapan dingin tanpa senyuman, seperti menyayat hati saja.
"Bisa, Pak mana berkasnya," sahut Bunga sambil meraih berkas di tangan Ryan yang semakin mendekatkan jaraknya pada Bunga.
Sementara Bunga memundurkan langkahnya.
Bunga segera berjalan menuju mesin foto copy di sudut ruangan, tapi Ryan dengan cepat mengikuti langkah Bunga dan berdiri tepat di belakang Bunga, sedangkan kedua tangannya bertumpu pada mesin foto copy, hingga tubuh Bunga terkunci tidak bisa melakukan pergerakan. Saat Bunga menoleh ke kanan, bibir Bunga mengenai pipi Ryan.
Kaget seketika.
'Ih, jijik aku, tingkah orang ini memalukan dan menakutkan.' Batin Bunga.
Pipinya memerah seketika menahan malu. Hatinya bergejolak mengetahui perlakuan bosnya yang tak biasa.
Rasa tak nyamanpun seketika tercipta. Membuatnya ingin segera berlari meninggalkan ruangan.
"Kenapa? Selesaikan pekerjaan kamu, lalu duduk di depan meja kerja saya. Jangan lama!" perintahnya sambil meninggikan nada suaranya, membuat Bunga terkejut mendengarnya bahkan terhenyak.
"Iya, Pak," ucap Bunga singkat, lalu berjalan menuju kursi yang berada di depan meja kerja Ryan.
Bunga duduk dan berkacak pinggang membetulkan posisinya. Mengangkat wajahnya dengan percaya diri.
Bunga menyerahkan berkas pada Ryan saat duduk lalu kembali menundukkan wajahnya.
Namun, berbeda dengan Ryan, dia menatap tajam dengan mata elangnya ke arah Bunga sambil mengulum senyumnya. Sementara sebelah tangannya memainkan bolpoin yang ia ketuk-ketukkan di atas meja.
'Baru kali ini aku tahu ada cewek lugu banget, biasanya tambah merayu jika aku dekati. Tapi gadis di depanku ini malah ketakutan sampai mandi keringat.' Batin Ryan tertawa geli.
'Dasar bos mesum.' Batin Bunga. Mendapati Ryan dengan senyuman menyeringai.
"Bunga sudah ke ruangan Rico?" tanya Ryan yang membuyarkan lamunan Bunga.
"Sudah, Pak baru saja," sahutnya singkat, sambil menunduk.
Bunga bahkan tidak ingin menatap wajah Ryan setelah mengingat perlakuannya.
"Aku sedang ngomong sama kamu, tatap aku!" perintah Ryan.
Bunga kemudian menatap datar wajah bos tampan di depannya, yang menurut cerita Jeny dan Ferdi teramat tegas dan kasar pada semua karyawan.
Namun, di mata Bunga Ryan malah terlihat seperti pria mesum yang amat sangat ingin memangsanya.
"Kalau ada yang tanya kenapa saya panggil kamu, jawab saja perihal kontrak kerja. Saya tidak mau dianggap tidak adil, sebab semua yang kerja di sini melewati masa kontrak terlebih dahulu selama 3 bulan," jelas Ryan sambil menatap Bunga tanpa kedip.
"Iya, Pak, terima kasih banyak atas kesempatan yang Bapak beri untuk saya," balas Bunga.
"Iya, gaji kamu juga saya bayar tiga kali lipat lebih banyak dari chief Accounting yang ada di sini. Bukan tanpa alasan saya menggaji kamu lebih, jika saya butuh kamu lekas kemari dan bantu pekerjaan saya," terang Ryan menjelaskan pada Bunga.
Bunga bingung berusaha mencerna ucapan Ryan.
"Tapi saya enggak enak sama yang lain nanti Pak, di samakan saja gajinya. Gak apa-apa Bapak suruh-suruh saya jika memang dibutuhkan," tolak Bunga membuat senyum Ryan semakin mengembang.
"Saya pimpinan perusahaan ini, kamu gak bisa atur saya. Sana pergi, lanjutkan pekerjaan kamu," usir Ryan pada Bunga.
"Saya permisi, Pak," pamit Bunga kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan.
Sementara Jeny gelisah menunggu Bunga yang tak kunjung kembali dari ruangan Ryan.
"Ada apa, Kak?" tanya Bunga mengagetkan Jeny.
"Haduh, Dek kamu bikin kakak kaget saja. Kenapa lama sekali? Kamu nggak bikin salah 'kan? Nggak di pecat 'kan?" tanya Jeny mencecar akibat penasaran dan keterlaluan khawatir terhadap Bunga.
"Enggak, cuma suruh foto copy saja," kata Bunga, ia mengingat perkataan Ryan agar merahasiakan besar gaji yang di terimanya agar tidak ada yang iri padanya.
Bunga menoleh dan menatap ke arah Jeny berkali-kali, dan Jeny menyadarinya.
"Ada apa, Dek? Kalau memang ada masalah di omongin saja, siapa tahu kakak bisa bantu," ujar Jeny yang masih penasaran.
"Kak, pak Ryan itu apa orangnya genit?" tanya Bunga ragu-ragu.
"Huust, diliat dari CCTV tuh dek orangnya berdiri di depan layar," ucap Jeny setelah menoleh di kaca seberang mengetahui Ryan memperhatikan mereka.
"Setahu kakak anti wanita malah, dia nggak pernah punya pacar, Dek, alias jomblo abadi. Padahal dia itu kelewat tampan, mungkin sebab dia menakutkan nggak ada yang berani dekati. Emang kenapa, Dek?"
Jeny menjelaskan panjang lebar tentang CEO-nya, lalu kembali bertanya karena rasa penasarannya.
"Kok sama aku kayak yang genit gitu ya, Kak. Aku takut," ungkap Bunga.
"Eheem, ehem. Ayo kerja," ucap Ryan yang tiba-tiba berdiri di depan keduanya sambil berdehem, hingga keduanya pun terkejut lalu melanjutkan pekerjaan mereka.
Jantung Bunga serasa mau copot saja. Ia memejamkan mata sejenak, meski dalam hati merutuki kebodohannya.
🌹 Jangan lupa biasakan tekan tombol jempol dan kasi komentar sebagai bentuk apresiasi kalian terhadap penulis, ya. Salam hangat dari Author untuk kalian 😆😅😅😅😄😆. 🌹
Terimakasih sudah mampir membaca karya ku. 💜💜💜💜💜
Followme on IG: @lia_lintang08