NovelToon NovelToon
Fake Boyfriend Real Husband

Fake Boyfriend Real Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / BTS
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Septiayani

bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi

itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia

ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

malam yang hangat

Setelah dari kantin—

Arabella dan Althea kembali ke ruang rawat.

Baru saja pintu dibuka—

“Kaak!”

Dua adiknya langsung menyerbu.

Naur dan Tya dengan cepat menyambar kantong makanan di tangan Arabella.

“Wah makanannn!”

“Laper banget!”

Arabella hanya bisa menggeleng sambil tersenyum.

“Iya, iya… pelan-pelan!”

Keduanya langsung duduk dan mulai makan dengan lahap.

“Sih, makasih kak!”

“Iya, makasih!”

Arabella tersenyum hangat.

“Iya…”

Setelah itu—

tatapannya langsung mencari satu orang.

Yoga.

Ia melihat Yoga duduk di kursi dekat ranjang.

Tubuhnya sedikit membungkuk.

Satu tangannya menutupi wajah—

sementara tangan lainnya memijat pelipisnya.

Seolah menahan sesuatu.

Arabella langsung menghampiri.

Langkahnya pelan.

“Yoga…”

Yoga sedikit menoleh.

“Hmm?”

“Kenapa?”

Arabella berdiri di depannya.

Yoga menghela napas pelan.

“Sedikit pusing…”

Arabella langsung mengernyit.

“Pasti karena jagain aku… kamu cuma istirahat sebentar.”

Nada suaranya penuh rasa bersalah.

Namun tanpa banyak bicara—

ia berdiri lebih dekat.

Tangannya perlahan menyentuh kepala Yoga.

Dan mulai memijat pelan.

Gerakannya hati-hati.

Lembut.

Natural.

Seolah itu hal biasa.

Yoga terdiam.

Tidak menolak.

Malah—

perlahan memejamkan mata.

Di sudut ruangan—

Althea dan ibu Arabella saling melirik.

Lalu tersenyum kecil.

Pemandangan di depan mereka—

terlalu… hangat.

Arabella lalu membuka kantong makanan yang ia bawa.

“Sini…”

Suaranya pelan.

“Aku suapin.”

Yoga membuka mata sebentar.

Menatap Arabella.

Lalu—

tanpa protes—

ia mengangguk kecil.

Arabella tersenyum tipis.

Ia mulai menyuapi Yoga perlahan.

Satu suap.

Dua suap.

Dengan perhatian yang tidak dibuat-buat.

Yoga menurut saja.

Diam.

Menikmati.

Bukan hanya makanannya—

tapi juga perlakuan itu.

Setelah beberapa suap—

makanan habis.

Yoga bersandar pelan.

Dan tanpa sadar—

kepalanya jatuh ke pundak Arabella.

Arabella sedikit kaget.

Namun tidak menjauh.

Ia tetap diam.

Tangannya kembali memijat kepala Yoga dengan lembut.

Yoga benar-benar terlihat lelah.

Namun di wajahnya—

ada ketenangan.

Beberapa menit kemudian—

napasnya berubah lebih teratur.

Ia tertidur.

Di pundak Arabella.

Dengan nyaman.

Seolah menemukan tempatnya.

Arabella menatapnya sebentar.

Lalu tersenyum kecil.

Ia tidak bergerak.

Takut membangunkannya.

Di sudut lain—

Althea yang melihat itu langsung tidak tahan.

“Duh…”

Ia menyenggol pelan lengan ibu Arabella.

“Dunia milik berdua…”

Ia berbisik.

“Yang lain ngontrak.”

Ibu Arabella tersenyum kecil.

Tidak menyangkal.

Sementara Arabella langsung menunduk malu.

“Thea…”

Suaranya pelan.

Namun wajahnya memerah.

Yoga?

Masih tertidur.

Sepertinya tidak mendengar apa-apa.

Terlalu nyaman—

dengan pijatan lembut di kepalanya.

Dan tanpa mereka sadari—

di momen sederhana itu—

mereka saling melengkapi.

Saat Arabella butuh—

Yoga ada.

Dan saat Yoga lelah—

Arabella ada.

Seolah tanpa disadari—

perjanjian itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam.

...----------------...

Malam mulai larut di rumah sakit itu.

Lampu-lampu redup menyisakan suasana tenang yang hanya ditemani suara alat medis yang berdetak pelan dan sesekali langkah perawat di lorong luar.

