Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK
BOOOOM!!!
Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.
"Turun!" teriak Bayu.
Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.
*TAT... TAT... TAT...*
Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.
Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.
Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 : RENCANA GILA
Matahari mulai condong ke barat, menyisakan cahaya kemerahan yang menembus celah dedaunan. Angin sore berhembus pelan, membawa bau daun kering dan tanah gembur. Di bawah rimbunan pohon beringin tua yang akarnya menjalar ke mana-mana, Bayu duduk bersandar diam. Matanya menatap lurus ke arah jalan setapak yang berkelok-kelok turun ke kampung. Di tangannya, sebilah bambu runcing yang ujungnya dibakar ia putar perlahan, seolah sedang menghitung setiap jengkal tanah yang terlihat dari tempat mereka bersembunyi.
Di sebelahnya, Karta duduk bersila sambil mengaduk-aduk tanah dengan rantai kering. Wajahnya masih berlumuran debu, rambutnya kusut berantakan. Sesekali ia melirik Bayu, lalu menghela napas panjang yang terdengar jelas di keheningan sore itu.
"Bayu..." panggil Karta pelan, suaranya penuh keraguan.
"Kita berdua saja. Yang lain sudah pergi bergabung dengan warga di pengungsian. Tinggal kau dan aku di sini. Hanya dua orang."
Bayu tak segera menoleh. Matanya masih terpaku pada jalan yang jauh di bawah sana.
"Dua orang cukup untuk mulai," jawabnya tenang.
"Cukup?" Karta tertawa sinis pelan.
"Mereka puluhan, bersenjata lengkap, ada senapan, ada peluru, ada mesiu. Kita? Lihat ini!" Karta mengangkat bambu runcing yang dipegangnya.
"Bambu yang dibakar ujungnya. Satu batu. Satu tali rami. Itu saja. Kau sebut ini cukup?"
Bayu berbalik menatap sahabatnya. Wajahnya serius, namun tak ada sedikit pun keraguan di matanya.
"Kita hafal setiap jengkal tanah ini, Karta. Mereka tidak. Di sini setiap belokan punya cerita, setiap semak punya jalan tersembunyi. Mereka membawa senjata canggih, tapi mereka buta di tanah kita."
Karta menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu mendekatkan wajahnya.
"Hafal tanah saja tak cukup, Bayu. Kalau mereka menembak dari jauh, apa bambu ini bisa membalas peluru?"
Bayu tersenyum tipis, lalu menunjuk ke sekeliling mereka.
"Lihatlah sekelilingmu. Apa yang kau lihat?"
"Pohon. Semak. Batu. Tanah. Apa lagi?"
"Justru itu," ucap Bayu mantap.
"Di sinilah senjata kita. Bukan besi yang ditempa di pabrik jauh. Tapi apa yang tumbuh dan hidup di tanah ini sejak leluhur kita belum lahir. Air sungai yang bisa berubah arah. Tanah liat yang bisa melumpuhkan kaki. Duri yang bisa melukai mata. Angin yang bisa membawa suara ke mana saja."
Karta melotot.
"Kau mau melawan senapan pakai tanah liat dan duri? Bayu, kau kepanasan kepala ya?"
"Kita tidak akan melawan mereka dengan kekuatan yang sama," jawab Bayu tenang namun tegas.
"Kita tidak akan berdiri di jalan dan menunggu mereka menembak. Kita datang dan pergi seperti bayangan. Kita buat mereka takut pada tanah yang mereka pijak sendiri. Kita buat mereka ragu pada suara angin. Kita buat mereka lelah mencari yang tak pernah terlihat."
Bayu merentangkan tangannya ke arah hutan dan ladang yang membentang luas di hadapan mereka.
"Mereka asing di sini. Setiap bayangan adalah musuh. Setiap suara adalah bahaya. Itu kelemahan terbesar mereka. Dan itu kekuatan terbesar kita."
Karta terdiam. Ia menatap wajah sahabatnya lekat-lekat, seolah baru pertama kali melihat orang itu. Lalu ia menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke batang pohon besar.
"Baiklah... Katakanlah aku percaya. Lalu apa rencananya? Kita lempar batu dari atas pohon? Atau kita tusuk kaki mereka pakai bambu saat lewat?"
Bayu meraba tanah di sebelahnya, mengambil sebatang rantai lurus, lalu menggambar peta kasar di atas tanah yang rata.
