Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANGKA YANG TIDAK MASUK AKAL
Angka-angka di meja Liza terlihat seperti barisan semut yang sedang rapat keluarga. Ada tagihan listrik, foto meter, catatan tanggal, dan tiga gelas kopi yang semuanya sudah dingin. Aku berdiri di belakang kursinya selama hampir satu menit sebelum mengakui bahwa aku tidak mengerti apa yang sedang kulihat.
“Yang ini naik dua ratus ribu dalam sebulan,” kata Liza sambil mengetuk satu kolom. “Yang ini naik seratus delapan puluh. Yang ini hampir sama. Rumahnya beda, pemakaiannya beda, tapi kenaikannya mulai pada minggu yang sama.”
Aku mencondongkan badan. “Mungkin kelen satu gang beli AC serentak.”
Liza menoleh pelan. Tatapannya membuatku merasa baru mengusulkan bahwa listrik dihasilkan dari rebusan daun singkong. “Kak Salmah tinggal sendiri dan kipasnya pun dipukul dulu baru hidup.”
Fadli yang sedang memakan gorengan di dekat pintu mengangkat tangan. “Kipas model begitu hemat. Setengah jam pertama dipakai untuk marah, bukan memutar.”
“Kau diam,” kataku.
“Aku sedang memberi data lapangan.”
Liza menarik satu lembar ke depan. Nama pemilik meter itu Sulaiman Harahap. Di sampingnya ada nomor identitas pelanggan, alamat rumah kosong di ujung gang, dan catatan kecil yang ditulis Liza dengan huruf rapat: MENINGGAL 4 TAHUN LALU.
Aku membaca nama itu dua kali. “Jadi orang mati masih bayar listrik?”
“Bukan itu masalahnya.”
“Itu sudah cukup jadi masalah menurutku.”
Ia menunjuk foto kotak distribusi bergembok yang kami temukan. “Satu jalur masuk ke rumah kosong. Dari sana kabel bercabang ke beberapa titik. Kalau konsumsi dipindahkan atau dibebankan ke meter tertentu, tagihan warga bisa naik tanpa mereka tahu.”
Binsar muncul dari gudang dengan gulungan kabel di bahu. Sejak dituduh mencuri olehku, ia berbicara kepadaku hanya jika perlu. Sayangnya, ukuran perlu menurut Binsar tetap lebih panjang daripada pidato ketua panitia tujuh belasan.
“Aku pernah lihat jalur begitu di belakang rumah kosong,” katanya. “Waktu membantu pasang tenda. Ada kabel naik lewat pohon mangga. Tapi kupikir untuk lampu hantu.”
“Lampu hantu?” tanya Liza.
“Orang bilang rumah itu berhantu. Kalau malam ada cahaya.”
Fadli mengunyah. “Rupanya hantunya pakai meter orang.”
Aku mengambil senter dan tespen dari meja. “Kita tengok malam ini.”
Liza menutup buku catatan dengan telapak tangan. “Kita tidak pergi membongkar apa pun.”
“Siapa bilang membongkar? Aku cuma melihat.”
“Kau melihat pakai tang kombinasi.”
Aku meletakkan tang yang rupanya sudah kuselipkan ke pinggang. “Kebiasaan kerja.”
Liza menarik napas dan membagikan salinan angka kepada kami. Rencananya sederhana menurutnya: minta warga mengumpulkan tiga bulan tagihan, foto kondisi meter, catat pemakaian alat, lalu ajukan laporan resmi bersama. Menurutku, rencana itu lambat seperti antrean kantor yang petugasnya sedang ulang tahun.
“Selama kita mengumpulkan kertas, mereka bisa memindahkan kabel,” kataku.
“Selama kau bertindak sendiri, mereka bisa menuduhmu merusak instalasi.”
“Kalau kita takut terus, tak akan selesai.”
“Berani bukan berarti harus kelihatan paling depan.”
Kata-kata itu membuat panas naik ke leherku. “Jadi aku pengecut kalau menunggu?”
“Bukan.” Liza berdiri. “Tapi kau selalu memilih tindakan yang membuatmu kelihatan hebat, bukan yang paling aman untuk orang lain.”
Warung di depan bengkel tetap bising, tetapi meja kami mendadak terasa seperti ruang pemeriksaan. Binsar menurunkan gulungan kabel. Fadli berhenti mengunyah. Bahkan Tia, yang tadi merekam papan nama dari sudut rendah, menurunkan ponselnya.
Aku ingin membalas. Banyak jawaban kasar sudah sampai di ujung lidah. Namun, bayangan kabel kecil di pesta pernikahan muncul lagi: aku berdiri di depan semua orang, merasa paling tahu, sementara orang lain harus menanggung gelapnya.
“Kalau laporan masuk, siapa menjamin listrik warga tidak diputus?” tanyaku lebih pelan.
Liza tidak langsung menjawab. “Tidak ada. Itu sebabnya kita harus datang bersama, bawa bukti, dan pastikan semua tercatat.”
Sore itu kami mendatangi empat rumah. Kak Salmah menyimpan tagihan di dalam kaleng biskuit bersama kuitansi arisan. Amang Riswan takut namanya dicatat karena anaknya bekerja di kantor kecamatan. Seorang penjual mi mengatakan ia lebih rela membayar mahal daripada listriknya diputus ketika adonan sedang dibuat.
“Kelen mau melawan, lawanlah,” katanya. “Jangan bawa meterku.”
Pulang ke bengkel, daftar kami bertambah, tetapi keberanian warga tidak. Aku mulai memahami bahwa kabel liar itu bukan hanya soal kawat dan angka. Ada rasa takut yang dibagi rata, lalu ditagihkan kepada orang yang paling lemah.
Sebelum bubar, Liza membuat rapat kecil di warung Mak Sendok. Delapan warga datang, tetapi tiga di antaranya hanya ingin tahu apakah tagihan mereka bisa dibayar belakangan. Mak Sendok memukul meja dengan sendok dan berkata rapat bukan loket utang. Suasana baru tenang setelah Pak Tor membawa satu meter bekas dan menjelaskan bagaimana arus seharusnya tercatat. Ia bicara singkat, tanpa menuduh siapa pun. Justru karena itu warga mendengarkan.
Seorang bapak yang sejak awal diam akhirnya menyerahkan fotokopi tagihannya. Setelah itu dua orang lain ikut. Keberanian rupanya menular pelan-pelan, bukan seperti ledakan yang kusukai. Liza mencatat nama mereka dan berjanji tidak mengirim laporan sebelum semua memahami risikonya. Aku diminta menahan diri. Binsar bahkan ditugaskan mengawasi agar aku tidak membawa tang malam-malam.
“Kenapa aku diawasi dia?” protesku.
“Karena kalau kau mulai bodoh, mulutnya cukup panjang untuk memanggil kami,” jawab Liza.
Ponselku bergetar ketika Mak Mina sedang menyusun nasi bungkus untuk jualan besok. Nomor tak dikenal mengirim satu foto dari seberang jalan. Dalam foto itu, Mak Mina berdiri di depan panci sambal, kepalanya menunduk, tidak sadar sedang dipotret.
Di bawah foto ada tulisan: MAK MINA KELUAR JAM 05.30. PULANG JAM 10.00. JANGAN BIKIN ORANG TUA SUSAH KARENA KAU BANYAK TENGOK.
Tanganku menggenggam ponsel sampai buku-buku jari memutih. Di belakangku, Mak Mina masih menghitung kotak nasi sambil bersenandung kecil, seolah pagi berikutnya hanya akan membawa pelanggan biasa.