Di dalam ruang rawat—

semuanya mulai tertidur.

Ibunya Arabella terbaring di ranjang pasien, napasnya teratur setelah melewati operasi panjang. Wajahnya masih pucat, namun jauh lebih tenang dibanding siang tadi.

Di lantai, tikar hangat yang dibawa Althea terbentang rapi.

Althea, Naur, dan Tya tertidur berdekatan, saling berbagi selimut. Sesekali salah satu dari mereka bergerak, tapi tetap terlelap karena kelelahan.

Di sisi lain ruangan—

sofa panjang menjadi tempat istirahat untuk dua orang yang sejak tadi tak terpisahkan.

Arabella dan Yoga.

Tubuh mereka berdekatan, tanpa jarak berarti.

Arabella duduk setengah bersandar di ujung sofa, sementara Yoga tertidur dengan posisi sedikit miring, kepalanya masih dekat dengan bahu Arabella.

Tangan Arabella bahkan tanpa sadar masih berada di dekat kepala Yoga, seolah sejak tadi tak pernah benar-benar menjauh.

Mereka berdua tertidur.

Dalam diam.

Dalam kelelahan.

Dan mungkin—

dalam rasa yang perlahan tumbuh tanpa mereka sadari sepenuhnya.

Namun, beberapa waktu kemudian—

Yoga sedikit bergerak.

Alisnya mengernyit.

Napasnya berubah.

Ia tidak nyaman.

Perlahan matanya terbuka.

Gelap.

Hanya cahaya redup lampu malam yang menyinari ruangan.

Yoga memejamkan mata lagi.

Namun rasa itu tidak hilang.

Pusing.

Bahkan lebih kuat dari sebelumnya.

“Ah…”

Ia mengerang pelan, hampir tak terdengar.

Tangannya naik ke pelipis, memijat dengan lemah.

Kepalanya terasa berat.

Seolah berdenyut.

Gerakan kecil itu—

cukup untuk membangunkan Arabella.

Matanya terbuka perlahan.

Butuh beberapa detik untuk sadar sepenuhnya.

Namun saat melihat Yoga yang terlihat tidak nyaman—

ia langsung bangun.

“Yoga?”

Suaranya pelan, masih serak karena baru bangun.

Yoga tidak langsung menjawab.

Hanya menghela napas pelan.

Arabella langsung duduk tegak.

“Kenapa?”

Nada suaranya berubah khawatir.

Yoga akhirnya membuka mata sedikit.

Menatap Arabella.

“Pusing…”

Suaranya lemah.

“Kali ini… lebih sakit.”

Dahi Arabella langsung berkerut.

Ia panik—

tapi mencoba tetap tenang.

“Tunggu…”

Tanpa berpikir panjang, ia segera bangkit dari sofa.

Berjalan cepat menuju tasnya yang berada di dekat kursi.

Tangannya sedikit gemetar saat membuka resleting.

Ia mengacak isi tas—

mencari sesuatu.

Dan beberapa detik kemudian—

ia menemukannya.

Obat.

Obat pusing yang selalu ia bawa.

Seolah sudah menjadi kebiasaan.

Arabella mengambilnya, lalu cepat kembali ke sisi Yoga.

“Nih…”

Suaranya lembut, tapi terburu.

Ia menyodorkan obat itu.

“Minum dulu.”

Ia juga langsung mengambil botol air mineral di dekatnya.

Membukanya.

Memberikannya ke Yoga.

Yoga menerimanya tanpa banyak bicara.

Menelan obat itu.

Lalu minum air.

Arabella menatapnya penuh perhatian.

Menunggu.

Namun ia tahu—

obat tidak akan langsung bekerja.

Dan melihat Yoga masih memijat kepalanya—

ia tidak bisa diam.

“Tidur lagi ya…”

Suaranya lembut.

Namun kali ini—

ia tidak hanya menyuruh.

Ia membantu.

Arabella perlahan menggeser posisi.

Lalu dengan hati-hati—

ia menarik tubuh Yoga agar lebih nyaman.

Yoga sedikit terkejut.

Namun tidak menolak.

Arabella membaringkan tubuh Yoga di sofa.

Lalu—

tanpa ragu—

ia duduk, dan menarik kepala Yoga agar berada di pangkuannya.

Yoga terdiam.

Tidak bergerak.

Kepalanya kini bersandar di paha Arabella.

Hangat.

