Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Saat mendengar namanya dipanggil, wajah Rani langsung memucat.
"Rani!"
Suara Arga terdengar begitu jelas di tengah keramaian pasar.
Tubuh Rani menegang. Kedua tangannya yang memegang kantong belanja bergetar pelan. Berbagai kenangan pahit mendadak memenuhi pikirannya.
"Bi... Bi..." ucap Rani terbata-bata. Wajahnya dipenuhi kepanikan.
Bibi Sari langsung menyadari perubahan ekspresi wanita itu.
"Kenapa, Bu Rani?" tanyanya khawatir. Dahinya berkerut.
Namun sebelum sempat menjawab, Rani sudah melihat Arga berjalan cepat ke arahnya. Jantungnya berdebar semakin kencang.
"Saya harus pergi..." bisiknya pelan. Wajahnya dipenuhi ketakutan.
"Bu Rani?" panggil Bibi Sari bingung.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Rani langsung berbalik dan berlari menembus kerumunan pasar.
"Bu Rani!" seru Bibi Sari terkejut.
Di sisi lain, Arga yang melihat Rani kabur langsung mempercepat langkahnya.
"Rani! Tunggu!" teriaknya keras. Wajahnya dipenuhi kepanikan.
Ia berlari melewati para pembeli yang memenuhi lorong pasar.
"Saya mau bicara!" teriaknya lagi.
Namun Rani tidak menoleh sedikit pun. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya saat ia terus berlari menjauh.
Ia tidak ingin bertemu Arga. Tidak ingin mengingat semua hinaan yang pernah diterimanya. Tidak ingin kembali merasakan sakit yang sama.
Sementara itu, Arga semakin mempercepat langkah.
"Rani!" teriaknya.
Bruk!
"Astaga!" pekik Arga kaget
Arga tiba-tiba menabrak seorang pria yang sedang membawa beberapa kantong belanja. Seluruh barang belanjaan langsung berjatuhan ke tanah.
"Hei! Kalau jalan lihat-lihat!" bentak pria itu kesal. Wajahnya dipenuhi kemarahan.
"Maaf! Maaf!" ucap Arga buru-buru.
Namun saat ia kembali mengangkat kepala, sosok Rani sudah menghilang di balik kerumunan pasar.
"Sial!" geramnya.
Ia berlari ke kanan dan kiri mencari keberadaan mantan istrinya. Namun hasilnya nihil.
Rani benar-benar lenyap dari pandangannya.
Beberapa menit kemudian...
Arga berdiri di tengah pasar sambil mengatur napas yang memburu. Keringat membasahi dahinya. Tatapannya terus menyapu setiap sudut pasar. Tetapi wanita yang tadi dilihatnya tidak ditemukan lagi.
Bu Ratna akhirnya menyusul dari belakang.
"Mana Rani?" tanyanya penasaran. Wajahnya dipenuhi rasa ingin tahu.
Arga menggeleng pelan.
"Hilang..." jawabnya lirih.
Bu Ratna ikut melihat ke sekeliling.
"Mungkin dia bukan Rani." balas Bu Ratna santai.
Arga terdiam.
Pikirannya masih dipenuhi bayangan wanita yang tadi dilihatnya. Wanita itu memang sangat mirip Rani. Tetapi penampilannya jauh berbeda.
Kulitnya terlihat bersih dan cerah. Tubuhnya lebih ramping. Cara berpakaiannya juga terlihat anggun. Bahkan sorot matanya tampak lebih hidup dibanding dulu.
Arga mengusap wajahnya kasar.
"Mungkin aku salah lihat." gumamnya pelan. Wajahnya dipenuhi keraguan.
Bu Ratna menoleh.
"Maksudmu?" tanya Bu Ratna penasaran.
Arga menghela napas panjang.
"Mana mungkin Rani yang gendut dan dekil itu bisa berubah secepat itu." ucapnya lirih.
Namun entah kenapa, setelah mengucapkan kalimat itu, hatinya justru terasa tidak nyaman.
Bayangan senyum Rani terus muncul dalam pikirannya.
Dulu...
Rani selalu bangun lebih pagi darinya. Menyiapkan sarapan. Mencuci pakaian. Membersihkan rumah.
Bahkan saat sedang sakit sekalipun, wanita itu tetap berusaha melayani dirinya dan ibunya. Tetapi ia tidak pernah menghargainya.
Kini setelah Rani pergi, barulah ia menyadari betapa besar peran wanita itu dalam hidupnya.
"Kalau benar itu Rani..." gumam Arga pelan. "Kenapa dia lari dariku?"
Bu Ratna mendengus pelan.
"Masih perlu ditanya? Setelah semua yang kita lakukan padanya?" ucapnya tanpa sadar.
Arga terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa membantah ucapan ibunya.
Sementara itu...
Di area parkir pasar. Rani berdiri di samping mobil yang dikirim sopir rumah Adrian.
Napasnya masih terengah-engah. Tangannya gemetar.
"Bu Rani..." panggil Bibi Sari lembut.
Rani menundukkan kepala.
"Saya melihat Arga lagi, Bi." ucapnya lirih. Wajahnya dipenuhi kesedihan.
Bibi Sari langsung mengerti. Wanita tua itu menggenggam tangan Rani dengan hangat.
"Sudah tidak apa-apa sekarang." ucapnya menenangkan.
Rani mengangguk pelan. Tetapi jauh di dalam hatinya, ia tahu pertemuan itu bukanlah kebetulan.
Cepat atau lamba Arga pasti akan mengetahui keberadaannya. Dan saat hari itu tiba, ia tidak akan menjadi Rani yang dulu lagi.
Wanita lemah yang selalu menangis karena hinaan. Wanita yang selalu memohon agar dicintai.
Kini, perlahan-lahan, Rani sedang membangun kembali dirinya. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama...