Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAK TOR JADI BAHAN KOMENTAR
Komentar pertama yang kubaca berbunyi: kalau tangannya begitu, jangan suruh pegang listrik. Komentar kedua lebih buruk. Komentar ketiga memakai foto Pak Tor yang diperbesar, diberi musik sedih, lalu ditambahi tulisan teknisi tua cari belas kasihan.
Aku terus menggulir meski setiap baris terasa seperti pasir masuk ke mata. Ada yang menuduh Bapak berpura-pura sakit untuk menghindari utang. Ada yang bertanya berapa banyak rumah pernah ia bahayakan. Seseorang menulis bahwa bengkel kami seharusnya ditutup sebelum ada korban.
“Jangan dibaca,” kata Liza.
“Aku mau lihat siapa yang ngomong.”
“Lalu apa? Kau datangi satu-satu?”
“Kalau alamatnya ada.”
Tia duduk di ujung meja dengan ponsel di pangkuan. Tidak ada ring light. Tidak ada komentar sarkastis. Ia sudah melaporkan unggahan ulang, menghubungi akun pertama, dan meminta pengikutnya tidak menyebarkan. Namun, salinan muncul seperti kecoa: satu dihapus, dua keluar dari celah lain.
Pak Tor tidak mengatakan apa-apa. Ia duduk di kursi kerjanya dan membersihkan mata solder dengan spons, padahal solder itu tidak menyala. Tangan kanannya bergetar lebih keras ketika ia sadar kami memperhatikannya.
“Bapak tak usah baca,” kataku.
“Siapa bilang aku baca?”
Ponselnya terbalik di meja. Layar masih menyala. Dari pantulan kaca, aku melihat halaman komentar yang sama.
Mak Mina meletakkan kopi terlalu keras sampai sedikit tumpah. “Orang internet itu kalau kukasih sendok, mungkin baru sopan.”
“Mak jangan ikut,” kata Tia.
“Aku bukan ikut. Aku menawarkan pendidikan.”
Malam itu bengkel ditutup lebih awal. Pak Tor masuk kamar tanpa memeriksa kunci gudang, sesuatu yang tidak pernah ia lewatkan. Aku duduk di depan pintu, menunggu kalau ia keluar. Yang terdengar hanya kipas kamar dan suara Mak Mina mengomel pelan, tidak jelas kepada siapa.
Pagi berikutnya pintu bengkel tetap tertutup. Jam tujuh lewat, tidak ada suara logam, tidak ada radio tua, tidak ada batuk Bapak dari meja solder. Sebuah kertas ditempel dari dalam: TUTUP HARI INI.
Aku mengetuk pintu kamar. “Pak?”
“Pergi kerja.”
“Bengkel tutup.”
“Buka sendiri.”
Tia mengetuk pintu kamar Bapak dan meminta maaf dari luar. Tidak ada jawaban. Ia duduk di lantai hampir sepuluh menit, lalu berkata bahwa ia menghapus semua bahan mentah dari penyimpanan daring dan memindahkan sisanya ke komputer. Dari dalam kamar terdengar suara Bapak, pelan sekali: “Lain kali tanya.” Tia mengangguk meski pintu masih tertutup.
Aku melihat adikku menahan tangis dan tidak tahu apakah harus menghibur atau memarahinya. Kesalahan kami berbeda bentuk, tetapi sumbernya mirip: kami sama-sama merasa tujuan baik memberi izin untuk memutuskan hidup orang lain. Bedanya, Tia mulai mengakui itu lebih cepat dariku.
Liza datang membawa sarapan dan nomor klinik yang katanya bisa memeriksa tremor serta bekas cedera tangan. Aku membawa kertas itu ke kamar. Pak Tor duduk di tepi ranjang, mengenakan kaus singlet dan celana kerja, tetapi belum memasang jam tangan.
“Kita periksa,” kataku.
Ia membaca nama klinik lalu mengembalikannya. “Tak perlu.”
“Tangannya makin kuat gemetarnya.”
“Tangan ini milikku.”
“Tapi pekerjaannya menyangkut orang lain.”
Begitu kalimat itu keluar, aku ingin menariknya kembali. Wajah Bapak mengeras. Selama ini ia yang mengucapkan kalimat serupa kepadaku. Sekarang aku memakainya seperti palu.
“Kau kira aku tidak tahu?” tanyanya.
Aku duduk di kursi plastik. “Aku kira Bapak takut.”
“Takut apa?”
“Tak bisa kerja lagi.”
Ia menatap lemari. Di pintunya tergantung baju kerja lama berwarna abu-abu, saku depannya penuh bekas timah. “Sejak sebelum kau lahir, orang memanggilku kalau rumah gelap. Aku masuk, aku cari, aku betulkan. Sekarang tangan ini kadang tak mau ikut perintah.”
“Karena kecelakaan itu?”
Bapak mengangguk sekali. Ia jarang menceritakan kecelakaan kerja lama. Kami hanya tahu ada jatuh, luka saraf, dan biaya pengobatan yang berubah menjadi utang. “Dulu kukira kalau latihan terus, akan kembali. Tidak kembali.”
Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Kalimat motivasi akan terdengar seperti ucapan pada spanduk murah. Jadi aku hanya duduk. Di luar, Fadli mencoba membuka gembok bengkel dengan kunci yang salah dan memaki pelan.
Liza masuk setelah mengetuk. Ia tidak membujuk panjang. “Pemeriksaan tidak berarti Bapak berhenti. Kita perlu tahu pekerjaan apa yang masih aman dan apa yang harus dialihkan.”
Pak Tor menatapnya. “Kalau dokter bilang berhenti?”
“Maka kita dengar alasannya. Bukan komentar internet.”
Ia tetap menolak berangkat. Namun, ia memberikan izin untuk membuat janji pada hari lain. Itu bukan kemenangan besar, tetapi Liza menuliskannya di kalender seolah kontrak sudah ditandatangani.
Menjelang siang aku membuka bengkel. Pelanggan pertama datang membawa blender. Ia melihat ke dalam dan bertanya pelan apakah Pak Tor benar sakit. Aku hampir mengusirnya, tetapi Bapak keluar dari rumah dan berdiri di ambang pintu.
“Blendernya taruh,” katanya.
Pelanggan itu ragu. “Bapak yang periksa?”
Bapak melihat tangannya sendiri. “Jefri yang periksa. Aku lihat dari sini.”
Aku membawa blender ke meja. Untuk pertama kalinya, Bapak memberi instruksi tanpa mengambil alat dari tanganku. Ia menunjukkan suara bearing, meminta aku memeriksa kabel, lalu membiarkanku menyelesaikan. Ketika blender menyala, pelanggan membayar dan pergi tanpa komentar.
Sore hari Pak Tor mengambil gantungan kunci bengkel dari pinggangnya. Di sana ada kunci pintu depan, gudang, laci kas, dan panel belakang. Ia meletakkannya di telapak tanganku.
“Pegang,” katanya.
“Untuk sementara?”
“Sampai aku tahu tangan ini masih bisa dipakai untuk apa.”
Kunci-kunci itu ringan, tetapi ketika kugenggam rasanya lebih berat daripada kotak alat. Pak Tor masuk rumah tanpa menoleh. Di depan bengkel, papan nama miring ditiup angin, dan untuk pertama kalinya aku berdiri di bawahnya tanpa Bapak di belakangku.