Nyaman.

Arabella mulai memijat lagi.

Tangannya bergerak pelan di kepala Yoga.

Lebih lembut dari sebelumnya.

Lebih penuh perhatian.

Seolah ia tahu—

ini yang Yoga butuhkan.

Yoga memejamkan mata.

Menikmati.

Rasa pusing itu masih ada—

namun perlahan terasa lebih ringan.

Bukan hanya karena obat.

Tapi juga karena sentuhan itu.

Keheningan kembali memenuhi ruangan.

Namun kali ini—

bukan hening yang canggung.

Melainkan hening yang menenangkan.

Beberapa menit berlalu.

Yoga membuka mata sedikit.

Menatap ke atas.

Ke arah wajah Arabella.

Gadis itu terlihat fokus.

Tangannya terus memijat dengan hati-hati.

Wajahnya serius.

Namun lembut.

Cantik—

dalam cara yang sederhana.

Yoga menatapnya beberapa detik.

Lalu—

“Makasih…”

Suaranya pelan.

Arabella sedikit terkejut.

Ia menunduk.

Tatapan mereka bertemu.

“Hmm…”

Ia hanya mengangguk kecil.

“Udah… diem aja.”

Nada suaranya mencoba santai.

Padahal hatinya tidak.

Degupnya mulai tidak beraturan.

Entah karena suasana—

atau karena jarak mereka yang begitu dekat.

Yoga tidak berkata apa-apa lagi.

Ia hanya kembali memejamkan mata.

Namun kali ini—

senyum tipis muncul di bibirnya.

Dan di momen itu—

entah dari mana datangnya keberanian—

Arabella melakukan sesuatu yang bahkan tidak ia rencanakan.

Tangannya berhenti sebentar.

Ia menatap wajah Yoga.

Lalu—

perlahan—

ia menunduk.

Dan…

cup.

Sebuah kecupan singkat mendarat di kening Yoga.

Sangat cepat.

Sangat ringan.

Namun cukup—

untuk membuat waktu seakan berhenti.

Arabella langsung membeku.

Matanya membesar.

Ia sendiri kaget dengan apa yang baru saja ia lakukan.

“Ya Allah…”

Ia langsung menegakkan tubuh sedikit.

Wajahnya memerah.

Panik.

“Aku… aku ngapain sih…”

Ia berbisik pada dirinya sendiri.

Menyesal.

Malu.

Ingin menghilang saat itu juga.

Sementara itu—

Yoga juga terdiam.

Namun berbeda.

Ia tidak kaget dengan cara yang sama.

Ia justru—

merasa hangat.

Senyum kecil muncul di wajahnya.

Tanpa ia sadari.

Kecupan itu—

sederhana.

Namun berarti.

Lebih dari yang bisa dijelaskan.

Arabella langsung berdehem kecil.

Mencoba menutupi rasa malunya.

“Kamu… tutup mata aja!”

Suaranya sedikit terburu.

“Udah… tidur!”

Ia kembali memijat kepala Yoga.

Namun kali ini—

tangannya sedikit gemetar.

Yoga tidak membuka mata.

Tidak menggoda.

Tidak berkata apa-apa.

Ia hanya menurut.

Menutup mata.

Dan menikmati.

Di bawah pijatan lembut itu—

rasa sakit di kepalanya perlahan mereda.

Digantikan oleh rasa nyaman yang sulit dijelaskan.

Hangat.

Tenang.

Dan anehnya—

membuatnya ingin tetap seperti ini lebih lama.

Sementara Arabella—

meski masih malu—

perlahan kembali tenang.

Tangannya mulai stabil.

Pijatannya kembali lembut.

Dan di dalam hatinya—

ia tahu satu hal.

Ia sudah terlalu jauh.

Perasaannya—

tidak lagi bisa ia anggap sebagai bagian dari perjanjian.

Malam semakin larut.

Semua tetap tertidur.

Tak ada yang menyadari momen kecil itu.

Kecuali mereka berdua.

Satu yang malu setengah mati.

Satu yang diam-diam bahagia.

Dan di sofa itu—

dengan kepala yang bersandar di pangkuan Arabella—

Yoga akhirnya benar-benar tertidur.

Lebih nyenyak dari sebelumnya.

Sementara Arabella tetap terjaga.

Menatapnya pelan.

Dengan perasaan yang kini semakin jelas—

dan semakin sulit untuk disembunyikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!