"Lihat sini. Ada tiga jalan masuk ke kampung. Jalan utama dijaga ketat. Jalan sebelah timur licin dan curam. Dan jalan barat... melewati jembatan sempit di atas sungai yang airnya deras."
Bayu menunjuk garis melengkung yang ia buat.
"Patroli mereka berjalan berkelok setiap dua jam sekali. Mereka selalu lewat berbaris rapi, senjata siap di tangan. Tapi mereka tidak pernah memeriksa pinggir jalan dengan teliti. Mereka merasa aman karena merasa sudah menguasai tempat itu."
Karta menyodok gambar di tanah dengan jarinya.
"Lalu kita serang di jembatan itu?"
"Belum," jawab Bayu sambil menggeleng pelan. "Jembatan itu terlalu terbuka. Kalau kita menyerang di sana, peluru mereka bisa mengejar kita sampai ke hutan. Kita harus memilih tempat di mana senjata mereka tak berguna sepenuhnya."
Bayu lalu menunjuk ke arah semak belukar lebat yang menutupi lereng curam tak jauh dari jembatan.
"Di sana. Jalurnya sempit. Di kiri tebing curam, di kanan sungai dalam. Kalau sesuatu terjadi di tengah jalan itu, mereka tak bisa berbaris. Mereka tak bisa lari ke samping. Dan yang paling penting... suara tembakan mereka akan teredam oleh tebing batu dan rimbunan pohon."
Karta melotot, lalu tiba-tiba matanya berbinar seakan mendapat ide gila.
"Tunggu... Bayu... kalau begitu... bagaimana kalau kita tidak menyerang sama sekali?"
Bayu menatapnya bingung.
"Maksudmu?"
Karta bersandar rileks sambil tersenyum lebar.
"Kita buat mereka takut sendiri. Kita tidak perlu menyakiti satu orang pun dulu. Kita cukup membuat mereka yakin bahwa hutan ini berisi sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar dua orang petani dengan bambu runcing."
Bayu mengerutkan kening.
"Jelaskan."
Karta mencondongkan tubuh, matanya berbinar penuh semangat.
"Dulu kakekku pernah bilang... di hutan ini ada harimau yang tak pernah mati. Suaranya menggetarkan tanah. Kalau kita bisa menirukan suara harimau itu... suara yang terdengar datang dari mana-mana sekaligus..."
Bayu tertegun sejenak, lalu perlahan tersenyum.
"Maksudmu..."
"Dan bukan hanya harimau!" potong Karta makin bersemangat.
"Ada suara babi hutan yang marah. Ada suara ular besar yang melata di dedaunan. Bahkan suara angin yang berbisik seperti orang berbicara di telinga mereka! Kalau kita lakukan itu dari berbagai arah sekaligus... mereka pasti panik! Mereka akan menembak ke mana-mana tanpa sasaran! Mereka akan lelah ketakutan sendiri!"
Bayu diam sejenak, membiarkan ide gila itu meresap di pikirannya. Awalnya terdengar konyol. Dua orang dewasa berteriak meniru suara binatang di tengah hutan. Namun semakin ia pikirkan... semakin ia sadar bahwa ide itu justru memiliki kelebihan yang tak disangka-sangka.
Pasukan Belanda tidak mengenal hutan ini. Mereka tidak tahu suara apa yang wajar dan apa yang tidak. Di tengah kegelapan atau kabut tebal, suara yang datang dari segala arah tanpa terlihat penampakannya... itu jauh lebih menakutkan daripada musuh yang terlihat jelas di hadapan mata.
Bayu menatap Karta lekat-lekat.
"Kau serius?"
"Serius sekali!" jawab Karta dengan wajah penuh keyakinan.
"Bayu, bayangkan... malam gelap gulita. Kabut turun tebal. Tiba-tiba terdengar auman harimau dari sebelah kanan. Mereka menoleh ke kanan. Belum sempat napas teratur... terdengar geraman babi hutan besar dari sebelah kiri! Mereka berbalik ke kiri. Lalu dari atas, dari bawah, dari belakang... suara berbisik, suara rantai patah, suara daun bergesekan seolah ribuan makhluk bergerak mendekat sekaligus!"
Karta berdiri, bergerak dengan gerakan lebar seolah sedang menggambarkan suasana itu sendiri.
"Mereka tak akan tahu harus menembak ke mana! Mereka akan saling tembak karena panik! Mereka akan lari terbirit-birit karena merasa dikepung ribuan musuh padahal... hanya kau dan aku yang bersembunyi di balik semak!"
