Aneh bukan? Tapi kembali lagi, hati manusia tidak bisa dipaksakan. Karena cinta merupakan keikhlasan, tak ada paksaan atau pun pelampiasan. Semuanya murni dari kesucian hati yang paling dalam.
Kita tidak bisa menentukan kepada siapa hati ini akan berlabuh. Semua terjadi dengan sendirinya, namun tetap dalam kendali Sang Pencipta.
Ada saatnya berjuang dan diperjuangkan. Tugas kita hanyalah memantaskan diri sesuai dengan apa yang diharapkan, karena jodoh merupakan cerminan diri. Namun, jika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, maka yakin itulah yang terbaik. Bisa jadi, jalan kita menuju kebahagiaan yang hakiki.
Pencipta maha tahu, apa yang sebenarnya lebih kita butuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AAH♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ainun 7
*FLASHBACK ON*
DANISH LAKSHANA YUSUF
"Jadi kapan kamu akan menikah?"
Lagi-lagi kalimat itu, setiap jam bunda Sania selalu bertanya persoalan menikah. Memangnya, menikah semudah membalikkan telapak tangan. Menikah bukan hanya persoalan mengikat janji, tapi bagaimana pasangan tersebut saling memahami, saling memberi dan menerima, saling menjaga, dan yang paling penting pasangan tersebut saling mencintai dan mengasihi satu sama lain.
Danish mengedikkan bahu seperti jawaban sebelumnya "belum ada yang cocok," sembari menyendok sarapannya.
"Kamu yah, setiap Bunda tanya, jawabannya pasti itu terus. Bunda kan, ingin segera menimang cucu," ucap bunda Sania.
"Sudahlah Bunda, Danish bukan anak kecil lagi yang setiap saat harus dituntut masalah seperti itu. Biarkanlah Danish mencari sesuai dengan kriterianya selama ini," sanggah ayah Yusuf mencoba membela anaknya.
"Ayah selalu saja membelanya! Ini juga demi kebaikan dia. lihat! Umurnya sudah 28 tahun, tapi belum ada tanda-tanda. Anak temannya Bunda, umur segitu sudah punya 2 anak," ucap bunda Sania dan kembali mengalihkan pandangannya kepada Danish.
"Bunda ...." Ayah Yusuf mencoba menghentikan istrinya.
"Bunda tidak mau tahu! Suka atau pun tidak, kamu harus bawa dokter Friska pada saat perayaan nanti! Lagian, Bunda heran deh sama kamu, apasih kekurangan dokter Friska? Dia cantik, baik, dan pastinya punya masa depan. Bunda tidak mau yah, orang berpikir macam-macam tentang anak Bunda. Sudah berapa kali perayaan kok, masih sendiri," omel bunda Sania.
Danish hanya menggelengkan kepala dan diam menanggapi ucapan bundanya. Dia tetap melanjutkan makanannya dengan tenang.
Sementara itu, ayah Yusuf menghela napas mendengar perkataan istrinya. Sebenarnya, dia juga tidak sependapat dengan apa yang dikatakan oleh ibu dari anaknya itu. Bahkan, ayah Yusuf memberikan kebebasan kepada putera semata wayangnya dalam memilih pasangan yang benar-benar diinginkan.
Seperti biasa, dia mencoba mengalihkan topik pembicaraan, agar istrinya tidak memperpanjang masalah.
"Danish, bagaimana keadaan perusahaan?"
"Baik Ayah. Banyak investor yang ingin bekerja sama dengan perusahaan kita. Tapi, tidak semuanya diterima. Aku hanya memilih yang memang pantas menurutku. Kemungkinan besar, investor yang terpilih akan diundang untuk perayaan nanti. Jadi Ayah bisa melihatnya."
"Bagus! Ayah harap, kamu bisa mempertahankan eksistensi perusahaan kita."
"Danish akan berusaha."
Seperti itulah suasana sarapan pagi di rumah keluarga Danish. Bundanya selalu memulai dengan persoalan menikah dan ayahnya selalu menutupnya dengan membahas masalah perusahaan. Membosankan bukan?
Memang sih, semua orang ingin menikah termasuk Danish sendiri. Tapi, dia merasa belum menemukan yang cocok. Tidak menuntut yang sempurna, cukup yang memahaminya dan Danish mencintainya. Sederhana bukan? Tapi sayangnya, sampai sekarang dia belum menemukan.
Yah, masalah dokter Friska yang bundanya bicarakan, orangnya cantik, juga baik. Tapi, entah kenapa Danish tidak merasakan sesuatu pada saat bersamanya. Kembali lagi, bahwa hati manusia tidak bisa dipaksakan. Karena perasaan cinta merupakan sesuatu yang murni.
"Huufff ...." Danish menghela napas sebelum beranjak dari meja makan dan berlalu menuju kamarnya. Danish tidak ingin berlama-lama di sana mendengar ocehan bunda Sania dan segera mengistrahatkan indera pendengarannya. Bisa-bisa, gendang telinganya retak karena omelan bundanya. Danish merogoh ponselnya dan mencari nama Lutfi asistennya.
"Batalkan semua jadwal meeting hari ini," ucapnya menginstruksi.
"Baik, Presdir."
Tanpa menunggu lama, Danish mematikan sambungan telpon. Dia melempar ponselnya pada Sofa, dan mengusap kasar wajahnya. Setelah itu, dia pun segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Sepertinya, pria itu butuh berendam untuk menyegarkan pikiran.
.
.
.
.
.
Jangan galak\-galak dong bunda kan kasihan si Danish😂 Nanti Author cariin deh yang cocok.
Terima kasih kepada Readersku yang masih setia dengan Novel "AINUN" Semoga semua dalam keadaan sehat wal Afiat.😇
jangan lupa tinggalkan jejak like Comment dan Vote untuk menambah semangat Authornya 🤗
Salam
AAH♥️
trnyata lutfii orang nyaa