Bayu ikut berdiri. Matanya menatap jauh ke arah kampung yang mulai samar tertutup kabut sore. Jantungnya berpacu cepat, bukan karena takut, melainkan karena semangat yang perlahan membara. Ide itu memang gila. Sangat gila. Namun justru karena terlalu gila... musuh tak akan menyangkanya sama sekali.
"Mereka tidak akan menyangka," gumam Bayu pelan.
"Mereka mencari pasukan bersenjata. Mereka tidak mencari dua orang yang meniru suara binatang."
"Benar!" seru Karta berbisik namun penuh semangat.
"Dan sementara mereka sibuk menembak bayangan dan ketakutan sendiri... kita bisa melihat kelemahan mereka. Kita bisa tahu siapa yang berani dan siapa yang penakut. Kita bisa tahu di mana posisi mereka yang paling lemah!"
Bayu berbalik menatap sahabatnya. Kali ini senyumnya melebar sungguh-sungguh.
"Kau sering kali bicara sembarangan, Karta. Tapi kali ini... ide itu mungkin saja menyelamatkan nyawa kita."
Karta tersenyum bangga, dadanya membusung sedikit.
"Aku kan kadang juga pintar, tahu. Bukan cuma lapar dan takut."
Bayu tertawa pelan, lalu kembali serius. Ia menunjuk sekeliling mereka.
"Baiklah. Kalau begitu, mari kita susun rencananya dengan benar. Pertama, kita pelajari jalur patroli mereka sampai hafal benar. Kedua, kita cari tempat-tempat persembunyian yang baik di sepanjang jalur itu. Ketiga... kita latih suara kita."
Karta melotot.
"Latih suara?"
"Ya," jawab Bayu sambil menahan senyum.
"Kau bilang bisa meniru suara harimau? Buktikan. Jangan sampai suaramu terdengar seperti kambing tercekik."
Karta mendengus kesal.
"Tunggu saja! Nanti kau gemetar ketakutan sendiri mendengar suaraku!"
"Baiklah. Kita lihat nanti." Bayu lalu menunjuk ke arah sungai yang berkilauan di kejauhan.
"Sekarang bergerak. Sebelum gelap, kita harus sudah tahu jam berapa patroli mereka lewat jembatan itu. Dan kita harus tahu berapa orang yang berjalan dalam satu barisan."
Mereka berdua bergerak pelan, menyusuri lereng yang tertutup semak tinggi. Setiap langkah diatur hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Kini ada semangat baru yang mengalir di dada mereka. Bukan sekadar ketakutan atau keputusasaan. Melainkan harapan yang tumbuh dari akal dan keberanian.
Di bawah sana, mulai terlihat barisan prajurit Belanda berjalan beriringan di jalan setapak. Senjata mereka tergenggam erat, mata mereka waspada menyapu sekeliling. Namun di mata Bayu dan Karta... mereka tidak lagi terlihat sekuat dulu. Mereka tampak seperti orang yang berjalan buta di rumah orang lain.
Karta berbisik pelan di samping Bayu.
"Lihat mereka... berjalan kaku seperti kayu. Tak tahu bahwa di balik setiap pohon ada mata yang mengawasi."
Bayu berbisik balik tanpa menoleh.
"Mereka merasa aman karena membawa senjata. Mereka tidak tahu bahwa di tanah ini... kekuatan terbesar bukanlah yang digenggam di tangan, melainkan yang mengalir di darah dan diingat di kepala."
Patroli itu berjalan terus, tak menyadari bahwa dua pasang mata sedang mencatat setiap gerak-gerik mereka. Tak menyadari bahwa di atas sana, sebuah rencana sederhana namun gila telah lahir. Sebuah rencana yang tidak membutuhkan mesiu atau peluru melimpah. Sebuah rencana yang hanya membutuhkan pengetahuan, kesabaran, dan keberanian untuk melakukan hal yang tak terpikirkan orang lain.
Matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya. Langit berubah menjadi ungu gelap, lalu hitam pekat. Di kejauhan, terdengar suara teriakan pendek dari arah pos penjagaan, lalu sunyi kembali. Kabut mulai turun perlahan, menyelimuti jalan dan menyembunyikan jejak.
Bayu berdiri perlahan di balik batang pohon besar. Di sampingnya, Karta menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan seolah sedang berlatih.
"Malam pertama kita mulai latihan," bisik Bayu.
Karta tersenyum di kegelapan.
"Siap. Biar mereka tahu... tanah ini tidak diam saja."